Diyakini Tingkatkan Stamina dan Hilangkan Nyeri Haid
Jangkrik adalah jenis serangga yang memiliki suara khas bila berbunyi. Selama ini jangkrik hanya dijadikan komoditas makanan burung. Namun, di tangan mahasiswa Universitas Bhayangkara (Ubhara), jangkrik bisa dijadikan makanan menyehatkan dan berkhasiat.
Melalui olahan tangan tiga mahasiswa Ubhara, kini binatang bebunyian ini malah banyak dicari masyarakat. Rezaldi Siswantoro, Yudha Rachman, dan Restra Hulisela, mengolah jangkrik menjadi kripik. Kripik binatang malam ini tidak hanya nikmat, tetapi juga diyakini membawa khasiat khusus.
Selain bisa menambah stamina laki-laki, jangkrik yang memiliki kandungan protein tinggi ini juga mampu mengusir nyeri saat haid atau datang bulan. “Referensi yang kami baca, jangkrik memang sangat bermanfaat bagi kesehatan,” ujar Rezaldi Siswantoro saat ditemui di kampusnya, Rabu (4/5).
Berbagai sumber menyebutkan bahwa binatang yang sering ditemui di tegalan ini mengandung zat yang dibutuhkan tubuh. Di antaranya hormon progesterone yang mencapai 105,49 ppm. Hormon testoteron sebanyak 31,78 ppm dan hormon estrogen 259,535 ppm. Bahkan jangkrik juga mampu menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram.
Sungguh, kandungan kalori yang relatif di atas bahan makanan lainnya. Sebenarnya, saat ini sudah ada alternatif jangkrik yang diolah menjadi makanan.
Rezal mengakui, sebelum memutuskan mengolah menjadi keripik jangkrik, sudah ada mahasiswa lain mengolahnya menjadi biskuit dan mi jangkrik.
Berkat ketekunan mereka mencari referensi, mahasiswa jurusan Hukum Ubhara itu berhasil mendapat bantuan hibah dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas. “Lumayan, Rp 5,5 juta,” tambah Yudha.
Ketiga mahasiswa yang masih duduk di semester dua ini menjelaskan bahwa inspirasi didapatkan saat berbagi cerita dengan ibu mereka. Awalnya, mereka mengaku kesulitan bagaimana mengolah jangkrik menjadi masakan. Namun mahasiswa asal Sidoarjo ini tak mau putus asa. Apalagi ia juga didorong teman-teman perempuannya di kampus.
Dalam proses pengolahannya, awalnya mereka menyiapkan bumbu sendiri. Namun, dirasa ribet. “Kami pun memilih bumbu jadi untuk membuat keripik jangkrik,” tambah Rezal.
Rasanya memang khas. Seperti halnya keripik bumbu atau keripik dengan bumbu balado. Rasanya hampir mirip dengan udang goreng. Selain renyah, juga kenyil-kenyil.
Ketiga mahasiswa Ubhara itu kini dipilih oleh Dikti dalam program kreativitas mahasiswa kewirausahaan (PKM-K). Uang sebesar Rp 5,5 juta kemudian dibelikan gerobak dan belanja jangkrik. “Kita beli di pasar burung,” tambah Yudha.
Sudah tiga bulan, mereka berusaha mengembangkan keripik jangkrik. Selama waktu itu, banyak pelanggan yang tergoda. Mereka penasaran dan ingin mencoba. Benar, setelah mencoba, pelanggan semakin banyak. Namun, keripik ini hanya bertahan tiga hari karena setelahnya basi, sebab tanpa pengawet.
Saat ini mereka kesulitan lokasi untuk menempatkan gerobak, karena harus berebut dengan pedagang lainnya. Meski demikian, saat ini, setiap hari bisa menghasilkan omzet Rp 300.000. Dengan hasil ini, mereka bisa mengantongi laba bersih Rp 100.000.
Muhammad Fadeli, Humas Ubhara berharap agar usaha ini terus dikembangkan. “Mahasiswa yang wirausahawan sangat dibutuhkan. Namun ada kecenderungan, pemasaran memang sangat sulit,” kata Fadeli. (Lailatul B/Ika P)
Sumber: Surya, Kamis, 5 Mei 2011