Provokatif & Tak Tahu DiriPusat Sekte Syi'ah Sampang Dibakar Oreng Madhura


Dinilai provokatif dan tak tahu diri dalam menyebarkan ajaran menyimpang kepada umat Islam, pusat sekte Syi'ah di Sampang Madura diserbu warga.

Kompleks Pesantren Sekte Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang Madura, dibakar massa, Kamis pagi (29/12/2011).

Aksi pembakaran pada pukul 09.30 WIB ini, dilakukan warga sekitar karena warga terusik dan tidak suka dengan keberadaan pesantren Syiah di sana.

Sambil mengumandangkan takbir, massa membakar mushalla, madrasah, asrama dan rumah pemimpin Syi’ah Sampang, Tajul Muluk. Bangunan berupa mushalla, pesantren putra dan putri, rumah pribadi dan salah satu toko milik Kiai Tajul Muluk, tokoh sekte Syi’ah, yang diduga dibakar massa, membuat kondisi di kawasan tersebut menarik perhatian masyarakat.


Ratusan polisi dan aparat militer dari Kodim 0828, tampak berjaga-jaga guna mengamankan amuk massa yang dikhawatirkan bisa semakin melebar.

"...Ajaran yang disebarkan Kiai Tajul Muluk menyimpang dari ajaran Islam dengan mengajarkan door to door. Makanya, warga semakin geram..."

Selain itu, 4 truk pasukan dari Polda Jatim, juga telah memasuki lokasi. Namun lantaran jarak yang tidak bisa dilalui dengan kendaraan, ratusan polisi dari Sabhara tersebut terpaksa harus jalan kaki menuju lokasi pembakaran.

Tak ada korban tewas dalam insiden itu, tapi dua kompi aparat Kepolisian Resor Sampang sempat tidak bisa masuk ke lokasi karena jalan menuju Nangkernang diblokir massa yang melengkapi diri dengan berbagai senjata tajam.


Kepala Bagian Operasional Polres Sampang, Komisaris Zainuri, mengatakan karena kalah jumlah, polisi belum bisa masuk ke lokasi. “Situasi tidak memungkinkan kami ke lokasi,” ungkapnya.

Senada itu, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komisaris Besar Rachmat Mulyana, menyatakan kerusuhan di Sampang sudah bisa ditangani aparat keamanan setempat. Hingga saat ini, Kepolisian Resort Sampang secara resmi belum membutuhkan bantuan personel keamanan, baik itu dari Polres sekitar Sampang maupun dari Polda Jawa Timur.

“Polres Sampang sudah bisa menangani. Kalau diperlukan Polda siap back-up,” kata Rachmat, Kamis siang, 29/12/2011). Ia membenarkan, kerusuhan yang terjadi di Sampang sempat meluas karena saat kejadian polisi tak bisa masuk ke dalam lokasi.

"...Ini karena ada provokasi melalui pengajian-pengajian Syi’ah yang dianggap memancing perkara..."

Apalagi, kawasan sekitar kerusuhan diblokir ratusan orang bersenjata tajam sehingga membuat polisi kewalahan dan tidak bisa masuk ke sekitar lokasi. Untuk menyiasati hal ini, Polres Sampang sudah berkoordinasi dengan Komando Distrik Militer Sampang.


“Kapolres, Dandim, dan Bupati Sampang sudah turun dan bisa meredam suasana,” tambah Rachmat. Kerusuhan sendiri, tambah dia, setidaknya menyebabkan rumah, sekolah dan sebuah mushalla milik tokoh sekte Syi’ah, Kiai Tajul Muluk dibakar.

Data resmi kepolisian, dalam insiden itu tak hanya tempat ibadah, beberapa rumah warga juga turut dibakar massa. “Ada tiga buah rumah, dan satu mushalla yang notabene ditempati kelompok Syi’ah dibakar,” kata Rachmat.

Mulyana menambahkan, untuk sementara belum mengetahui motif tindakan anarki ini. “Kami masih melakukan pendalaman di sana. Belum bisa menyimpulkan,” ujar dia.

Menurut dia, selain tiga rumah dan satu tempat ibadah ini, massa juga akan membakar sejumlah rumah lainnya. Namun usaha itu dicegah oleh aparat. “Kita terus melakukan pendekatan persuasi pada masing-masing kelompok di sana,” katanya. “Kita sudah menerjunkan anggota kita di sana.”

Menanggapi insiden itu, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyesalkan lemahnya kinerja kepolisian. Untuk mengatasi konflik yang berkepanjangan, PWNU Jatim menyatakan akan turun tangan memediasi konflik antara umat Islam dengan penganut sekte Syi’ah.

“Konflik Sunni dan Syi’ah di Sampang itu kasus lama dan sudah berlangsung dari dulu. Kalau sekarang memanas lagi dan ada bakar-bakaran, berarti aparat keamanan kecolongan dan tidak bisa meredam konflik tersebut,” kata Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, Kamis (29/12/2011).

"...Aparat keamanan kecolongan dan tidak bisa meredam konflik tersebut..."

PWNU Jatim juga sedang menginvestigasi dugaan teterlibatan oknum warga Nahdliyin dalam insiden tersebut. “Kami akan melakukan investigasi terkait kasus itu. Kami belum bisa memastikan apakah NU terlibat dalam kejadian itu, ini karena Sunni tidak harus dari NU, bisa juga dengan kelompok lainnya dalam Islam,” tegasnya.

Sekte Syi’ah Provokatif dan Tak Tahu Diri

Menurut warga setempat, insiden pembakaran itu diprovokasi oleh penyebaran sekte Syi’ah yang dilakukan kepada umat Islam. “Dianggap ajaran yang disebarkan oleh Kiai Tajul Muluk menyimpang dari ajaran Islam dengan mengajarkan door to door. Makanya, warga semakin geram,” terang Juhaidi (45), salah satu tokoh masyarakat setempat yang berada di lokasi kejadian.

Sebenarnya, lanjut Juhaidi, konflik antara pengikut sekte Syi’ah dan umat Islam ini pernah didamaikan beberapa waktu lalu. Namun akibat Kiai Tajul tetap menyebarkan ajaran sekte Syi’ah di daerahnya, membuat warga nekad melakukan aksi pembakaran.

Senada itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim KH Abdusshomad Buchori mengimbau warga pengikut sekte Syi’ah agar tahu diri di lingkungan umat Islam.


“Kekerasan tidak bisa dibenarkan atas nama agama. Meski begitu, seharusnya kaum Syi’ah di Sampang tahu diri kalau tidak bisa diterima mayoritas masyarakat Madura yang basisnya Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah, red),” tegasnya, Kamis (29/12/2011).

KH Abdusshomad menambahkan, selama ini MUI pusat bersama MUI Jatim seringkali turun ke Sampang untuk mendamaikan konflik Syi’ah dan umat Islam yang sudah berlangsung lama. Namun pihak Syi’ah selalu memancing perkara dengan materi pengajian-pengajian yang provokatif.

“MUI sudah sering mendamaikan mereka, bahkan MUI pusat sudah turun ke Sampang. Yang terjadi di Sampang mirip seperti kejadian di Bangil Pasuruan. Ini karena ada provokasi melalui pengajian-pengajian Syi’ah yang dianggap memancing perkara,” tuturnya.

MUI sudah menyarankan kepada kelompok Syi’ah agar mengalah dan tidak mengembangkan dan menyebarluaskan ajarannya di Madura. Ini karena di Madura adalah basisnya kalangan Sunni.

Untuk meredam konflik tersebut, MUI Jatim telah memerintahkan Ketua MUI Sampang KH Buchori Maksum dan salah satu Ketua MUI Jatim KH Nuruddin Arahman yang tinggal di Bangkalan, untuk terjun ke TKP untuk proses mediasi.

"...Sy'iah tidak mewajibkan shalat Jumat, azannya berbeda dengan Islam, dan mengamalkan doktrin kawin kontrak..."

KH Abdushomad menilai, konflik antara sekte Syi'ah dan umat Islam di Sampang sangat sulit untuk didamaikan, karena Sampang merupakan basis Sunni militan yang sulit menerima adanya aliran Syi'ah di kawasan itu.

"Tidak mungkin didamaikan karena Syiah itu memang tak cocok kalau dikembangkan di Madura," kata dia. Ketidakcocokan inilah, yang menurut Abdushomad, memicu adanya konflik berkepanjangan di antara Sunni dan Syiah di Sampang.

Beberapa masalah yang selama ini menjadi jurang pemisah dengan Islam, menurut KH Abdusshomad, karena ajaran Syi’ah itu tidak mau merima riwayat Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatthab dan Usman bin Affan. Sekte Syi’ah melainkan hanya mengakui Ali bin Abi Thalib.

Akibat tidak diakuinya hadist dari tiga shahabat, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Usman, setidaknya membuat beberapa cara beribadah dari Syiah sangat berbeda dengan Sunni. Perbedaan itu, misalnya, Syiah menggabungkan dua shalat antara zuhur dan asar digabung di waktu zuhur, lantas magrib dan isya digabung pada waktu magrib.

Tak hanya itu, sekte Sy'iah juga tidak mewajibkan shalat Jumat. Azan salat aliran Syiah juga berbeda dengan Sunni. Dan perbedaan yang tajam adalah doktrin kawin kontrak yang dipraktikkan Syi'ah. “Mereka juga tidak mewajibkan untuk shalat Jumat dan membolehkan nikah mut’ah (kawin kontrak, red),” imbuhnya.

Oleh karena itu, MUI Jawa Timur minta kalau memang masih mau menyebarkan Syi'ah, para tokoh Syi'ah diharapkan mau mencari lokasi lain di luar Sampang. "Ini bukan pengusiran, tapi ya harus tahu dirilah," katanya. [taz/tempo, viva, beritajatim]

Sumber: Voice of Al Islam, Kamis, 29 Dec 2011

Baca artikel terkait:
  1. Bukti Kekufuran Syi'ah terhadap Al-Qur'an.
  2. Kebencian dan Permusuhan Syi'ah Terhadap Ahlus Sunnah.
  3. Umat Islam Indonesia Sepakat Tolak dan Bubarkan Sekte Sesat Syi'ah.
  4. Pernyataan Sikap Umat Islam Indonesia tentang Bahaya Syi'ah (Kutipan Lengkap).
  5. Mempertanyakan Infiltrasi Yahudi dan Kristen Dalam Doktrin Syi'ah.
  6. Akibat Nikah Mut'ah, Wanita Syi'ah Mengidap Gonore.
  7. MUI: Syi'ah di Madura Seperti Bom Waktu, Akidahnya Beda dengan Islam.

Polri: Pembakaran di Sampang Diawali Masalah Keluarga



Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menjelaskan bahwa pembakaran yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, berawal dari permasalahan keluarga. Itu berdasarkan keterangan masyarakat.

"Awalnya ini masalah keluarga yaitu, Rois dan Rojul, ini kakak beradik. Pada awalnya mereka kelompok Suni, kemudian Rois masuk ke kelompok lain karena ada perselisihan dengan abangnya, maka dia masuk Syiah," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution, Kamis (29/12).

Menurut Saud, permasalahan itu sebenarnya sempat dibicarakan di tingkat kecamatan. Hasilnya, kedua belah pihak berkomitmen untuk saling menjaga.

"Empat hari yang lalu sudah diselesaikan di kecamatan, lewat Muspida Sampang dan sudah ada pernyataan saling menjaga, tapi tadi pagi terjadi pembakaran," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga rumah di Karanggayam, Sampang, Madura, Jatim, ludes dilalap si jago merah setelah dibakar massa. Pembakaran yang dilakukan ratusan warga di sekitar perkampungan tersebut dipicu persoalan pemahaman yang berbeda dalam ritual ibadah. (Andrie Yudhistira)

Sumber: Liputan6.com, 29/12/2011

Terkait:

Anarkisme di Sampang

Pembakaran Rumah Jemaah Syiah Terus Terjadi

Ilustrasi (sumber: Antara Foto)


Aksi pembakaran rumah pengikut Islam Syiah oleh kelompok Islam Sunni di Sampang, Madura, Jawa Timur, meluas.

Kali ini rumah yang dibakar massa milik Iklil Almilal, penasihat Islam Syiah di Kabupaten Sampang, teman dekat pimpinan Ustadz Syiah Tajul Muluk.

"Rumah saya juga ikut hangus saat ini. Tapi kami tidak melakukan perlawanan," kata Iklil, Kamis (29/12) siang.

Menurut Iklil, rumah pimpinan Islam Syiah sendiri kini sudah rata dengan tanah dan tidak bisa ditempati sama sekali.

"Setelah membakar rumah Ustadz Tajul massa lalu bergerak menuju rumah saya dan membakar rumah saya," terang dia.

Dilaporkan, petugas gabungan dari Polres Sampang dibantu TNI tidak bisa berbuat banyak mencegah aksi pembakaran rumah milik pengikut aliran Islam Syiah. Sebab, jumlah massa terlalu banyak.

Rumah penasihat Syiah Iklil Almilal ini berjarak sekitar satu kilometer dari rumah kediaman pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk.

"Pelaku pembakaran rumah pengikut Syiah ini tetap kelompok yang dulu yang menyerang pada tahun 2006 lalu," kata Iklil Almilal.

Sementara itu, situasi di Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, kini kian mencekam. Warga tidak berani keluar rumah.

Iklil Almilal sendiri bersama ratusan pengikut Syiah lainnya, kini diungsikan oleh aparat polisi di salah satu rumah warga di Desa Karang Gayam. Mereka dalam penjagaan ketat anggota polisi.

Di antara para kelompok aliran Islam Syiah ini, terlihat beberapa anak-anak, orang jompo dan ibu hamil, bahkan binatang ternak piaraan mereka seperti sapi dan kambing juga diungsikan. (Kristantyo Wisnubroto/Antara)

Sumber: Berita Satu, Kamis, 29 Desember 2011

Pembakaran Pesantren Tajul Muluk Didahului Isu

Asyura Syiah di Indonesia (sumber: antara)


Berselang beberapa jam sebelum aksi pembakaran Pesantren Tajul Muluk terjadi, telah beredar kabar adanya ancaman tersebut.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kuasa Hukum Ahlul Bait Indonesia (ABI) Jawa Timur Moh Hadun Haddar, hari ini, di Jawa Timue, saat dihubungi Beritasatu.com melalui sambungan telepon.

"Ada isu yang berkembang sebelumnya bahwa pesantren dan rumah Ustad Tajul Muluk akan dibakar berikut orang-orangnya. Makanya, kami sempat melaporkan ke kepolisian adanya isu tersebut. Tapi, ternyata tidak ada respons sama sekali dari kepolisian, sampai akhirnya aksi tersebut pun terjadi," tuturnya.

Akibat aksi kebakaran tersebut, Hadun mengatakan, tidak ada yang tersisa dari bangunan pesantren maupun rumah Ustad Tajul Muluk. Semua, menurut dia, sudah rata dengan tanah. Walau demikian, dia bersyukur, insiden tersebut tidak menelan korban jiwa.

Pelanggaran HAM

Lebih jauh, Hadun juga menyesalkan respons kepolisian terhadap serangkaian ancaman yang menimpa pengikut Syiah di Sampang, Jawa Timur.

Menurut dia, ancaman bagi warga Syiah di kawasan tersebut sudah terjadi sejak sekitar enam bulan lalu.

"Saat itu, pemda setempat bahkan sudah turun tangan. Diputuskan dalam pembahasan sejumlah pihak bahwa Ustad Tajul Muluk diminta keluar dari Jatim sampai situasi mereda. Ustad saat itu mematuhi putusan tersebut," katanya.

Namun yang terjadi, Hadun mengatakan, aparat justru tidak menindaklanjuti penanganan terhadap persoalan tersebut. Sehingga, kata dia, saat akhirnya Ustad Tajul Muluk kembali ke pesantrennya, Rabu (28/12), karena hendak menjenguk anaknya yang sakit, justru aksi anarkistis itu terjadi.

"Saya menilai, permintaan aparat agar Ustad meninggalkan Jawa Timur adalah bentuk pelanggaran HAM," pungkasnya. (Ratna Nuraini)

Sumber: Berita Satu, Kamis, 29 Desember 2011

Pesantren Syiah Dibakar Massa

Ilustrasi pembakaran rumah (sumber: Antara)


Sebuah pesantren dan rumah pimpinan pesantren tersebut di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, hari ini, sekitar pukul 10.30 WIB, dibakar sekelompok massa tidak dikenal.

Tindak anarkis tersebut terjadi hanya berselang dua pekan sejak aksi serupa yang dilakukan sekelompok massa terhadap salah satu pengajar di pesantren tersebut.

Menurut Sekjen Ahlul Bait Indonesia (ABI) Ahmad Hidayat, pembakaran itu dilakukan di Pesantren Tajul Muluk yang sehari-harinya melakukan pendidikan bagi sekitar 100 santri pria dan perempuan. Saat pembakaran terjadi, sambung dia, pimpinan pesantren yakni Ustad Tajul Muluk tengah berada di luar kota.

"Kami menduga, peristiwa itu dilakukan oleh sekelompok massa dari Wahabi yang juga ditengarai membakar rumah salah satu pengajar pesantren tersebut, sekitar dua minggu lalu," tuturnya.

Pembakaran sebelumnya terjadi pada 15 Desember 2011 yang menimpa M Siri, salah satu pengajar di pesantren tersebut. Rumah M Siri tersebut dibakar massa sekitar pukul 02.30 WIB dinihari.

Saat melakukan pembakaran, pelaku tindak anarkis mengunci pintu masuk ke rumah tersebut dari luar rumah. Sehingga, penghuni rumah kesulitan untuk keluar dari rumah tersebut saat api melalap rumah tersebut. (Ratna Nuraini)

Kabar terkait:

Sumber: Berita Satu, Kamis, 29 Desember 2011

Di Madura, Investor Minim Karena Jalan Rusak

Jalan Bangkalan-Sampang rusak, Pamekasan-Sumenep sempit




Add caption

Aktifnya jembatan Suramadu tahun 2009 lalu diharapkan mampu meningkatkan pembangunan di Madura. Faktanya, sejumlah kalangan menilai pembangunan di Pulau Garam -- sebutan Pulau Madura -- masih lambat. Investor enggan menanamkan modalnya karena infrastruktur jalan di pulau ini diangga tidak mendukung, kerusakan jalan terjadi hampir merata di empat kabupaten di Madura.

Saat ini, jalan provinsi yang ada, kerusakan terparah terjadi di antara Kabupaten Bangkalan hingga Sampang. Sedangkan di ruas Pamekasan hingga Sumenep jalannya sangat sempit.

“Salah satu faktor yang membuat investor enggan berinvestasi di Madura karena tidak didukung dengan infrastruktur jalan yang memadai. Padahal pasca pembangunan jembatan Suramadu, butuh percepatan pembangunan di berbagai bidang, tapi konsep tersebut sulit direalisasikan selama sarana dan prasarananya tidak dibenahi,” tegas Haryono Abdul Bari, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim saat dihubungi, Sabtu (20/8).

Haryono yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat (PD) Kabupaten Sampang itu menjelaskan jika perbaikan infrastrutur jalan tidak hanya dibebankan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jatim, tapi juga menjadi tanggung jawab masing-masing pemerintah kabupaten (pemkab) di Madura. Karena penyebab kerusakan ruas jalan akibat genangan air sehingga dapat menggerus aspal jalan.

“Saya memantau ruas jalan yang paling rusak parah terletak di jalur Bangkalan-Sampang, sedangkan ruas jalan yang sangat sempit sepanjang jalur Sampang-Pamekasan. Namun perbaikan jalan itu akan sia-sia jika Pemkab setempat juga tidak memperbaiki saluran drainase di bahu jalan, karena genangan air menjadi pemicu kerusakan jalan, “ tukasnya.

Selain itu, tambah, Haryono, faktor geografis tanah di Madura yang bergerak juga merupakan penyebab kerusakan jalan, sehingga harus mengunakan teknik lain agar jalan yang telah diperbaiki tidak cepat rusak. Disisi lain, keterbatasan dana APBN dan APBD tidak mungkin dapat memperbaiki semua ruas jalan yang rusak. “Paling tidak ada skala prioritas untuk jalan yang rusak parah, harus segera diperbaiki,” tandasnya.

Dia menyatakan, tingkat kerusakan jalan provinsi di Madura cukup parah, sehingga tidak mungkin dilaksanakan dengan hanya tambal sulam. Terutama di wilayah yang masuk jalur tengkorak misalnya Jl Raya Jrengik dan Torjun karena sering terjadi kecelakaan lalu lintas, akibat ruas jalan sempit dan berlubang, memerlukan penanganan serius.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas PU Bina Marga Provinsi Jatim, jalan yang mengalami rusak berat jalur Sampang hingga Kecamatan Ketapang sepanjang 2,77 kilometer (km), jalur Sumenep sampai Pantai Lumbang sepanjang 4,22 km. Sedangkan ruas jalan yang masuk katagori rusak, di ruas Bangkalan hingga Batas Sampang sejauh 8,78 km, Kecamatan Ketapang Sampang sampai Batas Pamekasan mencapai 10,25 km dan jalur Sampang - Ketapang panjangnya 23,65 km. Total kerusakan jalan provinsi panjangnya mencapai 49,67 km. (rud)

KERUSAKAN JALAN PROVINSI DI MADURA

JALAN RUSAK BERAT PANJANG

Sampang-Kecamatan Ketapang 2,77 km
Sumenep-Pantai Lumbang 4,22 km

JALAN KATEGORI RUSAK

Bangkalan-Batas Sampang 8,78 km
Kecamatan Ketapang (Sampang)-Batas Pamekasan 10,25 km
Sampang-Ketapang 23,65 km

TOTAL KERUSAKAN JALAN PROVINSI 49,67 km.

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 20/08/2011

Mahasiswa Ubhara Kembangkan Keripik Jangkrik

Diyakini Tingkatkan Stamina dan Hilangkan Nyeri Haid

Jangkrik adalah jenis serangga yang memiliki suara khas bila berbunyi. Selama ini jangkrik hanya dijadikan komoditas makanan burung. Namun, di tangan mahasiswa Universitas Bhayangkara (Ubhara), jangkrik bisa dijadikan makanan menyehatkan dan berkhasiat.

Melalui olahan tangan tiga mahasiswa Ubhara, kini binatang bebunyian ini malah banyak dicari masyarakat. Rezaldi Siswantoro, Yudha Rachman, dan Restra Hulisela, mengolah jangkrik menjadi kripik. Kripik binatang malam ini tidak hanya nikmat, tetapi juga diyakini membawa khasiat khusus.

Selain bisa menambah stamina laki-laki, jangkrik yang memiliki kandungan protein tinggi ini juga mampu mengusir nyeri saat haid atau datang bulan. “Referensi yang kami baca, jangkrik memang sangat bermanfaat bagi kesehatan,” ujar Rezaldi Siswantoro saat ditemui di kampusnya, Rabu (4/5).

Berbagai sumber menyebutkan bahwa binatang yang sering ditemui di tegalan ini mengandung zat yang dibutuhkan tubuh. Di antaranya hormon progesterone yang mencapai 105,49 ppm. Hormon testoteron sebanyak 31,78 ppm dan hormon estrogen 259,535 ppm. Bahkan jangkrik juga mampu menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram.

Sungguh, kandungan kalori yang relatif di atas bahan makanan lainnya. Sebenarnya, saat ini sudah ada alternatif jangkrik yang diolah menjadi makanan.

Rezal mengakui, sebelum memutuskan mengolah menjadi keripik jangkrik, sudah ada mahasiswa lain mengolahnya menjadi biskuit dan mi jangkrik.

Berkat ketekunan mereka mencari referensi, mahasiswa jurusan Hukum Ubhara itu berhasil mendapat bantuan hibah dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas. “Lumayan, Rp 5,5 juta,” tambah Yudha.

Ketiga mahasiswa yang masih duduk di semester dua ini menjelaskan bahwa inspirasi didapatkan saat berbagi cerita dengan ibu mereka. Awalnya, mereka mengaku kesulitan bagaimana mengolah jangkrik menjadi masakan. Namun mahasiswa asal Sidoarjo ini tak mau putus asa. Apalagi ia juga didorong teman-teman perempuannya di kampus.

Dalam proses pengolahannya, awalnya mereka menyiapkan bumbu sendiri. Namun, dirasa ribet. “Kami pun memilih bumbu jadi untuk membuat keripik jangkrik,” tambah Rezal.

Rasanya memang khas. Seperti halnya keripik bumbu atau keripik dengan bumbu balado. Rasanya hampir mirip dengan udang goreng. Selain renyah, juga kenyil-kenyil.

Ketiga mahasiswa Ubhara itu kini dipilih oleh Dikti dalam program kreativitas mahasiswa kewirausahaan (PKM-K). Uang sebesar Rp 5,5 juta kemudian dibelikan gerobak dan belanja jangkrik. “Kita beli di pasar burung,” tambah Yudha.

Sudah tiga bulan, mereka berusaha mengembangkan keripik jangkrik. Selama waktu itu, banyak pelanggan yang tergoda. Mereka penasaran dan ingin mencoba. Benar, setelah mencoba, pelanggan semakin banyak. Namun, keripik ini hanya bertahan tiga hari karena setelahnya basi, sebab tanpa pengawet.

Saat ini mereka kesulitan lokasi untuk menempatkan gerobak, karena harus berebut dengan pedagang lainnya. Meski demikian, saat ini, setiap hari bisa menghasilkan omzet Rp 300.000. Dengan hasil ini, mereka bisa mengantongi laba bersih Rp 100.000.

Muhammad Fadeli, Humas Ubhara berharap agar usaha ini terus dikembangkan. “Mahasiswa yang wirausahawan sangat dibutuhkan. Namun ada kecenderungan, pemasaran memang sangat sulit,” kata Fadeli. (Lailatul B/Ika P)

Sumber: Surya, Kamis, 5 Mei 2011

Warga Gunung Maddah Tiga Hari Tanpa Listrik

Sejak 3 hari lalu, terhitung mulai hari Selasa (24/5) sampai Kamis (26/5) kemarin, sebagian besar pelanggan PLN yang berada di desa Gunung Maddah tidak bisa menikmati aliran listrik. Pasalnya, salah satu trafo di gardu induk milik PLN Sampang yang menjadi pusat aliran listrik mengalami kerusakan.

Holil, salah satu pelanggan PLN yang notabene adalah seorang anggota dewan mengatakan, banyak warganya mengeluhkan atas lambannya kerja PLN dalam mengatasi masalah dan gangguan listrik didaerahnya.

"Banyak warga mengeluhkan sampai tidak bisa mandi, aktifitas kerja jadi terganggu dan paling parahnya, sebagian besar petani tembakau mengalami kerugian akibat putusnya aliran listrik selama 3 hari tersebut," ujar anggota dewan dari Komisi C kepada Surabaya Pagi, kemarin (26/05).

Atas kejadian tersebut, warga merasa dirugikan. Apalagi para petani tembakau yang harus merasa rugi akibat banyaknya bibit-bibit tembakau yang rusak akibat listrik padam selama 3 hari berturut-turut.

"Imbasnya para pelanggan merasa dirugikan. Sebab, kita tahu bersama listrik merupakan salah satu kebutuhan vital bagi masyarakat. Terlebih bagi golongan masyarakat tertentu," tambah Holil.

Menanggapi masalah tersebut, kepala PLN Sampang Sumaryana melalui kepala teknis PLN Sampang Fathorrahman membenarkan jika sebagian pelanggan PLN di desa Gunung Maddah mengalami gangguan listrik. Hal ini disebabkan rusaknya salah satu trafo di gardu induk yang berada diwilayah tersebut.

"Hal itu disebabkan oleh salah satu trafo di gardu induk rusak, Mas. Dan itu yang menjadi masalah utamanya. Trafo kecil itu berdaya 50 KVA dan letaknya di atas," jelasnya.

Menurut Fathor, masih belum diketahui penyebab rusaknya trafo di gardu induk tersebut yang hanya berdaya 50 KVA. Dan pihaknya sudah berusaha untuk menanggulangi masalah tersebut.

"Kita coba menanggulangi dengan meminjam trafo yang sama ke PLN cabang kota lain yakni Pamekasan. Tapi disana tidak ada. Dan baru kemarin kita dapat pinjaman dari PLN Bangkalan," ulasnya. Sementara, untuk menunggu trafo yang sebenarnya diperbaiki, maka pihak PLN Sampang untuk aliran listrik tersebut masih menggunakan trafo mobil hasil pinjaman dari PLN Bangkalan.

"Untuk menghindari lebih lamanya pemadaman tersebut, kita pakai trafo mobil itu sambil menunggu trafo yang asli diperbaiki," pungkasnya. (ful)

Sumber: Surabaya Pagi, 2011-05-27

Kejam, Lupa Sungkem Istri Keempat Disiksa Dua Hari

Masri'ah
Sungguh malang nasib Masri’ah (35) warga Dusun Banasareh Barat, Desa Banasareh Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep ini. Rela menjadi istri ke-4 tidak membuat suaminya, Zainuddin (55), menyayanginya. Ibu seorang anak yang baru berumur 8 tahun ini malah sering jadi korban aniaya.

Tetapi suami kejam itu rupanya harus beristirahat dari kebiasaannya menghajar istri, ketika Masri’ah tak kuat lagi menahan kesabarannya. Selasa (22/2/2011), Masri’ah melaporkan ulah kasar suaminya ke Mapolres Pamekasan.

“Dua hari saya disekap ga boleh keluar dari kamar, dikepruk pakai kayu, ditonjok, diinjak-injak dan diancam mau dibunuh. Setelah berhasil melarikan diri, saya pulang ke rumah orangtua dan langsung melapor ke sini,” kata Masri’ah.

Saat melapor ke mapolres, Masri’ah mengungkapkan kesedihannya pada polisi karena anaknya, Sasmita, tidak sempat ia bawa. “Anak saya di sana sama suami. Saya kasihan khawatir terjadi apa-apa,” tuturnya.

Kepada petugas di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pamekasan, Masri’ah mengaku peristiwa penganiayaan itu terjadi di rumah Zainuddin di Kampung Lompele, Desa Batu Bintang Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan. Penyebabnya hanya sepele, karena ia lupa sungkem saat mau keluar rumah.

Masri’ah mengaku menikah dengan Zainuddin tahun 2000 lalu. Saat itu ia juga tahu pria pilihannya itu telah beristri tiga. Hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, ternyata setelah menikah Zainuddin sering memperlakukannya secara kasar.

Masri’ah memberi contoh, setiap suaminya marah ia selalu serba salah. Ketika ia diam dan bersabar, si suami malah menganggapnya tidak memperhatikan. Sebaliknya kalau dia menjawab, si suami merasa dilawan. Setiap itu terjadi bogem mentahlah yang singgah di wajahnya.

Zainuddin, menurut Masri’ah, ternyata juga sosok suami yang hanya mau diperlakukan bak raja. Setiap hari ia harus rajin sungkem. “Masak mau ke kamar mandi di dalam rumah saja harus nyembah dulu,” katanya jengkel sambil menunjukkan beberapa bekas luka di tubuhnya. Tampak Masri’ah mengalami luka memar pada sekitar mata, punggung dan kepala. Yang paling parah adalah luka di kepala.

Menanggapi laporan masri’ah, Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Nur Amin, menyatakan segera memanggil Zainuddin untuk dimintai keterangan. “Jika benar seperti laporan Masri’ah, Zainuddin layak dijerat UU No 23/2004 Pasal 84 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara,” katanya. (nen/ijo)

Sumber: zonaberita.com, Selasa, 22 Februari 2011

Ratusan Rumah di Blegah Terendam

foto: din/zonaberita.com
Banjir kiriman merendam ratusan rumah di Kecamatan Blegah

Hujan deras di dataran tinggi Konang dan Geger, Bangkalan, Madura, menyebakan terjadinya banjir kiriman. Akibatnya, ratusan rumah di Kecamatan Blegah terendam, meski di wilayah ini tidak turun hujan.

Banjir terjadi karena sungai Blega tidak dapat menampung volume air. Hingga air meluap ke perkampungan warga.

“Limpahan air berasal dari Geger, jadi kalau di sini (Blegah) tidak hujan tetap saja banjir,” kata Rahmat, warga setempat, pada zonaberita.com, Minggu (30/1/2011).

Di beberapa titik air mencapai ketinggian 1 meter, meski demikian warga memilih tetap bertahan. Menurut mereka volume air akan segera turun bersamaan dengan surutnya air laut.

“Air meluap dari utara, kami berharap mendapat bantuan dari pemerintah, selain tidak bisa beraktivitas kami juga tidak bisa memasak,” kata Imamah. (din/isp)

Sumber: ZonaBerita, Minggu, 30 Januari 2011

Sumenep juga Diserbu Angin Kencang

LASTI KURNIA/KOMPAS IMAGES
ILUSTRASI: Serbuan angin kencang melanda wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (12/1/2011), dan merusak puluhan rumah warga setempat dan menumbangkan pohon.

Serbuan angin kencang melanda wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (12/1/2011), dan merusak puluhan rumah warga setempat. Selain merusak rumah, terjangan angin juga menumbangkan sejumlah pohon di lima kecamatan, yakni Kota, Kalianget, Rubaru, Lenteng, dan Batang Batang.

"Angin kencang yang terjadi di desa kami sekitar pukul 04.00 WIB, merusak sedikitnya 22 rumah milik warga kami," kata Kepala Desa Pore, Kecamatan Lenteng, Farkih Praseno di Sumenep.

Dari 22 rumah tersebut, lanjut dia, dua rumah mengalami kerusakan cukup parah dan sisanya rusak ringan berupa genteng yang beterbangan terkena angin kencang.

"Satu dari dua rumah yang rusak parah tersebut tertimpa pohon siwalan yang tumbang," ucap Farkih.

Saat ini, tutur Fakih, pihak Dinas Sosial Kabupaten Sumenep sudah berada di desa tersebut untuk mendata kerusakan rumah milik warga. Sementara itu, di Batang-Batang, angin kencang juga merusak satu rumah milik warga Desa Batang-Batang Daya dan menumbangkan tiga pohon asam di pinggir jalan di Desa Kolpo.

"Tidak ada korban jiwa. Kejadiannya pagi hari dan kebetulan tidak ada warga yang melintas, ketika tiga pohon asam tersebut tumbang," kata Camat Batang Batang, Syahwan Effendi.

Sementara di Dusun Batu Guluk, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, sedikitnya empat rumah rusak akibat diterjang angin kencang.

"Dua dari empat rumah milik warga kami yang rusak itu, roboh. Saat ini, petugas dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumenep berada di lokasi," kata Kepala Desa Basoka, Fathor.

Di Kecamatan Kalianget, menara antena salah satu radio swasta di Desa Kertasada, patah. Patahan besi dari menara antena tersebut menimpa rumah milik keluarga besar pemilik radio. Sementara di Kecamatan Kota, sejumlah pohon dan papan reklame yang berada di pinggir jalan, tumbang dan roboh. (M.Latief | Latief)

Sumber: Kompas, Rabu, 12 Januari 2011

Ibu Kota Jatim Akan Dipindah ke Sumenep

Kompas/AR Budidarma
Ilustrasi Sumenep

Guru Besar ITS Surabaya Prof Daniel M Rosyid mewacanakan perlunya memindahkan ibu kota Provinsi Jawa Timur karena Surabaya dinilai sudah tidak layak lagi menjadi ibu kota.

"Kepadatan penduduk dan kemacetan lalu lintas di Surabaya sudah cukup parah," katanya dalam seminar bertajuk "Pemindahan Ibu Kota Provinsi Jawa Timur: Dari Surabaya ke Sumenep" di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Selasa (25/1/2011).

Dalam seminar yang juga menampilkan Wakil Bupati Sumenep Soengkono Sidik itu, Daniel mengatakan, wacana pemindahan ibu kota lebih sebagai upaya pemerataan pembangunan.

"Ibu kota yang ideal adalah jika pusat ekonomi dan pemerintahan tidak jadi satu. Dengan memisahkan keduanya, akan terjadi pemerataan pembangunan, dan tidak lagi terpusat di satu kota seperti selama ini," katanya.

Pemindahan yang bertujuan bagi pemerataan pembangunan itu penting karena masih banyak daerah lain di Jawa Timur yang tertinggal jauh dibandingkan dengan Surabaya.

"Memindahkan ibu kota Provinsi Jatim ke Sumenep, Madura, memang bukan perkara gampang. Ini sebagai bentuk early exercise atas makin ruwetnya Surabaya sebagai ibu kota provinsi," katanya.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Sumenep Soengkono Sidik mendukung dan berharap wacana dari kalangan akademisi tersebut bisa menjadi kenyataan sebab masyarakat setempat pasti menyambut baik kebijakan itu.

"Masyarakat pasti welcome jika ibu kota dipindah ke Sumenep. Potensi Sumenep untuk menjadi ibu kota provinsi juga sudah lebih dari cukup," katanya.

Potensi dimaksud adalah masyarakat Sumenep cinta damai dan memiliki toleransi tinggi, serta akses transportasi baik darat maupun laut ke Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa tersedia.

"Masyarakat kami tidak suka carok. Akses transportasi juga tersedia," ujar Wakil Bupati, yang juga alumnus Jurusan Teknik Arsitektur ITS tersebut.

Pendapat agak berbeda datang dari dosen Jurusan Arsitektur ITS, Hitapriya Suprayitno. Ia menilai pemindahan ibu kota dari Surabaya ke Sumenep berat, kecuali jika didukung penuh oleh pemerintah pusat dan daerah.

"Masalahnya, sarana infrastruktur di kabupaten paling timur di Madura tersebut belum layak jika harus menyandang status ibu kota. Bandara internasional belum ada, pelabuhan besar juga belum tersedia, tapi investasi akan mengalir ke Madura," katanya. (Benny N Joewono)

Sumber: Kompas, Selasa, 25 Januari 2011

Minyak Atsiri Jadi Komoditi Baru

Minyak atsiri yang merupakan salah satu komoditi yang memiliki potensi besar mulai dilirik investor. Jenis minyak ini terbuat dari tumbuhan tertentu, baik berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian bahkan putik bunga.

Kini Pemerintah Kabupaten Pamekasan, berencana akan mengembangkan produksi minyak atsiri untuk memenuhi kebutuhan pasar minyak dunia. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Bambang Edy Suprapto, menjelaskan, minyak atsiri itu direncanakan akan diproduksi dari tanaman tembakau.

"Kami telah melakukan penelitian tentang minyak atsiri dari daun tembakau ini dan ternyata berhasil," jelas Bambang.

Dalam melakukan uji coba laboratorium tentang minyak atisiri tersebut, pemkab bekerja sama dengan Universitas Trunojoyo (Unijoyo) Bangkalan. Hanya saja, sambung Bambang yang perlu dikaji oleh pemerintah adalah nilai ekonomisnya.

"Ini penting dilakukan, karena jika secara ekonomis ternyata kurang, maka tentunya tidak bisa dikembangkan," tambah Bambang.

Setidaknya ada 70 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional dan 40 jenis di antaranya diproduksi di Indonesia, dan hanya sebagian kecil saja yang diusahakan di negeri ini. Diperkirakan kebutuhan akan minyak ini akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya populasi penduduk dunia.

Banyak kegunaan minyak atsiri. Selain sebagai bahan baku minyak wangi, minyak wangi, komestik dan obat-obatan, juga digunakan sebagai kandungan dalam bumbu maupun pewangi.

Tidak hanya itu saja, industri komestik dan minyak wangi menggunakan minyak atsiri sebagai bahan pembuatan sabun, pasta gigi, samphoo, lotion dan parfum, termasuk industri makanan sebagai penyedap atau penambah cita rasa.

Demikian juga dengan industri farmasi juga menggunakan minyak atsiri sebagai obat anti nyeri, anti infeksi, pembunuh bakteri. Fungsi minyak atsiri sebagai wewangian juga digunakan untuk menutupi bau tak sedap bahan-bahan lain seperti obat pembasmi serangga yang diperlukan oleh industri bahan pengawet dan bahan insektisida.

Komoditi minyak atsiri banyak dikembangkan oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jepang, Jerman, Swiss, Belanda, Hongkong, Irlandia dan Kanada.

Seperti Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur dengan nilai penjualan hingga mencapai 1 juta dolar AS. (pam)

Sumber: Surabaya Pagi, 2011-01-18

Demi Garam Nasional, Madura Digerojok Rp 22 M

Rencana pemerintah menjadikan Madura sebagai sentra Swasembada Garam Nasional segera dimulai. Pada tahun 2011 ini Kementrian Kelautan dan Perikanan RI mengucurkan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 22 miliar untuk proggarm pemberdayaan usaha garam rakyat (PUGAR) di Madura.

Pemerintah juga telah membentuk Tim Kordinasi Program Swasembada Garam Nasional ini pada 23 Desember lalu, yang melibatkan unsur perguruan tinggi vaforit yakni UI Jakarta, ITB Bandung, Undip Semarang dan Unijoyo Bangkalan, para pejabat dari sejumlah daerah penghasil garam dan utusan dari 16 kementerian.

Dr Makhdfud Efendi anggota Tim Kordinasi Swasembada Garam Nasional dari Universitas Trunojoyo (Unijoyo) Bangkalan mengatakan dana BLM Rp 22 miliar itu akan digunakan untuk memberdayakan para petani garam Madura dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menyambut pelaksanaan program Swasembada Garam Nasional yang alam dimulai tahun 2012 mendatang.

Dalam program Swasembada Garam nasional ini, kata Makhfud Madura memang mendapatkan prioritas karena separuh dari produksi garam nasional diproduksi dari Madura. Selebihnya diproduksi daerah penghasil garam lainnya antara lain NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

“Madura dapat BLM yang cukup besar karena produksinya juga besar. Dana RP 22 miliar itu nanti harus digunakan untuk memberdayakan petani dan kelembagaannya sehingga benar benar siap untuk memproduksi garam sesuai dengan harapan dari program swasembada garam nasional ini, “ katanya, Senin (17/1).

Semua kabupaten di Madura mendapat bagian dana BLM itu, hanya jumlahnya tidak sama disesuaikan dengan luas areal lahan dan jumlah petani garam. Terbesar diperoleh Sampang dengan jumlah Rp 10 miliar, kedua Sumenep dengan jumlah bantuan Rp 6 miliar. Pamekasan dapat bagian Rp 5 miliar, sedangkan yang terkecil diperoleh Bangkalan dengan jumlah Rp 1 miliar.

Saat ini yang harus dipersiapkan, kata Makhfud adalah pembentukan kalembagaan yang akan menerima dana BLM itu. Menurut dia yang paling efektif adalah dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Baik dengan mereaktualisasi KUBE yang ada maupun membentuk lembaga baru.

Yang pasti, kata dia, harus diupayakan agar dana ini benar benar efektif memberdayakan petani garam dan tidak salah sasaran. Karena itu harus melalui metode tepat dan terhindar dari penyalahgunaan. “Program seperti ini biasanya rawan dibelokkan oleh orang tertentu yang punya kepentingan,” katanya.

Jika telah terbentuk, maka KUBE itu nanti akan mendapatkan berbagai pelatihan dan refitalisasi dengan program penguatan kelembagaan. Termasuk didalamnya adalah memperkenalkan inovasi tehnologi agar para petani juga siap untuk memanfatkan teknologi jika dibutuhkan.

Sementara itu Sekretaris Komite Garam Pamekasan Yoyok Efendi SH MM menilai Program Swasembada Garam Nasional ini dinilai sebagai langkah tepat untuk memperbaiki taraf hidup petani garam di Madura dan petani garam lainnya. Karena itu petani garam Madura harus mempersiapkan diri.

Dikatakan kebutuhan garam secara nasional saat ini mencapai sekitar 3 juta ton/tahun. Selama ini kata dia jumlah produksi garam konsumsi secara nasional baru mencapai sekitar 800 ton/tahun, sehiangg kekurangannya masih harus impor, termasuk juga untuk garam industri.

Swasembada garam nasional ini akan bisa memperkecil impor garam selain itu juga akan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani garam itu sendiri. “ Jika ribuan hektar lahan garam yang ada di Madura dimanfaatkan dengan baik, maka bisa jadi kebutuhan akan garam konsumsi nasional akan bisa dipenuhi dari produksi garam dari Madura,” katanya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 17 Januari 2011

Dua Desa di Sumenep Diterjang Puting Beliung

foto istimewa

Dua desa di Kabupaten Sumenep, Madura, diterjang puting beliung. Meski tidak ada korban jiwa, akibat kejadian ini, 11 rumah warga ambruk, Sabtu (8/1/2011).

Keterangan yang dihimpun, di Dusun Cancang, Desa Lombang ada tujuh rumah warga ambruk. Sedangkan di Desa Banmaleng, Kecamatan Giligenting, 4 rumah rata dengan tanah.

Menurut penuturan warga setempat, Edy puting beliung menerjang bersamaan denga hujan deras. Tiba-tiba, dari arah barat muncul gumplana awan hitam. “Angin puting beliung terjadi selama 10 menit,” katanya.

Saat ini warga masih merasa was-was akan terjadinya puting beliung susulan. Pasalnya, cauava di desa tersebut masih diselimuti mendung dan gerimis. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Sabtu, 8 Januari 2011

Puting Beliung Terjang 4 Desa di Pamekasan

foto: nen/zonaberita.com
Rumah milik Alwi di Dusun bangkal, Desa Ambander, Kecamatan Pagantenan, rusak diterjang puting beliung

Angin puting beliung menerjang 4 Desa di Kabupaten Pamekasan. Akibatnya belasan rumah dan sebuah mushola rusak, Rabu (12/1/2011) sekira pukul 05.00 WIB.

Di Dusun Bangkal, Desa Ambander sebanyak 6 rumah dan 1 musholla, rata-rata mengalami kerusakan pada atapnya. Di Desa Palesanggar, Kecamatan Pagantenan, sebanyak 5 rumah warga juga mengalami kerusakan di atap.

Mushola As Suadah, milik Ustad Alwi, sementara tidak bisa ditempati untuk mengaji. “Untuk sementara musholla tidak bisa ditempati, akan kita perbaiki dulu,” kata Ustad Alwi pada zonaberita.com.

Sementara di Dusun Podak, Desa Pamoroh, akibat terjagan puting beliung pohon tumbang menimpa rumah milik Maimunah. Begitu juga dengan yang terjadi di Desa Bangkes.

Selain merusak rumah, angin kencang merobohkan puluhan pohon durian. Pohon kenitu dan alpukat. Tidak ada korban jiwa, namun kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Warga berharap, pemkab setempat, memberikan bantuan berupa bahan material, sehingga kerusakan akibat bisa segera diperbaiki. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Rabu, 12 Januari 2011

Nidji Jadi Sakera di Surabaya

Nidji di Surabaya Foto: Acat

Akhir pekan kemarin, Nidji kembali mendapatkan penghargaan dari fansnya di Surabaya. Nidjiholic asal Bangkalan membawakan 6 baju Sakera (jagoan dari Madura) untuk dipakai dalam acara peresmian fans club itu.

"Jadi kita dibawain 6 pasang baju Sakera untuk dipakai sekalian peresmian Nidjiholic Bangkalan," ujar Giring di Hotel Garden Palace dalam peresmian Nidjiholic Bangkalan Madura di Surabaya, Sabtu (22/5).

Nidji yang sudah mempunyai fansnya di masing-masing daerah seperti Kalimantan, Surabaya, dan Jakarta tentunya merasa berkat fans lah Nidji masih tetap bisa berkarya.

"Semangat, mereka yang selalu memberikan semangat untuk kita terus berkarya. Walaupun misalnya EO-nya kurang ajar atau venuenya kosong, ya Nidjiholic ini yang tetap menyemangati. Kita tetap pol-polan mainnya ya," ucap pentolan Nidji yang menganggap kalau Nidjiholic itu sudah seperti keluarga.

"Kita anggap Nidjiholic itu saudara yang sudah seperti keluarga," tambah Giring. (kpl/gum/boo)

Sumber: KapanLagi, Senin, 24 Mei 2010