Adipura mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Sampang. Saat kirab piala anugerah untuk kota bersih untuk kategori kota kecil dengan jumlah penduduk di bawah 100 ribu jiwa itu kemarin (9/10), iring-iringan konvoi kendaraan hingga mencapai 2 kilometer.
Kirab Piala Adipura dimeriahkan dengan drumband dan musik Ul-Daul. Sebagai ungkapan rasa syukur, Bupati Sampang Noer Tjahja sujud syukur setelah penyerahan Piala Adipura oleh Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Hermanto Subaidi.
Kirab Piala Adipura dimulai dari Kec Jrengik, kecamatan paling barat. Bupati dan anggota muspikab naik mobil Jeep terbuka dengan membawa Piala Adipura. Di belakangnya iring-iringan sepeda motor, mobil, dan kelompok sepeda ontel.
Sepanjang rute konvoi, warga memadati kanan-kiri jalan. Mereka melambaikan tangan kepada bupati yang membawa Piala Adipura. Bupati yang berdiri di atas mobil bersama Kepala Kejari Deddy S. Surachman, Ketua PN Lindi Kusumaningtias, Dandim 0828 Letkol (Arm) Sanuri Hadi membalas dengan melambaikan tangan kepada warga.
Sesampai di Jalan Wachid Hasyim, rombongan berbelok ke arah utara dan berputar melalui Jalan Pahlawan. Kemudian menuju ke makam Rato Ebuh di Kampung Madegan, Kelurahan Polagan. Warga di menyambut rombongan dengan musik Ul-Daul. Di makam Rator Ebuh bupati dan rombongan tabur bunga.
Selanjutnya rombongan ke pendapa bupati untuk prosesi penyerahan piala. Setelah anggota satpol PP menyerahkan piala kepada Sekkab Hermanto Subaidi, Hermanto menyerahkannya kepada bupati. Usai menerima piala dan meletakkan di meja, bupati langsung menjatuhkan badannya dan sujud syukur.
"Saya adalah salah satu orang yang sangat bersyukur dan bergembira atas diperolehnya Piala Adipura," kata Noer Tjahja.
Dia mengatakan, penghargaan Adipura yang diberikan langsung oleh Presiden SBY ditujukan untuk seluruh masyarakat Sampang. Sementara perayaannya hanya sebagai bentuk pengejewantahan dari rasa syukur dan motivasi agar seluruh masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan.
"Dengan diperolehnya Piala Adipura ini, Sampang bisa menunjukkan sebagai kabupaten yang setara dengan wilayah lainnya yang ada di Jawa Timur," harapnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf secara langsung menyampaikan kebanggaannya dan mengucapkan selamat kepada Kabupaten Sampang. "Saya seneng dengan kabupaten ini. Sampang benar-benar berbenah. Dan, tahun ini mendapatkan Adipura. Saya ucapkan selamat," katanya saat ditemui koran ini Senin (7/6). (fei/mat)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010
Penghargaan Adipura 2010
Bangkalan Kota Sedang, Sumenep-Sampang Kota Kecil
Prestasi di bidang lingkungan hidup bergengsi tingkat nasional, kembali ditorehkan tiga kabupaten di Madura. Yakni meraih Penghargaan Adipura.
Untuk Kabupaten Bangkalan, meraih Penghargaan Adipura untuk kategori Kota Sedang. Sedang Kabupaten Sumenep dan Sampang, meraih Penghargaan Adipura untuk kategori Kota Kecil.
Sayang, prestasi ini gagal diikuti Kabupaten Pamekasan.
Dan, sebagai apresiasi atas keberhasilan bidang lingkungan hidup itu, tiga bupati dari kabupaten dimaksud menerima Penghargaan Adipura di Istana Negara, Jakarta, kemarin (8/6). Dari Bangkalan, Bupati Fuad Amin. Sedang dari Sumenep dan Sampang juga dihadiri langsung Bupati Ramdlan Siraj dan Bupati Noer Tjahja. Masing-masing menerima Piala Adipura dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Bagi Kabupaten Bangkalan, penghargaan Adipura tersebut adalah kali kelima. Penghargaan serupa sebelumnya diterima pada 1987 dan 2006. Kemudian tiga yang lain berturut-turut mulai 2008, 2009, dan 2010.
Sedang untuk Kabupaten Sumenep, juga kali kelima. Masing-masing di tahun 1996 dan 1997. Tiga penghargaan Adipura yang lain, juga berturut-turut mulai 2008, 2009, dan 2010.
Sementara untuk Kabupaten Sampang, sampai 2010 ini masih untuk kali kedua. Sebelumnya pada 1997, kala itu Kabupaten Sampang dipimpin Bupati Bagus Hinayana.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bangkalan Yulianto mengatakan, keberhasilan Bangkalan mempertahankan anugerah Adipura didapat dari hasil penilaian kebersihan, keteduhan, lokasi tata letak pasar, sekolah dan kantor-kantor di Kabupaten Bangkalan.
Diakui Yulianto, anugerah yang didapat tersebut bukanlah tujuan akhir dari upaya menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan daerah. Melainkan hanya sebentuk motivasi bagi masyarakat agar terus meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan. Terutama di lingkungan perkotaan.
"Tapi yang paling berperan dalam hal ini (kebersihan) adalah kesadaran dari warga sendiri," jelas Yulianto yang dikonfirmasi melalui ponselnya saat masih di Jakarta kemarin.
Komentar yang tak jauh berbeda disampaikan Kepala BLH Sumenep Abd. Mutallib Faraj. Melalui saluran telepon dari Jakarta, Mutallib menjelaskan, sukses mempertahankan Adipura merupakan sukses bagi masyarakat Sumenep secara keseluruhan.
"Saya kira tanpa kerjasama dari berbagai pihak, Adipura tidak bisa diraih Sumenep," katanya sesaat setelah mendampingi Bupati Ramdlan Siraj menerima Penghargaan Adipura kemarin siang.
Dijelaskan, sukses Sumenep meraih penghargaan Adipura tak lepas dari fokus penataan lingkungan yang dilakukan terus-menerus. Terutama, pada beberapa hal yang menjadi item penilaian. Antara lain TPA (tempat pembuangan akhir) sampah, terminal, pasar, sekolah, dan permukiman.
"Beberapa titik itu telah dikunjungi oleh tim penilai dari pusat. Dan, semuanya memang berkat kerja keras untuk menata agar lingkungan tetap terjaga," paparnya.
Selain beberapa titik itu, Sumenep juga tertolong dengan adanya RTH (ruang terbuka hijau) yang cukup banyak. Terutama, di wilayah perkotaan. Seperti di sepanjang Jalan Trunojoyo, kawasan Taman Adipura, dan sebagainya. "Untuk RTH memang betul-betul dijaga agar tetap rindang dan bersih," pungkas Mutallib.
Sementara dari Kabupaten Sampang, Sekkab Hermanto Subaidi mewakili Bupati Noer Tjahja, mengaku bangga atas prestasi tersebut. Sebab, ini penghargaan yang kedua kalinya yang diberikan Presiden RI kepada Pemkab Sampang. "Sampang tidak akan memboyong Adipura jika tidak didukung segenap lapisan masyarakat. Adipura ini kami persembahkan kepada rakyat Sampang," ujarnya.
Suami Enny Muharjuni ini menambahkan, tanpa dukungan tokoh ulama, tokoh masyarakat serta warga Kota Bahari, mustahil Sampang bisa membawa pulang Adipura. "Penghargaan ini diharapkan bisa meningkatkan semangat dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan lingkungan perkotaan," harapnya.
Kepala BLH Sampang Slamet Terbang menambahkan, pihaknya bersama SKPD di lingkungan Pemkab Sampang sudah menyiapkan acara sambutan guna merayakan prestasi yang ditorehkan rakyat Sampang tersebut. "Rencananya, sepulang dari Jakarta, nanti disambut di Suramadu menuju pendapa. Setelah itu, menggelar tasyakuran bersama di Kampung Madeggan dan keliling kota," ungkapnya. (zid/amr/yan/ed)
Sumber: Jawa Pos, Rabu, 09 Juni 2010
Prestasi di bidang lingkungan hidup bergengsi tingkat nasional, kembali ditorehkan tiga kabupaten di Madura. Yakni meraih Penghargaan Adipura.
Untuk Kabupaten Bangkalan, meraih Penghargaan Adipura untuk kategori Kota Sedang. Sedang Kabupaten Sumenep dan Sampang, meraih Penghargaan Adipura untuk kategori Kota Kecil.
Sayang, prestasi ini gagal diikuti Kabupaten Pamekasan.
Dan, sebagai apresiasi atas keberhasilan bidang lingkungan hidup itu, tiga bupati dari kabupaten dimaksud menerima Penghargaan Adipura di Istana Negara, Jakarta, kemarin (8/6). Dari Bangkalan, Bupati Fuad Amin. Sedang dari Sumenep dan Sampang juga dihadiri langsung Bupati Ramdlan Siraj dan Bupati Noer Tjahja. Masing-masing menerima Piala Adipura dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Bagi Kabupaten Bangkalan, penghargaan Adipura tersebut adalah kali kelima. Penghargaan serupa sebelumnya diterima pada 1987 dan 2006. Kemudian tiga yang lain berturut-turut mulai 2008, 2009, dan 2010.
Sedang untuk Kabupaten Sumenep, juga kali kelima. Masing-masing di tahun 1996 dan 1997. Tiga penghargaan Adipura yang lain, juga berturut-turut mulai 2008, 2009, dan 2010.
Sementara untuk Kabupaten Sampang, sampai 2010 ini masih untuk kali kedua. Sebelumnya pada 1997, kala itu Kabupaten Sampang dipimpin Bupati Bagus Hinayana.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bangkalan Yulianto mengatakan, keberhasilan Bangkalan mempertahankan anugerah Adipura didapat dari hasil penilaian kebersihan, keteduhan, lokasi tata letak pasar, sekolah dan kantor-kantor di Kabupaten Bangkalan.
Diakui Yulianto, anugerah yang didapat tersebut bukanlah tujuan akhir dari upaya menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan daerah. Melainkan hanya sebentuk motivasi bagi masyarakat agar terus meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan. Terutama di lingkungan perkotaan.
"Tapi yang paling berperan dalam hal ini (kebersihan) adalah kesadaran dari warga sendiri," jelas Yulianto yang dikonfirmasi melalui ponselnya saat masih di Jakarta kemarin.
Komentar yang tak jauh berbeda disampaikan Kepala BLH Sumenep Abd. Mutallib Faraj. Melalui saluran telepon dari Jakarta, Mutallib menjelaskan, sukses mempertahankan Adipura merupakan sukses bagi masyarakat Sumenep secara keseluruhan.
"Saya kira tanpa kerjasama dari berbagai pihak, Adipura tidak bisa diraih Sumenep," katanya sesaat setelah mendampingi Bupati Ramdlan Siraj menerima Penghargaan Adipura kemarin siang.
Dijelaskan, sukses Sumenep meraih penghargaan Adipura tak lepas dari fokus penataan lingkungan yang dilakukan terus-menerus. Terutama, pada beberapa hal yang menjadi item penilaian. Antara lain TPA (tempat pembuangan akhir) sampah, terminal, pasar, sekolah, dan permukiman.
"Beberapa titik itu telah dikunjungi oleh tim penilai dari pusat. Dan, semuanya memang berkat kerja keras untuk menata agar lingkungan tetap terjaga," paparnya.
Selain beberapa titik itu, Sumenep juga tertolong dengan adanya RTH (ruang terbuka hijau) yang cukup banyak. Terutama, di wilayah perkotaan. Seperti di sepanjang Jalan Trunojoyo, kawasan Taman Adipura, dan sebagainya. "Untuk RTH memang betul-betul dijaga agar tetap rindang dan bersih," pungkas Mutallib.
Sementara dari Kabupaten Sampang, Sekkab Hermanto Subaidi mewakili Bupati Noer Tjahja, mengaku bangga atas prestasi tersebut. Sebab, ini penghargaan yang kedua kalinya yang diberikan Presiden RI kepada Pemkab Sampang. "Sampang tidak akan memboyong Adipura jika tidak didukung segenap lapisan masyarakat. Adipura ini kami persembahkan kepada rakyat Sampang," ujarnya.
Suami Enny Muharjuni ini menambahkan, tanpa dukungan tokoh ulama, tokoh masyarakat serta warga Kota Bahari, mustahil Sampang bisa membawa pulang Adipura. "Penghargaan ini diharapkan bisa meningkatkan semangat dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan lingkungan perkotaan," harapnya.
Kepala BLH Sampang Slamet Terbang menambahkan, pihaknya bersama SKPD di lingkungan Pemkab Sampang sudah menyiapkan acara sambutan guna merayakan prestasi yang ditorehkan rakyat Sampang tersebut. "Rencananya, sepulang dari Jakarta, nanti disambut di Suramadu menuju pendapa. Setelah itu, menggelar tasyakuran bersama di Kampung Madeggan dan keliling kota," ungkapnya. (zid/amr/yan/ed)
Sumber: Jawa Pos, Rabu, 09 Juni 2010
Pemilihan Rektor Universitas Trunojoyo
Prof Arifin Kantongi Suara Tertinggi
Pemilihan Rektor (Pilrek) tahap pertama untuk memilih tiga besar yang masuk pada tahap pemilihan selanjutnya sudah dilaksanakan hingga pukul 17.00 kemarin (9/6). Pilrek yang diikuti lima bakal calon (balon) tersebut berlangsung cukup demokratis. Sebab, tidak hanya dosen dan karyawan saja yang memiliki hak suara dalam pemilihan tersebut. Seluruh mahasiswa Unijoyo juga mengikuti pesta demokrasi kampus besar-besaran itu. Dalam pemilihan tersebut Prof Arifin mendapat suara tertinggi.
Sekretaris Panitia Pemilihan Rektor, Syafi' menjelaskan nilai suara terbagi dua. Untuk suara dosen dan karyawan satu suara nilai bobotnya 1. Sedangkan untuk suara mahasiswa, satu suara nilai bobotnya 0,14. Dengan demikian, tujuh suara mahasiswa setara dengan satu suara dosen atau karyawan. Para pemilih tersebut memberikan suaranya di tiga tempat pemungutan suara (TPS).
Berdasarkan data dari panitia pemilihan, hasil rekap akhir Pemilu Raya menunjukkan Prof Arifin mendapat bobot suara tertinggi. Balon nomor urut pertama Drs Subandri mendapat bobot suara 20,64. Balon kedua Dr Ir Slamet Sobari mendapat bobot suara sebesar 43,92. Sedangkan Balon ketiga, Imron Kuswandi mendapat bobot suara 13,08. Dan, balon keempat Dr Hj Iriani Ismail Dra Mm mendapat bobot suara 46,72. Semenatara Prof Dr Ir H Arifin mendapat bobot suara tertinggi sebanyak 430,12.
Dijelaskan, pemilihan saat ini adalah pemilihan pada tahap pertama. Tiga balon tertinggi nantinya akan diajukan ke senat untuk dipertimbangkan. "Tapi yang jelas kami berharap pada senat agar hasil dari pemilihan pertama ini menjadi perhatian untuk menentukan pertimbangan-pertimbangan berikutnya," jelas Syafi' kemarin.
Dilain pihak balon Prof Arifin mengaku bersyukur dengan proses pemilihan yang digelar tersebut. Menurutnya, di antara kampus-kampus negeri yang baru, pihaknya melibatkan mahasiswa dalam tahapan Pilrek. Dia berharap agar proses demokrasi tersebut berjalan baik dan lancar hingga akhir pemilihan dan penetapan rektor nanti.
Terkait partisipasi civitas dalam pemilihan, Prof Arifin menilai partisipasi seluruh civitas kampus sangat tinggi. Dari jumlah DPT dosen dan karyawan yang hadir mencapai 80 persen. Sementara yang tidak hadir rata-rata mereka yang mengikuti studi lanjutan ke luar daerah dan luar negeri. "Tapi dengan peran serta yang seperti ini kami sudah bangga," ungkapnya.
Terkait pemilihan berikutnya, Arifin juga berharap agar pihak senat perwakilan dosen dan karyawan memperhatikan hasil pemilihan pertama sebelum melakukan pengesahan. Arifin menambahkan, jika ia kembali terpilih akan meningkatkan penataan tata kelola administrasi pendidikan, keuangan, kepegawaian, termasuk organisasi alumni. (amr/rif)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010
Pemilihan Rektor (Pilrek) tahap pertama untuk memilih tiga besar yang masuk pada tahap pemilihan selanjutnya sudah dilaksanakan hingga pukul 17.00 kemarin (9/6). Pilrek yang diikuti lima bakal calon (balon) tersebut berlangsung cukup demokratis. Sebab, tidak hanya dosen dan karyawan saja yang memiliki hak suara dalam pemilihan tersebut. Seluruh mahasiswa Unijoyo juga mengikuti pesta demokrasi kampus besar-besaran itu. Dalam pemilihan tersebut Prof Arifin mendapat suara tertinggi.
Sekretaris Panitia Pemilihan Rektor, Syafi' menjelaskan nilai suara terbagi dua. Untuk suara dosen dan karyawan satu suara nilai bobotnya 1. Sedangkan untuk suara mahasiswa, satu suara nilai bobotnya 0,14. Dengan demikian, tujuh suara mahasiswa setara dengan satu suara dosen atau karyawan. Para pemilih tersebut memberikan suaranya di tiga tempat pemungutan suara (TPS).
Berdasarkan data dari panitia pemilihan, hasil rekap akhir Pemilu Raya menunjukkan Prof Arifin mendapat bobot suara tertinggi. Balon nomor urut pertama Drs Subandri mendapat bobot suara 20,64. Balon kedua Dr Ir Slamet Sobari mendapat bobot suara sebesar 43,92. Sedangkan Balon ketiga, Imron Kuswandi mendapat bobot suara 13,08. Dan, balon keempat Dr Hj Iriani Ismail Dra Mm mendapat bobot suara 46,72. Semenatara Prof Dr Ir H Arifin mendapat bobot suara tertinggi sebanyak 430,12.
Dijelaskan, pemilihan saat ini adalah pemilihan pada tahap pertama. Tiga balon tertinggi nantinya akan diajukan ke senat untuk dipertimbangkan. "Tapi yang jelas kami berharap pada senat agar hasil dari pemilihan pertama ini menjadi perhatian untuk menentukan pertimbangan-pertimbangan berikutnya," jelas Syafi' kemarin.
Dilain pihak balon Prof Arifin mengaku bersyukur dengan proses pemilihan yang digelar tersebut. Menurutnya, di antara kampus-kampus negeri yang baru, pihaknya melibatkan mahasiswa dalam tahapan Pilrek. Dia berharap agar proses demokrasi tersebut berjalan baik dan lancar hingga akhir pemilihan dan penetapan rektor nanti.
Terkait partisipasi civitas dalam pemilihan, Prof Arifin menilai partisipasi seluruh civitas kampus sangat tinggi. Dari jumlah DPT dosen dan karyawan yang hadir mencapai 80 persen. Sementara yang tidak hadir rata-rata mereka yang mengikuti studi lanjutan ke luar daerah dan luar negeri. "Tapi dengan peran serta yang seperti ini kami sudah bangga," ungkapnya.
Terkait pemilihan berikutnya, Arifin juga berharap agar pihak senat perwakilan dosen dan karyawan memperhatikan hasil pemilihan pertama sebelum melakukan pengesahan. Arifin menambahkan, jika ia kembali terpilih akan meningkatkan penataan tata kelola administrasi pendidikan, keuangan, kepegawaian, termasuk organisasi alumni. (amr/rif)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010
Jembatan Suramadu Belum Dongkrak Ekonomi Regional

Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) hari ini (10/6) berusia setahun setelah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu. Namun, hingga kini, jembatan sepanjang 5,438 kilometer itu belum mampu memberikan pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian Jawa Timur (Jatim).
Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan bahwa eksistensi jembatan terpanjang di Indonesia tersebut butuh waktu lagi untuk lebih mendongkrak pertumbuhan ekonomi regional. "Sementara baru bisa menekan biaya akses transportasi dan menstabilkan harga barang," katanya setelah rapat pembahasan tol Surabaya-Mojokerto dan tol Porong bersama Muspida Jatim dan muspida kabupaten/kota di Ruang Binaloka Kompleks Pemprov Jatim kemarin (9/6).
Meski belum berbanding lurus dengan biaya hampir Rp 5 triliun yang dikeluarkan untuk membangun jembatan, kata Soekarwo, Suramadu menjadi pilihan alternatif baru. Sebelumnya, masyarakat dari Surabaya yang hendak ke Madura maupun sebaliknya tidak punya pilihan lain, kecuali menggunakan jasa penyeberangan kapal laut.
Dalam perkembangannya, Suramadu malah menjadi pilihan utama masyarakat. Sebab, aksesnya lebih mudah ke beberapa daerah di Pulau Madura. Mantan Sekdaprov tersebut menuturkan, wilayah di sekitar kaki jembatan belum dikembangkan secara optimal. Salah satu kendalanya adalah belum berperannya Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS).
Pemprov sudah berupaya memfasilitasi BPWS agar dapat bekerja sama dengan lima kepala daerah. Mereka adalah wali kota Surabaya dan empat bupati di Madura. Yakni, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Soekarwo mengungkapkan, badan bentukan pemerintah pusat yang baru terbentuk Agustus 2009 itu sampai kini belum melakukan aksi nyata karena terkendala dana.
"BPWS sebenarnya telah mengajukan dana melalui perubahan anggaran keuangan (PAK)," terangnya. Pejabat asal Madiun tersebut memperkirakan, BPWS bakal berperan maksimal mulai 2011. Itu akan terjadi setelah mereka menjadi satuan kerja (satker) tersendiri di bawah pemerintah pusat. Selama ini, mereka tidak bisa lepas dari bayang-bayang salah satu satker Kementerian Pekerjaan Umum.
Jika Soekarwo menyatakan bahwa setahun pertama Suramadu belum terlalu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, Asisten I (Ekonomi Pembangunan) Chairul Djaelani mengungkapkan sebaliknya. Meski terkesan berjalan lambat, dia menepis bahwa pembangunan pasca peresmian Jembatan Suramadu mengalami stagnasi. "Kalau dilihat dari sisi Surabaya, memang tidak terlihat. Tapi, di Madura lebih menggeliat," ungkapnya.
Mantan kepala Dinas Permukiman Jatim tersebut mencontohkan bukti konkret bergeraknya laju ekonomi. Salah satunya, proyek pembangunan pelabuhan di Desa Pernajuh dan Dakiring, Kecamatan Socah. Dia menjelaskan, perkembangan proyek baru memasuki tahap pengurukan tanah setelah sejumlah areal direklamasi. "Kontraktor proyeknya swasta. Pemprov sebatas men-support pendanaan multipurpose," terangnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim Hadi Prasetyo menilai, sejak bentang kabel dioperasikan tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Jatim turut terkerek. "Pertumbuhan Jatim yang kini di atas 5 persen malah melebihi perekonomian nasional," kata Pras, panggilan akrabnya.
Dia menerangkan, investasi usaha di seputar Suramadu mulai bermunculan. Namun, skala usaha masih berupa usaha kecil menengah (UKM). "Prediksi kami, investasi besar mulai tumbuh tahun depan," ujar pria berkacamata tersebut. Dia menuturkan, jembatan kebanggaan Indonesia itu kini menjadi ikon wisata Jatim yang baru setelah Gunung Bromo. (sep/c12/aww)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)