Tanah Belakang Ponpes Miftahul Mustarsyidin Longsor

foto:din/zonaberita.com
Lokasi tanah longsor yang berada di belakang Ponpes

Tanah yang berada di belakang bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Mustarsyidin Longsor 100 meter.

Longsoran tanah yang terjadi sejak sebulan lalu sedikit demi sedikit menggerus bangunan Ponpes di Kecamatan Kedundung, Sampang, Madura.

Para santri khawatir longsor merobohkan bangunan pondok saat mereka sedang belajar. “Kalau terus begini longsornya akan mengganggu aktivitas belajar mengajar apalagi di sini banyak santri,” kata Muammal, salah seorang santri, Kamis (30/12/2010).

Pengasuh Ponpes Miftahul Mustarsyidin, KH Hasbullah Huda, mengatakan, longsor terjadi karena tingginya intensitas hujan yang terjadi beberapa hari terakhir.

KH Hasbullah, berharap ada bantuan dari pemerintah setempat agar bisa membuat plengsengan di sekitar pondok, sehingga longsor tidak terus terjadi, apalagi lokasi pondok dekat dengan sungai.

Ponpes Miftahul Mustarsyidin terletak sekitar 30 km dari Kota Sampang. Lokasinya berada di perbukitan dengan kondisi tanah lempung, sehingga sangat rawan dilanda longsor. (din/isp)

Sumber: ZonaBerita, Kamis, 30 Desember 2010

Bupati Pamekasan Lepas Atlet Catur ke COSIYC Singgapura

foto:nen/zonaberita.com
Early Candra Kurniawan menuju COSIYC Singapura

Pamekasan, zonaberita.com - Bupati Pamekasan Kholilurrahman melepas atlet catur yang akan mewakli kabupaten setempat untuk berlaga di Chess Olympiade Singapore International Youth Championship (COSIYC) di Singapura.

Selain mewakili Kabupaten Pamekasan, Early Candra Kurniawan (15) siswa kelas 10 SMA Negeri 4 pamekasan, sekaligus mewakili Indonesia.

Dalam sambutannya di ruang peringgitan dalam Pendopo Ronggosukowati, Jumat (24/12/2010) Bupati, berharap keberangkatan Early Candra akan membawa kemenangan dan mengharumkan nama Pamekasan di tingkat Internasional.

Atlet muda asal Desa Samatan Kecamatan Proppo, yang telah terdaftar sebagai atlet Percasi sejak klas 3 SD, Sebenarnya telah berulangkali meraih medali emas dalam Event Nasional.

Di antaranya meraih medali emas pada Kejurda Olimpiade Olah raga Saint Nasional. Kejurnas di Palangkaraya tahun 2009. Dan Kejurnas di Manado pada 2010.

Kejurnas di Manado inilah yang membuat Early naik peringkat dari D ke C dan berhak menyandang gelas Master Percasi.

“Karena sejumlah prestasi inilah, Early bisa terpilih untuk mewakili Indonesia. Early berlaga pada klas di bawah usia 17 tahun, yang dipilih langsung oleh PB Percasi Pusat,” kata Abd Razak Bahman pada zonaberita.com.

Masih katanya, selain Early, masih ada tiga rekkany lagi yang mewakili Indonesi.

Ketiga atlet itu, pada usia di bawah 8 tahun dari Kalimantan Timur. Usia di bawah 11 tahun dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan di bawah 14 tahun dari Jawa Tengah.

Chess Olympiade Singapore International Youth Championship, akan berlangsung mulai tanggal 25 hingga 31 Desember 2010 di Singapura. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Sabtu, 25 Desember 2010

Diva Raih 3 Medali Emas dan Satu Perak di TFIYM India

foto: nen/zonaberita.com

Satu kebanggan lagi disandang sekolah favorit SMAN 1 Pamekasan Madura.

Setelah 3 siswanya berhasil meraih Medali Emas dan Perak dalam berbagai event seperti lomba Sain Fisika Internasional, yang dikuti Andi Oktavian Latif dan Sohibul Maromi pada Ajang International Physic Olimpiade (Ipho) di Zagreb Kroasia.

Kali ini Alissya Diva Mustika siswi klas 10 SMAN 1 Pamekasan menyusul ketiganya dengan meraih 3 medali emas dan 1 perak untuk keunggulannya pada ajang The Fourth International Young Mathematics (TFIYM) di India.

Masing-masing medali yang di raihnya yaitu di antaranya 3 emas untuk Relay Round Contest, Individual Contest dan Team Contest. Serta 1 perak untuk ajang Mathematical Fair.

Diva tidak hanya berangkat sendiri, namun ia bersama adiknya Alssya Putri Mustika di sertai seorang rekannya Nora Nisrina Bafadal dari SMAN I Bogor yang berhasil meraih medali perak.

Kepala SMAN 1 Pamekasan Basyoir Sabtu (11/12/2010) pada zonaberita.com menyampaikan rasa kebanggannya dan berharap siswa di lembaga sekolah itu tidak cepat puas dan tetap meningkatkan prestasinya.

Dalam lomba ini diikuti oleh 13 Negara yang dibagi dalam 66 tim untuk junior level dan 50 tim untuk senior level. Negara-negara tersebut adalah Rusia, Afrika Selatan, Inggris, Korea, Thailand, Philipina, Qatar, Iran, Bhutan, Nepal, India, Sri Langka dan Indonesia. (nen/isp)

Sumber: Zonaberita.com, Sabtu, 11 Desember 2010

Mendiknas Kukuhkan Pamekasan Kabupaten Pendidikan

Pamekasan resmi menyandang predikat sebagai Kabupaten Pendidikan. Deklarasi Pamekasan Sebagai Kabupaten Pendidikan dilaksanakan Jumat (24/12) kemarin yang ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr M Nuh DEA, di Lapangan Kecamatan Waru Pamekasan.

M Nuh Mengatakan Pamekasan memenuhi syarat untuk menjadi kabupaten pendidikan, karena Pamekasan merupakan daerah tingkat II yang memiliki banyak prestasi di bidang pendidikan. Pamekasan juga merupakan daerah yang telah menganggarkan anggaran pendidikan lebih dari 20 persen APBD sesuai dengan tuntutan Undang Undang.

Acara deklarasi itu juga dihadiri Kapolda Jatim Badrudin Haiti. Kehadiran Kapolda ini selain menghadiri deklarasi Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan juga untuk menyaksikan penendatanganan kerjasama antara Pemkab Pamekasan dengan Polres Pamekasan dengan mamasukkan pelajaran kelalulintasan dalam mata pelajaran resmi di sekolah.

M Nuh mengatakan kemajuan sebuah bangsa tergantung pada sejauh mana pelaksanaan pendidikan. Karena itu bekerja keras untuk memajukan pendidikan merupakan suatu persaratan untuk menghadapi masa depan yang banyak tantangan. “Pamekasan telah memulai untuk bangkit dengan mengukuhkan dirinya sebagai kabupaten pendidikan. Ini harus dipertahankan,” katanya.

Sebagai konsekuensi dari dikukuhkannya Pamekasan sebagai Kabupaten Pendidikan, M Nuh berjanji Kementrian Pendidikan Nasional akan memberikan perhatian lebih dengan cara akan menyediakan alokasi anggaran yang khusus untuk kabupaten Pamekasan, untuk pengembangan dunia pendididikan.

Sebelum menandatangani prasasti deklarasi, dari atas panggung M Nuh menyempatkan diri memanggil dan berdialog dengan sejumlah pelajar berprestasi tingkat internasional dari Pamekasan mulai dari tingkat SD hingga tingkat SLTA. Saat itu M Nuh menyampaikan apresiasi yang sangat dalam pada para siswa itu, karena ternyata anak anak berprestasi asal Pamekasan itu lebih banyak berasal dari kelompok orang miskin dan dari masyarakat pedesaan.

M Nuh juga menyempatkan menyaksikan berbagai kegiatan simulasi dan eksprimen dari para pelajar yang sengaja ditampilkan dalam arena deklarasi itu untuk menyemarakkan deklarasi Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan.

Bupati Pamekasan Drs KH Khalilurrahman SH MSi mengatakan bahwa sampai saat ini Pamekasan masih berpredikat sebagai kota tertinggal dari segi ekonomi. Namun sekalipun Pamekasan dikenal sebagai kota tertinggal, untuk bidang pendidikan pamekasan memiliki prestasi yang sangat membanggakan.

Dia lalu mengungkapkan sejumlah siswa asal Pamekasan yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesua karena berprestasi dalam bidang lomba mata pelajaran sain ditingkat internasional. Diantaranya Andy Oktavian Latief Peraih Medali Emas IPhO di Singapura tahun 2006. M Sahibul Maromi peraih medali emas IPhO di Kroasia tahun 2010.

Bupati Kholil mengatakan bahwa sengaja deklarasi dilakukan di Kecamatan Waru sebagai kecamatan paling utara Pamekasan. Ini bertujuan untuk mengembangkan sebagai kecamatan berprestasi dibagian utara. Apalagi Kecamatan Waru merupakan Kecamatan yang dipersiapkan untuk menjadi Kota Kedua Pamekasan. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 26 Desember 2010

Abussidik Dilantik Gubernur di Pendopo Agung

Foto: Soekarwo Gubernur Jawa Timur usai Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep di pendopo agung Sumenep. Terlihat beliau melayani wawancara wartawan lokal Sumenep

Pasangan Abuya Busyro Karim dan Sungkono Sidik (Abussidik) akhirnya resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumenep periode 2010-2015. Acara Pelantikan ini mulai dengan pengambilan sumpah jabatan di Pendopo Agung, Sumenep, Senin, (25/10/2010), tepat jam 11.00 WIB.

Soekarwo, Gubernur Jawa Timur turut membacakan amanat sumpah kewajiban yang harus dijalankan kedua pemimpin baru Sumenep ini. Selanjutnya, juga dibacakan surat keputusan Gubernur Jawa Timur, tentang habisnya masa kepemimpinan bupati dan wakil bupati periode lalu, Ramdlan Sirad dan Muhammad Dahlan.

Menurut pakde Karwo, Pilkada Sumenep digelar melalui dua putaran dan ini menjadi bukti ketatnya persaingan Politik di Sumenep. Adanya gugatan sengketa pilkada hingga ke jenjang Mahkamah Konstitusi, juga menjadi ciri kedewasaan politik para politisi di Sumenep.

Soekarwo juga mengingatkan Bupati terpilih agar memenuhi janji yang disampaikan saat kampanye. "Jadi jangan sampai setelah dilantik nanti lupa dengan janjinya, dengan visi misi yang dulu disampaikan," pintah Soekarwo.

Dalam sambutannya juga, Sukarwo meminta agar pasangan kepala daerah Abuya Busyro Karim dan Sungkono Sidik Kompak. Karena, seringkali terjadi disharmonisasi antara bupati dan wakil bupati, karena terjadi salah paham.

Agenda pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan bupati dan wakil bupati ini dihadiri oleh seluruh jajaran seluruh pejabat Bupati di Madura. Selain itu juga hadir para Muspida, Kepala SKPD dan Badan Pemkab Sumenep.

Tampak hadir juga MH. Said Abdullah (anggota DPR RI/FPDI Perjuangan), KH. Unais Ali Hisyam (anggota DPR RI/ anggota FPKB), Sirmadji (anggota DPRD Jatim/Ketua DPD PDIP Jatim) dan Nawardi (anggota DPRD Jatim/anggota FPKB). Berdasarkan data panitia seluruh undangan yang hadir sebanyak 1300 orang lebih, termasuk Alim Ulama, Tokmas, LSM, Wartawan dan undangan lainnya.

Mahasiswa Demo Dukung Abussidik Tepati Janji

Sementara itu di luar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep, puluhan mahasiswa melakukan aksi damai. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep menggelar aksi tersebut di Taman Adipura Sumenep.

PMII menyebut aksi tersebut sebagai gerakan moral kepada Bupati-Wakil Bupati yang dilantik,untuk menepati janjinya dan meminta bekerja lebih baik dari sebelumnya. "Selama ini, pembenahan berbagai sektor,belum dirasakan masyarakat banyak. Hal ini menjadi PR Bupati dan Wakil Bupati baru," kata Fauzan Adhima, Ketua PC PMII Sumenep.

Fauzan mengatakan mendukung Abussidik menepati janjinya dan memberikan waktu 100 hari untuk melakukan perubahan mendasar. "Kalau dalam waktu 100 hari kerja tidak ada perubahan. Maka kami, para mahasiswa akan terus mengawal, dan mengingatkan Bupati terpilih untuk serius," terang Fauzan.

Dalam aksi damai tersebut, para mahasiswa turut membentangkan spanduk putih bertuliskan harapan dan keinginan "Sumenep harus lebih baik". Di spanduk itu, dibumbui tanda tangan dan harapan agar Bupati-wakil bupati yang baru dilantik, selalu ingat akan tugas beratnya. (rud/*)

Sumber: SP Online, Senin, 25 Oktober 2010

Banjir Surut, Warga di Sampang Bersihkan Lumpur


foto: din/zonaberita.com
Warga mulai membersihkan sisa lumpur di halaman rumah

Sampang, zonaberita.com - Setelah banjir yang merendam kopta Sampang, Madura, surut, sejumlah warga dan siswa sekolah mulai membersihkan sampah dan lumpur, Rabu (8/12/2010).

Untuk membersihkan sampah dan lumpur di halaman rumah maupun sekitar sekolah, mereka menggunakan air sisa banjir.

Hari ini diperkirakan tidak ada pelajaran sekolah, sebab, seluruh siswa dan guru harus bekerja bakti membersihakn sisa kotoran banjir di halaman maupun di ruang kelas.

Sebelumnya, Selasa (7/12/2010), ribuan rumah di kota Sampang, terendam banjir kiriman dari wilayah utara Sampang, akibat hujan deras yang mengguyur sejak dua hari terakhir.

Banjir kiriman yang merendam kota sampang, berasal dari wilayah utara Sampang, seperti Kecamatan Kedungdung, Omben dan Kecamatan Karang Penang. Tidak ada korban dalam musibah banjir di kota Sampang, karena seluruh warga sudah waspada. (din/isp)

Sumber: zonaberita, Rabu, 8 Desember 2010

Suara Tembakan Warnai Jalannya Eksekusi Rumah di Blaban


foto: nen/zonaberita.com
Eksekusi tanah di Desa Blaban, Pamekasan

Suara rentetan tembakan dari moncong senjata laras panjang milik anggota Polres Pamekasan menggema di tengah proses eksekusi sebuah rumah dan tanah seluas 0,9 Ha di Desa Blaban, Kecamatan Batumarmar. Sejumlah anggota polisi dan warga terluka kena pantulan peluru, Rabu (8/12/2010).

Moncong senjata laras panjang menyalak setelah warga hendak melempar batu ke arah petugas. Pantauan di lapangan, menunjukkan, sebelum proses eksekusi dimulai, keluarga pemilik rumah yang kalah dalam proses hukum tampak menyiapkan puluhan butir batu beragam ukuran. Bahkan, ada beberapa butir batu gunung berdiameter 10 cm.

Begitu suara rentetan peluru lepas dari senjata polisi, sejumlah warga yang berada di dalam rumah yang hendak dieksekusi langsung berebut masuk kedalam rumah. Meski begitu, ada sejumlah warga yang terkena pantulan peluru. Ada yang terluka tangannya dan betis kakinya.

Sejauh ini belum ada penjelasan resmi tentang identitas warga yang terkena pantulan peluru. Sebab, Kapolres Pamekasan, AKBP Ganjar Gunadi dan Kasatreskrim, Iptu Nuramin belum bisa dikonfirmasi.

Setelah suara rentetan peluru berhenti, seorang petugas tampak menggenggam gas airmata dan dilempar ke arah rumah sengketa. Saat itulah, sejumlah warga langsung diseret dan diamankan ke arah mobil polisi dan dibawa ke Mapolres Pamekasan.

“Pihak keluarga yang kalah sengketa ternyata mengundang sejumlah preman dari Sokobanah dan Ketapang, Kabupaten Sampang. Kami masih mendalami kasus kedatangan para preman di lokasi obyek sengketa,” ujar seorang perwira yang keberatan disebut namanya.

Keberanian keluarga Buk Tonah (64), pihak yang kalah, menghadapi petugas eksekusi Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan, lantaran didukung oleh sejumlah preman luar daerah tersebut. Bahkan, sebelum ada rentetan senjata api, keluarga pihak yang kalah tampak ngotot jika proses hukum masih belum selesai dan eksekusi harus ditunda.

Meski begitu, jajaran Satintel Polres Pamekasan telah mengendus kehadiran sejumlah preman tersebut. Itu sebabnya, ketika keluarga dari pihak yang kalah ngotot dan bersikeras mempertahankan rumah sengketa, polisi langsung memberikan tembakan peringatan sebelum warga melempar puluhan butir batu gunung.

Satu peleton anggota Brimob Kompi A Detasemen Polda Jatim, ikut mengamankan juru sita dari Panitera/Sekretaris PN Pamekasan. Anggota Brimob dengan senjata laras panjang, ikut juga mengamankan warga yang dicurigai sebagai preman.

Hingga berita ini ditulis, suasana lokasi eksekusi masih dalam kondisi tegang. Dua peleton anggota Samapta dibantu anggota Polsek Batumarmar, terus mengamankan lokasi. Polisi mengantisipasi adanya serangan balasan dari keluarga pihak yang kalah kepada Halimah (54), keluarga yang memenangkan perkara. (nen/isp)

Sumber: zonaberita, Rabu, 8 Desember 2010

Kapolres: Kami Menembak karena Terdesak


Foto: Surya/Muksin
Polisi menangkis lembaran batu dari warga saat bentrok, Rabu (8/12/2010)

Kapolres Pamekasan, AKBP Anjar Gunadi menyatakan, penembakan yang dilakukan oleh polisi saat pelaksanaan eksekusi tanah dan rumah di Desa Blaban, Kecamatan Batumarmar, Rabu (8/12/2010) pagi, karena polisi terdesak.

“Warga yang menyerang polisi terlebih dahulu dengan melempari batu dan pentungan. Karena kami terdesak, lalu kami melakukan tindakan dengan terlebih dahulu memberikan tembakan peringatan,” kata Anjar Gunadi dalam keterangan persnya, Rabu sore.

Menurut Kapolres, tindakan anak buahnya di lapangan sebenarnya sudah sesuai ketentuan prosedur tetap (Protap) Polri, yakni dengan melakukan tembakan peringatan terlebih dahulu.

Namun, karena warga tidak mengindahkan, bahkan sebagian di antaranya ada berupaya menerobos barikade polisi, maka pihaknya terpaksa bertindak.”Kalau kami dalam posisi bahaya, masak tetap bertahan. Sedangkan mereka membawa pentungan, bahkan ada yang membawa senjata tajam dan melempari petugas dengan batu,” ucapnya menambahkan.

Kisruh eksekusi lahan dan rumah di Desa Blaban, Kecamatan Batumarmar antara polisi dengan warga di lahan sengketan yang diperebutkan antara Ibu Tonah (Buk Tonah) dengan Halimah ini, terjadi saat juru sita Pengadilan Negeri Pamekasan membacakan surat putusan yang memenangkan penggugat Halimah di lahan seluas 3.000 meter persegi tersebut.

Saat itu, warga yang berkerumun di dalam dan di sekitar rumah yang hendak dieksekusi tiba-tiba melempari petugas dengan batu, hingga akhirnya terjadi penembakan yang menyebabkan delapan warga serta dua personel polisi dari jajaran Polres Pamekasan terluka.

Dari delapan warga yang terluka tembakan polisi ini, satu di antaranya mengenai bagian mata warga bernama Haji Rahman dan menyebabkan yang bersangkutan mengalami cacat seumur hidup.

Korban luka tembak lainnya ialah Samsuri. Ia mengalami luka dibagian betis kanan, Jauhari (luka bagian paha), Samsul (luka betis), Slamet (luka betis), Busiman (lengan), dan Sofyan mengalami luka dibagian paha dan rusuk, serta seorang lagi asal Desa Batubintang bernama Armuyo yang mengalami luka tembak di lengan bagian kanan.

Sementara dua personel polisi yang juga terkena tembakan ialah Kasat Narkoba Polres Pamekasan AKP Sarpan, mengalami luka tembak di bagian betis kiri, dan Brigadir Eko Darmawan mengalami luka tembak di bagian paha.

Mengenai warga bernama Haji Rahman yang mengalami luka tembak di bagian mata, Kapolres Pamekasan AKBP Anjar Gunadi menyatakan, itu karena pantulan saja, bukan disengaja.

“Itu pantulan saja. Tidak mungkin tembakan diarahkan pada bagian kepala,” katanya.

Ia juga mengemukakan bahwa peluru yang bersarang di tubuh para korban, baik warga ataupun personel polisi sendiri merupakan peluru karet.

Sumber: Surya, Rabu, 8 Desember 2010

Banjir Juga Menghampiri Sampang Madura

Genangan banjir melanda wilayah Kecamatan Kota, Sampang, Madura, Jawa Timur, akibat luapan sungai Kalikemuning.

Hampir semua ruas jalan dan gang di dalam kota Sampang, Selasa, kini tergenang banjir, bahkan di sekitar monumen Kota Sampang, ketinggian genangan air kini hampir mencapai 1 meter.

Jalan-jalan yang tergenang banjir di kota ini antara lain, Jalan Pahlawan, Imam Bonjol, Hasyim Asy`ari, Panglima Sudirman, Jalan Mawar, Melati, Kenanga, Suhada, Jalan Seruni, Jalan Bahagia, dan Jalan Teuku Umar.

Tidak hanya itu saja, banjir juga menggenangi sejumlah lembaga pendidikan di kota itu, seperti, SDN Rongtengah I, II dan gedung SMPN II dan SMK Negeri Sampang. Sementara, arus lalu lintas di dalam kota macet total dan petugas dari kepolisian Polres Sampang terpaksa mengarahkan kendaraan bermotor yang melintas di wilayah itu melalui jalur alternatif.

Untuk kendaraan yang berasal dari Kota Pamekasan menuju Surabaya diarah menuju Jalan Yamsul Arifin dan tembus di terminal bus Sampang.Demikian juga yang dari arah Surabaya menuju Pamekasan.

Sementara ketinggian air di empat desa yang sejak Senin (6/12) telah tergenang banjir akibat luapan sungai Kalikemuning tersebut, ketinggian air disana di sebagian wilayah mencapai 2 meter lebih.
Sebagian warga yang rumahnya terendam banjir kini mulai mengemasi barang-barangnya mengungsi ketempat yang lebih aman.

Belum ada data resmi dari pemerintah setempat jumlah rumah warga yang tergenang banjir akibat luapan sungai Kalikemuning ini, namun diperkirakan tidak kurang dari 200 rumah lebih, bahkan mencapai ribuan dengan. "Kalau dengan di pusat kota, saya kira bisa mencapai seribu lebih," kata Fuadi warga setempat.

Hingga Selasa sekitar pukul 11.00 WIB belum ada tanda-tanda genangan banjir akan surut bahkan cendrung semakin tinggi.

Sumber: Republika, Selasa, 07 Desember 2010

Puluhan Rumah Dua Dusun di Pamekasan Porak Poranda Disapu Puting Beliung

Salah satu rumah warga hancur disapu puting beliung (foto : nen/zonaberita.com)


Puluhan rumah di dua Dusun di Desa Banyupelle, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, porak poranda disapu angin puting beliung, Rabu (1/12/2010) sekira pukul 14.00 WIB.

Dua dusun itu masing-masing Dusun konten dan Dusun Pangongangan. Di Dusun konten, sekitar 6 rumah rata dengan tanah, 10 rumah mengalami rusak ringan. Sedangkan di Dusun Pangongangan sekitar 6 rumah juga rata dengan tanah dan 5 rumah mengalami rusak ringan.

Selain merusak rumah, angin puting beliung juga merobohkan sejumlah pohon di dua Dusun tersebut. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, hanya saja dua orang warga mengalami kesurupan karena shok melihat rumahnya yang hancur akibat diterjang angin puting beliung.

Kepada zonaberita.com, Erliyanto warga setempat, menuturkan, angin puting beliung yang memporak porandakan desanya, bersamaan dengan turunnya hujan deras. Sebelumnya, tampak awan Comolus Nimbus berwarna hitam tampak memayungi kedua dusun itu. Tak sampai 5 menit, datang angin puting beliung.

“Saat hujan turun, seluruh warga sedang berada di rumahnya masing-masing, tahu-tahu datang angin sangat kencang, kamipun langsung menyelamatkan diri masing-masing menuju ke Masjid dan ada yang ke persawahan. Angin yang datang berwarna merah,” kata Erliyanto.

“Angin yang memporak porandakan Desa kami itu ada dua, satu dari barat daya dan satu lagi dari arah Timur Daya, Desa kami seperti dikepung angin,” imbuh Erlyanto.

Pantauan zonaberita.com di lokasi, menunjukkan seluruh barang rumah tangga di dalam rumah yang hancur tak bisa diselamatkan lagi. Banyak pesawat televisi, radio tape, barang pecah belah, lemari baju dan kasur luluh lantak karena tertimpa genting dan tembok rumah.

Kapolsek Palengaan, AKP Haji Fauzan mengatakan, pihaknya akan berkordinasi dengan pihak terkait seperti, Danramil dan Satpol PP untuk membantu warga merehab kembali rumahnya yang rusak. (nen/isp)

Smber: zonaberita.com, Rabu, 1 Desember 2010

Seratus Tujuh Puluh Enam Desa Belum Berlistrik

Sebanyak 176 desa atau 30 persen dari 186 desa dan kelurahan yang ada di Kab. Sampang belum menikmati aliran listrik. Program bantuan listrik masuk desa dari pemerintah pusat belum sepenuhnya dapat dirasakan sebagian warga desa.

Kepala Bidang (Kabid) Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, Bapemas Sampang, Ken Kukuh SE, mengatakan, dana program listrik masuk desa yang dikucurkan pemerintah pusat setiap tahun berkurang, tak sebanding dengan banyaknya warga yang butuh aliran listrik. "Karena keterbatasan anggaran tidak semua desa dapat teraliri listrik," ujarnya, Jumat (26/11).

Alokasi angaran program listrik masuk desa untuk Kab. Sampang pada 2009 misalnya Rp 9,7 miliar, namun tahun 2010 menjadi Rp 4 miliar. Bahkan 2011, diperkirakan hanya Rp 1 miliar. "Dengan nilai dana Rp 1 miliar, hanya akan terpasang 2 titik (desa) saja. Seharusnya pemerintah lebih mengutamakan anggaran pengadaan saluran listrik mengingat masih banyak warga miskin yang belum menikmati listrik," ungkapnya.

Namun, dia mengimbau masyarakat yang tidak mendapat saluran listrik tidak mengambil jalan pintas dengan cara menyambung jaringan sendiri lewat warga yang mendapatkan aliran listrik. "Selain merupakan tindakan pidana, perbuatan itu berbahaya karena kabel yang dipergunakan sebagai jaringan listrik bukan standar PLN," ujarnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 27 Nopember 2010

Mutiny on the Majapahit: Crew Says Too Dangerous to Sail On

Photo courtesy of the Majapahit crew
Ship builder and crew member Rahman in the hold of the unusually designed Spirit of Majapahit before the expedition left Jakarta. The crew claims the vessel could break up if hit by three-meter waves in the South China Sea and have refused to leave Manila.

The crew of the historic eight-country expedition of the Spirit of Majapahit, a reconstruction of a 13th-century Majapahit-era merchant ship, has refused to continue the journey and demanded to go home.

A crew member has cited safety issues, bad weather, lack of insurance and delayed payment among the problems dooming the voyage.

“Whatever it takes, we just want to go home,” the crew member, who asked not to be identified, said in an SMS message to the Jakarta Globe on Thursday.

The Spirit of Majapahit, which has 10 Indonesian and three Japanese crew members, left the Batavia Marina in North Jakarta on July 4 for a voyage that would have taken them to Brunei, the Philippines, Japan, China, Vietnam, Thailand, Singapore and Malaysia.

When it set off, Culture and Tourism Minister Jero Wacik said the journey reflected the maritime spirit of Indonesia.

But the ship has been stuck since docking in Manila on Aug. 4, with the crew refusing to continue on to Okinawa.

The Spirit of Majapahit, built by 15 craftsmen in Madura, was promoted as unique because of its oval shape with two sharp ends designed to break through five-meter waves. But the crew says it is not as safe as advertised.

“If the boat is hit by three-meter waves it could break up. So the crew refuses to continue the trip and is asking to go home,” the crew member said.

“And the weather is not good. From the beginning, there is no insurance and no payment so far.”

Ministry of Culture and Tourism spokesman Ngurah Putra acknowledged there was a dispute but denied it was the cause of the delay. “Basically they have not departed for Okinawa due to bad weather,” he said.

“Even the Japanese crew members have recommended they return to Indonesia because of the weather.”

Vera Kilapong, from the social and cultural section of the Indonesian Embassy in Manila, told the Globe the crew also had to make some repairs.

“They stopped in Manila on Aug. 4 and they decided to stay here because they needed to fix some technical issues in the ship,” she said.

Regarding their pay, Vera said the Indonesian crew had said they needed “their rights to be fulfilled before departing for Okinawa.”

But Ngurah said it was a misunderstanding. “We made a deal before the expedition started that they would be paid when they arrived in Okinawa,” he said.

A ministry official is expected to arrive in Manila today to settle the dispute. “We are going to send the secretary general of the ministry’s history and archeology directorate to calm down the situation and solve the problem,” Ngurah said.

The venture was organized by the Majapahit Japan Association, a group of entrepreneurs who pay tribute to the history and culture of the vast archipelagic Majapahit Empire based around the island of Java from 1293 to around 1500. (Nurfika Osman)

Sumber: The Jakarta Globe, August 12, 2010

Dari Kunjungan Menteri PDT ke Madura

Ingatkan Laut sebagai Basis Ekonomi Masyarakat Kepulauan Kunjungan kerja Menteri Pem-bangunan Daerah Tertinggal A Helmy Faishal Zaini yang bertepatan dengan hari raya kurban memaksanya menjadi khatib Idul Adha. Mengikuti salad Id di lapangan Wijaya Kusuma Sampang, Madura, menteri yang alumnus pesantren ini pun didaulat mengisi khutbah.

"SABAR, kepatuhan, dan memupuk kesalehan sosial adalah bagian dari pesan kurban," kata Helmy Faishal Zaini saat memberi khutbah di Hari Raya Kurban di hadapan sekitar dua ribuan jamaah di lapangan depan pendopo Kabupaten Sampang, Madura, kemarin. Mengisi khutbah memang bukan merupakan bagian dari tugas kementerian yang dipimpinnya. Namun sebagai bagian dari masyarakat muslim yang turut merayakan Idhul Adha, Helmy berpendapat, bagaimanapun khutbah juga bisa menjadi sarana komunikasi yang baik yang memungkinkan pesan-pesan pembangunan, terutama berkaitan dengan program kementerian PDT dapat tersampaikan dengan baik pula.

Di kabupaten ini, selain membuka dialog dengan para nelayan dan petani garam, Helmy juga mengunjungi dua tempat. Pertama, ke Yayasan Al-Ibrahimy, sebuah pesantren kecil di Kecamatan Konang, Sampang. Pesantren secara fisik belum kelihatan sama sekali, karena memang belum memiliki gedung permanen. Hanya terdapat dua unit bangunan kecil tanpa dinding dan sebuah bangunan berlantai dua dari bahan kayu. Namun jangan salah, pesantren ini sudah mendidik sekitar 500 santri putra dan putri. Konsep pendidikan modern termasuk penggunaan dua bahasa arab dan inggris sudah diterapkan dalam kegiatan santri sehari-hari. Dalam kunjungan ke pesantren ini, Helmy mengaku menyiapkan bantuan langsung berupa sarana penyimpanan air bersih berupa tangki besar beberapa unit. Menurut Helmy, selain persoalan infrastruktur, salah satu kendala lain proses belajar-mengajar di pesantren ini adalah soal ketersediaan air. Helmy juga menyempatkan melihat sebuah kawasan perbukitan sekitar 1 kilometer di sisi utara pendopo Kabupaten Sampang. Di bukit seluas 5 hektare ini terdapat sebuah gua buatan yang oleh masyarakat sekitar disebut gua lebar.

Arseni, 34, salah seorang warga sekitar gua lebar menyebutkan, sebenarnya gua ini sudah terbentuk lama. Saat itu pada sekitar awal abad 18, para pendakwah Islam yang masih pengikut raja Trunojoyo diperintahkan untuk mendirikan sebuah masjid (kini masjid agung). Untuk mendirikan masjid tersebut mereka menggali dan mengambil bebatuan dari bukit yang kini di keramatkan ini. ’’Dulu di salah satu sisi gua di sebelah sana katanya sih juga jadi petilasan (tempat bertapa) Trunojoyo juga,’’ ujarnya. Sejak tiga tahun lalu, oleh Bupati Sampang Noer Tjahja, kawasan gua lebar ini resmi ditutup sebagai lokasi penambangan batu. Kini lokasi di atas ketinggian lebih 1.000 kaki itu perlahan disiapkan menjadi lokasi wisata baru masyarakat Sampang dan sekitarnya. Melihat potensi wisata dari gua lebar ini, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini memastikan, pihaknya akan terus mendorong pemerintah kabupaten agar terus memoles dan memaksimalkannya sebagai alternatif wisata baru.

Helmy bersedia membantu untuk memuluskan target ini dan memberikan saran, agar keunggulan- keunggulan lain yang bersifat lokal seperti hikayat dibalik keberadaan gua juga ditonjolkan. Yang menjadi poin penting dari kunjungan ke kabupaten yang berbatasan langsung dengan laut Jawa di sebelah utara ini, adalah saat Helmy merangsang beberapa program kreatif pada perwakilan warga. Helmy memaparkan beberapa peluang dan keuntungan bagaimana jika masyarakat mau menjadikan sektor pertanian garam sebagai sektor ekonomi unggulan mereka.

Dia menilai, dari sekitar 4.900 hektare, sekitar 3.000 hektare hamparan lahan tambak produktif di Kabupaten Sampang, baru menghasilkan garam 60 sampai 65 ton saja per tahun. Padahal jika dikelola secara lebih kreatif, dengan peningkatan kualitas produksi garamnya, tentunya, sektor ini, ungkap Helmy, bisa menjadi produk unggulan baru kabupaten Sampang.

"Banyak potensi laut yang bisa dimaksimalkan sebenarnya. Saya ambil contoh di beberapa daerah terluar berbasis kepulauan, di sana kita juga tengah mendorong untuk kembangkan budidaya rumput laut," jelasnya. (*)

Sumber: Indopos, 21/11/2010

Kerapan 'Penderitaan' Sapi

Polisi Ajak Pengendara Mengheningkan Cipta

Polisi saat menghentikan sejumlah pengendara (foto:din/zonaberita.com)

Untuk mengenang jasa para pahlawan, jajaran Polisi Lalu Lintas (Polantas) Polres Sampang, Madura, mengajak pengguna jalan mengheningkan cipta, pada Hari Pahlawan, Rabu (10/11/2010).

Aksi mengheningkan cipta selama satu menit dimulai tepat pukul 08.15 WIB. Saat itu, sembari membawa poster bertuliskan “Imbauan Mengheningkan Cipta Untuk Para Pahlawan”. Polisi menghentikan seluruh kendaraan yang melintas di trafic light Pos Polisi Barisan kota Sampang.

Sejumlah pengedara berhenti, tidak satupun yang menundukkan kepala, mereka hanya berhenti sambil menunggu aba-aba berangkat. Namun demikian, aksi ini disambut baik oleh para pengguna jalan.

“Pengendara yang melewati pos diminta untuk berhenti selama satu menit untuk mengheningkan cipta,” kata Kasat Lantas Polres Sampang AKP Zainurrofik. (din/isp)

Sumber: ZonaBerita, Rabu, 10 Nopember 2010

Hujan Dua Hari, Sampang Terendam Banjir

SDN 2 Pasean terendam banjir (foto : din/zonaberita.com)

Hujan deras di wilayah utara Kabupaten Sampang, Madura, sejak dua hari terakhir mengakibatkan kota Sampang terendam banjir.

Banjir kiriman akibat luapan sungai Kemuning, menggenangi beberapa kawasan, seperti SDN 2 Pasean.

Rendaman air juga menyulitkan sarana transportasi ke dua Kecamatan, dari arah kota Sampang menuju kecamatan Omben dan Kecamatan Karang Penang.

Pengendara roda dua dan empat, yang hendak melintas di wilayah ini harus waspada agar tidak terperosok ke lubang di sisi jalan.

Karena berada di dataran rendah, air dengan cepat masuk ke dalam ruang kelas SDN 2 Pasean.

Sejumlah siswa banyak yang tidak masuk sekolah, sebagian siswa yang masuk hanya membantu guru mereka menempatkan meja dan barang lain ke tempat yang lebih tinggi.

“Ruang kelas kebanjiran, jadi kami harus memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi,” kata Ali Sahrawi, siswa kelas III, Selasa (26/10/2010). (din/isp)

Sumber: zonaberita.com Selasa, 26 Oktober 2010

Nelayan Pasongsongan Desak TPI Segera Difungsikan

Masih belum berfungsinya tempat tambat perahu di areal Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kecamatan Pasongsongan, membuat para nelayan kesulitan ketika akan menambatkan perahunya, utamanya ketika musim angin dan hujan yang masih terjadi akhir-akhir ini, sehingga masyarakat nelayan setempat mencari tempat tambat diluar lokasi TPI, karena saat ini tempat tambat perahu disana masih belum teratur.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Pasongsongan, H. Hasan Busyro. Menurutnya, harapan masyarakat nelayan disana sejak lama sudah merindukan keberadaan TPI, sebagai tempat pelelangan ikan yang representatif, sehingga nelayan bisa dengan mudah menyalurkan hasil tangkapan ikannya kepada para pedagang untuk didistribusikan kepada konsumen.

“Terpaksa untuk saat ini, nelayan melakukan transaksi penjualan ikan dengan para pedagang di TPI alternatif yang dibangun secara swakelola sebelumnya yang memang digunakan selama ini,” ujarnya.

Masyarakat nelayan di sana tegas Hasan, menginginkan pembangunan TPI Pasongsongan segera dapat dioperasikan, sehingga nelayan tidak terlalu lama menunggu hingga dalam situasi kesulitan yang dihadapi nelayan cukup lama.

Kepala Desa Pasongsongan, Drs. Saleman, juga berharap pemerintah dan pelaksana pembangunan TPI dan break water di Desanya betul-betul dapat dilaksanakan sesuai spek dan desain yang ada, sehingga masyarakat nelayan untuk memiliki TPI sebagai sarana ekonomi masyarakat nelayan, betul-betul terwujud.

“Kami berharap pembangunan TPI itu segera terselesaikan, karena masyarakat nelayan sudah lama menunggu, dan selama ini sudah bisa mengerti dengan kondisi yang sebenarnya terjadi,“ ujarnya.

Sesuai dengan surat dari Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jatim sebelumnya, yakni ada beberapa desain yang memang perlu dilakukan perubahan pada proyek tersebut, sehingga pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang akan dilaksanakannya review desain dari pelaksanaan break water yang sempat ambruk beberapa waktu lalu. (Ren, Esha)

sumber : http://www.sumenep.go.id/ Sabtu, 2 Oktober 2010

Akhirnya Madura Punya Mal

Pembangunan menelan dana Rp 50 miliar dan seluruhnya ditanggung APBD Bangkalan

Untuk pertama kalinya, Madura memiliki mal. Adalah Bangkalan Plaza (Banplaz) nama mal itu. Proyek yang sudah digarap sejak tiga tahun lalu itu terus dikebut.

Bahkan, pada 2010 ini mendapat tambahan dana Rp 2 miliar. Total kucuran APBD Bangkalan 2010 untuk proyek itu menjadi Rp 14 miliar.

Tambahan dana Rp 2 miliar telah diusulkan melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2010 dan disetujui DPRD setempat.

"Jadi tahun 2010 Banplaz dapat anggaran Rp 14 miliar. Mudah-mudahan satu-satunya mal di Madura ini bisa segera beroperasi," kata Ketua Komisi C DPRD Bangkalan Mukaffi Anwar.

Pembangunan Banplaz menurut rencana menelan dana Rp 50 miliar dan seluruhnya ditanggung APBD Bangkalan secara multiyears.

Dana yang sudah dikucurkan sebelum 2010 sudah mencapai sekitar Rp 30 miliar. Mukaffi mengatakan, pada tahun anggaran 2011, Banplaz akan mendapat kucuran dana lagi dan tahun itu pembangunannya diharapkan tuntas.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Chairil Saleh, dihubungi terpisah mengatakan, dengan tambahan dana dari PAK, Banplaz yang menurut rencana terdiri atas empat lantai ini mendekati tahap akhir.

Sesuai desainnya, lantai 1 Banplaz bakal digunakan untuk toko emas, pakaian, sepatu, barang elektronik, dan komputer.

Lantai dua untuk departement store, game, dan swalayan. Lantai tiga untuk permainan anak-anak dan lainnya. Sedangkan lantai teratas untuk hiburan, billiard center, dan fasilitas lainnya.

Selain Banplaz, dua proyek besar di Bangkalan lainnya yang juga mendapat suntikan dana dari APBD melalui PAK 2010 adalah Kompleks Wisata Taman Rekreasi Keluarga (TRK) dan Stadion Bangkalan. Stadion Bangkalan akan mendapatkan tambanan kucuran dana Rp 2 miliar.

Saat ini, pembangunan stadion sepak bola dan atletik itu dalam tahap penggarapan tribun penonton dan pagar pembatas. Sebelumnya stadion dapat dana Rp 10 miliar dari Provinsi Jatim.

Dana tambahan Rp 2 miliar diplot untuk pembangunan areal parkir, taman, dan fasilitas penunjang lainnya di depan Stadion Bangkalan.

Sedangkan Taman Rekreasi Keluarga mendapatkan tambahan dana pada PAK Rp 1,2 miliar. Dana tersebut untuk perbaikan toilet, saluran air, taman, pengadaan rumah pompa, dan peningkatan sarana bermain lainnya di area wisata di belakang Stadion Bangkalan itu.

Dewan berharap dengan tambahan Rp 1,2 miliar, objek wisata di tengah kota tersebut benar-benar bisa menjadi tujuan rekreasi warga Bangkalan dan sekitarnya.

"Kalau megaproyek tuntas, perekonomian di Bangkalan diharapkan meningkat. Dan tahun depan kita akan membangun pedesaan," ungkap Ketua Komisi C DPRD Bangkalan Mukaffi Anwar. (adi)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 25 Agustus 2010

Diberi Nama Maica Aurora Madhura

Yenny Wahid Melahirkan Anak Pertama

Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) melahirkan anak pertamanya pada Jumat (13/8) sekitar pukul 22.27. Bayi perempuan cucu almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu diberi nama Maica Aurora Madhura.

Yenny melahirkan bayinya melalui operasi caesar di Rumah Sakit Medistra, Jl Gatot Subroto, Jakarta. "Semoga napas baru ini membawa keselamatan dan kebaikan dalam kelanjutan peradaban umat manusia," ujar suami Yenny, Dhohir Farisi, saat dihubungi kemarin (14/8). Dhohir merupakan anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra.

Memasukkan kata Madhura sebenarnya menjadi keinginan Yenny sebelum melahirkan. Jika anak yang dilahirkan perempuan, Yenny bersiap memberi nama buah hatinya dengan nama salah satu suku bangsa yang juga mengalir dalam darah suaminya. Tapi, jika yang lahir laki-laki, nama yang sudah disiapkan adalah Abdurrahman.

Lewat akun Twitter, kakak Yenny, Alissa Qatrunnada Wahid, menyebutkan bahwa kondisi si ibu maupun jabang bayi sehat. "Alhamdulillah, ibu dan anak sehat," ujar Alissa.

Yenny dan Dhohir menikah pada 15 Oktober 2009. Tak lama berselang, kandungan Yenny berisi. Gus Dur yang sempat menerima kabar gembira tentang kehamilan putrinya itu ternyata lebih dulu meninggal dunia pada 31 Desember 2009. (dyn/c7/tof)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 15 Agustus 2010

Warga Bakar Mesin Siesmik

Aktivitas SPE Salahi Kesepakatan Dengan DPRD Sumenep

Aktivitas siesmik maupun pengeboran migas yang dilakukan SPE Petrolium di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura dinilai menyalahi kesepakatan dengan DPRD
setempat.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumenep, Dwita Andriani mengatakan, pihak BP MIGAS sudah sepakat dengan DPRD untuk menghentikan kegiatan seismek sebelum ada sosialisasi secara menyeluruh pada masyarakat.

"Kalau pihak SPE Petrolium melakukan aktivitas di Sumenep sudah jelas menyalahi
kesepakatan dengan kita," ujar Dwita kepada detiksurabaya.com di rumahnya, Jalan KH Mansur, Sabtu (24/7/2010).

Menurut dia, meski pihak SPE Petrolium berdalih sudah melakukan sosialisasi dengan
masyarakat setempat. Bahkan, pemilik lahan tidak mempermasalahkan, namun aktivitas yang dilakukan tetap salah.

"Sampai saat ini, pihak legislatif tidak dilibatkan kembali, khususnya sosialisasi seperti yang menjadi kesepakatan sebelumnya," urainya.

Namun demikian, politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menyayangkan aksi anarkis yang dilakukan warga hingga membakar mesin.

"Meski SPE Petroluim salah karena sudah beraktivitas, jangan sampai warga melakukan main hakim sendiri," pungkasnya. (Moh Hartono - detikSurabaya)

Sumber: detikSurabaya, 24/07/2010

Tiga Desa di Sampang Madura Tergenang Banjir

Sebanyak tiga desa di Kecamatan Kota, Sampang, Madura, Jawa Timur (Jatim), Kamis, tergenang banjir.

Desa Gunung Maddah, Desa Pasean dan Desa Panggung. Ketinggian air di tiga desa ini antara 30 hingga 40 centimeter atau setinggi lutut orang dewasa.

Sedikit-dikitnya 200 rumah tergenang banjir yang terjadi seja pukul 06.00 WIB.

Selain menggenangi ratusan rumah, banjir juga menggenangi belasan kandang ayam dan puluhan hektare tanaman padi.

SDN I dan II Desa Pasean juga tergenang banjir sehingga pihak sekolah meliburkan kegiatan belajar mengajar.

Di Dusun Pasean, Desa Pasean, jembatan gantung, penghubung antar desa rusak, sehingga akses jalan menuju wilayah kota terputus. Banjir juga menggenangi pasar tradisional di Desa Panggung dan Desa Gunung Maddah.

"Sudah berulangkali banjir seperti ini terjadi di daerah ini," kata Rahman warga setempat, kepada ANTARA News di lokasi banjir.

Tidak ada laporan korban jiwa namun kerugian banjir luapan sungai Kalikemuning itu ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.(KR-ZIZA035)

Sumber: ANTARA News, Kamis, 1 April 2010

Ratusan Pelajar Madura Bersaing Buat Robot

Sebanyak 180 pelajar dari empat kabupaten di Madura, Jawa Timur, bersaing dalam kontes robot yang digelar oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Pamekasan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (FORKAMP-ITS) Surabaya.

Mereka itu merupakan pelajar dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 81 orang dan pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat sebanyak 99 orang.

Menurut ketua panitia pelaksana kontes robot FORKAMP-ITS Tahta Amrillah, Sabtu, ke-180 pelajar tersebut dibagi dalam 60 tim yang masing-masing berjumlah tiga orang.

"Hari para peserta kontes tersebut masih mengikuti pembekalan dari para narasumber, sebelum terjun ke kontes robot yang akan digelar Minggu (25/7) besok," kata Tahta Amrillah menjelaskan.

Jenis robot yang akan dilombakan pada kontes robot berthema "Madura Berkontes, Menuju Pendidikan Berbasis Robotika" ini ialah jenis robot mobil.

"Jenis robot mobil ini merupakan jenis robot yang konstruksi dan ciri khasnya mempunyai aktuator berupa roda untuk menggerakkan keseluruhan badan robot tersebut," katanya.

Pihak panitia, sengaja memilih jenis robot ini dalam kontes robot yang digelar di SMK Negeri 3 Pamekasan tersebut, karena dinilai lebih mudah dan populer. Sebab untuk membuat robot mobil tidak memerlukan kerja fisik yang kuat.

"Kita hanya butuh pengetahuan tentang mikrokontroler dan sensor-sensor eletro," terang Tahta.

Sebenarnya, kata dia, ada beberapa jenis robot yang dikenal di perguruan tinggi. Seperti robot manipulator (robot tangan), robot humanoid (robot yang menyerupai manusia) dan robot berkaki, robot terbang dan robot "under water" (robot dalam air).

"Namun panitia sepakat memilih jenis pertama dengan pertimbangan lebih populer dan lebih mudah. Ini kan masih tingkatan pelajar," katanya.

Mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Fisika ini lebih lanjut menjelaskan, ada dua kriteria penilaian nantinya pada kontes robot pelajar se Madura tersebut. Yakni penilaian dari segi penampilan dan bentuk robot.

"Misalnya kecepatan, kerapian dan desain robot," tuturnya.

Semula panitia hanya menarget peserta kontes robot kali ini hanya 50 tim, namun akhirnya ditambah menjadi 60 tim karena banyak pendaftar.

"Jumlah pendaftar semuanya sebanyak 90 tim, jadi 30 tim terpaksa kami total, soalnya terlalu banyak," katanya.

Ketua FORKAMP-ITS Fairus Iqbal Maulana menyatakan, selain untuk meningkatkan wawasan siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, kontes robot pelajar "Madura Berkontes" itu juga diharapkan bisa meningkatkan kecintaan pelajar dalam berupaya memahami teknologi.

"Hal ini sangat penting mengingat Madura nantinya akan menjadi daerah industri dan masyarakat Madura sendiri dituntut untuk bisa melek teknologi," kata.

Sementara pembekalan untuk para peserta kontes yang akan digelar Minggu (25/7) di SMK Negeri 3 Pamekasan itu disampaikan oleh dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Firman Arifin, MT.

Selain kontes robot, jenis kegiatan rutin tahunan yang digelar FORKAMP-ITS ini juga berupa donor darah dan seminar pendidikan dengan melibatkan sejumlah lembaga dan praktisi pendidikan di kota itu.

Sumber; ANTARA News, Sabtu, 24 Juli 2010

Siswa SMAN 3 Pamekasan Wakili Jatim

Tiga siswa SMAN 3 Pamekasan menjadi wakil Jatim dalam event tingkat nasional tahun ini. Mereka adalah A Labib Fardani (Dani) dan Hamzah Kuddah (Hamas), keduanya wakil Jatim dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang fisika, serta Defri Sakti Oktaviani (Defri) dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

Dani dan Hamas masing masing berhasil meraih peringkat 2 dan 4 pada OSN bidang fisika tingkat Jatim. Sedangkan Defri berhasil meraih juara pertama dalam O2SN Jatim. Atas prestasi tersebut tiga orang siswa terbaik SMAN 3 Pamekasan itu pada tahun ini akan menjadi Wakil Jatim ketingkat nasional.

Kepala SMA 3 Pamekasan Drs Muhammad Nur Komari mengaku siswa SMAN 3 Pamekasan selama ini sudah biasa menjadi wakil Jatim dalam OSN tingkat nasional. Dari event OSN tingkat nasional tahun sebelumnya, para siswa SMAN 3 Pamekasan berhasil membawa sejumlah medali. .

“Tahun ini siswa kami yang jadi wakil Jatim ke OSN bidang fisika tingkat nasional, selain menjadi wakil Jatim juga akan menjadi wakil Madura, karena pada OSN tahun ini hanya dua siswa kami dari Madura yang bisa tembus ke OSN. Pada bidang studi lainnya dari Madura kebetulan tidak ada yang mewakili,” kata Nur Komari, Kamis (1/7).

Kejutan bagi SMAN 3 Pamekasan dalam OSN tahun ini terjadi sejak OSN tingkat Jatim. Sebab, pada tahun ini SMAN 3 Pamekasan berhasil mengutus siswanya yang berlaga di OSN Jatim sebanyak 18 orang untuk seluruh bidang studi sains yang dilombakan dalam OSN, setelah dinyatakan berhasil menjadi juara pada OSN tingkat daerah.

Nur Komari menambahkan, tahun ini juga dua anak didiknya berhasil meraih juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional beregu Bidang Kewirausahaan atas nama Kartika Sukmatullaili dan Asri Diana Kamilin. “Khusus prestasi alumni, 48 orang lulusan SMAN 3 tahun ini diterima di perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia,” pungkasnya.

SMAN 3 Pamekasan merupakan salah satu SMAN favorit di Pamekasan. SMA ini didirikan tahun 1986 dan merupakan SMA yang pertama kali membuat program kelas unggulan di Madura. Prestasi yang dicapai para siswanya bukan hanya dalam bidang akademik, namun juga non akademik misalnya bidang seni dan olah raga. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 1 Juli 2010

Lapangan Terbang Trunojoyo Beroperasi

Cukup syarat untuk lokasi latihan terbang, belum layak untuk pesawat komersial. Lapangan Terbang (Lapter) Trunojoyo, lapter satu-satunya di Madura, sudah beroperasi sejak Selasa (29/6). Tapi, pengoperasian lapter itu bukan untuk pesawat komersial, melainkan digunakan sebagai tempat latihan terbang bagi siswa Merpati Flying School milik PT Merpati Nusantara Airlines.

Kepala Tata Usaha Satuan Kerja Bandara Trunojoyo Sumenep, Abd. Rozaq, mengatakan, Lapter Trunojoyo ini sudah dilengkapi sarana komunikasi dan cukup syarat untuk dijadikan lokasi latihan terbang. “Izin lapter untuk pesawat jenis komersil, hingga kini belum turun. Jadi, untuk sementara digunakan sebagai latihan terbang,” kata Abd. Rozaq, Rabu (30/6). ”PT Merpati Nusantara Airlines akan meluncurkan dua pesawat untuk digunakan latihan terbang di sini. Untuk sementara, baru satu pesawat yang didatangkan,” lanjutnya.

Pesawat latih jenis Cessna 172 produksi tahun 1983 tersebut mulai Senin (28/6) sudah parkir di lapter tersebut dan keesokan harinya, Selasa (29/6), mulai dipakai latihan terbang bagi tujuh calon pilot dan beberapa kali mereka melakukan uji coba penerbangan. Mereka bermanuver di area dan sirkuit, yaitu terbang dan landing kembali di lapter yang sama dengan ketinggian kurang lebih 300 meter dari permukaan laut.

Lapter Trunojoyo memiliki luas sembilan hektare dengan landasan sepanjang 900 meter dan lebar 23 meter. Kepala Instruktur Penerbang Sekolah Terbang Merpati, Sigit Permadi menjelaskan, dalam latihan terbang itu, pihaknya hanya memfokuskan pada lima area penerbangan. Area Belluk Ares, Kecamatan Ambunten, berada pada 300 derajat dari Lapter Trunojoyo. Area Poteran, Kecamatan Talango, sekitar 120 derajat. Area Gaddu, Kecamatan Ganding, sekitar 165 derajat. Area Jate (Pulau Giliraja) 205 derajat. Area Galis, Kecamatan Giligenting, 250 derajat dari lokasi Lapter Trunojoyo.

“Kami akan terus melakukan latihan penerbangan di Lapter Trunojoyo sampai MoU dengan Pemkab Sumenep berakhir,” kata Sigit, tanpa menyebut kapan MoU itu berakhir.

Kepala Dinas Perhubungan Sumenep, Achmad Aminullah, belum bisa dikonfirmasi terkait peruntukan Lapter Trunojoyo tersebut. Surabaya Post sudah mencoba menghubungi lewat telepon, tak diangkat. Ketika hendak ditemui, ternyata ia tak berada di kantornya.

Sekitar Maret lalu, kabar tentang pengoperasian Lapter Trunojoyo untuk latihan terbang sudah beredar di media massa. Saat itu, Kepala Satker Bandara Udara Trunojoyo Sumenep Dody Darma Cahyadi mengungkapkan bahwa Pemkab Sumenep dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara membuat MoU (memorandum of understanding) atau kesepakatan dengan PT Merpati Nusantara pada Februari lalu.

Menurut Dody, kondisi Lapter Trunojoyo memang masih belum layak untuk operasi pesawat komersial. “Pengoperasian landasan pacu Lapter Trunojoyo belum maksimal, kalau hanya untuk pelatihan pilot dengan pesawat jenis Cessna 172 sudah bisa,” katanya waktu itu. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 1 Juli 2010

Kirab Adipura, Konvoi hingga 2 Km

Adipura mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Sampang. Saat kirab piala anugerah untuk kota bersih untuk kategori kota kecil dengan jumlah penduduk di bawah 100 ribu jiwa itu kemarin (9/10), iring-iringan konvoi kendaraan hingga mencapai 2 kilometer.

Kirab Piala Adipura dimeriahkan dengan drumband dan musik Ul-Daul. Sebagai ungkapan rasa syukur, Bupati Sampang Noer Tjahja sujud syukur setelah penyerahan Piala Adipura oleh Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Hermanto Subaidi.

Kirab Piala Adipura dimulai dari Kec Jrengik, kecamatan paling barat. Bupati dan anggota muspikab naik mobil Jeep terbuka dengan membawa Piala Adipura. Di belakangnya iring-iringan sepeda motor, mobil, dan kelompok sepeda ontel.

Sepanjang rute konvoi, warga memadati kanan-kiri jalan. Mereka melambaikan tangan kepada bupati yang membawa Piala Adipura. Bupati yang berdiri di atas mobil bersama Kepala Kejari Deddy S. Surachman, Ketua PN Lindi Kusumaningtias, Dandim 0828 Letkol (Arm) Sanuri Hadi membalas dengan melambaikan tangan kepada warga.

Sesampai di Jalan Wachid Hasyim, rombongan berbelok ke arah utara dan berputar melalui Jalan Pahlawan. Kemudian menuju ke makam Rato Ebuh di Kampung Madegan, Kelurahan Polagan. Warga di menyambut rombongan dengan musik Ul-Daul. Di makam Rator Ebuh bupati dan rombongan tabur bunga.

Selanjutnya rombongan ke pendapa bupati untuk prosesi penyerahan piala. Setelah anggota satpol PP menyerahkan piala kepada Sekkab Hermanto Subaidi, Hermanto menyerahkannya kepada bupati. Usai menerima piala dan meletakkan di meja, bupati langsung menjatuhkan badannya dan sujud syukur.

"Saya adalah salah satu orang yang sangat bersyukur dan bergembira atas diperolehnya Piala Adipura," kata Noer Tjahja.

Dia mengatakan, penghargaan Adipura yang diberikan langsung oleh Presiden SBY ditujukan untuk seluruh masyarakat Sampang. Sementara perayaannya hanya sebagai bentuk pengejewantahan dari rasa syukur dan motivasi agar seluruh masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan.

"Dengan diperolehnya Piala Adipura ini, Sampang bisa menunjukkan sebagai kabupaten yang setara dengan wilayah lainnya yang ada di Jawa Timur," harapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf secara langsung menyampaikan kebanggaannya dan mengucapkan selamat kepada Kabupaten Sampang. "Saya seneng dengan kabupaten ini. Sampang benar-benar berbenah. Dan, tahun ini mendapatkan Adipura. Saya ucapkan selamat," katanya saat ditemui koran ini Senin (7/6). (fei/mat)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010

Penghargaan Adipura 2010

Bangkalan Kota Sedang, Sumenep-Sampang Kota Kecil

Prestasi di bidang lingkungan hidup bergengsi tingkat nasional, kembali ditorehkan tiga kabupaten di Madura. Yakni meraih Penghargaan Adipura.

Untuk Kabupaten Bangkalan, meraih Penghargaan Adipura untuk kategori Kota Sedang. Sedang Kabupaten Sumenep dan Sampang, meraih Penghargaan Adipura untuk kategori Kota Kecil.

Sayang, prestasi ini gagal diikuti Kabupaten Pamekasan.

Dan, sebagai apresiasi atas keberhasilan bidang lingkungan hidup itu, tiga bupati dari kabupaten dimaksud menerima Penghargaan Adipura di Istana Negara, Jakarta, kemarin (8/6). Dari Bangkalan, Bupati Fuad Amin. Sedang dari Sumenep dan Sampang juga dihadiri langsung Bupati Ramdlan Siraj dan Bupati Noer Tjahja. Masing-masing menerima Piala Adipura dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bagi Kabupaten Bangkalan, penghargaan Adipura tersebut adalah kali kelima. Penghargaan serupa sebelumnya diterima pada 1987 dan 2006. Kemudian tiga yang lain berturut-turut mulai 2008, 2009, dan 2010.

Sedang untuk Kabupaten Sumenep, juga kali kelima. Masing-masing di tahun 1996 dan 1997. Tiga penghargaan Adipura yang lain, juga berturut-turut mulai 2008, 2009, dan 2010.

Sementara untuk Kabupaten Sampang, sampai 2010 ini masih untuk kali kedua. Sebelumnya pada 1997, kala itu Kabupaten Sampang dipimpin Bupati Bagus Hinayana.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bangkalan Yulianto mengatakan, keberhasilan Bangkalan mempertahankan anugerah Adipura didapat dari hasil penilaian kebersihan, keteduhan, lokasi tata letak pasar, sekolah dan kantor-kantor di Kabupaten Bangkalan.

Diakui Yulianto, anugerah yang didapat tersebut bukanlah tujuan akhir dari upaya menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan daerah. Melainkan hanya sebentuk motivasi bagi masyarakat agar terus meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan. Terutama di lingkungan perkotaan.

"Tapi yang paling berperan dalam hal ini (kebersihan) adalah kesadaran dari warga sendiri," jelas Yulianto yang dikonfirmasi melalui ponselnya saat masih di Jakarta kemarin.

Komentar yang tak jauh berbeda disampaikan Kepala BLH Sumenep Abd. Mutallib Faraj. Melalui saluran telepon dari Jakarta, Mutallib menjelaskan, sukses mempertahankan Adipura merupakan sukses bagi masyarakat Sumenep secara keseluruhan.

"Saya kira tanpa kerjasama dari berbagai pihak, Adipura tidak bisa diraih Sumenep," katanya sesaat setelah mendampingi Bupati Ramdlan Siraj menerima Penghargaan Adipura kemarin siang.

Dijelaskan, sukses Sumenep meraih penghargaan Adipura tak lepas dari fokus penataan lingkungan yang dilakukan terus-menerus. Terutama, pada beberapa hal yang menjadi item penilaian. Antara lain TPA (tempat pembuangan akhir) sampah, terminal, pasar, sekolah, dan permukiman.

"Beberapa titik itu telah dikunjungi oleh tim penilai dari pusat. Dan, semuanya memang berkat kerja keras untuk menata agar lingkungan tetap terjaga," paparnya.

Selain beberapa titik itu, Sumenep juga tertolong dengan adanya RTH (ruang terbuka hijau) yang cukup banyak. Terutama, di wilayah perkotaan. Seperti di sepanjang Jalan Trunojoyo, kawasan Taman Adipura, dan sebagainya. "Untuk RTH memang betul-betul dijaga agar tetap rindang dan bersih," pungkas Mutallib.

Sementara dari Kabupaten Sampang, Sekkab Hermanto Subaidi mewakili Bupati Noer Tjahja, mengaku bangga atas prestasi tersebut. Sebab, ini penghargaan yang kedua kalinya yang diberikan Presiden RI kepada Pemkab Sampang. "Sampang tidak akan memboyong Adipura jika tidak didukung segenap lapisan masyarakat. Adipura ini kami persembahkan kepada rakyat Sampang," ujarnya.

Suami Enny Muharjuni ini menambahkan, tanpa dukungan tokoh ulama, tokoh masyarakat serta warga Kota Bahari, mustahil Sampang bisa membawa pulang Adipura. "Penghargaan ini diharapkan bisa meningkatkan semangat dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan lingkungan perkotaan," harapnya.

Kepala BLH Sampang Slamet Terbang menambahkan, pihaknya bersama SKPD di lingkungan Pemkab Sampang sudah menyiapkan acara sambutan guna merayakan prestasi yang ditorehkan rakyat Sampang tersebut. "Rencananya, sepulang dari Jakarta, nanti disambut di Suramadu menuju pendapa. Setelah itu, menggelar tasyakuran bersama di Kampung Madeggan dan keliling kota," ungkapnya. (zid/amr/yan/ed)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 09 Juni 2010

Pemilihan Rektor Universitas Trunojoyo

Prof Arifin Kantongi Suara Tertinggi

Pemilihan Rektor (Pilrek) tahap pertama untuk memilih tiga besar yang masuk pada tahap pemilihan selanjutnya sudah dilaksanakan hingga pukul 17.00 kemarin (9/6). Pilrek yang diikuti lima bakal calon (balon) tersebut berlangsung cukup demokratis. Sebab, tidak hanya dosen dan karyawan saja yang memiliki hak suara dalam pemilihan tersebut. Seluruh mahasiswa Unijoyo juga mengikuti pesta demokrasi kampus besar-besaran itu. Dalam pemilihan tersebut Prof Arifin mendapat suara tertinggi.

Sekretaris Panitia Pemilihan Rektor, Syafi' menjelaskan nilai suara terbagi dua. Untuk suara dosen dan karyawan satu suara nilai bobotnya 1. Sedangkan untuk suara mahasiswa, satu suara nilai bobotnya 0,14. Dengan demikian, tujuh suara mahasiswa setara dengan satu suara dosen atau karyawan. Para pemilih tersebut memberikan suaranya di tiga tempat pemungutan suara (TPS).

Berdasarkan data dari panitia pemilihan, hasil rekap akhir Pemilu Raya menunjukkan Prof Arifin mendapat bobot suara tertinggi. Balon nomor urut pertama Drs Subandri mendapat bobot suara 20,64. Balon kedua Dr Ir Slamet Sobari mendapat bobot suara sebesar 43,92. Sedangkan Balon ketiga, Imron Kuswandi mendapat bobot suara 13,08. Dan, balon keempat Dr Hj Iriani Ismail Dra Mm mendapat bobot suara 46,72. Semenatara Prof Dr Ir H Arifin mendapat bobot suara tertinggi sebanyak 430,12.

Dijelaskan, pemilihan saat ini adalah pemilihan pada tahap pertama. Tiga balon tertinggi nantinya akan diajukan ke senat untuk dipertimbangkan. "Tapi yang jelas kami berharap pada senat agar hasil dari pemilihan pertama ini menjadi perhatian untuk menentukan pertimbangan-pertimbangan berikutnya," jelas Syafi' kemarin.

Dilain pihak balon Prof Arifin mengaku bersyukur dengan proses pemilihan yang digelar tersebut. Menurutnya, di antara kampus-kampus negeri yang baru, pihaknya melibatkan mahasiswa dalam tahapan Pilrek. Dia berharap agar proses demokrasi tersebut berjalan baik dan lancar hingga akhir pemilihan dan penetapan rektor nanti.

Terkait partisipasi civitas dalam pemilihan, Prof Arifin menilai partisipasi seluruh civitas kampus sangat tinggi. Dari jumlah DPT dosen dan karyawan yang hadir mencapai 80 persen. Sementara yang tidak hadir rata-rata mereka yang mengikuti studi lanjutan ke luar daerah dan luar negeri. "Tapi dengan peran serta yang seperti ini kami sudah bangga," ungkapnya.

Terkait pemilihan berikutnya, Arifin juga berharap agar pihak senat perwakilan dosen dan karyawan memperhatikan hasil pemilihan pertama sebelum melakukan pengesahan. Arifin menambahkan, jika ia kembali terpilih akan meningkatkan penataan tata kelola administrasi pendidikan, keuangan, kepegawaian, termasuk organisasi alumni. (amr/rif)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010

Jembatan Suramadu Belum Dongkrak Ekonomi Regional



Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) hari ini (10/6) berusia setahun setelah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu. Namun, hingga kini, jembatan sepanjang 5,438 kilometer itu belum mampu memberikan pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian Jawa Timur (Jatim).

Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan bahwa eksistensi jembatan terpanjang di Indonesia tersebut butuh waktu lagi untuk lebih mendongkrak pertumbuhan ekonomi regional. "Sementara baru bisa menekan biaya akses transportasi dan menstabilkan harga barang," katanya setelah rapat pembahasan tol Surabaya-Mojokerto dan tol Porong bersama Muspida Jatim dan muspida kabupaten/kota di Ruang Binaloka Kompleks Pemprov Jatim kemarin (9/6).

Meski belum berbanding lurus dengan biaya hampir Rp 5 triliun yang dikeluarkan untuk membangun jembatan, kata Soekarwo, Suramadu menjadi pilihan alternatif baru. Sebelumnya, masyarakat dari Surabaya yang hendak ke Madura maupun sebaliknya tidak punya pilihan lain, kecuali menggunakan jasa penyeberangan kapal laut.

Dalam perkembangannya, Suramadu malah menjadi pilihan utama masyarakat. Sebab, aksesnya lebih mudah ke beberapa daerah di Pulau Madura. Mantan Sekdaprov tersebut menuturkan, wilayah di sekitar kaki jembatan belum dikembangkan secara optimal. Salah satu kendalanya adalah belum berperannya Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS).

Pemprov sudah berupaya memfasilitasi BPWS agar dapat bekerja sama dengan lima kepala daerah. Mereka adalah wali kota Surabaya dan empat bupati di Madura. Yakni, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Soekarwo mengungkapkan, badan bentukan pemerintah pusat yang baru terbentuk Agustus 2009 itu sampai kini belum melakukan aksi nyata karena terkendala dana.

"BPWS sebenarnya telah mengajukan dana melalui perubahan anggaran keuangan (PAK)," terangnya. Pejabat asal Madiun tersebut memperkirakan, BPWS bakal berperan maksimal mulai 2011. Itu akan terjadi setelah mereka menjadi satuan kerja (satker) tersendiri di bawah pemerintah pusat. Selama ini, mereka tidak bisa lepas dari bayang-bayang salah satu satker Kementerian Pekerjaan Umum.

Jika Soekarwo menyatakan bahwa setahun pertama Suramadu belum terlalu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, Asisten I (Ekonomi Pembangunan) Chairul Djaelani mengungkapkan sebaliknya. Meski terkesan berjalan lambat, dia menepis bahwa pembangunan pasca peresmian Jembatan Suramadu mengalami stagnasi. "Kalau dilihat dari sisi Surabaya, memang tidak terlihat. Tapi, di Madura lebih menggeliat," ungkapnya.

Mantan kepala Dinas Permukiman Jatim tersebut mencontohkan bukti konkret bergeraknya laju ekonomi. Salah satunya, proyek pembangunan pelabuhan di Desa Pernajuh dan Dakiring, Kecamatan Socah. Dia menjelaskan, perkembangan proyek baru memasuki tahap pengurukan tanah setelah sejumlah areal direklamasi. "Kontraktor proyeknya swasta. Pemprov sebatas men-support pendanaan multipurpose," terangnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim Hadi Prasetyo menilai, sejak bentang kabel dioperasikan tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Jatim turut terkerek. "Pertumbuhan Jatim yang kini di atas 5 persen malah melebihi perekonomian nasional," kata Pras, panggilan akrabnya.

Dia menerangkan, investasi usaha di seputar Suramadu mulai bermunculan. Namun, skala usaha masih berupa usaha kecil menengah (UKM). "Prediksi kami, investasi besar mulai tumbuh tahun depan," ujar pria berkacamata tersebut. Dia menuturkan, jembatan kebanggaan Indonesia itu kini menjadi ikon wisata Jatim yang baru setelah Gunung Bromo. (sep/c12/aww)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 10 Juni 2010

Kapal Spirit Majapahit Ship Sumenep

Senin, 26/04/2010 08:43 WIB
akan Keliling 8 Negara
Moh Hartono - detikSurabaya



Foto: Moh Hartono Sumenep - Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga menciptakan kapal Spirit Majapahit Ship. Pembuatan kapal berukuran panjang 20 meter dan lebar 4,10 meter bekerja sama dengan Asosiasi Jepang-Majapahit yang berkantor pusat di Tokyo.

Lokasi pembuatan di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep dengan 15 pekerja. Ditargetkan 6 pekan ke depan selesai. Kapal yang dikerjakan oleh pengrajin tradisional tersebut, bakal dilengkapi mesin dan layar. Jenis kayu pun pilihan yakni kayu jati yang sebagian didatangkan dari Jawa Tengah.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumenep, Moh Nasir mengatakan, pembuatan kapal merupakan bagian dari menumbuhkan semangat kerajaan Majapahit tempo dulu.

"Dengan kapal Spirit Majapahit Ship ini kita kemas semangat dan budaya kerajaan untuk bangsa serta menjalin hubungan lebih baik dengan negara yang ada di Asia," kata Nasir kepada wartawan di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep, Senin (26/4/2010).

Sementara anggota Asosiasi Jepang-Majapahit, Takajo menjelaskan rencananya kapal ini mengelilingi 8 negara di asia timur dan tenggara.

"Dilepas di Jakarta langsung menuju Brunei Darussalam. Dilanjutkan ke Jepang, Philipina, Cina, Vietnam, Bangkok, Singapura. Jumlahnya, 8 negara khusus di asia," terang Takajo kepada wartawan di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep.

Rencananya, ada 15 ABK yang akan ikut mengelilingi 8 negara tersebut. Nakhodanya dari angkatan laut dan yang akan mengendalikan layar warga Sapeken, Sumenep.


Kapal Spirit Majapahit Ship Akan Dilepas Presiden SBY

Untuk melihat kesiapan Kapal Spirit Majapahit Ship, pihak Deputi Mensesnek melakukan
kunjungan ke lokasi pembuatan kapal di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep.

Deputi Mensesnek Bidang Hubungan Kelembangaan, Sumarwoto mengatakan, rencana perjalanan laut ke 8 negara Asia Timur dan tenggara yang akan ditempuh selama 7 bulan serta akan dilepas langsung oleh Presiden.

"Kapal itu akan dilepas dari Sunda Kelapa Jakarta. Rencananya awal bulan Juni mendatang," terang Sumarwoto pada wartawan di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep.

(fat/fat)

Desakan Ganti Suramadu Jadi M Noer Meluas

DPRD Jatim dan Bupati Bangkalan, Fuad Amin mendesak mengganti nama Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) menjadi Jembatan Mohammad Noer. Pergantian nama ini sebagai bentuk penghargaan almarhum M Noer sebagai penggagas Suramadu.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Mahdi mengatakan, almarhum M Noer merupakan pengusul berdirinya jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura itu. Jasa besar almarhum tidak bisa disepelekan, makanya pemakaian namanya di jembatan terpanjang di Indonesia itu cukup layak.

“Tidak ada lagi yang meragukan jasa besar Pak Noer. Rasanya pantas kalau nama Suramadu diubah menjadi jembatan Mohammad Noer,” ujar Mahdi, Minggu (18/4).

Dalam waktu dekat, lanjut dia, pihaknya akan mengalang dukungan untuk mendesak Pemprov Jatim mengubah nama Suramadu menjadi Jembatan M Noer. “Biar ada tanda pengenal atas jasa yang diberikan Pak Noer bagi warga Jatim,” jelasnya.

Anggota Komisi A DPRD Jatim Nizar Zahro mengatakan, nama Pak Noer tidak hanya layak mengantikan nama Jembatan Suramadu, melainkan sudah masuk tahapan menjadi pahlawan nasional. Jejak sejarah mulai dari peranannya merebut kemerdekaan sampai menjadi duta besar (Dubes) di Prancis telah dilalui.

“Kami juga sangat setuju kalau nama Suramadu diubah menjadi Mohamamd Noer. Bila perlu sekalian saja diusulkan menjadi pahlawan nasional,” ungkapnya.

Menurut dia, sosok Pak Noer pantas menjadi panutan bagi warga Jatim. Sejak muda sampai menjadi pimpinan di Jatim, sikapnya masih sederhana dan selalu memperhatikan rakyat kecil.

“Beliau pemimpin yang merakyat, semua tindakannya selalu mengedepankan kepentingan rakyat kecil,” tegasnya.



Untuk itu, DPRD Jatim tidak segan untuk segera menempelkan namanya menganti Suramadu. “Bentuk penghargaan itu sangat layak atas pengabdian yang telah dilakukan Pak Noer,” ungkapnya.

Bupati Bangkalan Fuad Amin juga mengusulkan, pihaknya akan mengusulkan nama mantan Gubernur Jatim, M Noer, menjadi nama jalan di sepanjang akses Jembatan Suramadu. Pengusulan nama M. Noer sebagai nama jalan yang memiliki panjang 11,5 km itu merupakan aspirasi dari masyarakat untuk mengenang jasanya.

”Kami akan mengusulkan dan meminta persetujuan dari DPRD setempat, namun kemungkinan besar kalangan DPRD Bangkalan akan menyetujui hal itu,” katanya optimis.

Selain faktor tersebut, kata dia, pemberian nama jalan terhadap Pak Noer karena pengabdiannya sebagai pamong di Kabupaten Bangkalan paling lama yakni sekitar 24 tahun. M Noer mengawali karir mulai dari Sekcam (sekretaris kecamatan), Widodo Arosbaya (pembantu kepala daerah) hingga menjadi Patih (kepala daerah/bupati) Bangkalan periode 1959 hinggga 1965. ”Kalau dihitung, beliau menjadi pamong di sini sekitar 24 tahun,” katanya. (sis)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19 April 2010

Akses Suramadu Rusak Parah

Beberapa jalan kabupaten yang berhubungan dengan akses menuju jembatan Suramadu rusak parah. Kerusakan jalan yang terjadi sejak jembatan Suramadu belum dioperasikan setahun lalu itu sampai sekarang belum ada perbaikan sehingga aktivitas masyarakat menuju jembatan Suramadu terganggu.

Kepala Dinas PU Bina Marga Bangkalan, Ir Taufan Irwansyah, membenarkan beberapa ruas jalan menuju jalan akses Suramadu rusak. Dia memastikan pada tahun ini jalan yang rusak lebih dari setahun itu akan diperbaiki. “Untuk perbaikan dan pemeliharaan akses Suramadu ini akan menelan anggaran sebesar Rp 6.712.200.000, di antaranya dari DAK (dana alokasi khusus),” kata Taufan, Selasa (11/5).

Di antara ruas jalan yang rusak itu berada di sepanjang jalur Kamal-Tragah, terutama di perempatan jalan akses Suramadu di Petapan, Kecamatan Labang. Jalan di wilayah ini berlubang hampir di semua ruas jalan. “Apalagi sekarang musim hujan. Bila terjadi genangan di jalan raya, kadang mobil masuk lubang. Ini sudah jelas membahayakan, dan kendaraan bermotor cepat rusak,” kata Muarip, salah satu sopir MPU, jurusan Kamal – Tragah.

“Sudah setahun lebih sebelum dioperasikan jembatan Suramadu, jalan di sini sudah rusak. Sampai sekarang belum ada perbaikan. Padahal setiap hari saya membawa penumpang yang harus melewati jalan ini,” lanjutnya.

Selain jalan di perempatan Petapan, jalan kabupaten yang rusak juga terdapat di lintasan Desa Labang – Morkepek menuju akses Suramadu sebelah barat, juga di lintasan jalan Desa Sukolilo Barat – Desa Labang di sebelah timur jalan akses Suramadu.

“Saya kalau mau ke Suramadu lewat jembatan Suramadu harus lewat jalan tembus di sebelah timur jalan akses. Jalannya memang rusak sudah lama dan belum ada perbaikan,” kata Idrus, warga Kwnayar, Bangkalan.

Rusaknya jalan kabupaten menuju jalan akses jembatan Suramadu sisi Madura mendapatkan sorotan LSM. Karena jalan ini rusak parah setelah dilewati alat-alat berat untuk pembangunan jembatan Suramadu sebelum dioperasikannya tahun lalu. “Jalan ini rusak hampir dua tahun belum ada perbaikan, karena pada waktu itu dilalui alat-alat berat untuk pembangunan jembatan Suramadu,” kata Ketua LSM Contractor Watch, Jimhur Saros. “Karena tidak ada yang memperbaiki jalan yang rusak itu, kondisinya kini bertambah parah. Rntah siapa yang mestinya bertanggung jawab,” katanya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 12 Mei 2010

Geram, Warga Desa Galis Nglurug Dewan

Memprihatinkan, bagaimana tidak, selama 7 tahun Desa Galis, Bangkalan tidak memiliki Kepala Desa. Selama itu hanya dijabat pelaksana tugas sementara, roda Pemerintahanpun tidak berjalan maksimal.

Lamanya penantian itu membuat masyarakat gelisah. Rabu (28/04/2010) sedikitnya 100 massa massa demo ke DPRD setempat. Mereka menuntut agar segera di gelar pilkades. Perjalanan menuju dilakukan berjalan kaki sambil berorasi dan membentang poster. Sesampainya di halaman DPRD Bangkalan, para pengunjuk rasa ini berusaha masuk dalam gedung. Namun, rencana itu dihadang polisi.

Massa hanya bisa bisa berorasi di depan pintu masuk gedung dewan. “Kami ingin betul- betul diperhatikan,” kata Koordinator Lapangan Aksi Umar Faruk, Rabu (28/04/2010).

30 menit kemudian, mereka ditemui salah seorang angota dewan dan berjanji akan melakukan pemanggilan pihak terkait untuk segera mempercepat pelaksanaan pilkades di galis. (din)

Sumber: zonaberita.com, Rabu, 28 April 2010

Proyek PLTN Konang Picu Demo Mahasiswa


Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang direncanakan segera dibangun di Kecamatan Konang Kabupaten Sampang, mengundang protes. Sedikitnya seratus mahasiswa mengatasnakan Gerakan Mahasiswa Menolak Nuklir (Gempar) menggelar aksi di Bangkalan, Senin (26/4/2010).

“Pembangunan PLTN demi kemakmuran masyarakat, itu cuma omong kosong. Kenyataan yang terjadi di mana-mana penggunaan tenaga nuklir hanya membuat masyarakat sengsara,” teriak salah seorang orator dalam aksi itu.

Para mahasiswa memulai aksi dengan melakukan longmarch di sepanjang jalan jalan protokol di pusat kota Kabupaten Bangkalan. Yang menjadi sasaran mereka pertama adalah gedung DPRD Kabupaten Bangkalan. Di gedung wakil rakyat ini, mereka harus puas melakukan orasi di luar halaman karena puluhan aparat kepolisian menghadang lebih dulu di pintu gerbang.

Orasi selama sekitar setengah jam rupanya berhasil membuat gerah sejumlah wakil rakyat di dalam Gedung DPRD itu. Mereka akhirnya mengijinkan mahasiswa masuk untuk berdialoh. Desakan mahasiswa pun berhasil memaksa para wakil rakyat untuk menyepakati tuntutan mereka, menolak proyek PLTN di bumi Madura.

Para mahasiswa juga mendesak DPRD membuat peraturan daerah, tentang lingkungan yang berkearifan lokal. “Kami hanya ingin lingkungan di Pulau Madura tidak tercemar akibat proyek bertenaga nuklir itu,” kata Nanang, salah seorang korlap aksi itu.(din/ijo)

Sumber: zonaberita.com, Senin, 26 April 2010

Bangkalan Lebih Siap Mengembangkan Akses Suramadu

Rapat koordinasi dengan Pemkab se Madura, Kantor Bakorwil IV Pamekasan tuntas, Senin (29/3). Rakor pertama sejak Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) dibentuk dan sejak jembatan Suramadu diresmikan ini membahas tentang Pengembangan Wilayah Madura Secara Terpadu.

Setelah Suramadu dibangun, pengembangan apa yang bisa dilakukan untuk memberi manfaat lebih besar bagi Madura?

Pertanyaan ini menjadi pembahasan utama rapat koordinasi yang dipandu oleh Kepala Bidang Ekonomi dan Pengembangan Bakorwil IV Pamekasan Drs Moh Ali Mulyono MSi, Senin (2/3) kemarin.

Apakah empat kabupaten di Madura sudah siap?

Ternyata belum. Hal pokok berkaitan dengan kesiapan rencana tata ruang kota (RTRK). “Hanya kabupaten Bangkalan yang siap,” kata Ketua BPWS Edy Purwanto yang hadir pada rakor itu.

Sampang, Pamekasan dan Sumenep belum memiliki RTRK. Disarankan ketiga daerah itu segera membentuk tim Kecil yang melibatkan banyak elemen untuk memfasilitasi pertemuan dan koordinasi terkait pengembangan Madura kedepan.

RTRK secara terpadu di Madura perlu dilakukan, kata Purwanto, agar antar pemerintah daerah tidak overlapping dalam mengusulkan pembangunan. “Misalnya daerah tertentu minta pelabuhan, lainnya juga minta, maka itu tidak tepat. Nah di sinilah perlunya sinkronisasi tata ruang itu dan itu harus lebih dulu diselesaikan,” katanya.

Karena merupakan Rakor pertama, maka Rakor dimulai dengan memaparkan tentang latar belakang hadirnya BPWS, lingkup tugas, pendekatan pelaksanaan tugas atau kerjasama BPWS dengan daerah, hal-hal yang telah dilakukan oleh BPWS selama ini maupun rencana kegiatan dan kerjasama ke depan.

Edy Purwanto mengatakan, BPWS dibentuk berdasar Peraturan Presiden No 27/2008, Jo 23/2009. Lembaga ini bertugas untuk percepatan pengembangan wilayah Madura pasca Suramadu.

“Tugas PBWS mengembangkan wilayah Suramadu menjadi pusat pengembangan ekonomi di Jawa Timur. Wilayah Madura dilihat sebagai suatu kesatuan ekonomi, perlu dikembangkan kawasan pertumbuhan yang saling menguatkan inter sektoral dan regional dengan mendorong peran swasta. Juga perlu pengembangan jaringan infrastruktur pulau Madura untuk mendukung kawasan produksi dan pemukiman,” kata Edy.

Arah pelaksanaan tugas PBWS adalah melaksanakan pengusahaan jembatan tol Suramadu dan jalan tol Lingkar Timur Surabaya; pengusahaan pelabuhan peti kemas di Pulau Madura; membangun dan mengelola wilayah kaki jembatan Suramadu sisi Surabaya, sisi Madura dan kawasan khusus di pulau Madura.

BPWS juga mefasilitasi dan menstimulasi percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Jawa Timur, dengan pembangunan jalan akses menuju jembatan Suramadu, pembangunan lintas utara selatan dan jalan penghubung di pulau Madura. Membangun sarana perhubungan antar wilayah kepulauan dan pengembangan SDM dalam rangka industrialisasi Madura.

“Semua kegiatan yang dilakukan disingkronkan dengan RTR kabupaten/kota. BPWS perlu mengupayakan agar RTR kabupaten di pulau Madura sebagai satu kesatuan,” kata Purwanto. (Masdawi Dahlan)

Sumber: Surabaya Post

Bangkalan Tak Sekencang Harapan Investor

Pemerintah Kabupaten Bangkalan rupanya belum bisa berlari sekencang harapan investor untuk berinvestasi di sana. Cetak biru pengembangan kawasan yang ditunggu investor sebagai rujukan penanaman modal, belum bisa tersedia dalam waktu cepat.

Lambatnya pemetaan kawasan Bangkalan pasca Suramadu ini diakui DPRD Bangkalan. “Jangankan masyarakat, kami saja anggota dewan belum diberi Perda tentang RTRW Kabupaten Bangkalan,” kata Ketua Komisi C DPRD Bangkalan, Mukaffi Anwar.

Dia mendesak pemkab Bangkalan segera begerak cepat untuk mengantisipasi masuknya investor ke daerah ini pasca pembangunan Jembatan Suramadu. “Investor saya yakin sudah antre mau menanamkan modalnya di Bangkalan. Tetapi bagaimana caranya, mereka tidak tahu. Mereka ingin tahu lebih dulu di mana kawasan industri, perumahan, dan lainnya. Itu harus dijelaskan secara detil pada investor. Hal ini belum kelihatan di Bangkalan,” keluhnya.

Pemkab sendiri tidak menampik tudingan lambat itu. Hanuya saja, mereka beralasan waktu yang lebih panjang diperlukan karena pengembangan kawasan harus dilakukan secara cermat.

“Memang Pemkab Bangkalan baru saja menyelesaikan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Dalam tata ruang ini baru dipetakan gambaran global untuk pengembangan kawasan Bangkalan, termasuk di sekitar kawasan Suramadu. Nanti masih perlu didetilkan lagi dalam rencana detil tata ruang (RDTR),” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) Bangkalan, Dr Edy Moeljono, Kamis (8/4).

Untuk menuju RDTR, Pemkab harus lebih dulu menyosialisasikan RTRW ke masyarakat yang dijadwalkan Juni 2010. Berdasar masukan masyarakat, RTRW itu didetilkan dalam RDTR yang mencakup 18 kecamatan se-Bangkalan. Edy sendiri memperkirakan RDTR baru selesai awal tahun depan.

Kendala lain yang diungkapkan sebagian pengusaha adalah sempitnya jalan. Jalan utama yang menghubungkan Bangkalan dengan Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, misalnya, dinilai kurang lebar. Forum Komunikasi Insan Investasi, Sikili Hamzah, misalnya, mengusulkan agar jalan poros itu dilebarkan 10 meter lagi.

Terkait usul ini, Kepala Bidang Pembangunan PU Bina Marga Jatim, Heri Budianto mengaku tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, jalan poros itu adalah jalan nasional yang beradadi luar kewenangannya. Hanya saja, menurut dia, jalan poros itu tidak dibiarkan Ruas Sampang–Pamekasan sudah dilapis ulang sepanjang 11,4 km.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Regional Bapeprov Jatim, Suci Purnomo mengakui belum ada rencana pelebaran jalan di Madura. Namun, untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di Madura, pemerintah pusat melalui Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) sudah memiliki rencana lain.

”Rencananya akan dibangun jalur lintas selatan dan utara di Pulau Madura untuk mempercepat transportasi di pulau garam tersebut,” kata Suci.

Untuk pelaksanannya, kata Suci, masih menunggu RTRW dari empat kabupaten yang ada.

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 8 April 2010

Stadion Bangkalan Terancam Mangkrak

Sejak mulai dibangun pada 2007, kondisi Stadion Bangkalan belum sempurna. Meski begitu, kegiatan olahraga, khususnya sepakbola, sudah bisa digelar di lapangan stadion tersebut. Agar pembinaan olahraga bisa lebih maksimal, PSSI Bangkalan berharap pembangunan stadion itu segera tuntas dan jangan sampai mangkrak.

Harapan itu disampaikan Mustain, Humas PSSI Bangkalan, Kamis (6/5) pagi tadi, saat dimintai tanggapan tentang kondisi stadion tersebut setelah disidak DPRD Bangkalan, Selasa (4/5) lalu. “Kita sangat berharap stadion itu segera selesai semuanya, jangan sampai mangkrak karena stadion itu sangat kita butuhkan seiring dengan prestasi sepakbola Bangkalan yang sudah menasional,” kata Mustain.

Tim Jatim yang menjuarai kompetisi nasional U-15 (Piala Medco) sebagian besar pemainnya binaan Perseba (Persatuan Sepakbola Bangkalan). Selain itu, Perseba juga menjuarai kompetisi nasional U-18 (Piala Suratin) dan U-21 (Divisi III). Khusus pemain U-21 yang menjuarai Divisi III, berhak mengikuti kompetisi nasional Divisi II yang akan bergulir mulai Juni nanti.

Sementara itu, salah satu kesimpulan dari hasil sidak Komisi C DPRD Bangkalan dua hari lalu, pembangunan Stadion Bangkalan itu terancam mangkrak, karena dana dari APBD Bangkalan tidak cukup untuk membiayai stadion bertaraf nasional yang didesain seperti Stadion Gelora Delta Sidoarjo itu. Kini, kelanjutan pembangunan proyek yang membutuhkan tambahan Rp 60 miliar itu menggantungkan uluran dana dari Pemprov Jatim dan pemerintah pusat.





Stadion yang akan menampung 12.000 penonton ini telah dibangun selama tiga tahun anggaran, yakni melalui APBD Bangkalan 2007, 2008, dan 2009. Alokasi dana yang telah dikucurkan belasan miliar rupiah, termasuk pada anggaran 2009 sebesar Rp 6,6 miliar untuk membangun gedung pengelolaan, tribun VVIP dan VIP.

“Pada tahun 2010 kami akan melanjutkan pembangunan stadion dan telah mendapatkan dana Rp 10 miliar dari Pemprov Jatim. Uang sebanyak itu digunakan untuk pembangunan pagar lapangan, tribun ekonomi sepanjang 71 meter, pagar tribun VVIP, VIP, dan atap VIP,” ujar Chairul.

Dijelaskan Chairul, pembangunan stadion ini masih sekitar 60%. Sisa pembangunannya masih membutuhkan 60 miliar lagi. “Kami akan terus berusaha agar stadion bertaraf nasional ini bisa tuntas, meski harus mencari bantuan ke pemprov atau pusat,” katanya.

Meski belum rampung, stadion ini sudah bisa difungsikan. Bahkan, beberapa kali dijadikan tempat even sepakbola untuk skala nasional dan regional. “Fungsi stadion sudah jalan meski belum maksimal,” ungkap Chairul.

Ketua Komisi C, Mukaffi Anwar, mengakui tidak mungkin menggunakan APBD Bangkalan untuk menutupi kekurangan Rp 60 miliar itu. Karena itu, dewan mendorong pemkab agar terus melakukan terobosan untuk mencari biaya pembangunan stadion agar tidak mangkrak.

“Ya, tanpa ada bantuan dari pusat, tidak mungkin kita bisa meneruskan pembangunan stadion dalam waktu cepat. Terobosan yang telah dilakukan mulai ada tanda-tanda berhasil, dengan bantuan dari Pemprov Jatim itu,” ungkapnya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 6 Mei 2010