Santri Pondok Pesantren di Sumenep Gelar Tahlil

Santri di sejumlah pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, langsung menggelar doa bersama dan tahlil atas wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Rabu (30/12) malam.

"Begitu mendengar berita Gus Dur wafat, kami bersama santri langsung menggelar doa bersama dan tahlil. Kami kehilangan seorang pengayom umat yang sekaligus guru bangsa," kata salah seorang pengasuh Ponpes Al Utsmuni Sumenep, KH Abdullah Cholil di Sumenep.

Ia menjelaskan, kegiatan doa bersama dan tahlil bagi Gus Dur itu diikuti secara bertahap oleh santrinya yang berjumlah sekitar 400 orang.

"Semoga semua amal perbuatan beliau diterima di sisi Allah SWT. Kami sangat berduka atas wafatnya Gus Dur," kata Kiai Cholil menegaskan.

Hal sama juga dilakukan santri Ponpes Al Karimiyyah dan Ponpes Roudlatut Tholibin. Pimpinan Ponpes Al Karimiyyah, K.H. Abuya Busyro Karim mengatakan, pelaksanaan doa bersama dan tahlil yang digagasnya, tidak hanya diikuti oleh santrinya, tapi juga oleh warga sekitar.

"Setelah ada berita di televisi tentang wafatnya Gus Dur, kami langsung mengumumkan pada masyarakat melalui pengeras suara di masjid sekaligus memberitahukan melaksanakan doa bersama dan tahlil," katanya.

Di Ponpes Roudlatut Tholibin, sekitar 200 santri juga melaksanakan doa bersama dan tahlil.

"Kami dan santri langsung berpikiran sama untuk menggelar doa bersama dan tahlil. Wafatnya Gus Dur akan membuat seluruh warga Indonesia berduka, apalagi kami yang warga Nahdlatul Ulama (NU)," kata salah seorang pengasuh Ponpes Roudlatut Tholibin, Mohammad Halimi. (Ant/OL-7)

Sumber: Media Indonesia, Rabu, 30 Desember 2009

Kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan ke Pamekasan

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Sabtu, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pamekasan di Pulau Madura, Jawa Timur.

Fadel Muhammad tiba di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, sekitar pukul 14.00 WIB dan berramah tamah dengan jajaran Muspida di lingkungan Pemkab setempat.

Selanjut menteri berkunjung ke Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan. Di desa ini, menteri Fadel Muhammad meresmikan dan menyerahkan bantuan 50 rumah ramah bencana kepada warga miskin di desa itu.

Saat ini acara penyerahan bantuan rumah ramah bencana oleh Menteri Kelauatan dan Perikanan masih berlangsung.
(*)

Sumber: AntaraNews, Sabtu, 26 Desember 2009

Investasi Madura Terganjal Blueprint Suramadu

Jembatan Suramadu (Eric Ireng) Tak kunjung rampungnya penyusunan blueprint pembangunan di sekitar kawasan Jembatan Suramadu membuat penanaman investasi di kawasan Madura secara keseluruhan terhambat. Dengan tidak adanya kepastian blueprint, praktis belum ada investasi yang masuk ke kawasan kaki-kaki Jembatan Suramadu.

"Akhirnya kami memilih fokus menjual potensi investasi kawasan Madura lainnya di luar 1,2 ribu hektare kawasan kaki-kaki jembatan Suramadu. Sebenarnya di wilayah ini ramai peminat. Tapi bagaimana lagi, blueprint-nya saja belum ada," ujar Sikilli Hamza, Kepala Bidang Pengembangan dan Kerja Sama Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur, Rabu (23/12).

Namun, Sikilli menegaskan, wilayah-wilayah lain di Madura juga tidak kalah menarik. Dalam perkembangan terbaru, Sikilli menjelaskan, ada penambahan jumlah investor di Madura dari penanaman modal asing (PMA). "Ada dua. Mereka investasi di daerah Sampang dengan bidang kerja jasa pengeboran minyak. Total investasinya sekitar 2 juta dollar AS," jelasnya.

Dengan penambahan tersebut, kini jumlah investor asing yang telah berinvestasi di kawasan Madura keseluruhan ada 9 investor dengan total investasi sebanyak 264,7 juta dollar AS. "Sementara baru itu yang masuk Madura. Kalau blueprint Suramadu sudah ada, saya yakin penambahannya ke depan akan cukup signifikan," tukasnya.

Di sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Madura, belum ada penambahan. Dengan begitu, jumlah investor dalam negeri yang menanamkan modalnya di kawasan Madura masih sekitar 8 investor dengan total investasi mencapai Rp 1,752 triliun.

"Mereka tersebar di berbagai sektor industri, meliputi industri galangan kapal, industri makanan-minuman, budidaya udang, pengolahan tembakau dan pertambangan," katanya.

Ke depan, papar Sikilli, proyek yang sedang dalam tahap pembicaraan adalah pembangunan kawasan wisata bahari di daerah Camplong, Sampang, dengan total investasi sekitar Rp 1,5 triliun.

"Sedang dalam penelitian kawasan dan juga pengajuan perizinan. Semoga cepat terlaksana karena cepat atau lamanya proyek ini terwujud sebagian juga tergantung pada proses perizinan yang ada," paparnya. Rencana investasi ini, berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). (Taufan Sukma)

Sumber: VIVAnews, Rabu, 23 Desember 2009

Sekolah Ambruk Diterjang Puting Beliung

Angin puting beliung disertai hujan deras pekan lalu tidak hanya menghancurkan puluhan rumah warga Desa Karang Gayam, Kec. Omben, Sampang, tetapi sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pandan 2 Desa Pandan juga mengalami nasib sama.

Angin kencang tersebut telah meluluhlantakan tiga ruang kelas SDN Pandan 2. Agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, pihak sekolah mengungsikan siswa kelas 2 dan 3 ke musala dan halaman rumah warga setempat.

“Jika dilihat dari kondisi fisik bangunan, memang sebenarnya sudah tidak layak ditempati. Karena, sebagian gedungnya retak bahkan satu ruang kelas tidak bisa dipergunakan lagi untuk kegiatan belajar mengajar karena sudah ambruk. Padahal bangunan itu sudah direhab pada 1996 silam, tapi karena kualitasnya jelek maka tidak bertahan lama,” terang Kepala SDN Pandan 2, Syaiful Bahar, Rabu (16/12).

Menurut Syaiful, jumlah murid sebanyak 145 siswa, mayoritas hanya mengunakan sandal jepit ketika bersekolah, namun minat belajar siswa miskin itu tetap tinggi. Syaiful berharap agar Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang memberikan perhatian serius agar segera merehab bangunan yang ambruk tersebut.

“Kami berharap pihak Disdik memperhatikan nasib murid-murid yang berada di daerah pelosok tersebut. Sudah beberapa kali kami mengajukan permohonan rehab bangunan kelas yang rusak, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Padahal, kata dia, minimnya prasarana pendidikan yang tidak memadai, ditambah dengan berdirinya sejumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI), berdampak terhadap berkurangnya jumlah siswa ke SDN 2 Pandan.

Sementara itu, sebanyak 25 rumah di Desa Karang Gayam, Kec. Omben rusak parah tertimpa pohon yang tumbang, akibat terjangan angin puting beliung disertai hujan deras yang melanda desa tersebut. Berdasarkan data petugas Kantor Kec. Omben, kerugian yang diderita warga mencapai Rp 95 juta, tapi tidak ada korban jiwa. rud

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 16 Desember 2009

Kaukus Klarifikasi BPWS

Kaukus Madura segera menemui Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS), terkait pengembangan industrialisasi di sekitar wilayah Jembatan Suramadu. Pengembangan industrialisasi ini diperkirakan membutuhkan lahan 600 hektare.

Kaukus Madura beranggotakan 8 anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) Madura. Mereka akan mengklarifikasi secara detil pengembangan di sekitar kaki (areal) Jembatan Suramadu.

Kordinator Kaukus Madura, Achsanul Qasasi menyatakan, pihaknya sepakat mengembangkan wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bernama Madura Industrial Estate Sea Port City. Tapi, pihaknya tidak ingin pengembangan industri berdampak negatif terhadap kultur masyarakat Madura.

Ditambahkan, pihaknya pihaknya belum melakukan evaluasi terhadap rencana pembebasan lahan seluas 600 ha untuk pengembangan industri itu. Tapi pihaknya meminta pembebasan lahan tidak menyentuh lokasi pondok pesantren.

”Kalau saya lihat master planingnya, tidak ada yang menabrak kawasan pondok pesantren. Makanya, waktu dekat kami anggota DPR-RI dari Dapil XI Madura yang tergabung dalam kaukus Madura melakukan audensi dengan BPWS untuk menanyakan secara detail seperti apa,” ujarnya. “Kalau ternyata menabrak nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Madura, pasti kami menentangnya,” tambah Achsanul Qasasi, menegaskan.

Sedangkan, MH. Said Abdullah, legislator lainnya asal Madura meminta agar masyarakat dan ulama tidak khawatir dengan dibangunnya industrialisasi di sekitar Jembatan Suramadu. Namun juga bisa dipahami kekhawatiran yang disampaikan ulama merupakan bagian dari keinginan masyarakat Madura, agar pembangunan itu tidak keluar dari kultur dan nilai-nilai ke-Madura-an.

”Secara pribadi, saya percaya betul ulama akan menerima industrialisasi di Madura. Tapi, kewajiban ulama juga untuk mengingatkan pemerintah, bahwa ada sesuatu yang tidak boleh hilang dari masyarakat Madura. Jadi, jangan langsung menyatakan menolak industrialisasi itu,” tegasnya.

Kader PDIP ini menjelaskan, jika rencana pembebasan lahan 600 ha untuk pengembangan industrialisasi ditolak, Madura akan ketinggalan dengan daerah lainnya. Karena sejak 2006 lalu, pihaknya telah menggagas Madura harus dijadikan sebagai Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang menguntungkan masyarakat.

”Tolonglah, persoalan ini dipahami betul. Dan, percayalah dengan 600 hektare itu kita tidak akan menjadi penonton. Tapi, justru nantinya pengembangan kawasan industri akan memberikan sumbangsih untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran di Madura,” katanya. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 14 Desember 2009

Bupati Kholil: Jamaah Haji Pamekasan Bisa Jadi Teladan

Mereka dijadwalkan terbang menuju tanah suci Mekkah, Jumat (20/11) sore ini pukul 16.00 Bandara Juanda Surabaya. Kakandepag Pamekasan, Drs H Abd Wachid MM, mengatakan CJH asal Pamekasan tahun ini tergabung dalam Kelompok Terbang (kloter) 85, 86 dan 88. Jamaah yang tergabung dalam kloter 85 dan kloter 86 diberangkatkan dari Pamekasan menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Kamis (19/11), sedangkan yang tergabung dalam kloter 88 diberangkatkan dari Pamekasan menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (21/11), dan terbang ke tanah suci, Minggu (22/11).

Dibandingkan tahun lalu, jumlah CJH asal Pamekasan yang berangkat tahun ini lebih sedikit. Tahun lalu mencapai 1.400 lebih, sedangkan tahun ini hanya 1.058 orang. “Pemberangkatan tahun ini adalah tahun transisi pendaftaran di bank, sehingga jumlahnya mengecil. Tahun depan jumlahnya akan kembali menanjak,” jelas Wachid.

Secara umum, lanjut Wachid, calon haji tahun ini sudah sangat siap, baik fisik maupun mental. Dari fisik tak satu pun calon haji asal Pamekasan yang mengalami gangguan penyakit. Sedangkan dari pembinaan mental juga siap karena pembinaan kepada mereka cukup matang, terutama pembinaan dari aspek pengetahuan tentang rukun dan wajib haji.

Pembinaan terhadap para calon haji itu, kata Wachid, tidak lepas dari peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Saat ini di Pamekasan terdapat 19 KBIH yang membina para calon tamu Allah itu. Selain mendapat pembinaan manasik haji dari Kandepag Pamekasan, para calon haji juga mendapat pembinaan dari para pengelola KBIH.

Bupati Kholilurrahman mengucapkan selamat jalan kepada para calon haji saat acara pelepasan. Bupati juga berharap agar mereka bisa menjadi haji yang mabrur. “Haji yang mabrur akan membentuk manusia yang memiliki mental baik yang akan berguna dalam pembangunan nasional,” katanya.

Bupati Kholil juga berpesan agar para calon haji menjaga etika dan moralitas ketika berada di tanah suci. “Jadilah jamaah haji yang baik, tunjukkan kepada dunia bahwa jamaah haji asal Pamekasan ini bisa menjadi teladan,” katanya. mas

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 20 Nopember 2009

Dijanjikan Rp 100 Miliar

Anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura yang melakukan reses berjanji mengupayakan bantuan dana sekitar Rp 100 miliar untuk perbaikan infrastruktur di Madura. Mereka juga mengupayakan bantuan dana untuk penyelesaikan pembangunan Islamic Center di Pamekasan.

Itu ditegaskan MH Said Abdullah yang memimpin kunjungan kerja (reses) delapan anggota DPR RI Dapil Madura,--termasuk dirinya ke Pamekasan, Senin (14/12) siang.

Said Abdullah mengatakan, pada anggaran 2010 pihaknya tidak bisa berbuat banyak menyusun program bantuan ke Madura. Karena APBN 2010 disahkan sebelum masa anggota DPR RI periode 2009-2014 dilantik.

Namun demikian, pihaknya tetap berupaya bisa memberikan bantuan melalui dana stimulus. “Besarnya bisa sampai Rp 100 miliar. Ini bisa dibagi untuk empat kabupaten di Madura. Janji ini bukan main main, tapi bisa dipastikan karena itu buatlah proposal yang bagus, dan kami tunggu proposal itu,” katanya.

Khusus untuk penuntasan pembangunan Islamic Center di Pamekasan, Said berjanji akan mengupayakan bantuannya melalui dana abadi umat di Departemen Agama RI. “Kebetulan saya pribadi ada di komisi yang membidangi ini di Depag. Maka di sana ada dana abadi umat yang bisa kita pakai untuk bantuan sarana prasarana keagamaan,” ungkapnya.

Sebelumnya Bupati Pamekasan Drs KH Kholilurrahman SH menyampaikan bahwa dalam upaya mengimbangi percepatan pembangunan setelah beroperasinya Jembatan Suramadu, pihaknya membutuhkan bantuan dana langsung dari pemerintah pusat. Sebab kalau hanya mengandalkan DAU dan DAK sangat terbatas. Dana tersebut banyak terkuras untuk kenaikan gaji PNS dan lain sebagainya.

Dalam reses, delapan anggota DPR RI ini juga menyempatkan kunjungan ke Sampang dan Sumenep. Said juga sempat menegaskan, anggota DPR RI dari Dapil XI Madura, sepakat membentuk Kaukus Madura untuk mendorong percepatan pembangunan berbagai sektor di Pulau Garam tersebut.

”Kami siap menjadi calonya rakyat Madura, tapi kami bukan calonya proyek. Dalam banyak hal, kami akan perjuangkan keinginan dan aspirasi masyarakat Madura di DPR RI,” ujar Said, saat bertemu dengan Bupati Ramdlan Siradj. ”Melalui kaukus Madura ini, kami bersepakat untuk menyuarakan keinginan rakyat Madura. Karena kami mempunyai kekuasaan budgeting di DPR RI,” tambahnya.

Bupati Ramdlan merespon positif silaturahmi yang digagas anggota DPR-RI asal Dapil XI Madura, sebagai bentuk sinergi wakil rakyat untuk sama-sama memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan rakyat.

Ketika berkunjung ke Sampang, Said kembali mengkritisi eksistensi Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) yang pembentukannya tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 27/2008. BPWS dianggap masih mengundang kontraversi tidak hanya di kalangan para bupati se Madura, juga menjadi sorotan anggota DPR RI Dapil XI Madura.

“Pembentukan BPWS itu adalah untuk kepentingan masyarakat Madura, sehingga harus melibatkan semua elemen masyarakat Madura. Jadi keberadaan BPWS perlu dikaji ulang dengan mengajak duduk bersama seluruh tokoh masyarakat untuk merumuskan jalan keluar terbaik dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dilapangan,” ujarnya. mas, iir, rud

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 15 Desember 2009

Madura, Hasil Karya Mahasiswa Munich

Mobil konsep Lamborghini Madura

Slavche Tanevsky, seorang mahasiswa di Universitas Munich, Jerman, telah menciptakan mobil konsep masa depan, Lamborghini Mandura.

Penggunaan Madura, Tanevsky merujuk pada nama pulau di Indonesia. Pulau ini, menurut Tanevsky, terkenal dengan bantengnya. Bagi bangsa Jerman, penamaan mobil hampir selalu dikaitkan dengan keperkasaan banteng.

Sebenarnya bila di Indonesia, Madura terkenal dengan sapi-sapi yang kuat. Sapi-sapi ini biasanya dilombakan dalam ajang karapan sapi.

Konsep ini merupakan bekerja sama Lamborghini dan Audi. Lamborghini sendiri menyiapkan seluruh bahan baku proyek itu. Menurut Tanevsky, proyek ini merupakan produk hibrida pertama Lamborghini yang dijadwalkan keluar pada 2016.

Sebagai mobil hibrida yang efisien bahan bakar dan ramah lingkungan, tidak membuat Lamborghini Madura ini tak menarik. Mobil ini didesain dengan rangka dan cat futuristik.

Meskipun desain ini samar-samar mirip pada mobil konsep Reventón dan Estoque, namun desain Madura lebih ramping, lebih terfokus, dan lebih agresif.

Di bagian depan, fitur Madura lebih ramping pada lampu depan membuat ruang bagi lubang udara yang lebih besar. Madura juga didesain berkelok yang bisa mengarahkan angin lebih sempurna. (World Car Fans) (Hadi Suprapto)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 10 Desember 2009

Investasi ke Pulau Garam Masih Seret

Misi besar pembangunan Jembatan Suramadu adalah menarik investor ke Pulau Madura. Namun, hingga Suramadu beroperasi selama enam bulan, arus investasi ke Pulau Garam masih seret. Pengembangan kawasan bisnis di kaki jembatan sisi Surabaya dan sisi Madura masih belum ada kejelasan karena rancangan (blueprint) tata ruang kawasan tersebut belum kunjung kelar. Dengan segala proses birokrasi, diperkirakan proyek investasi baru akan masuk Madura dua tahun lagi.

Deputi Bidang Pengendalian Badan Pelaksana Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura (BPWS) Agus Wahyudi mengakui, seretnya investasi masuk ke Madura karena proses pembuatan cetak biru kawasan Suramadu yang belum kunjung selesai. BPWS melakukan kordinasi antara Departemen Pekerjaan Umum (PU) dan Pemda serta elemen masyarakat. ''Diharapkan pada akhir 2010 sudah selesai,'' ujarnya dalam pertemuan dengan stakeholder Jembatan Suramadu di Hotel Singgasana Surabaya kemarin. Dalam pertemuan tertutup itu hadir antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi (Bappeda) Jatim, pemerintah kabupaten/kota di Madura, elemen masyarakat seperti pemuka agama, serta beberapa investor.

Lamanya penyelesaian blue print tersebut diakui oleh Agus dikarenakan diperlukan perhitungan mendetil secara teknis untuk mengukur potensi, hambatan, maupun tantangan di Suramadu.

Salah satu investor yang tertarik untuk berinvestasi di Madura adalah PT Lamicitra Nusantara Tbk. Direktur Lamicitra Priyo Setya Budi dalam public expose perseroan mengakui sudah memiliki lahan (land bank) sekitar 400 hektare di Madura yang bisa dikembangkan untuk pelabuhan serta kawasan industri Madura Industrial Seaport City. ''Tapi belum tahu kapan akan dimulai. Mungkin bisa dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Masih banyak pertimbangan seperti aturan hingga pendanaan,'' ujarnya. (aan/kim)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 11 Desember 2009

Lamborghini Pakai Nama Madura

Produsen mobil mewah Lamborghini menggunakan nama Madura untuk salah satu mobil konsepnya. Mobil konsep ini dirancang oleh Slavche Tanevsky, mahasiswa Munich University of Applied Sciences.

Seperti dikutip Worldcarfans, Rabu (9/12/2009), Tanevsky mengaku terinspirasi dengan Pulau Madura di Jawa Timur yang terkenal dengan karapan sapinya itu. Mobil konsep itu tercipta atas kolaborasi Tanevsky dengan perancang Lamborghini dan Audi.

"Madura diusulkan untuk menjadi mobil Lamborghini hybrid pertama yang dijadwalkan akan diproduksi pada 2016," ujar Tanevsky.

Tanevsky menuturkan mobil konsep super itu akan memiliki efisiensi bahan bakar tinggi dan lebih ramah lingkungan dengan mesin hybrid yang digendongnya.

Meskipun samar-samar mengingatkan kita pada pada Lamborghini Reventón dan mobil konsep Estoque, seluruh desain dari Madura memiliki desain lebih ramping, lebih terfokus, dan lebih agresif.

Di bagian depan, fitur lampu utama Madura lebih ramping, air intake yang besar. Di bagian belakang mobil, mesin hybrid yang ditanamkan Tanevsky menghasilkan garis-garis rumit labirin yang membantu memberikan penampilan mobil yang unik. Kapan masuk Indonesia dan lewat Jembatan Suramadu ya? (Dadan Kuswaraharja - detikOto )

Sumber: detikOto, Rabu, 09/12/2009

Sumur Bor Dikeluhkan

Warga Desa Sera Timur, Kec. Bluto mengeluhkan pembangunan sumur bor yang dilakukan Dinas PU Pengairan Sumenep. Kegiatan eksplorasi air itu dirasa berdampak kepada sumber mata air milik masyarakat yang semakin surut.

Sedikitnya dua sumber air dan 13 sumur di desa itu debitnya terus berkurang, bahkan ada yang sudah mulai mengering, pasca pengeboran tersebut. Karena keluarnya air dari sumur bor tersebut cukup besar.

Mohammad (50), warga Desa Sera Timur, mengaku awalnya menyambut positif dengan keluarnya air di sumur yang dilakukan pengeboran oleh dinas. Karena, dengan kedalaman 60 meter saja, ternyata mampu mengeluarkan air yang cukup besar.

Tapi lama-kelamaan, eksistensi sumur bor yang mengeluarkan air dalam jumlah besar itu telah mengurangi debit air di sumur-sumur warga. ”Saat ini, air sumur kami sudah mengering. Ada 13 sumur yang kini sudah tidak ada airnya,” katanya.

Padahal, lanjut dia, sebelum pengeboran sumur oleh dinas pengairan dilakukan, kondisi dua sumber air dan sumur di desa setempat baik-baik saja. Sehingga masyarakat meminta sumur bor milik dinas pengairan itu diutup saja. ”Kami menginginkan sumur bor itu ditutup saja. Karena, tidak mendatangkan manfaat, tapi justru merugikan masyarakat setempat untuk mendapatkan air bersih,” ungkapnya.

Atas persoalan itu, Kepala Dinas PU Pengairan Sumenep, Mohammad Jakfar, mengaku sudah menerjunkan tim untuk mengecek ke lapangan. “Memang ada pengurangan debit air milik warga akibat pengeboran itu,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, pihaknya sudah memasang casing pipa di kedalaman 60 meter, agar air yang keluar dari sumur itu tidak terlalu besar. ”Debit air yang keluar cukup besar. Saat ini kami menunggu alat dari Surabaya, karena di samping semburan air sumur itu akan dicor dengan kedalaman hingga 40 meter. Sedangkan, di bawah kedalaman 40 meter akan diberi kerikil untuk memfilter air,” ungkapnya.

Ditegaskan, jika keberadaan sumur bor dianggapa merugikan masyarakat sekitarnya, maka pihaknya tidak keberatan proyek yang dibiayai APBD 2009 sebesar Rp 139 juta itu ditutup. ”Jika masyarakat setempat meminta untuk ditutup, ya kami akan menutup sumur bor itu,” ujarnya.

Pada tahun ini ada empat titik pengeboran, yakni di Kec. Ganding, kemudian di Desa Poreh (Kecamatan Lenteng), Desa Batu Dinding (Kecamatan Gapura), dan Desa Sera Timur (Kecamatan Bluto).”Dari empat titik pengeboran sumur itu, hanya di Desa Sera Timur yang bermasalah dengan warga,” katanya. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 5 Desember 2009

Angin Puting Beliung Hantam Madura

inilah.com/Dokumen

Angin puting beliung kembali terjadi di Pamekasan, Jumat (27/11). Akibatnya, tiga rumah warga rusak berat.

Angin yang disertai hujan deras itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB saat sebagian warga menunaikan Shalat Jumat. Kapolsek Tlanakan AKP Bambang Soegiharto, membenarkan kejadian itu.

Bahkan, angin kencang yang terjadi di Desa Branta itu juga menyebabkan sebuah pohon tumbang hingga nyaris mengenai rumah warga dan pengendara kendaraan bermotor yang melintas di Jalan Raya Tlanakan. "Itu memang benar terjadi, namun kerusakannya tidak parah," kata Bambang.

Menurut dia, saat peristiwa terjadi, dirinya sedang berada di kantor Mapolsek Tlanakan, yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari pohon yang tumbang tersebut. Warga, terang Bambang, memang terlihat ketakutan saat angin berhembus kencang yang disertai hujan deras, bahkan sebagian di antara mereka keluar rumah karena ketakutan.

"Peristiwa itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 15 menit setelah itu angin reda," terang Kapolsek Bambang.

Selain merusak atap rumah angin puting beliuang yang terjadi di Desa Branta itu juga merusak sebuah lembaga pendidikan di desa tersebut. Gentengnya banyak yang pecah akibat hembusan angin, namun tidak ada korban jiwa.

Saat ini warga yang rumahnya rusak akibat angin puting beliung tersebut masih melakukan perbaikan, dan menebang pohon yang roboh melintas jalan umum tersebut. [*/mut]

Sumber: inilah.com, 27/11/2009

Selama Sepekan Suramadu Gelap Gulita

Gelapnya Suramadu karena tagihan listrik
Jembatan Suramadu belum dibayar


ANTARA/Eric Ireng
Jembatan Suramadu

Lebih dari sepekan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) gelap. Seluruh lampu penerangan jalan padam. Gelapnya jembatan, juga jalan aksesnya di sisi Madura, diduga karena tagihan listrik Jembatan Suramadu belum dibayar.

Hal tersebut diakui Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Surabaya, A.G. Ismail, Kamis (3/12). ”Benar, memang ada tagihan listrik dari PLN. Berapa besarnya, saya tidak tahu pasti,” ungkap Ismail.

Ismail menjelaskan, pada 25 November lalu Balai Besar Wilayah Suramadu (BBWS) sudah melayangkan surat ke Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) yang isinya meminta BPJT menangani masalah pembayaran listrik di Jembatan Suramadu. ”Sampai sekarang kami belum menerima informasi apa pun terkait hal ini,” tuturnya.

Namun, sambung dia, pihaknya sudah mengalokasikan dana untuk membeli genset sebesar Rp 300 juta pada tahun anggaran 2009 ini. Diharapkan keberadaan genset bisa menjadi cadangan bila terjadi pemadaman listrik oleh PLN.

Masih menurut Ismail, Menteri PU juga sudah mengirim surat ke Menteri BUMN yang isinya meminta PLN untuk berkontribusi bagi pembiayaan penerangan Jembatan Suramadu.

”Tidak gratisan, tetapi dengan sistem barter. PLN menyewa Jembatan Suramadu untuk memasang kabel listrik, biaya sewa itulah yang akan diguakan untuk membayar tagihan listrik Jembatan Suramadu,” tuturnya.

Sewa PLN, sambung Ismail, berlaku sepanjang masa sehingga untuk membayar tagihan listrik di Suramadu pun tetap bisa teratasi. Namun, berapa besaran tagihan listrik dan besaran sewa, Ismail belum tahu. Sebab, kewenangan mengatur dan menghitung berapa besaran sewa itu ada di Departemen Keuangan. (Siska Prestiwati)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 3 Desember 2009

Nunggak, Listrik Suramadu Diputus

Jalan akses jembatan Suramadu dari sisi Madura gelap-gulita, Senin (30/11) malam. Kondisi itu sangat mengganggu dan menyulitkan pengendara karena kegelapan itu terjadi hingga di loket karcis.

Usut punya usut, ternyata jaringan listrik itu memang sengaja diputus Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Bangkalan. Alasannya, pengelola Suramadu menunggak pembayaran listrik sebesar Rp 15,4 juta.

“Kami sudah memberikan teguran melalui surat kepada pihak Suramadu. Namun mereka tidak mengindahkan teguran kami. Jadi kami harus bersikap tegas,” jelas Taufik Santoso, Kepala PLN UPJ Bangkalan, Selasa (1/12).

Menurutnya, keputusan pemutusan listrik di akses menuju jembatan Suramadu tersebut tidak diambil secara sepihak. Sebelumnya pihaknya telah melayangkan surat teguran dengan nomor 161/UPJ-BKL/2009 tanggal 26 November 2009 lalu bertepatan dengan batas waktu pembayaran listrik di akses menuju jembatan Suramadu. “Setelah toleransi selama satu minggu kami berikan, tidak ada tindakan kooperatif dari pihak pengelola,” tegasnya.

Akhirnya PLN UPJ Bangkalan bersikap tegas dengan memutus aliran listrik pada Senin (30/11) pukul 18.00 WIB. Taufik juga menyesalkan sikap pengelola jembatan Suramadu dalam menyikapi masalah tunggakan listrik tersebut.

“Masak kita hanya ditelepon. Seharusnya mereka (pengelola Suramadu) mengirim surat untuk selanjutnya kami ajukan ke pusat terkait perpanjangan toleransi penundaan pembayaran,” keluhnya.
Berdasarkan data di PLN, pada November tunggakan listrik pihak Suramadu sebesar Rp 15,4 juta. Jumlah tersebut merupakan akumulasi tunggakan yang tercatat di UPJ Bangkalan (Rp 7,3 juta) dan Kamal (Rp 8,1 juta).

Pembagian jaringan listrik pada akses Suramadu terbagi menjadi dua. UPJ Bangkalan bertanggung jawab pada jaringan listrik dari pintu masuk akses Suramadu hingga traffic light yang terdapat di Desa Petapan. Sedangkan UPJ Kamal bertanggung jawab dari lampu merah tersebut hingga batas bentang tol Suramadu.

Akibat pemadaman listrik tersebut, semakin memperpanjang permasalahan yang melilit di jembatan sepanjang 5,4 km itu. Pasalnya, penyediaan listrik di bentang jembatan Suramadu hingga saat ini belum juga ada kejelasan. Hal ini ditambah padamnya lampu di akses menuju Suramadu dari sisi Madura.

Kepala Shift Suramadu, Bahrum, membenarkan bahwa telah terjadi pemadaman listrik di akses menuju Suramadu. Ia menuturkan, pemadaman tersebut sangat tidak nyaman bagi pengendara setelah keluar dari Suramadu. “Di tempat pembelian tiket, lampu penerangan jalan umum juga mati. Namun, hal itu tidak berpengaruh pada pembelian tiket. Karena kami telah menyediakan dua generator,” jelasnya.

PLN Ngawur
Gelap gulitanya jalan akses jembatan Suramadu akibat aliran listrik diputus oleh PLN, ditanggapi serius AG Ismail, Kepala Balai Besar Jalan Nasional V yang membawahi proyek jembatan Suramadu.

Dia menuding PLN bertindak seenaknya sendiri dalam memutuskan pasokan arus listrik di akses Suramadu sisi Madura. Mestinya, sebelum listrik diputus, pihak PLN memberitahu terlebih dahulu kepada pimpinan proyek Suramadu sisi Madura. “Tapi nyatanya hal itu tidak dilakukan. Pemberitahuan tak ada, tapi langsung diputus begitu saja. Jadi PLN yang ngawur,” tegasnya kepada Surya, Selasa (1/12) lewat ponsel.

Meski demikian, pihaknya, kata Ismail sudah mengkonfirmasi Pemimpin Proyek Suramadu sisi Madura, Siswo Dwijanto. Dari laporan Siswo, Ismail diberitahu bahwa mulai kemarin listrik di akses Suramadu sisi Madura sudah menyala kembali.

Sementara itu, Agus Purnomo, Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya yang mengelola jembatan Suramadu menambahkan, masalah lampu atau penerangan listrik di atas jembatan sepanjang 5,438 km bukan pihaknya yang menangangi. “Itu urusan proyek (Balai Besar Jalan Nasional V),” katanya.
Menurut Agus, hingga saat ini, tol Suramadu, belum teraliri listrik dari PLN. Penerangan yang ada masih mengandalkan genset, mulai untuk menghidupkan lampu jalan, AC, dan gardu serta sejumlah fasilitas umum lainnya. “Dan itu inisiatif dari kami selaku pengelola. Karena hingga kini PLN belum masuk,” tegasnya. (st32/uji)

Sumber: Surya, Rabu, 2 Desember 2009