Suramadu Rawan Longsor

Surabaya Post/Iwan Heriyanto
Jembatan Suramadu

Besar kemungkinan, keselamatan PKL juga terancam jika tebing suatu saat longsor

Tebing yang ada di sekitar Jalan akses tol jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sisi Madura, tepatnya Desa Morkepek, Kecamatan Labang, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, rawan longsor karena tidak ada penahan.

"Tebing yang mempunyai panjang sekitar 500 meter itu sama sekali tidak ada plengsengan (tembok penahan longsor), yang biasanya berfungsi sebagai penahan tanah dan batu agar tidak longsor," kata tokoh masyarakat setempat, Ha`i, di Bangkalan.

Seperti yang dilansir tvone, Ha`i menjelaskan, tebing yang berada di sisi kanan dan kiri jalan hanya dikepras (potong), tanpa dibangun plengsengan. Ironisnya, di bawah tebing dijadikan tempat jualan puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL).

"Besar kemungkinan, keselamatan PKL juga terancam jika tebing suatu saat longsor. Sebab, tanah dan batu akan mengubur para PKL yang berada di bawah," ungkapnya.

Sejak awal beroperasi Suramadu, sambung Ha?i, pihaknya sudah mempertanyakan masalah plengsengan di sekitar tebing. Hanya saja, belum ada jawaban secara pasti, baik dari pihak pengelola Suramadu maupun pemerintah setempat.

"Kalau musim hujan seperti ini berbahaya, bisa jadi rawan longsor karena tidak ada plengsengannya. Jika itu sampai terjadi maka warga yang akan menjadi korban," ujarnya.

Menurut Ha`i, pihak pengelola Suramadu dan pemerintah kabupaten (pemkab) Bangkalan tidak ada alokasi dana untuk membangun plengsengan di daerah tersebut.

"Itu saya lakukan, karena kami khawatir jika hujan lebat terus turun maka tebing akan longsor. Sehingga yang menjadi korban pertama kali PKL karena berada di bawah tebing," paparnya.

Ha`i menambahkan, untuk mengantisipasi kejadian tersebut, pihaknya telah menyarankan pada para PKL supaya menutup warungnya kalau hujan turun.

"Jika tidak ada anggaran, sebenarnya ada cara lain supaya bisa terhindar dari longsor yakni menanam pohon di sekitar tebing akses Suramadu," urainya. (Amril Amarullah)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 26 November 2009

35 Pelari Mancanegara Taklukkan Suramadu


Surabaya Post/Eko Suswantoro
Sedikitnya 35 pelari profesional mancanegara turut serta di antara 7.500-an peserta Lari Suramadu


Sejak pukul 03.00 WIB hari Minggu 29 November 2009, kesibukan di kawasan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) telah terasa lain dari biasa.

Di jembatan yang merupakan landmark Jawa Timur bahkan Indonesia tersebut digelar lomba lari internasional bertajuk Suramadu International Run yang disosialisasikan sebagai Suramadu 10 K. Sedikitnya 35 pelari profesional mancanegara turut serta di antara 7.500-an peserta secara keseluruhan.

"Acara ini merupakan bukti dari kekuatan Jatim sebagai ibu kota kedua dengan Surabaya di dalamnya. Beserta Suramadu yang dimilikinya, Jatim telah membuktikan diri sebagai salah satu potensi penting Indonesia," ujar Andi Alifian Mallarangeng, Menteri Negara Pemuda dan Olah raga (Menegpora) yang meresmikan pembukaan acara di Suramadu.

Menurut Andi, gelaran ini juga bisa dimaknai sebagai upaya pembibitan bagi para pelari muda Jawa Timur yang mempunyai potensi untuk berkiprah di level yang lebih tinggi.

Sementara itu, Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang dalam acara ini bertindak sebagai ketua panitia mengemukakan bahwa Suramadu Run merupakan rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2009 sekaligus peringatan hari jadi Pemerintah Provinsi yang ke-64.

"Melalui acara ini kita juga ingin tunjukkan, bahwa keberadaan Suramadu yang dulu saat dikonsep banyak pihak meragukan, kini telah benar-benar terealisasi dan berdiri megah. Ini kita ingin sampaikan ke dunia internasional," ujarnya.

Tidak banyak yang bisa disampaikan pejabat yang akrab disapa Gus Ipul ini karena tenggelam dalam euforia ribuan peserta yang telah memadati lokasi acara sejak pagi. Begitu pun Soekarwo, Gubernur Jawa Timur, yang juga turut hadir di acara ini.

"Sudah. Pokoknya dengan acara ini kita ingin sampaikan kepada semua pihak baik pemerintah pusat mau pun masyarakat internasional bahwa iklim Jatim saat ini benar-benar aman dan nyaman untuk kegiatan apa pun, dari mulai kegitan olah raga, pariwisata, investasi dan lain sebagainya," ujar Pakde Karwo sesaat sebelum melepas para peserta memulai lomba di garis start.

Di barisan pertama, para peserta internasional menempati garis pertama diikuti para peserta dari kalangan umum, TNI-AD, AU, Armada Timur (Armatim AL), Polda serta juga para atlet nasional dan juga kalangan pelajar. Letusan pistol tanda dimulainya acara dibunyikan tepat pukul 06.10 WIB. Seketika berbondong-bondong para peserta memadatai jalur Jembatan Suramadu yang sehari-hari digunakan untruk jalur kendaraan roda empat tersebut.

"Mari Surabaya berlari. Tetap semangat. Tetap sportif namun juga jaga kondisi selama pertandingan. Selamat bertanding," tukas Pakde Karwo mengiringi langkah awal para peserta di garis start.

Antusiasme benar-benar terjaga selama acara berlangsung. Tak hanya para peserta, panitia dan pengisi acara saja, masyarakat umum juga tumplek blek terlihat memenuhi bibir-biar ruas jalan Jembatan Suramadu. Tak jarang bahkan panitia harus berkali-kali memohon para penonton untuk minggir karena menghalangi pandangan para petugas pencatat waktu.

Sepulu menit berlalu. Suasana langsung semarak saat diumumnkan bahwa telah ada peserta yang telah melewati paruh pertama lintasan atau tepatnya telah menempuh perjalanan 5 km lebih. Sayang, hingga sampai menyentuh garis finish, peserta terdepan tidak mampu memecahkan rekor kecepatan sebelumnya yang dibukukan atas nama Kennedy Kiproo Lilan di ajang Bali 10 K dengan catatan waktu 27 menit 31 detik.

"Peserta pertama yang berhasil mencapai garis finish atas nama Mattheuw Sigey dengan catatan waktu 30 menit 7,06 detik," pengumuman panitia beberapa saat setelah sang jawara memasuki garis finish.

Kennedy sendiri tercecer di urutan ke-2 dengan catatan waktu 30 menit 7,61 detik. Sedang di kelas wanita, pemenang pertama adalah Emily Chepkemoi Samoei dengan catatan waktu 34 menit 35,53 detik.

"Yang perlu kita catat bahwa para bibit unggul kita ternyata berhasil mencatat waktu yang tidak jauh dari para pelari professional mancanegara ini. Ini capaian yang membanggakan," ungkap Gus Ipul, panggilan Wagub Jatim Saifullah Yusur.

Dia mencontohkan prestasi yang terukir di kategori pelajar wanita yang dimenangkan oleh Yanita Sari dengan catatan waktu 41 menit 31 detik. Gus Ipul berharap bibit-bibit unggul seperti yanita bias mendapatkan perhatian lebih dari Menegpora baik berupa beasiswa, uang pembinaan dan lain sebagainya.

Di akhir acara, para pemenang dari seluruh kategori, yaitu kategori elite internasional pria dan wanita, kelas umum pria dan wanita, serta kelas pelajar pria dan wanita didulat untuk maju ke panggung dan menerima hadiah secara langsung.

Total hadiah sebanyak Rp 500 juta diserahkan langsung pada para pemenang oleh Menegpora, Gubernur Jawa Timur beserta Wagub, Wakil Wali Kota, Pangdam V Brawijaya, Kapoda Jawa Timur, serta para pejabat yang hadir dalam acara ini.

"Kita harapkan semangat ini terus dapat terjaga dan nantinya bias kita selenggarakan tiap tahun. Pak Gubernur pun sudah bersedia menyelenggarakannya tahun depan dengan persiapan yang tentunya jauh lebih matang," tegas Gus Ipul. (Taufan Sukma)

Sumber: VIVAnews, Minggu, 29 November 2009

Tanah BPSAWS Diserebot Warga

Sebelas bidang tanah negara milik Balai Pengelolaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai ( BPSAWS) Dinas Pekerjaan Umum Pengarian Provinsi Jatim di Madura seluas 1.561 m2 diduga diserobot warga. Lahan itu berada di Desa Sumedangan, Kec. Pademawu, Pamekasan.

Lahan yang diklaim milik BPSAWS itu terdiri sebelas bidang tanah yang berlokasi di jaringan irigasi Sungai Samiran. Kini lahan itu ada yang sudah dijadikan pewasahan, ada pula sudah didirikan bangunan permanen.

Kepala Balai PSAWS Madura, H Hasbullah, ST MM menjelaskan, sebenarnya beberapa tahun lalu beberapa bidang lahan milikinya itu sudah terdapat dipasang patok pembatas yang jelas. Namun belakangan ada beberapa patok yang mulai tidak jelas posisinya.

“Kami juga baru tahu kalau ada sebagian dari beberapa bidang tanah milik Balai PSAWS Madura diserobot warga, bahkan sudah tersertifikat,” katanya, Sabtu (28/11) pagi tadi.

Lebih lanjut, Hasbullah mengaku sudah memiliki bukti konkret tentang sertifikat tanah milik warga yang telah mengambil sebagian dari lahan milik Negara tersebut. Bukti-bukti ini memperkuat tentang penyerobotan lahan oleh warga yang selama ini menjadi hak milik Balai PSAWS Madura.

Untuk itu, pihaknya secara resmi sudah mengirimkan surat kepada Kepala Desa Sumedangan, Pamekasan. Surat yang sama juga dikirim ke BPN Pamekasan dan menyatakan keberatan tentang proses dan penerbitan sertifikat tersebut.

Dalam mengatasi masalah ini Hasbullah mengaku mencoba melakukan pendekatan persuasif serta koordinasi dengan instansi terkait. Namun jika langkah itu tidak membuahkan hasil, pihaknya akan membawa masalah ini ke proses hukum. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 28 Nopember 2009

Kiai Tolak Pengeboran

Forum Kiai Muda (Forkim) Sumenep menolak rencana uji seismik 3D migas yang akan dilakukan PT SPE Petroleum. Penolakan itu disampaikan kepada wakil rakyat di gedung dewan melalui belasan perwakilannya yang diterima Komisi B DPRD Sumenep, Selasa (24/11).

Ketua Forkim Sumenep, KH. Jurjis Muzammil, mengungkapkan kekhawatiran masyarakat terhadap rencana eksplorasi migas di dua kecamatan, yakni Kecamatan Pasongsongan dan Pragaan. Dia mengaku, banyak warga yang akan dilewati uji seismik khawatir kegiatan tersebut akan berdampak negatif kepada lingkungan.

”Kita membawa amanah dari kiai sepuh dari Basra (Badan Silaturrahmi Ulama Madura). Para kiai juga khawatir pengeboran migas ini akan berdampak seperti kasus luapan Lumpur di Sidoarjo. Karena itu, kita menolak kegiatan migas ini,” ujar Kiai Jurjis Muzammil.

Apalagi, lanjut dia, hingga sampai saat ini pihak perusahaan pengeboran belum melakukan sosialisasi kepada tokoh dan masyarakat terkait rencana pengeboran itu. Dia menyayangkan adanya sebagian orang yang mengatasnamakan kiai dan ulama yang menyetujui kegiatan tersebut.

”Sampai saat ini para kiai tidak setuju dengan eksplorasi migas di daratan, karena kegiatan itu akan mengancam kehidupan masyarakat,” ujarnya. Ketua GP Ansor Sumenep ini mengatakan, eksplorasi tersebut malah akan mendatangkan mudarat kepada masyarakat.

Yang dikhawatirkan kiai, kata dia, dengan adanya eksplorasi dan pembangunan industri di Madura pasca pembangunan Jembatan Suramadu, akan banyak masjid dan pondok pesantren yang akan digusur. ”Kita sudah mendengar sinyalemen rencana penggusuran pemukiman penduduk untuk kepentingan industri di Madura,” katanya.

Selain itu, Forkim juga melakukan klarifikasi hasil konsultasi anggota Komisi B DPRD dengan BP Migas di Jakarta, beberapa waktu lalu. ”Terus terang, kami masyarakat bawah masih dibayangi ketakutan atas kasus lumpur di Sidoarjo. Untuk itu, Forkim meminta agar anggota dewan mempertimbangkan rencana eksplorasi tersebut,” lanjut Kiai Jurjis Muzammil.

Sementara itu, Ketua Komisi B, Bambang Suprayogi, kepada Surabaya Post mengatakan, pihaknya akan menampung aspirasi dari Forkim. Dalam kasus ini, pihaknya tidak bisa memberikan kebijakan untuk menolak eksplorasi itu. Namun, pihaknya akan berusaha menyampaikan kekhawatiran masyarakat tersebut kepada SPE Petrolium maupun BP Migas.

“Rencananya, bulan depan BP Migas akan datang ke Sumenep untuk menjelaskan kegiatan migas yang ada di kabupaten ini. Kami akan berusaha menyampaikan keinginan dari masyarakat. Kita memang berharap, tokoh dan masyarakat juga dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi migas, agar masyarakat dapat mengerti,” kata Bambang Suprayogi. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 25 Nopember 2009

Toron, 70 Ribu Lintasi Suramadu

Kamal Sepi. Besok, Kamis (26/11), diperkirakan sebanyak 70 ribu kendaraan bermotor akan melintasi Jembatan Suramadu. Ini terkait dengan toron, mudiknya warga Madura ke kampung halaman untuk merayakan Idul Adha 1430 H yang jatuh pada Jumat (27/11).

Mengantisipasi toron ini, pihak pengelola Jembatan Suramadu dan penyeberangan feri Ujung-Kamal mulai mempersiapkan diri. Selaku pengelola jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini, Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya Agus Purnomo mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan diri sejak H-3, Selasa (24/11).

Persiapan itu antara lain mulai dari menambah jumlah petugas dan menyiagakan mereka selama 24 jam hingga memasang sejumlah rambu-rambu lalu lintas. “Ini pertama kali warga yang melestarikan tradisi toron melintasi Suramadu,” ujarnya kemarin.

Menurut Agus, pada hari biasa, kendaraan yang lewat tol Suramadu rata-rata 30 ribu unit per hari dengan rincian 65 persen motor dan 35 persen mobil, selama tradisi toron jumlahnya diperkirakan naik 100 persen. “Bahkan, pada puncak toron yang kami perkirakan H-1, jumlah kendaraan bisa mencapai 70 ribu unit. Dasarnya, adalah Lebaran Idul Fitri kemarin,” jelasnya.

Namun, pergerakan kendaraan pada H-3 kemarin belum terlihat. Hingga pukul 14.00 WIB, jumlah kendaraan yang melewati jembatan sepanjang 5,438 kilometer itu masih sama seperti hari-hari biasa. “Mungkin H-2 besok, pergerakan kendaraan yang mau toron ke Madura sudah mulai terlihat,” imbuh Agus.

Berbeda dengan yang bakal terjadi di jembatan yang diresmikan 10 Juni 2009 ini, komunitas Madura yang toron melalui Pelabuhan Ujung-Kamal menggunakan jasa feri penyeberangan dipastikan turun dibanding tahun sebelumnya.

Kalau pada 2007, pada puncak toron ada sekitar 46 ribu orang penumpang yang menyeberang lewat Pelabuhan Ujung ke Kamal dan pada 2008 jumlahnya naik menjadi sekitar 50 ribu, tahun 2009 ini jumlah penumpang diperkirakan hanya tinggal 14 ribu saja.

Manajer Operasional PT Indonesia Ferry ASDP Cabang Surabaya M Waluyo mengatakan, turun drastisnya penumpang di Pelabuhan Ujung - Kamal ini akibat beroperasinya Jembatan Suramadu. “Ini adalah yang pertama kali. Karena tahun-tahun sebelumnya Jembatan Suramadu kan belum beroperasi,” tukasnya.

Selain para momen Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, turunnya penumpang juga terjadi pada hari-hari biasa. Sebelum ada Jembatan Suramadu, penumpang rata-rata 15 ribu orang per hari, saat ini tinggal 7 ribu orang per hari.

Untuk itu, pihak PT ASDP tidak menambah jumlah armada kapal. Delapan kapal fery dan dua dermaga yang selama ini dioperasionalkan diperkirakan masih dapat melayani lonjakan penumpang selama musim toron. “Berdasar pengalaman Lebaran Idul Fitri kemarin, sepertinya tidak akan ada masalah. Tidak akan terjadi penumpukan penumpang. Meski demikian, sejak H-3 hari ini kami sudah siaga,” imbuh Waluyo.

Sama seperti Suramadu, puncak penumpang di Ujung-Kamal juga diperkirakan terjadi pada H-1 Kamis (26/11). (uji)

Sumber: Surya, Rabu, 25 Nopember 2009

Tragedi Warga Kepulauan Sumenep

Kelamaan di Perjalanan Ibu dan Bayi Meninggal di Kapal

Runi, ibu rumah tangga asal Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, ini tak pernah membayangkan nyawanya harus melayang hanya karena tempat tinggalnya yang jauh dari pusat kota. Andai di pulau itu fasilitas puskesmas memadai, nyawanya dan nyawa bayinya mungkin masih bisa diselamatkan.

Karena jauhnya tempat dan tidak memadainya fasilitas pelayanan kesehatan, Runi, 43, warga Dusun Bantulan, Desa Da’andung, Kecamatan Kangayan (Pulau Kangean) akhirnya meninggal dunia bersama bayi yang baru dilahirkannya.

Peristiwa memilukan itu terjadi saat Runi berada dalam perjalanan laut dengan Kapal Motor Penumpang (KMP) Dharma Bahari Sumekar (DBS) I menuju kota Sumenep untuk proses persalinan, Rabu (18/11) malam.

Dengan kapal itu, diperlukan waktu sekitar 12 hingga 13 jam untuk sampai di kota Sumenep. Namun perjalanan baru empat jam, Runi sudah tidak kuat menahan keluarnya sang jabang bayi. Diperkirakan, Runi meninggal dunia karena kehabisan darah dan minimnya peralatan medis di kapal itu, sehingga nyawa korban bersama bayinya tidak tertolong. Padahal, dokter dan bidan Puskesmas Kangayan yang ikut mengantarkan sudah memberikan pertolongan maksimal.

Jenazah kedua korban baru bisa dibawa kembali ke daerah asalnya, setelah KMP DBS I merapat di Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Jenazah kemudian dibawa pulang oleh saudaranya dengan menyewa perahu dari pelabuhan Kalianget, Kamis (19/11). Dengan perahu ini, perjalanan pulang akan memakan waktu lebih lama lagi, yakni sekitar 15 hingga 18 jam.

Abdul Azis Salim, 35, tetangga korban yang ikut menumpang KMP DBS I mengatakan, Runi sesuai rencananya akan melahirkan di Puskesmas Kangayan. Namun sampai dua hari opname di puskesmas tersebut sang jabang bayi belum juga keluar, sementara kondisi Runi semakin lemah. Atas pertimbangan itu, maka dokter puskesmas memutuskan untuk merujuk Runi ke RSD Dr H Moh Anwar Sumenep.

Namun, perjalanan laut dari Pelabuhan Batu Guluk, Kecamatan Kangean baru menempuh empat jam, Runi mengeluh kesakitan seperti halnya orang yang akan melahirkan. Melihat itu, dokter dan bidan langsung membawa Runi ke sebuah ruangan di kapal itu untuk mengatur proses persalinan korban yang saat itu sudah pembukaan empat.

Beberapa menit kemudian, akhirnya proses persalinan terjadi dan bayinya bisa diangkat. Namun bayi yang keluar sudah dalam keadaan meninggal. Tubuh bayi itu terlihat membiru diduga akibat lamanya proses persalinan sejak di Puskesmas Kangayan.

“Tak lama kemudian, ibunya yang mengalami pendarahan hebat juga meninggal dunia,” ujar Azis.

Anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Badrul Aini yang juga ikut dalam perjalanan laut dari Pulau Kangean ke Sumemep mengatakan, kasus meninggalnya ibu hamil dalam perjalanan laut dari pulau ke Sumenep bukan yang pertama kali. Bahkan hampir tiap tahun kasus serupa terjadi.

“Ini terjadi karena peralatan medis di puskemas kepulauan kurang memadai. Sehingga banyak ibu hamil yang harus dirujuk ke Sumenep dan karena perjalanan membutuhkan waktu lama, akhirnya bisa fatal seperti ini,” ujar Badrul.

Untuk mencegah atau meminimalkan kasus serupa, Badrul berharap ada langkah kongkret dari pemerintah daerah untuk membenahi puskesmas yang ada di kepulauan. “Sudah saatnya di pulau-pulau itu disediakan puskesmas sekelas rumah sakit yang peralatannya cukup memadai, khususnya untuk berbagai keperluan mendesak seperti untuk proses persalinan,” pinta Badrul. (Achmad Rivai)

Sumber: Surya, Jumat, 20 Nopember 2009

Puting Beliung Sapu Pamekasan

Empat Puluh Dua Rumah Ambruk Satu Tewas

Sekitar 45 rumah di Kampung Kembang Satu dan Kembang Dua, Desa Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan ambruk disapu angin puting beliung, Senin (16/11), sekitar pukul 16.30.

Selain memorak-porandakan rumah, Ratena, 30, warga Desa Bulmatet, Kecamatan Karang Penang, Sampang tewas di lokasi kejadian. Sedang dua warga lainnya, asal Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Rodiyah, 35, yang tengah hamil lima bulan, tulang punggungnya patah dan Munirah, 25, lengan kirinya patah serta sekujur tubuhnya luka hingga mengalami 15 jahitan di RSUD Pamekasan.

Kerusakan terparah dan terbesar menimpa rumah penduduk di Desa Palengaan Daja. Sebagian besar rumah warga yang terkena angin puting beliung ambruk dan rata dengan tanah. Bupati Pamekasan, Drs KH Khalilurrahman, yang mendengar kejadian itu bersama Kahumas dan Protokol, Fajar Santosa SH mengunjungi warga dan memberikan santunan.

“Semoga musibah ini tidak hanya membawa kesengsaraan, juga membawa hikmah. Meski banyak rumah ambruk, kita tetap bersyukur dan tawakkal menghadapi cobaan ini,” kata bupati.

Menurut Marjito, yang rumahnya mengalami rusak berat, awalnya hujan deras, namun selang tidak berapa lama disusul angin kencang dan terdengar deru suara seperti mesin pesawat yang terbang rendah dari arah selatan, disertai petir menyambar.

Saat itu sebagian warga berada di dalam rumah dan tidak berani keluar. Tiba-tiba angin meliuk-liuk menyambar rumah warga dan menerbangkan atapnya hingga terlempar sejauh 10 meter. Jerit histeris warga tak terbendung. Lantas warga berbondong-bondong keluar rumah menyelamatkan diri ke tempat yang agak jauh, sebagian berlindung di bawah pohon.

“Nah, ketika Munirah dan Rodiyah hendak ke luar menyelamatkan diri, kayu plafon rumahnya ambruk dan menimpa keduanya,” ujar Hasanuddin, anggota Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Pamekasan.

Dikatakan, korban Ratena yang tewas sedang berkunjung ke rumah familinya. Begitu warga dilanda kepanikan, terutama kalangan ibu dan anak-anak, Ratena memilih berlindung di dalam rumah. Ternyata rumah yang ditempati ambruk menimpa tubuhnya hingga tewas.

“Berapa kerugian kami belum bisa menghitung. Kami masih melakukan inventarisasi di lapangan,” kata Kahumas Pamekasan, Fajar Santosa. (st30)

Sumber: Surya, Rabu, 18 Nopember 2009

Demo Mahasiswa STAIN Pamekasan

Dua mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pamekasan pingsan setelah mendengar suara dentuman mercon di kampusnya, Senin (10/11/2009). Suara dentuman mercon itu keluar mewarnai aksi demo menuntut penurunan Ketua STAIN Pamekasan, DR Idri MAg.

Kedua mahasiswi yang pingsan langsung digotong ke kelasnya dan diberi perawatan pertama oleh teman-temannya. Beruntung keduanya yang diketahui bernama Fatmah (20) dan Khusnul Hotimah (20) akhirnya siuman.

Khawatir trauma, kedua mahasiswa Fakultas Tarbiyah itu langsung dipulangkan. Sebab, aksi demo puluhan mahasiswa STAIN makin brutal. Setelah membakar mercon, mereka melanjutkan dengan membakar ban bekas di depan Perpustakaan dan di belakang gedung rektorat.

Korlap aksi, Supanji menegaskan Ketua STAIN Pamekasan, DR Idri yang dilantik September 2008 lalu telah melanggar misi dan visinya.

"Pak Idri melanggar komitmennya sendiri. Dia harus diturunkan. Jika tidak, maka kami segenap civitas akan dirugikan," teriak Supanji di belakang asap hitam ban bekas yang terbakar.

Supanji mengaku sejak dilantik setahun lalu, DR Idri tidak memboyong keluarganya ke Kota Pamekasan. Idri dinilai mangkir dan sering membolos karena masih aktif mengajar di Pasca Sarjana IAIN Surabaya.

Supanji berjanji akan meneruskan aksi demo di kampusnya, jika DR Idri tetap ngotot tinggal di Surabaya. "Saat dilantik, Pak Idri berjanji akan fokus memimpin STAIN dan tinggal di Kota Pamekasan. Nyatanya, selama setahun ini dia melanggarnya," teriak Supanji.

Secara terpisah, meski dirinya tingga di luar kota tapi DR Idri menegaskan dirinya tetap bisa fokus memimpin STAIN Pamekasan. "Jika mahasiswa mendesak saya untuk tinggal di Pamekasan, saya akan pertimbangkan kembali demi kemajuan kampus," kata Idri kepada sejumlah wartawan yang mendatangi ruang kerjanya di kampus STAIN Pamekasan Jalan Raya Panglegur.

Hingga pukul 10.05 WIB, Supanji bersama puluhan peserta aksi masih bertahan di depan Perpustakaan. Mereka terus membentangkan spanduk bertuliskan "Turunkan Ketua STAIN Pamekasa" dan membeberkan aneka poster di badan jalan kampus. Sejumlah polisi berbaju preman tampak berjaga di belakang rektorat dan di sekitar perpustakaan.

Sumber: detik.com, 10 November 2009

Pemerintah Kabupaten Sampang Beli Bus Mercy

Untuk Kunjungan Dinas Beli Bus Mercy

Pemkab Sampang kini memiliki bus baru sebagai kendaraan transportasi yang dapat digunakan untuk kepentingan dinas. Selain sebagai sarana kunjungan ke berbagai daerah, juga bisa dipakai masyarakat umum untuk kegiatan yang bersifat membangun.

Saat meninjau kendaraan bus di parkir di pelantaran halaman Pemkab Sampang, Bupati Noer Tjahja nampak merasa senang dan bangga. Mengingat bus lama yang dimiliki pemkab sudah berusia tua, bahkan tak lagi layak dipakai.

“Saya begitu prihatin setelah melihat kondisi bus yang kita miliki sudah sangat tua dan tidak layak pakai. Karena kita sering menemui kesulitan ketika membutuhkan armada kendaraan yang cukup besar untuk rombongan yang hendak mengikuti kegiatan ke luar daerah. Sehingga kita terpaksa menyewa bus atau membawa beberapa kendaraan dinas untuk mengangkut rombongan", kata Bupati Tjahja, Jumat (6/11) siang.

Ditambahkan, dari sisi efisiensi pembelian bus mengunakan mesin Mercy dengan interior yang lumayan mewah, dan berkapasitar 36 set (kursi) ini, justru akan menghemat pengeluaran anggaran keuangan. Karena kini tak lagi harus menyewa bus atau menggunakan kendaraan dinas yang kadang masih dibutuhkan untuk keperluan kedinasan.

“Aset kendaraan bus itu tidak hanya untuk kepentingan pemkab, saja tetapi juga dapat digunakan masyarakat Sampang bila membutuhkan armada asalkan kegiatannya positif dan membangun", ujarnya. (rud)

Sumber: Surabaya Pos, Sabtu, 7 Nopember 2009

Pemberhentian Jamaludin Sesuai PP No 9 Tahun 2009

Ada pihak yang menilai pemberhentian sementara itu menyalahi ketentuan, ada pula yang mengatakan bahwa langkah yang dilakukan bupati sah dan memiliki dasar hukum.

M Suli Faris SH, Ketua FBB DPRD Pamekasan, mengatakan bahwa pemberhentian sementara Jamaluddin sah dan memiliki dasar hukum yang jelas. Dasarnya adalah PP No 9 tahun 2009 tentang wewenang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS. Dalam pasal 21 PP tersebut disebutkan bahwa bupati sebagai pembina kepegawaian daerah berwewenang memberhentikan sementara Sekdakab.

“Perlu dicatat ya bahwa ini pemberhentian sementara. Jika itu yang dilakukan bupati maka sah dan berdasar, karena ada dasarnya PP No 9 tahun 2009 itu. Kecuali, misalnya, bupati melakukan pemberhentian tetap atau pemberhentian secara difinitif, maka itu tidak bisa karena pemberhentian tetap itu sesuai dengan ketentuan hanya dilakukan oleh gubernur atas usulan bupati,” kata Suli, Jumat (6/11).

Wakil rakyat yang telah tiga periode duduk di komisi A DPRD Pamekasan ini memperkirakan pro-kontra soal pemberhentian sementara Sekdakab itu terjadi karena dalam UU No 32 tahun 2009 memang ada dua pasal yang menjelaskan soal pengangkatan dan pemberhentian Sekdakab ini yang antara satu dengan lainnya kelihatan berbeda atau bertentangan.

Pertama adalah pasal 130 ayat 2 UU No 32 tahun 2009. Dalam pasal itu dikatakan bahwa pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian pejabat eselon II dilakukan oleh bupati dengan dikonsultasikan lebih dulu kepada gubernur. Yang kedua adalah pasal 122 disebutkan bahwa pengangkatan dan pemberhentian Sekdakab dilakukan oleh gubernur atas usulan bupati.

Menurut Suli, yang dimaksud dalam pasal 132 dan 122 UU No 32 tahun 2009 itu adalah pemberhentian tetap atau pemberhentian definitif, bukan pemberhentian sementara. “Sekalipun kelihatannya agak bersebrangan dalam dua pasal itu, namun itu untuk pemberhentian tetap atau definitif, itu memang harus dikonsultasikan bahkan menjadi kewenangan gubernur,” jelasnya.

Padahal, kata dia, yang dilakukan oleh Bupati Pamekasan adalah pemberhentian sementara Sekdakab. Karena itu, dia menilai langkah yang dilakukan bupati itu benar dan tidak salah karena sudah berdasarkan PP No 9 tahun 2009. “Lihat saja surat pemberhentiannya, apakah bersifat sementara atau tetap. Kalau pemberhentian sementara, itu sah, dan kalau pemberhentian tetap, maka itu bisa di PTUN-kan,” sarannya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, terhitung sejak Selasa (3/11) Bupati Pamekasan Drs KH Kholilurrahman SH memberhentikan sementara Sekdakab Dr A Jamaludin Karim MSi dan mengangkat Drs R Hadisuwarso MSi Inspektur Kabupaten Pamekasan sebagai Plt Sekdakab sementara. Pemberhentian sementara dilakukan karena bupati menilai kinerja Jamaludin lemah.

Dalam keterangan persnya kepada wartawan beberapa hari lalu Bupati Kholil mengaku bahwa setelah melakukan pemberhentian sementara Sekdakab, pihaknya tengah mengurus proses untuk pemberhentian tetap. “Ini saya lakukan bukan karena faktor politik atau suka-tak suka, namun untuk perbaikan kinerja pemerintahan ke depan,” tandasnya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 6 Nopember 2009

Warga Jrengik Dapat Ganti Untung

Warga Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang mendapatkan ganti untung dalam kegiatan seismik 3D yang dilakukan SPE Petroleum Energy Ltd. Ganti untung tersebut diberikan kepada warga yang tanahnya masuk dalam pemetaan survei seismik.

“Nilai ganti untung yang diberikan itu mengacu SK Bupati Sampang, No. 31/2009, tentang harga kerugian atas tanaman, tumbuhan, budidaya, jalur rintisan dan bangunan yang terkena dampak kegiatan survei seismik. Dalam ketentuan tersebut setiap lubang tanah yang menjadi titik pengeboran sebesar Rp 45 ribu, ditambah kerusakan lahan di sekitar lokasi titik tersebut,” jelas Agus, Manajer Quality Control (QC), ketika memberikan ganti untung kepada 101 pemilik tanah warga Desa Jrengik, Kamis (5/11).

Selain Desa Jrengik, warga yang juga mendapatkan ganti untung adalah Desa Panyapen, Kotah dan Taman. Dalam proses ganti untung itu, kata Agus pihak SPE hanya sebatas membayar bagi lahan yang terkena langsung dampak survei seismik. Apabila dalam lokasi itu juga terdapat tanaman produktif, maka pemilik lahan akan menerima uang kerugian sesuai dengan tingkat kerusakan.

Menurut Agus, Sampang sebagai salah satu daerah yang masuk dalam blok Madura, jika kekayaan sumber daya alam (SDM) tersebut digali secara optimal maka kelak akan menjadi daerah penghasil tambang minyak dan gas (migas) yang sangat potensial.

Namun, dia sangat menyayangkan dengan seringnya muncul konflik di masyarakat yang kadang kurang memahami tentang kegiatan yang sedang dilakukan perusahaan pertambangan tersebut. Kondisi itu rawan dimanfaatkan pihak ketiga yang sengaja ingin memancing di air keruh.

“Menyikapi permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan seismik, maka kita sudah mengantisipasi dengan meminimalisasi konflik dengan merangkul aparat Kepala Desa serta para tokoh masyarakat setempat, serta melibatkan tenaga lokal yang memahami permasalahan yang terjadi di lapangan,” katanya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 6 Nopember 2009

New Mudflow Concerning Villagers in Indonesia's Madura After Oil Company Installs Pipe

Foto liputan6.com/Salli Nawali

A well spurting out water, mud and gas has formed in Bapelle village on Madura Island in an area that was being surveyed by oil company SPE Petroleum on Wednesday.

Personnel from the company had intended to put dynamite under the location, believed to contain valuable petroleum and gas. However, the plan was canceled when the well suddenly formed in the yard of a Bapelle village resident after employees of the oil company had installed a pipe connection there.

The flammable mixture of mud, water and gas has spewed out of the well continuously and had begun to flow and cover local residents’ rice fields near the exploration site.

“We are worried about the existence of the new mud flow since it is beginning to flood some of our rice fields,” said a local villager, Kurdi Sari.

SPE Petroleum have not yet issued a statement on the the mudflow.

A similar mudflow in Sidoarjo, East Java, has caused widespread devastation. It first began flowing from a crack near a Lapindo exploratory gas well on May 29, 2006. It formed a pool that soon expanded into a mud lake, swallowing houses, factories and schools. The company has blamed the eruption on the Yogyakarta earthquake, which wreaked destruction in Central Java just two days earlier. But many scientists have disputed that claim, pointing instead to what they say were faulty drilling practices. (Antara & JG)

Sumber: The Jakarta Globe, October 28, 2009

Semburan Lumpur Muncul di Sampang

Foto liputan6.com/Sali Nawali
Lumpur dari pipa eksplorasi di Sampang, Madura

Sebuah pipa yang dipasang PT Spe Petroleum di Desa Bapelle, Sampang, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan lumpur bercampur air yang pekat. Semburan itu mengkhawatirkan warga karena air lumpur makin deras. Warga takut jika semburan dari eksplorasi perusahaan swasta itu akan mengulang luapan lumpur di Sidoarjo, Jatim.

Pasalnya, kini air yang bercampur lumpur itu mulai mengalir ke sawah dan ladang milik warga. Bahkan, semburan api juga keluar dari pipa ini. Namun, pihak PT Spe Petroleum menjamin eksplorasi mereka tidak berbahaya. Selengkapnya simak video berita ini.(ADO/YUS)

Sumber: liputan6.com, 29/10/2009

Semburan Lumpur Bikin Warga Panik

Foto liputan6.com/Salli Nawali


Warga Desa Bapelle, Kecamatan Robatal, Sampang, Madura berlarian ke lokasi uji seismik yang dilakukan SPE Petroleum, Rabu (28/10). Pasalnya, di lubang yang digali untuk pemasangan pipa ke dalam tanah tiba- tiba keluar lumpur pekat seperti semburan Lapindo di Sidoarjo.

Air bercampur lumpur itu semakin besar sehingga membuat warga memasang paralon agar tidak mengalir. Namun, air dan lumpur justru semakin membesar. Terlebih, ada bau gas di sekitar semburan lumpur tersebut. Warga pun panik saat mendapati semburan terbakar begitu didekatkan dengan api. Karena api makin membesar, warga mematikannya dengan karung yang dibasahi air.

Salah satu tokoh masyarakat setempat Kurdi Said mengaku bingung harus bertindak apa dan kepada siapa meminta pertanggungjawaban atas kejadian ini. Pasalnya, semburan lumpur yang terus mengalir itu kini mulai menggenangi sawah milik warga yang lokasinya berada di dataran yang lebih rendah. Hingga saat ini, anak perusahaan SPE Petrochina itu belum melakukan tindakan apapun.(ASW/AND)

Sumber: liputan6.com, 28/10/2009