Did BPK Get Right Man for The Job?

Photo: The Jakarta Globe/Yudhi Sukma Wijaya
Hadi Poernomo (center) and Herman Widyananda (right) being sworn in as the chairman and vice chairman of the Supreme Audit Agency, respectively, at the Supreme Court on Monday.

As a new leader was installed at the country’s highest audit agency on Monday, critics had already begun to question whether recent efforts to root out corruption at the agency would suffer a setback, noting that he had been criticized during his term as the chief of the tax office.

Hadi Poernomo was officially installed as the new chairman of the Supreme Audit Agency (BPK) at the Supreme Court on Monday.

Roy Salam, a researcher at the Indonesia Budget Center, an NGO that scrutinizes government budget decisions, said Hadi’s track record was less than encouraging.

“As former director general of the tax office, Hadi Poernomo was considered an underperformer,” Roy said. “Darmin Nasution, his successor, was the one who made the significant breakthroughs.”

Roy also questioned the support Hadi would receive from other members of the BPK, five of whom have no experience as auditors. Of the seven, four are former lawmakers.

“There is a strong political aroma to the other candidates. Many are former lawmakers who are no strangers to politics but who have no experience at the BPK or in auditing,” he said.

As the head of the BPK, Hadi will oversee audits of all state institutions, including ministries, state-owned enterprises and other traditional nests of corruption. The body is now auditing the controversial Bank Century bailout.

Herman Widyananda, a former lawmaker who was appointed to the BPK in 2007, will serve as its vice chairman.

After his inauguration, Hadi vowed to move forward with the BPK’s plan to create an electronic auditing system, a platform he said was key to making audits faster and more transparent.

He also promised to improve coordination with other auditing institutions, such as the Development Finance Comptroller (BPKP), regional audit agencies and the internal inspection offices of government ministries.

Speaking to the Jakarta Globe on Monday, Drajad Wibowo, a former lawmaker and an economist with the Institute for Development of Economics and Finance (Indef), cautioned that Hadi must be able to put aside any conflicts of interest, especially when dealing with audits involving the Ministry of Finance or the tax bills of large corporations.

“As a former tax director general, Hadi knows better than most the tricks of tax evasion or obfuscation, so auditors or tax officers will find it difficult to hide something from him,” Drajad said. “But that will only work if he does not have any conflicts of interest. [ Conflicts of interest] can be about anything, because he was a tax office official under the Ministry of Finance, and these officials are not angels. But we should give him a chance.”

A native of Madura Island, East Java, Hadi served as director general of the tax office from 2001 until 2006. He was replaced by Darmin Nasution, who is now the senior deputy governor at Bank Indonesia.

During his term, Hadi was criticized for not doing enough to fight corruption at the tax office.

In 2005 an economist accused the office of costing the country about Rp 40 trillion ($4.24 billion) in lost revenue from graft.

The wealth of office officials was also questioned. (Ardian Wibisono, Muhamad Al Azhari & Dion Bisara)

Sumber: The Jakarta Globe, October 26, 2009

Warga Dua Kabupaten di Madura Carok

Foto: Subairi/Koran SI

Bentrok antarwarga Sampang dan Sumenep terjadi di wilayah Kecamatan Pesongsongan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, tadi siang, Selasa (6/10/2009).

Bentrok melibatkan puluhan orang yang dikabarkan berasal dari Kabupaten Sampang. Mereka secara tiba-tiba menyerang warga kecamatan Pasongsongan, Sumenep. Akibat bentrok, dua warga mengalami luka bacok yang cukup parah. Mereka adalah Hasan (50), dan Ali Katap (30), warga Kecamatan Pasongsongan. Keduanya menjalani perawatan di RSU Sumenep, akibat luka bacok yang diderita di bagian punggung, lengan, dan betis.

Dari informasi yang beredar, masih ada dua warga lagi yang mengalami luka ringan akibat dibacok dengan celurit. Saat ini, kedua korban yang masih belum diketahui identitas tersebut, masih menjalani perawatan di Puskesmas Pasongsongan.

Informasi yang diperoleh dari warga sekitar, bentrok berawal dari insiden penghadangan truk milik warga Kabupaten Sampang yang bermuatan pasir oleh warga setempat. Alasannya, saat mengambil muatan berupa pasir, truk tersebut tidak mengantongi izin dari warga.

Entah karena takut atau menghindar, sopir truk yang belum diketahui identitasnya, memilih melarikan diri dengan meninggalkan truk beserta muatannya. Warga setempat pun membiarkan truk tersebut apa adanya, bahkan diawasi dari kejauhan, takut ada pihak yang melakukan tindakan yang tidak diinginkan.

Selang beberapa jam kemudian, tiba-tiba datang puluhan orang tak dikenal dengan menggunakan mobil. Tanpa banyak tanya, puluhan orang tersebut langsung menyerang warga setempat secara membabi buta, dengan menggunakan celurit dan sebagian ada yang membawa bom ikan. "Warga di sini tidak menduga kalau akan diserang, sehingga memilih untuk melarikan diri," ujar Hartono, warga kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.

Sebagian warga yang melakukan perlawanan, mengaku sempat dilempar bom ikan. Tidak sampai di situ, beberapa warga termasuk empat korban yang mengalami luka-luka, diserang secara tiba-tiba dan tidak bisa melakukan perlawanan. Korban akhirnya terkapar dengan luka-luka cukup parah.

Beruntung aksi bentrok tidak berlangsung lama, karena setelah berhasil melukai warga, puluhan warga asal Kabupaten Sampang tersebut langsung melarikan diri, dengan memakai mobil.

"Kami langsung membawa korban ke rumah sakit, sebagian ada yang ke Puskesmas. Untuk sementara, masih ada dua korban yang luka parah dan dirawat di rumah sakit," tambah Hartono. (Subairi/Koran SI/ful)

Sumber: okezone.com, Selasa, 6 Oktober 2009

Mahasiswa Sampang Galang Dana Korban Gempa

Salli Nawali Ariel Maranoes
Penumpang becak memberikan sumbangan untuk korban gempa.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Sampang, Madura, Jawa Timur, menggalang dana untuk membantu korban gempa di Sumatra Barat. Sambil membawa kardus bekas tempat air mineral, para mahasiswa mendatangi setiap pengendara yang berhenti di lampu merah dekat Monumen Kota Sampang, Ahad (4/10).

Rencananya, penggalangan dana berlangsung hingga satu pekan ke depan. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan melalui media nasional.

Sumber: liputan6.com, 04/10/2009

Puting Beliung Terjang Tiga Desa

78 Rumah Warga Rusak

Angin puting beliung memorak-porandakan tiga desa di Kecamatan Karang Penang, Jumat (23/10), sekitar pukul 15.00. Akibatnya, 78 rumah warga di Desa Karang Penang Oloh, Poreh, dan, Burmatet rusak.

Hingga kemarin pagi, pukul 07.30, 78 rumah warga itu masih berantakan. Sebagian warga terpaksa menumpang di rumah kerabatnya yang selamat dari terjangan angin puyuh tersebut.

Moh. Bakir, warga Desa Karang Penang Oloh, mengatakan, puting beliung menerjang sekitar pukul 15.00. Saat itu dia sedang duduk santai bersama keluarga di teras rumahnya. "Tiba-tiba muncul angin kencang dari arah timur laut," ujarnya.

Saat itu juga warga langsung menutup pintu dan menyelamatkan diri ke dalam rumah. Hembusan angin yang kencang membuat sejumlah bangunan terhempas dan ambruk. Seperti gudang kayu dan kantor Muslimat Assyakirin yang roboh rata dengan tanah. Padahal, puting beliung hanya berhembus sekitar 5 menit.

"Anginnya kencang, dahsyat luar biasa. Saking banternya, genting dan kayu balok terpental sampai ke jalan raya," kata Bakir sambil menunjuk bekas potongan kayu rumahnya.

Pantauan koran ini di lokasi kemarin pagi, rumah yang berantakan masih tetap berserakan. Menurut Bakir, warga masih trauma dan tidak punya dana untuk membangun rumahnya. "Yang jelas bantuan dari pemkab sangat dibutuhkan korban. Sehingga mereka bisa membangun rumahnya lagi," katanya dengan nada sedih.

Sedangkan Heri, warga lainnya, cerita, selain angin kencang petir dan guntur menggelegar di langit. "Saking kencangnya deru angin, genting dan kayu rumah terbang," katanya.

Kades Karang Penang Oloh Muzammil mengungkapkan, berdasar laporan yang diterimanya, sedikitnya 78 unit rumah rusak. Rinciannya, 11 rumah rusak total dan 14 rumah rusak ringan. Lalu, 13 rumah rusak total dan 3 rumah rusak ringan di Desa Burmatet. Ditambah 10 rumah rusak total dan 27 rumah rusak ringan di Desa Poreh.

"Kami telah mengecek ke lapangan mulai malam Sabtu (23/10). Sementara warga yang mengalami luka - luka ada tiga orang. Yakni, Behriti, 35, Hartatik, 35, dan Samari, 30. Rata - rata mereka mengalami luka di kepala karena tertimpa runtuhan rumah. Sebab, mereka tidak sempat keluar karena sedang istirahat dan salat," tandasnya.

Sementara Bupati H Noer Tjahja yang dikonfirmasi melalui Kabag Humas H Rudi Setiadhy mengaku sudah menerima laporan bencana alam tersebut. "Kami akan memanggil instansi terkait untuk mengambil langkah - langkah selanjutnya. Dalam waktu dekat kami akan turun ke bawah guna mengetahui kondisi warga korban puting beliung," katanya. (c21/yan/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 25 Oktober 2009

Hadi Poernomo Ketua BPK

Jangan Memolitisasi Masalah yang Diaudit

Photo: The Jakarta Globe/Yudhi Sukma Wijaya
Hadi Poernomo (tengah) dan Herman Widyananda (kanan) sedang disumpah sebagai ketua dan wakil ketua Badan Pemeriksa Keuangan, di Mahkamah Agung pada hari Senin (19/10/2009) yang lalu.

Mantan Direktur Jenderal Pajak, Hadi Poernomo, terpilih sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan periode 2009-2014. BPK diharapkan sanggup menyelesaikan sejumlah audit penting yang hingga saat ini belum tuntas, antara lain audit atas penyelamatan Bank Century.

Anggota DPR, Maruarar Sirait, di Jakarta, Rabu (21/10), menegaskan, beberapa pekerjaan mendesak yang perlu diselesaikan oleh anggota baru BPK, antara lain, adalah penyelesaian audit penyelamatan Bank Century.

Selain itu, lanjut Maruarar, BPK perlu mengarahkan fokus perhatiannya pada penyelesaian masalah teknologi informasi di Komisi Pemilihan Umum.

Menurut Maruarar, BPK perlu berkontribusi lebih besar dalam upaya membantu aparat penegak hukum, bukan memolitisasi setiap masalah yang diauditnya.

Sebagai ilustrasi dalam audit Bank Century, BPK seharusnya segera melapor secara resmi kepada DPR mengenai keterbatasan wewenangnya dalam menelusuri aliran dana penyelamatan Bank Century.

Atas dasar laporan BPK itu, DPR bisa meminta fatwa hukum dari Mahkamah Agung sehingga BPK bisa melanjutkan auditnya hingga tuntas. ”DPR tidak bisa bekerja cepat jika BPK tak segera melapor,” ujar Maruarar.

Dalam laporannya saat serah terima jabatan dengan anggota BPK baru pada 19 Oktober 2009, mantan Ketua BPK, Anwar Nasution, menyebutkan, penyelesaian audit Bank Century baru mencapai 70 persen dari total audit. Salah satu proses audit yang belum tuntas adalah penelusuran aliran dana penyelamatan Bank Century yang mencapai Rp 6,7 triliun.

Pengamat keuangan negara Dradjad H Wibowo mengatakan, BPK harus cepat dan berani mengungkapkan fakta-fakta yang ada dalam penyelamatan Bank Century.

”Jadi, BPK perlu independen dan obyektif, apalagi untuk kasus yang menjadi sorotan publik seperti Bank Century,” kata Dradjad Wibowo.

Tak akan mengaudit pajak

Sementara itu, Hadi Poernomo belum bisa memastikan kapan BPK akan menuntaskan audit Bank Century. BPK baru akan merapatkan persoalan itu pekan depan. ”Kami belum lagi melihat pekerjaan-pekerjaan itu. Nanti akan dikerjakan secara bertahap,” ujarnya.

Hadi Poernomo juga menyatakan, tidak akan mengaudit pemasukan pajak. Audit dinilai tidak mematuhi perintah peraturan perundang-undangan terkait perpajakan.

Padahal, Ketua BPK sebelumnya, Anwar Nasution, memperjuangkan audit tersebut. ”Lihat saja bagaimana perintah UU, kami akan patuhi. Mahkamah Konstitusi juga sudah melarang. BPK hanya bisa mengaudit kalau wajib pajak menyerahkan laporan kekayaan ke BPK. Tetapi, apakah mau?” ujar Hadi. (OIN/RAZ)

Ketua BPK:
Hadi Purnomo
Tempat/tanggal lahir: Pamekasan, 21 April 1947

Pendidikan:
* Bond A
* Bond B
* Akademi Ajun Akuntan Pajak Dirjen Pajak
* Institut Ilmu Keuaangan Departemen Keuangan
Jurusan Akuntansi
* Spama
* Spamen

Jabatan Terakhir:
* Dirjen Pajak (2001 - April 2006)
* Anggota Dewan Analisis Strategis Badan Intelijen Negara (Juni 2006 - sekarang)

Sumber: Kompas, Kamis, 22 Oktober 2009

Ten Cow Dowry for Former Indonesian President Gus Dur's Daughter

Rumgapres Photo/Dudi Anung
President Susilo Bambang Yudhoyono and first lady Ani Yudhoyono congratulate the bride Yenny Wahid, first daughter of former Indonesian President Abdurrahman Wahid, and her husband Dhohir Farizi during the wedding ceremony at Ciganjur, South Jakarta, Thursday (15/10).

Yenny Wahid, the daughter of former President Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid, married lawmaker Dhohir Farisi on Thursday and her family received a rather unusual dowry — 10 cows.

The wedding ceremony took place at 2 p.m. at Al Munnawwarah Mosque in Ciganjur, South Jakarta, next to the former president’s house.

President Susilo Bambang Yudhoyono and Vice President Jusuf Kalla served as witnesses. Flower bouquets lined the front of Gus Dur’s house on Thursday morning, including one from the president and the first lady, Ani Yudhoyono.

The reception was held at Sampoerna Strategic Square in Central Jakarta

Dhohir is a lawmaker from the Great Indonesia Movement Party (Gerindra).

The groom’s family explained that the cow was a symbol of welfare, and said the bride’s family took the unusual dowry from their Madurese in-laws in stride.

Maybe it’s common in Madura,” said Sintha Nuriyah, the mother of the bride.

The wedding ceremony took place under heavy security because of the presence of the president and vice president. About 130 police officers were stationed around the mosque and Gus Dur’s residence.

Sumber: The Jakarta Globe, October 15, 2009

Antre Air, Tewas

Kesetrum saat Menimba di Sumur

Sungguh tragis nasib Sunarti, 29, warga Dusun Nunggunung, Desa Pegagan, Kec Pademawu, Pamekasan. Ibu satu anak ini tewas kesetrum saat antre air bersih di Dusun Paninggin, Desa Jarin, kemarin (16/10), sekitar pukul 13.00.

Saat ditemukan, korban sedang meregang nyawa sambil memegang tali timba air di pinggir gorong-gorong sumur. Meski sejumlah warga berusaha memberi pertolongan, namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di tempat kejadian perkara (TKP), istri Sukarto, 32, itu meninggal akibat tersengat aliran listrik salah satu kabel pompa air elektrik. Indikasinya, di lokasi ditemukan tali timba tersangkut kabel pompa air.

Musrifah, 30, salah satu saksi, mengatakan, saat peristiwa yang menggemparkan warga itu terjadi, sedikitnya ada tiga warga (Masrifah, Dasmi, 40; dan Asmaniyah, 25) yang menyaksikan langsung. Namun karena panik dan terlambat, mereka tidak berhasil menyelamatkan nyawa korban.

Lalu, tetangga dekat korban ini menuturkan kronologis tewasnya Sunarti. Sebelum kejadian, korban bersama beberapa warga lainnya antre untuk menimba air dari sumur di Dusun Paninggin, sebelah utara Desa Pegagan. Korban mendapat giliran terakhir. "Korban tinggal sendirian saat menimba, karena yang lain sudah pergi, termasuk saya untuk buang air besar. Saat kembali ke sumur, dia sudah terlihat lemas memegang tali ember," katanya saat memberi penjelasan kepada warga sekitar kemarin siang.

Bahkan, Musrifah mengaku sempat akan jadi korban juga. Kejadiannya, saat melihat ada yang aneh ketika melihat korban terjerembab di tepi sumur, dia langsung berusaha menolongnya. Dia menggotong Sunarti tanpa menyadari bahwa korban sedang tersengat listrik.

"Saat hendak ditolong, saya juga tersengat. Karena kaget, pegangan saya lepas. Setelah itu saya mencari kayu kering untuk memutus kabel yang melilit timbanya. Meski kabelnya sudah diputus, korban masih lemas. Karena panik, saya memanggil warga lain untuk minta tolong," cerita Musrtifah.

Sementara Kepala Desa Pegagan Muh. Huri mengatakan, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Pamekasan. Namun, saat di perjalanan korban menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Melihat kondisi korban sudah tak terselamatkan, kerabat korban memutuskan untuk dibawa pulang agar bisa segera dikubur. Sembari menunggu kerabat tiba, jenazah korban disemayamkan di rumah duka.

Huri mengatakan, di saat kekeringan dan air bersih sangat sulit, sumur lokasi Sunarti kesetrum dimanfaatkan warga. Untuk mengambil airnya, ada yang dengan menimba, sebagian warga juga menggunakan pompa air elektrik. "Mungkin saat menimba embernya menyangkut (kabel)," katanya.

Sumur tersebut merupakan satu-satunya yang dimanfaatkan empat warga desa sekitar. Jarak sumur dari rumah korban sekitar 1,5 kilometer. Untuk mendapatkan air bersih, selain harus rela berjalan kaki warga juga harus antre.

Sementara itu, pihak kepolisian belum bisa memastikan penyebab meninggalnya Sunarti. Sebab, polisi masih melakukan penyelidikan. Saat sejumlah wartawan tiba di lokasi, jajaran Polsek Pademawu masih menggelar olah TKP. (nam/mat)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 17 Oktober 2009

Kena Getahnya

Yayasan Salsabila Pasca Penyerahan Aris

Status Aris sebagai DPO (daftar pencarian orang) Densus 88 yang akhirnya menyebabkan pria kelahiran Temanggung 27 Januari 1986 itu menyerahkan diri pada 2 Oktober lalu memberi banyak dampak kepada Yayasan Salsabila tempat dia mengajar.

Hal tersebut disampaikan langsung pengasuh Yayasan, Warsito W.S., kepada Koran ini, dia mengaku dirugikan dengan adanya salah satu guru yang diduga sebagai teroris dan saat ini menjalani pemeriksaan di Jakarta.

Menurut dia, kerugian yang dialami oleh lembaganya cukup banyak. Diantaranya, sambung dia, mulai adanya wali murid yang ingin mengeluarkan anaknya dari lembaga pendidikan yang dibinanya sejak 1994 lalu.

Selain itu, Warsito juga mengatakan jika donatur yang selama ini menjadi sumber pendanaan dalam kegiatan pendidikan mulai ada yang pergi. Bahkan, sambung dia, yang paling menyakitkan adalah munculnya isu-isu negatif.

"Bahkan setelah kejadian ini, muncul isu apabila uang yang dikeluarkan oleh para donatur dan wali santri digunakan untuk pendanaan pengeboman," ungkapnya ditemui di lembaga binaannya yang berada di Jalan Payudan Barat No. 3 itu.

Ditanya mengenai upaya yang dilakukannya, Warsito mengaku saat ini pihaknya sudah berupaya menjelaskan hubungan Yayasan Salsabila dengan Aris yang sebatas lembaga pendidikan dan tenaga pengajarnya. Hal itu, menurut dia, dilakukan dengan cara door to door.

"Kami mendatangi orang tua murid dan para donatur dengan maksud agar mereka tetap percaya bahwa lembaga ini bukanlah lembaga penampung teroris seperti isu yang berkembang. Bahkan, tetangga di sekitarpun kami datangi," tuturnya.

Selain memberi penjelasan kepada pihak-pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan lembaga seperti di atas, Warsito mengaku telah mengagendakan untuk menggelar halal bihalal yang mengundang aparat pemerintahan dan aparat keamanan. Di acara tersebut, pihaknya akan menjelaskan semua keadaan Yayasan Salsabila kepada pihak-pihak yang diundang.

Ditanya siapa saja yang akan diundang, dia mengatakan diantaranya pemerintah kabupaten, kepolisian dan koramil. "Rencananya acara kami selenggarakan pada Sabtu (17/10) depan. Di sana kita ingin silaturahim dan mengenalkan lembaga ini lebih dalam lagi. Mulai dari sistem pendidikan hingga perputaran uang yang ada di yayasan ini," terangnya.

Menurutnya, hari Senin (12/10) undangan akan segera disebar. Selain itu, pada Jumat (16/10) malam nanti, pihaknya juga akan menggelar kajian umum yang mendatangkan mubaligh dari Surabaya.

"Semua itu kami lakukan demi mendapatkan kepercayaan dan mengembalikan image kami. Sehingga murid, wali murid, guru, warga Sumenep bisa kembali menjalankan aktfitasnya seperti biasanya," pungkasnya.

Sementara itu, RF yang juga ada di sana berharap, pemberitaan terkait suaminya tidak memengaruhi kondusifitas lembaga tempat dia dan suaminya mengajar. Bahkan secara tegas, dia melarang wartawan mengambil gambar di lingkungan tempat belajar siswa. (c14/ed)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 11 Oktober 2009

Tebar Kekhawatiran ke Warga

Pasca Penyerahan Aris

Kehadiran Aris, tersangka teroris yang menyerahkan diri ke polisi tidak hanya berdampak pada Yayasan Salsabila, lembaga tempatnya tinggal. Tapi juga menebar kekhawatiran di kalangan masyarakat Sumenep, khususnya Desa Pabian.

Tidak sedikit warga yang mengaku khawatir masih adanya jaringan Aris di Sumenep. Jamaludin, warga Desa Pabian contohnya. Menurut pria yang mengaku berusia 38 tahun ini, kekhawatirannya sangatlah beralasan. Sebab, sambungnya, Aris cukup lama tinggal di Sumenep.

"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Bisa saja dia sudah memiliki anggota baru dalam melanjutkan perjuangan teman - temannya," tutur lelaki yang sehari - hari bekerja sebagai satpam itu.

Ditanya mengenai karakteristik warga Pabian, Jamaludin menolak jika dia dan warga lainnya dikatakan terlalu terbuka kepada orang asing. Sebab, sambung dia, biasanya warga teliti untuk menerima orang baru.

"Aparat desa semestinya bertanggung jawab kenapa bisa memasukkan orang yang belum jelas asal usulnya," tuturnya.

Meski saat ini Aris sudah jelas berada di bawah pemeriksaan Densus 88 di Mabes Polri, Jamaludin mengaku belum percaya jika Yayasan Salsabila telah dijadikan tempat persembunyian Aris sejak tahun 2006. Sebab, menurut dia, keberadaan Yayasan Salsabila bukanlah di tempat terpencil ataupun jauh dari jangkauan lembaga hukum. Menurutnya, Jalan Payudan Barat No. 3 sangatlah dekat dengan kantor Polres, Pengadilan Negeri, Kejaksaan Negeri dan Rumah Tahanan Sumenep.

"Ya aneh lah, soalnya di sana ada banyak sekolah, dan kantor - kantor penegak hukum. Semestinya teroris takut dekat - dekat ke sana," ungkap warga lainnya yang bernama Misbah.

Untuk diketahui, Jalan Payudan Barat merupakan jalan yang menghubungkan antara jalan KH Moh. Mansyur dengan Jalan Urip Sumoharjo. Kurang lebih 50 meter sebelah utara yayasan tersebut terdapat gedung Pengadilan Tinggi (PN).

PN sendiri berdampingan dengan Rumah Tahanan Sumenep yang berada di Jalan KH Moh. Mansyur. Tidak hanya itu, di jalan yang sama juga berdiri gedung Kejaksaan Negeri Sumenep.

Sementara itu, di sepanjang jalan Payudan Barat sendiri lebih banyak gedung kelembagaan daripada rumah warga. Di sana, terdapat gedung Badan Pertanahan Nasional Sumenep serta dua gedung sekolah negeri.

Di ujung Jalan Payudan, tepatnya sudut jalan yang menghubungkan Jalan Payudan dengan Jalan Urip Sumoharjo terdapat kantor Satlantas. Dimana satlantas sendiri berseberangan dengan Polres Sumenep.

Jika diperkirakan, jarak dari Polres ke Yayasan Salsabila hanya sepanjang 500 meter. Sedangkan dari satlantas berksisar 400 meter. Sementara itu, jarak dari gedung kejari dan rutan ke yayasan itu, tidak lebih dari 100 meter. Dan yang terdekat adalah gedung PN yang hanya dipisahkan oleh jalan dan satu petak tanah kosong.

Dalam kesempatan yang berbeda, Kepala Desa Pabian Ibnu Rasul membantah apabila warganya diresahkan oleh kejadian Aris. Sebab, sambung dia, ketika berada di wilayahnya, Aris tidaklah sembunyi - sembunyi.

"Selama di sini (Pabian, Red.) Aris tidak mengurung diri di lembaga itu. Dia tinggal juga di kos - nya uang berada di Jalan Satelit," ungkap Rasul melalui sambungan telepon.

Dikatakan, saat ini dirinya sudah membenahi administrasi kewargaan di kantor desanya. Khususnya menyangkut data warga yang tinggal di pondok pesantren. "Saya sudah menegur pihak lembaga agar langsung mengurus surat - surat kependudukan, baik santri atau warga luar lainnya yang hendak tinggal di Pesantern mereka," terangnya. (c14/ed)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 12 Oktober 2009

Sepeda Motor Dipindah ke Jalur Mobil

Jembatan Suramadu rencananya akan dipasang kabel optik PLN. Adanya pemasangan kabel ini, jalur motor untuk sementara dialihkan ke jalur emergency line yang ada di jalur roda empat.

Pemasangan kabel ini dilakukan mulai, Kamis (1/10/2009). Rencananya akan selesai hingga Januari 2010.

"Kita gunakan jalur emergency selebar 2,5 meter selama proyek pemasangan kabel optik milik PLN," kata Kepala Satuan Kerja Pembinaan Teknik Proyek Pembangunan Suramadu, Yudha Andita kepada detiksurabaya.com di ruang kerjanya Jalan Kedung Cowek.

Pengalihan jalur sepeda motor dilakukan karena tempat kabel optik berada di bawah jalur sepeda motor. Jalur sepeda motor yang ditutup dari dua arah Surabaya maupun Bangkalan Madura.

Pantauan detiksurabaya.com, Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Provinsi Jatim terlihat sudah mulai melakukan pemasangan pemisah jalur bagi roda dua dan mobil. Tanda dibuat dari bentang tengah hingga ke sisi Madura. Namun sebelum diberlakukan pihak PJR Jalan Tol Jembatan

Suramadu dan Jasa Marga akan melakukan uji coba pemindahan jalur yang ada dilakukan jika rambu pemisahan jalur selesai dipasang. "Masyarakat tidak perlu khawatir karena akan kita ujicoba dulu," tandasnya.

Sumber: detikcom, 01/10/2009