29 Pulau Terancam Tercemar
Bocornya pipa eksploitasi minyak di Desa Sepanjang, Kecamatan Sapeken, Sumenep, hingga kemarin (29/9) membuat masyarakat sekitar resah. Pasalnya, kebocoran yang terjadi Kamis (17/9), sekitar pukul 04.00, itu mengancam 29 pulau di Sapeken tercemar.
Pipa yang bocor menghubungkan antara tangker dengan sumber pengeboran di tengah laut yang berjarak sekitar 5 kilometer. Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, upaya pembersihan di pulau yang memiliki 53 ribu jiwa yang dilakukan PT Kangean Energi Indonesia (KEI) belum optimal. Sehingga, memaksa warga yang mata pencahariannya kebanyakan sebagai nelayan mogok kerja.
Dulsiam, anggota DPRD Sumenep, mengatakan, pembersihan gumpalan minyak mentah yang bersumber dari pipa di sekitar tangker di pesisir pantai Desa Sepanjang hingga kemarin masih banyak yang tersisa.
"Saya menghubungi Hamsuri (kepala Desa Sepanjang, Red), katanya masih banyak sisa gumpalan minyak mentah yang masih tersisa. Sehingga banyak warga yang khawatir tidak bisa melaut dalam waktu yang cukup lama," katanya kemarin.
Pimpinan PT KEI N. Tjandroso Djalu menepis upaya pembersihan minyak mentah yang tumpah ke laut yang dilakukan perusahaannya setengah hati. Dia mengaku bersama warga sekitar sudah membersihkan tumpahan minyak itu. "Kami sudah menyisir ke wilayah yang dianggap terjangkau gumpalan minyak. Dan, sekarang 100 persen dipastikan bersih," klaimnya.
Apakah pencemaran minyak mentah tidak merusak ekosistim di laut? Djalu belum memastikan. Alasannya, masih dilakukan analisa air laut oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep bersama instansi terkait lainnya.
"Hari ini (kemarin, Red) mereka baru kembali dari Sapeken untuk mengambil sampel air laut. Kami masih menunggu hasil analisis yang diujikan di laboratorium oleh mereka," ujarnya.
Lalu, apa kontribusi yang diberikan kepada warga Sapeken? Djalu memastikan tidak perlu. Menurut dia, KEI sudah melakukan koordinasi dengan warga Desa Sepanjang. "Kami juga sudah koordinasi dengan tokoh masyarakat," akunya.
Sementara Kepala BLH Sumenep Abd. Mutholib Siraj hingga berita ini diturunkan belum bisa dikonfirmasi. Terutama terkait dengan upaya dari tim BLH yang diturunkan ke Sapeken untuk pemantauan dan pengambilan sampel. (uji/mat)
Sumber: Jawa Pos, Rabu, 30 September 2009
Suramadu Sisi Madura Padat
![]() |
| Salli Nawali Suasana arus balik di di jembatan Suramadu sisi Madura |
Arus balik di jembatan Surabaya-Madura atau Suramadu sisi Madura, Jawa Timur, Ahad (27/9) petang, kembali padat. Tak hanya sepeda motor yang antre hingga 500 meter, kendaraan roda empat pun antre cukup panjang hingga mencapai satu kilometer. Akibatnya, untuk masuk ke Jembatan Suramadu para pengendara harus memacu kendaraan dengan perlahan.
Agar tidak semakin padat, pembelian tiket sepeda motor yang akan masuk jembatan Suramadu di bagi menjadi dua jalur. Hal itu dilakukan lantaran antrean semakin padat. Pasalnya, banyak pemudik memilih lewat jembatan tersebut pada petang hari untuk menghindari terik matahari yang sangat panas.(BOG/AND)
Sumber: Liputan6.com, 27/09/2009
Dijenguk Tokoh hingga Gubernur
KABAR sakitnya Pak Noer mendapat respons banyak koleganya. Selain anak, menantu, cucu dan cicitnya, banyak teman sesama Madura dan tokoh lain datang ke RS Darmo untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan mantan gubernur Jawa Timur (1967 - 1976) itu .
Tokoh Madura tampak datang paling pagi adalah mantan Ketua Yayasan Ki Lemah Duwur Husein Suropranoto. Dia adalah sahabat Pak Noer ketika mendirikan Universitas Bangkalan (sekarang Universitas Trunojoyo Madura).
"Bagi saya Pak Noer ini bukan hanya tokoh Jawa Timur. Dia adalah tokoh nasional yang ada di Jawa Timur," ungkap Husein setelah keluar dari ruang ICU.
Menurut dia, Pak Noer merupakan tokoh kunci di banyak hal. Terutama tentang perkembangan dan pembangunan masyarakat Madura dan Jawa Timur. "Tidak salah dan tidak berlebihan kan kalau dia saya sebut tokoh nasional," paparnya.
Ditanya mengenai kemungkinan sembuhnya Pak Noer, Husein enggan berkomentar. Dia hanya ingat Pak Noer sebelumnya tak pernah sakit seperti yang dilihatnya kemarin di RS Darmo.
Tak lama kemudian tampak tokoh Madura yang menjadikan Pak Noer sebagai pembina di organisasinya. Yaitu, Dewan Pembangunan Madura (DPM) yang dimotori oleh Achmad Zaini, Harun Al - Rasyid, dan Anwar Zain.
Kepada koran ini, Harun Al - Rasyid mengaku sangat sedih dengan kondisi pria kelahiran Sampang itu. Sebab, meski sudah berusia lanjut, Pak Noer sebelumnya masih sangat enerjik dan banyak memberikan nasihat terkait pembangunan Madura.
"Jembatan Suramadu yang menjadi cita - cita beliau memang sudah selesai. Tapi, mengawal pembangunan setelah Suramadu sangat butuh orang seperti beliau," katanya.
Achmad Zaini, ketua harian DPM, meminta agar masyarakat Madura di seluruh Indonesia dapat mendoakan Pak Noer. "Saya lihat kondisinya sudah krisis total. Tapi, dengan doa seluruh warga Madura insya Allah (Pak Noer) bisa sembuh. Maka itu saya harap masyarakat Madura bisa mendoakan beliau," harapnya.
Tepat tengah hari, Gubernur Jawa Timur Soekarwo beserta istri dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf juga datang ke RS Darmo. Setelah menyapa beberapa wartawan di areal parkir Pakde Karwo dan Gus Ipul (sapaan gubernur dan Wagub) langsung masuk menuju ruang ICU. Tak lama kemudian keduanya muncul bersama beberapa putra - putri Pak Noer.
Menurut Karwo, Pak Noer merupakan bagian yang telah memberikan banyak semangat dalam pembangunan di Jawa Timur. "Kita doakan Pak Noer untuk kesembuhannya," katannya.
Kapan terakhir berkomunikasi dengan Pak Noer? Karwo mengatakan, terakhir kali bertemu Pak Noer untuk membicarakan pemberdayaan masyarakat Madura. "Sebelum beliau sakit saya sampaikan bahwa kami akan membantu membangun peternakan Madura agar lebih maju. Sebab, potensi itu sangat bisa ditingkatkan. Air bersih di Madura juga kami utamakan," tuturnya. Menurut dia, Pak Noer sangat setuju dengan rencana pemimpin Jatim tersebut.
Pesannya yang lain, imbuh Karwo, dirinya diminta agar menjaga industrialisasi di Madura supaya memiliki nuansa Islami. "Beliau juga meminta agar masyarakat Madura bisa terlibat di dalam berbagai kegiatan industri di Madura," ungkapnya. (nra/mat)
Sumber: Jawa Timur, Jum'at, 25 September 2009
Tokoh Madura tampak datang paling pagi adalah mantan Ketua Yayasan Ki Lemah Duwur Husein Suropranoto. Dia adalah sahabat Pak Noer ketika mendirikan Universitas Bangkalan (sekarang Universitas Trunojoyo Madura).
"Bagi saya Pak Noer ini bukan hanya tokoh Jawa Timur. Dia adalah tokoh nasional yang ada di Jawa Timur," ungkap Husein setelah keluar dari ruang ICU.
Menurut dia, Pak Noer merupakan tokoh kunci di banyak hal. Terutama tentang perkembangan dan pembangunan masyarakat Madura dan Jawa Timur. "Tidak salah dan tidak berlebihan kan kalau dia saya sebut tokoh nasional," paparnya.
Ditanya mengenai kemungkinan sembuhnya Pak Noer, Husein enggan berkomentar. Dia hanya ingat Pak Noer sebelumnya tak pernah sakit seperti yang dilihatnya kemarin di RS Darmo.
Tak lama kemudian tampak tokoh Madura yang menjadikan Pak Noer sebagai pembina di organisasinya. Yaitu, Dewan Pembangunan Madura (DPM) yang dimotori oleh Achmad Zaini, Harun Al - Rasyid, dan Anwar Zain.
Kepada koran ini, Harun Al - Rasyid mengaku sangat sedih dengan kondisi pria kelahiran Sampang itu. Sebab, meski sudah berusia lanjut, Pak Noer sebelumnya masih sangat enerjik dan banyak memberikan nasihat terkait pembangunan Madura.
"Jembatan Suramadu yang menjadi cita - cita beliau memang sudah selesai. Tapi, mengawal pembangunan setelah Suramadu sangat butuh orang seperti beliau," katanya.
Achmad Zaini, ketua harian DPM, meminta agar masyarakat Madura di seluruh Indonesia dapat mendoakan Pak Noer. "Saya lihat kondisinya sudah krisis total. Tapi, dengan doa seluruh warga Madura insya Allah (Pak Noer) bisa sembuh. Maka itu saya harap masyarakat Madura bisa mendoakan beliau," harapnya.
Tepat tengah hari, Gubernur Jawa Timur Soekarwo beserta istri dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf juga datang ke RS Darmo. Setelah menyapa beberapa wartawan di areal parkir Pakde Karwo dan Gus Ipul (sapaan gubernur dan Wagub) langsung masuk menuju ruang ICU. Tak lama kemudian keduanya muncul bersama beberapa putra - putri Pak Noer.
Menurut Karwo, Pak Noer merupakan bagian yang telah memberikan banyak semangat dalam pembangunan di Jawa Timur. "Kita doakan Pak Noer untuk kesembuhannya," katannya.
Kapan terakhir berkomunikasi dengan Pak Noer? Karwo mengatakan, terakhir kali bertemu Pak Noer untuk membicarakan pemberdayaan masyarakat Madura. "Sebelum beliau sakit saya sampaikan bahwa kami akan membantu membangun peternakan Madura agar lebih maju. Sebab, potensi itu sangat bisa ditingkatkan. Air bersih di Madura juga kami utamakan," tuturnya. Menurut dia, Pak Noer sangat setuju dengan rencana pemimpin Jatim tersebut.
Pesannya yang lain, imbuh Karwo, dirinya diminta agar menjaga industrialisasi di Madura supaya memiliki nuansa Islami. "Beliau juga meminta agar masyarakat Madura bisa terlibat di dalam berbagai kegiatan industri di Madura," ungkapnya. (nra/mat)
Sumber: Jawa Timur, Jum'at, 25 September 2009
Pak Noer Kritis
Dirawat di RS Darmo, Kekurangan Natrium - Albumin
RPH Moh. Noer, 91, sesepuh Madura, kini tengah dirawat di Rumah Sakit (RS) Darmo Surabaya. Dalam dua hari terakhir, kondisi mantan gubernur Jawa Timur ini kritis hingga harus dipindah dari ruang rawat inap di paviliun VIP ke instalasi rawat intensif (ICU).
Tokoh Madura yang akrab disapa Pak Noer ini diopname di RS Darmo sejak 20 September lalu, tepat di Hari Raya Idul Fitri. Kesehatannya menurun sejak memasuki Ramadan.
Hingga berita ini ditulis, Pak Noer masih dirawat secara intensif di ICU. Sanak keluarga dan koleganya berdatangan untuk melihat secara langsung kondisinya di ruang ICU. Sayangnya, koran ini tak diperbolehkan mengambil gambar Pak Noer di ruang tersebut.
Beberapa cucu Pak Noer kemudian mengantarkan koran ini ke paviliun VIP nomor 57. Kamar tempat sesepuh Madura itu dirawat sebelum dipindah ke ICU.
Fenny Herawaty Noer, salah satu putri Pak Noer, menceritakan, kesehatan mantan bupati Bangkalan di era 1950 - an itu menurun akibat kekurangan asupan gizi di tubuhnya. Itu disebabkan pria berusia 91 tahun itu enggan meninggalkan ibadah puasa.
"Bapak sebenarnya tidak punya penyakit apa - apa. Sakitnya yang sekarang ini, menurut saya, lebih karena faktor usia," ungkap Waty - sapaannya. Dijelaskan, di usianya yang kian senja, asupan makanan Pak Noer semakin sedikit. Pola makannya berkurang karena fungsi pencernaannya juga menurun.
"Saat masuk bulan puasa kemarin itu Bapak sangat antusias untuk siam (puasa, Red). Beliau sama sekali tidak mau meninggalkan ibadah wajib itu," ujarnya.
Berpuasa tak membuat Pak Noer makan lahap di saat berbuka. Begitu terdengar azan Magrib, dia hanya menyantap sebuah kurma, es buah, dan sedikit makanan ringan. "Setelah itu bapak salat Magrib, Isa, lalu tarawih. Selesai tarawih bapak istirahat, bangun sahur, dan begitu seterusnya," tutur Waty.
Beberapa hari berpuasa kesehatan Pak Noer makin menurun. Genap berpuasa dua minggu, anak - anaknya kemudian meminta dia berhenti berpuasa. "Tapi Bapak menolak. Ke anak - anaknya dia bilang gini: Kalau saya tidak puasa, sapa yang menanggung dosa saya? Saya tidak bisa berhenti puasa," tegas Pak Noer seperti ditirukan Waty.
Sikap keras putra asli Madura itu akhirnya luluh setelah putra - putrinya berkonsultasi dengan tim dokter yang selama ini menjaga kondisi kesehatannya. "Meski beberapa anaknya dokter, Bapak tetap tidak mau berhenti puasa," tandas Waty. Namun, setelah dinasehati dr Abd Syukur, ketua tim dokter, akhirnya Pak Noer berhenti puasa di hari ke - 21 Ramadan. "Tapi, dia masih bersemangat untuk membayar fidyah - nya," ungkapnya.
Kondisi Pak Noer membaik hingga tutup Ramadan. Dia melaksanakan salat Idul Fitri berjamaah di Jalan dr Soetomo yang berdekatan dengan kediamannya. Pulang dari salat Id, Pak Noer menggelar open house untuk sanak saudara dan beberapa koleganya.
Saat menerima tamu, Pak Noer terlihat masih terus berupaya fokus memberikan nasihat - nasihat. Hanya, selama open house kondisinya kembali lemah. Dia hanya sesekali menemui tamu lalu tidur. Padahal, biasanya Pak Noer sangat bersemangat untuk bertemu anak cucu hingga cicitnya untuk bercerita, menasihati, dan menerangkan banyak hal.
"Kami anak - anaknya kembali berkonsultasi pada tim dokter. Hasilnya kami sepakat membawa Bapak ke rumah sakit ini," terangnya. Pak Noer tiba ke RS Darmo tepat pukul 14.00 di hari Lebaran.
Hingga kemarin (24/9) Pak Noer telah dirawat selama lima hari. Masuk ruang rawat inap di paviliun VIP selama dua hari, Pak Noer dipindah ke ruang ICU pada Selasa (22/9). Hasil pemeriksaan tim dokter, Pak Noer mengalami kekurangan natrium (zat garam) dan albumin. "Kata dokternya, ini baru pertama ada orang Madura kekurangan garam," tutur Waty.
Kemarin tim dokter juga meminta keluarga untuk mengadakan rapat terkait kondisi terakhir Pak Noer. "Mas maafkan saya, hasil rapat tadi off the record dulu ya. Bapak kelihatannya masih akan dirawat di ICU," kata Waty usai mengikuti rapat keluarga dengan tim dokter.
Pihak keluarga sangat berharap Pak Noer kembali sehat dan kembali beraktifitas. "Intinya kami sangat mengharap doa dari segenap warga Jawa Timur dan Madura khususnya. Mudah - mudahan Bapak diberi kesembuhan," harapnya. (nra/mat)
Baca juga:
Dijenguk Tokoh hingga Gubernur
Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 25 September 2009
RPH Moh. Noer, 91, sesepuh Madura, kini tengah dirawat di Rumah Sakit (RS) Darmo Surabaya. Dalam dua hari terakhir, kondisi mantan gubernur Jawa Timur ini kritis hingga harus dipindah dari ruang rawat inap di paviliun VIP ke instalasi rawat intensif (ICU).
Tokoh Madura yang akrab disapa Pak Noer ini diopname di RS Darmo sejak 20 September lalu, tepat di Hari Raya Idul Fitri. Kesehatannya menurun sejak memasuki Ramadan.
Hingga berita ini ditulis, Pak Noer masih dirawat secara intensif di ICU. Sanak keluarga dan koleganya berdatangan untuk melihat secara langsung kondisinya di ruang ICU. Sayangnya, koran ini tak diperbolehkan mengambil gambar Pak Noer di ruang tersebut.
Beberapa cucu Pak Noer kemudian mengantarkan koran ini ke paviliun VIP nomor 57. Kamar tempat sesepuh Madura itu dirawat sebelum dipindah ke ICU.
Fenny Herawaty Noer, salah satu putri Pak Noer, menceritakan, kesehatan mantan bupati Bangkalan di era 1950 - an itu menurun akibat kekurangan asupan gizi di tubuhnya. Itu disebabkan pria berusia 91 tahun itu enggan meninggalkan ibadah puasa.
"Bapak sebenarnya tidak punya penyakit apa - apa. Sakitnya yang sekarang ini, menurut saya, lebih karena faktor usia," ungkap Waty - sapaannya. Dijelaskan, di usianya yang kian senja, asupan makanan Pak Noer semakin sedikit. Pola makannya berkurang karena fungsi pencernaannya juga menurun.
"Saat masuk bulan puasa kemarin itu Bapak sangat antusias untuk siam (puasa, Red). Beliau sama sekali tidak mau meninggalkan ibadah wajib itu," ujarnya.
Berpuasa tak membuat Pak Noer makan lahap di saat berbuka. Begitu terdengar azan Magrib, dia hanya menyantap sebuah kurma, es buah, dan sedikit makanan ringan. "Setelah itu bapak salat Magrib, Isa, lalu tarawih. Selesai tarawih bapak istirahat, bangun sahur, dan begitu seterusnya," tutur Waty.
Beberapa hari berpuasa kesehatan Pak Noer makin menurun. Genap berpuasa dua minggu, anak - anaknya kemudian meminta dia berhenti berpuasa. "Tapi Bapak menolak. Ke anak - anaknya dia bilang gini: Kalau saya tidak puasa, sapa yang menanggung dosa saya? Saya tidak bisa berhenti puasa," tegas Pak Noer seperti ditirukan Waty.
Sikap keras putra asli Madura itu akhirnya luluh setelah putra - putrinya berkonsultasi dengan tim dokter yang selama ini menjaga kondisi kesehatannya. "Meski beberapa anaknya dokter, Bapak tetap tidak mau berhenti puasa," tandas Waty. Namun, setelah dinasehati dr Abd Syukur, ketua tim dokter, akhirnya Pak Noer berhenti puasa di hari ke - 21 Ramadan. "Tapi, dia masih bersemangat untuk membayar fidyah - nya," ungkapnya.
Kondisi Pak Noer membaik hingga tutup Ramadan. Dia melaksanakan salat Idul Fitri berjamaah di Jalan dr Soetomo yang berdekatan dengan kediamannya. Pulang dari salat Id, Pak Noer menggelar open house untuk sanak saudara dan beberapa koleganya.
Saat menerima tamu, Pak Noer terlihat masih terus berupaya fokus memberikan nasihat - nasihat. Hanya, selama open house kondisinya kembali lemah. Dia hanya sesekali menemui tamu lalu tidur. Padahal, biasanya Pak Noer sangat bersemangat untuk bertemu anak cucu hingga cicitnya untuk bercerita, menasihati, dan menerangkan banyak hal.
"Kami anak - anaknya kembali berkonsultasi pada tim dokter. Hasilnya kami sepakat membawa Bapak ke rumah sakit ini," terangnya. Pak Noer tiba ke RS Darmo tepat pukul 14.00 di hari Lebaran.
Hingga kemarin (24/9) Pak Noer telah dirawat selama lima hari. Masuk ruang rawat inap di paviliun VIP selama dua hari, Pak Noer dipindah ke ruang ICU pada Selasa (22/9). Hasil pemeriksaan tim dokter, Pak Noer mengalami kekurangan natrium (zat garam) dan albumin. "Kata dokternya, ini baru pertama ada orang Madura kekurangan garam," tutur Waty.
Kemarin tim dokter juga meminta keluarga untuk mengadakan rapat terkait kondisi terakhir Pak Noer. "Mas maafkan saya, hasil rapat tadi off the record dulu ya. Bapak kelihatannya masih akan dirawat di ICU," kata Waty usai mengikuti rapat keluarga dengan tim dokter.
Pihak keluarga sangat berharap Pak Noer kembali sehat dan kembali beraktifitas. "Intinya kami sangat mengharap doa dari segenap warga Jawa Timur dan Madura khususnya. Mudah - mudahan Bapak diberi kesembuhan," harapnya. (nra/mat)
Baca juga:
Dijenguk Tokoh hingga Gubernur
Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 25 September 2009
Jalur Kalianget-Kangean Padat Penumpang
Arus mudik jurusan Kalianget-Kangean membludak. Terbukti, sejumlah kapal yang beroperasi H-5, Selasa (15/9), dipadati penumpang. Hal itu terlihat dengan banyaknya penumpang yang antre untuk membeli tiket kapal perintis.Untuk melayani kepadatan penumpang, pada hari yang sama dioperasikan dua kapal, yakni KMP Dharma Bakhti Sumekar (DBS) II dan kapal Perintis KMP Amukti Palapa yang biasanya tidak melayani jalur Kalianget-Kangean.
Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Kalianget, Abd. Rahem, mengatakan, armada KMP Amukti Palapa dioperasikan karena banyaknya penumpang. Bahkan, pihaknya juga melakukan penambahan 25 persen dari kapasitas KMP Amukti Palapa. ”Itu sesuai dengan instruksi dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan,” katanya.
Seharusnya, kapasitas KMP Amukti Palapa sebanyak 300 penumpang. Dengan adanya penambahan 25 persen, maka dipastikan jumlah penumpang yang diangkut ke Pulau Kangean sebanyak 375 orang. ”Kalaupun dengan penambahan penumpang ini ternyata masih ada yang tidak terlayani, diharapkan untuk tidak kecewa. Karena, selain KMP Amukti Palapa yang beroperasi, KMP DBS II juga beroperasi ke Pulau Kangean pada Selasa (15/9) sore,” ujarnya.
Untuk itu, Rahem juga berharap kepada para penumpang supaya tidak memaksakan diri jika kapal sudah dinyatakan penuh. Karena, keselamatan pelayaran itu bukan hanya merupakan suatu kewajiban, melainkan tanggung jawab bersama.
Tak hanya kapal besar yang padat penumpang, perahu mesin juga dipadati penumpang. Tampak antrean dan padatnya barang yang akan diangkut di Pelabuhan Kalianget II. ABK Perahu Mesin, Subari mengaku ada lonjakan penumpang mendekati lebaran. ”Dari hari biasa ada kenaikan sekitar 30 persen. Terutama angkutan barang berupa sembako,” ujarnya.
Dia yakin, semakin dekat hari H, lonjakan penumpang akan semakin tinggi. Dia memperkirakan, peningkatan penumpang akan mencapai puncaknya pada H-2 lebaran nanti.iir
Sumber: Surabaya Pos, Rabu, 16 September 2009
Suramadu Macet Dua Kilo Meter
![]() |
| arus mudik di Jembatan Suramadu Sabtu (19/9) sekitar pukul 06.00. Ribuan pengendara sepeda motor terpaksa menunggu dalam antrean panjang yang sampai kurang lebih 2 km menuju pos pembelian tiket. |
Seluruh pintu mudik di Surabaya mengalami lonjakan penumpang, Sabtu (19/9) pagi. Lonjakan tertinggi terjadi di Jembatan Suramadu. Sejak tadi malam, antrean kendaraan yang akan melintasi Suramadu mengular hingga depan SMAN 19 Surabaya atau sekitar 1 km. Kepadatan bertahan hingga pukul 07.00 pagi. Namun, menjelang siang, Suramadu mulai lengang.
Kacab PT Jasa Marga Surabaya Cabang Gempol, Agus Purnomo, memperkirakan puncak arus mudik di Suramadu terjadi tadi malam dengan peningkatan 20 persen dari hari normal sekitar 24 ribu kendaraan melintas. ’’Lonjakannya tak melebihi jumlah pelintas beberapa saat setelah jembatan diresmikan,” katanya. Agus memerkirakan arus penumpang meningkat lagi malam ini dan esok pagi setelah salat Idul Fitri.
Guna memudahkan pemudik, di Jl Kedung Cowek sekitar 1 km arah jembatan terdapat 8 kol plat hitam carteran yang mangkal dan siap mengantar. ’’Travel” ini ada sejak H-10 dengan rute Surabaya–Bangkalan bertarif Rp 50 ribu per orang.
Rozi, salah satu pemilik mobil, dalam sehari bisa melintas Suramadu dua kali pulang-pergi. Hanya saja, arah Madura-Surabaya sulit mendapatkan penumpang. Sebaliknya dari Surabaya, mobil berkapasitas 12 tempat duduk itu langsung diberangkatkan saat mendapat 8 orang.
Siti, salah seorang penumpang mengaku lebih nyaman menumpang ’’travel” ini. ’’Lebih hemat dan lebih nyaman karena bisa sampai tujuan dan nggak uyel-uyelan. Kayak naik mobil pribadi,” ujar Siti yang bersama ketiga saudaranya mudik ke Blige, Bangkalan.
Guna mengamankan para pemudik pengguna Jembatan Suramadu sisi Madura dan pemudik melalui Pelabuhan Kamal, Polres Bangkalan menerjunkan tim siluman. Tim ini terdiri atas penembak jitu.
Tingginya arus mudik di Suramadu berimbas pada penyeberangan feri. Meski telah mengurangi jumlah dermaga yang beroperasi menjadi hanya 2 (dermaga 1 dan 3), jumlah penumpang tetap sepi. Pantaian siang tadi, hanya ada 3-4 mobil di masing-masing kapal.
Sementara, penumpang kereta api (KA) tujuan Bandung dari Stasiun Gubeng masih padat. Dua KA kelas ekonomi, yakni KA Pasundan reguler dan Pasundan Lebaran meluber hingga sambungan gerbong. Demikian juga KA Penataran jurusan Surabaya-Malang-Blitar juga penuh. KA Logawa dan Sri Tanjung jurusan Banyuwangi juga padat.
Di Stasiun Pasar Turi, pemudik lokal jurusan Lamongan dan Bojonegoro tidak terlalu banyak. Pihak stasiun pun belum menambah kapasitas maksimal yang bisa mengangkut 1.300 penumpang. ’’Kemarin malam puncak arus mudiknya, lantai stasiun sampai tak terlihat saking ramainya,” ujar Subakir, Kepala Stasiun Pasar Turi. Sejak H-10 hingga tadi malam stasiun Pasar Turi telah mengangkut 14.299 penumpang.
Akibat lonjakan pemudik, banyak kereta yang mengalami keterlambatan kedatangan. KA Gumarang dari Stasiun Pasar Senen, misalnya, pagi tadi terlambat hingga 1,5 jam. KA ekskutif dan bisnis yang dijadwalkan tiba pukul 06.45 ini baru tiba pukul 08.20, sedangkan KA Sembarani molor dengan selisih yang sama.
Bus AC Favorit
Meski jumlahnya tidak sebanyak kemarin, jumlah pemudik di Terminal Purabaya tetap melonjak signifikan, Sabtu (19/9) siang. Bus pun tak perlu menunggu lebih dari lima menit.
Seperti kemarin, penumpukan penumpang terjadi di jurusan jarak jauh seperti Semarang, Jogjakarta, dan Tulungagung. Penumpukan terbesar terjadi untuk bus ber-AC. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Terminal Purabaya, May Ronald melalui pengeras suara meminta penumpang menggunakan bus tarif ekonomi dengan jurusan kota sama. Ternyata, tak banyak yang rela berganti bus.
Ronald mengatakan, para pemudik pilih bus yang ada AC-nya karena cuaca sangat panas. Juga untuk menghindari situasi berdesak-desakan yang biasa terjadi pada bus ekonomi. Menyikapi ini, pihak UPTD berinisitaif menelepon perusahaan bus agar menambah jumlah bus. “Namun pihak perusahaan bus mengaku juga telah mengeluarkan bus yang sudah siap jalan,” ujar Ronald.
Selain itu, UPTD juga mengantisipasi penumpukan penumpang ini dengan memberikan izin insidentil kepada bus tertentu untuk mengangkut penumpang. ’’Hingga jam 10 siang ini, kami sudah mengeluarkan izin insidentil kepada 21 bus, pada umumnya untuk mengangkut penumpang jurusan Jogjakarta dan Semarang,” ujarnya.
Berdasarkan data UPTD Terminal Purabaya, jumlah penumpang Jumat kemarin mencapai 73.680 yang diangkut dengan 1.636 bus. “Ini lebih tinggi daripada tahun lalu,” ujar May. Tahun lalu jumlah pemudik pada puncaknya mencapai sekitar 68 ribuan.
Sementara, imbauan untuk tidak menerima makanan atau minuman dari orang tidak dikenal sepertinya belum dihiraukan para pemudik. Buktinya tadi malam ada seorang penumpang bus kota jurusan Tanjung Perak-Purabaya ditemukan tidak sadarkan diri di bus P5 itu. Korban ditemukan dan dilaporkan tergeletak oleh kondektur setelah tiba di Terminal Bungurasih sekitar pukul 20.30 dari Terminal Tanjung Perak Surabaya. Bekalnya sudah raib. sis, kas, pur, a6
Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 19 September 2009
Mantan Gubernur Jatim M. Noer Masuk Rumah Sakit
Tak Mau Banyak Makan, Kekurangan Natrium
Tahun ini keluarga besar mantan Gubernur Jatim M Noer terpaksa melanjutkan Lebaran di rumah sakit. Sebab, sesepuh masyarakat Jatim itu harus dibawa ke RS karena kondisinya menurun.
PAK Noer, begitu dia disapa, masuk ke RS Darmo, Surabaya, pada hari pertama Lebaran, Minggu, 20 September. Namun, kemarin siang (23/9), kondisinya berangsur membaik.
Saat dijenguk di ruang intensive care unit (ICU), pria yang akan berusia 92 tahun pada 13 Januari mendatang itu minta disuapi makan. Mashudi, ajudan yang menemani Pak Noer, segera menghubungi beberapa anak Pak Noer yang menunggu di luar ruang. Fenny Herawaty atau kerap disapa Waty, anak Pak Noer, segera mengambil kotak makan bening bertutup biru yang berisi satu teri goreng tepung dan setengah butir telur asin.
Menurut Waty, sang bapak kekurangan natrium sehingga badannya lemas. Karena itu, Pak Noer disarankan mengonsumsi makanan yang bisa menyumbang asupan natrium untuk tubuhnya. "Sampai-sampai dokter Abdus Syukur yang merawat bapak bilang, baru kali ini ada orang Madura yang kekurangan garam," ujar anak keenam pasangan M. Noer dan Mas Ayoe Rachma tersebut, lalu tertawa kecil.
Waty menceritakan, kondisi sang ayah menurun sejak beberapa hari menjelang puasa. Itu terlihat dari sikapnya yang tidak banyak bicara dan sering tidur. "Padahal, bapak biasanya suka cerita," tutur perempuan yang kemarin (23/9) mengenakan penutup kepala khas berwarna biru itu. Saat Lebaran, Pak Noer masih salat Idul Fitri. Namun, dia sudah tidak kuat menerima banyak tamu yang datang ke kediamannya di Jalan Anwari.
Untung, karena bertepatan dengan Lebaran, delapan anak Pak Noer berkumpul di Surabaya. Mereka lalu berbagi tugas. Ada yang menunggui sang bapak di ICU. Ada juga yang menunggui sang ibu yang berjaga di kamar yang terletak di paviliun 7 tersebut. Sisanya menunggu di rumah. Acara mudik ke Madura yang mestinya berlangsung kemarin terpaksa dibatalkan.
Diduga, kondisi kakek 21 cucu itu menurun karena tidak mau makan. Padahal, Pak Noer ngotot untuk puasa. "Kalau saya dosa, siapa yang nanggung?" kata Waty menirukan ucapan sang bapak. Saat berbuka, Pak Noer hanya mau mengonsumsi sebutir kurma, segelas air, dan sedikit makanan kecil. Setelah itu, dilanjutkan salat Magrib, istirahat, dan salat Tarawih. Sahur dan makan seperti biasa. Tapi, porsinya sangat sedikit.
Keluarga pernah membujuk Pak Noer untuk menghentikan puasa. Namun, pria yang mencetuskan ide pembangunan Jembatan Suramadu tersebut menolak. Tak mau menyerah, keluarga meminta bantuan beberapa teman dekat untuk membujuknya. Akhirnya, Pak Noer bersedia berhenti puasa dan mau menghitung jumlah fidiah yang harus dibayar. "Tapi, tetap saja kondisinya sudah agak turun," terang Waty.
Saat ini, keluarga berharap agar kondisi sang bapak terus membaik. "Semoga dalam beberapa hari ini Bapak bisa pindah ke kamar lagi," ujar Waty. Karena itu, mewakili keluarga, dia berharap agar masyarakat Jatim bersedia membantu dengan doa. "Siapa tahu doa banyak orang bisa mempercepat kesembuhan Bapak," ucapnya. (any/tia)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 24 September 2009
Tahun ini keluarga besar mantan Gubernur Jatim M Noer terpaksa melanjutkan Lebaran di rumah sakit. Sebab, sesepuh masyarakat Jatim itu harus dibawa ke RS karena kondisinya menurun.
PAK Noer, begitu dia disapa, masuk ke RS Darmo, Surabaya, pada hari pertama Lebaran, Minggu, 20 September. Namun, kemarin siang (23/9), kondisinya berangsur membaik.
Saat dijenguk di ruang intensive care unit (ICU), pria yang akan berusia 92 tahun pada 13 Januari mendatang itu minta disuapi makan. Mashudi, ajudan yang menemani Pak Noer, segera menghubungi beberapa anak Pak Noer yang menunggu di luar ruang. Fenny Herawaty atau kerap disapa Waty, anak Pak Noer, segera mengambil kotak makan bening bertutup biru yang berisi satu teri goreng tepung dan setengah butir telur asin.
Menurut Waty, sang bapak kekurangan natrium sehingga badannya lemas. Karena itu, Pak Noer disarankan mengonsumsi makanan yang bisa menyumbang asupan natrium untuk tubuhnya. "Sampai-sampai dokter Abdus Syukur yang merawat bapak bilang, baru kali ini ada orang Madura yang kekurangan garam," ujar anak keenam pasangan M. Noer dan Mas Ayoe Rachma tersebut, lalu tertawa kecil.
Waty menceritakan, kondisi sang ayah menurun sejak beberapa hari menjelang puasa. Itu terlihat dari sikapnya yang tidak banyak bicara dan sering tidur. "Padahal, bapak biasanya suka cerita," tutur perempuan yang kemarin (23/9) mengenakan penutup kepala khas berwarna biru itu. Saat Lebaran, Pak Noer masih salat Idul Fitri. Namun, dia sudah tidak kuat menerima banyak tamu yang datang ke kediamannya di Jalan Anwari.
Untung, karena bertepatan dengan Lebaran, delapan anak Pak Noer berkumpul di Surabaya. Mereka lalu berbagi tugas. Ada yang menunggui sang bapak di ICU. Ada juga yang menunggui sang ibu yang berjaga di kamar yang terletak di paviliun 7 tersebut. Sisanya menunggu di rumah. Acara mudik ke Madura yang mestinya berlangsung kemarin terpaksa dibatalkan.
Diduga, kondisi kakek 21 cucu itu menurun karena tidak mau makan. Padahal, Pak Noer ngotot untuk puasa. "Kalau saya dosa, siapa yang nanggung?" kata Waty menirukan ucapan sang bapak. Saat berbuka, Pak Noer hanya mau mengonsumsi sebutir kurma, segelas air, dan sedikit makanan kecil. Setelah itu, dilanjutkan salat Magrib, istirahat, dan salat Tarawih. Sahur dan makan seperti biasa. Tapi, porsinya sangat sedikit.
Keluarga pernah membujuk Pak Noer untuk menghentikan puasa. Namun, pria yang mencetuskan ide pembangunan Jembatan Suramadu tersebut menolak. Tak mau menyerah, keluarga meminta bantuan beberapa teman dekat untuk membujuknya. Akhirnya, Pak Noer bersedia berhenti puasa dan mau menghitung jumlah fidiah yang harus dibayar. "Tapi, tetap saja kondisinya sudah agak turun," terang Waty.
Saat ini, keluarga berharap agar kondisi sang bapak terus membaik. "Semoga dalam beberapa hari ini Bapak bisa pindah ke kamar lagi," ujar Waty. Karena itu, mewakili keluarga, dia berharap agar masyarakat Jatim bersedia membantu dengan doa. "Siapa tahu doa banyak orang bisa mempercepat kesembuhan Bapak," ucapnya. (any/tia)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 24 September 2009
Kendaraan di Tol Suramadu Membeludak
Arus Mudik di Penyeberangan Ujung-Kamal Sepi
Puncak kepadatan kendaraan pemudik terjadi di ruas Tol Suramadu, yang menghubungkan Surabaya dengan Madura, Jawa Timur, Jumat (18/9). Kendaraan roda dua di pintu tol sisi Surabaya mencapai 20.000 unit dan kendaraan roda empat 10.000 unit.
PT Jasa Marga (Persero) menggunakan sistem buka tutup untuk mengurangi kepadatan antrean kendaraan roda dua,
Sekitar pukul 13.00, antrean kendaraan roda dua di pintu Tol Suramadu tampak memanjang hingga sekitar 200 meter. Agar antrean tak semakin panjang, sebagian kendaraan dialihkan ke ruas mobil, lalu dimasukkan kembali ke lajur roda dua setelah melewati pintu tiket tol.
Peningkatan kendaraan di Suramadu terjadi mulai Kamis, khususnya kendaraan roda dua. Kepala Gerbang Tol Suramadu Suharyono mengatakan, volume kendaraan roda dua yang pada hari biasa rata-rata 9.000 unit, pada hari Kamis naik menjadi 15.000 unit. Adapun kendaraan roda empat yang biasanya 5.000 unit naik hingga menjadi 5.400 unit.
”Puncak arus mudik terjadi Jumat ini. Kendaraan roda dua mencapai kisaran 20.000 unit dan mobil 10.000 unit,” ujarnya di pintu Tol Suramadu.
Pekan lalu, sempat muncul isu penutupan Tol Suramadu pada tiga hari sebelum Lebaran (H-3). PT Jasa Marga lalu melakukan klarifikasi melalui pengumuman dan media. ”Syukurlah arus kendaraan tetap ramai dan lancar,” kata Suharyono.
Sepi
Di penyeberangan Ujung-Kamal, suasana arus mudik tampak sepi. Supervisor PT Indonesia Ferry (Persero) Cabang Surabaya Budi Rahardja mengatakan, volume penumpang feri di Ujung- Kamal pada Lebaran kali ini menyusut drastis, bahkan lebih sepi dibandingkan hari-hari biasa sebelum Jembatan Suramadu beroperasi.
”Karena sepinya penumpang, kapal feri yang seharusnya hanya sandar 12 menit di dermaga kini memperlama sandar sampai 24 menit agar mendapatkan penumpang,” kata Budi.
Sebagian besar penumpang feri penyeberangan Ujung-Kamal didominasi pejalan kaki. Kalau ada kendaraan roda dua, itu hanya milik warga Kamal, Bangkalan, yang kebetulan pulang dari Surabaya.
Tak hanya penumpang dan sepeda motor yang sepi, kendaraan roda empat juga jarang terlihat. ”Satu feri mengangkut tiga mobil itu sudah luar biasa. Padahal, dahulu belasan mobil bisa masuk dalam feri,” ujar Budi.
Data PT Indonesia Ferry (Persero) Cabang Surabaya menunjukkan, volume penumpang feri di dermaga Ujung pada Kamis lalu mencapai 13.852 penumpang, 3.473 sepeda motor, dan 188 kendaraan roda empat. Pada tahun 2008, jumlah penumpang pada periode sama mencapai 32.378 orang, 8.952 kendaraan roda dua, dan 3.290 kendaraan roda empat.
Sepinya arus penumpang tersebut menyebabkan penyeberangan Ujung-Kamal hanya mengoperasikan delapan feri pada siang hari dan tiga feri pada malam hari. Jumlah feri di penyeberangan Ujung-Kamal kini 11 unit. (ABK)
Sumber: Kompas, Sabtu, 19 September 2009
![]() |
| KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN Ribuan kendaraan roda dua antre di pintu masuk Tol Suramadu, Jumat (18/9). Akibat padatnya arus kendaraan, khususnya roda dua, pihak operator Tol Suramadu, PT Jasa Marga (Persero), memberlakukan sistem buka tutup untuk mengurangi antrean. |
Puncak kepadatan kendaraan pemudik terjadi di ruas Tol Suramadu, yang menghubungkan Surabaya dengan Madura, Jawa Timur, Jumat (18/9). Kendaraan roda dua di pintu tol sisi Surabaya mencapai 20.000 unit dan kendaraan roda empat 10.000 unit.
PT Jasa Marga (Persero) menggunakan sistem buka tutup untuk mengurangi kepadatan antrean kendaraan roda dua,
Sekitar pukul 13.00, antrean kendaraan roda dua di pintu Tol Suramadu tampak memanjang hingga sekitar 200 meter. Agar antrean tak semakin panjang, sebagian kendaraan dialihkan ke ruas mobil, lalu dimasukkan kembali ke lajur roda dua setelah melewati pintu tiket tol.
Peningkatan kendaraan di Suramadu terjadi mulai Kamis, khususnya kendaraan roda dua. Kepala Gerbang Tol Suramadu Suharyono mengatakan, volume kendaraan roda dua yang pada hari biasa rata-rata 9.000 unit, pada hari Kamis naik menjadi 15.000 unit. Adapun kendaraan roda empat yang biasanya 5.000 unit naik hingga menjadi 5.400 unit.
”Puncak arus mudik terjadi Jumat ini. Kendaraan roda dua mencapai kisaran 20.000 unit dan mobil 10.000 unit,” ujarnya di pintu Tol Suramadu.
Pekan lalu, sempat muncul isu penutupan Tol Suramadu pada tiga hari sebelum Lebaran (H-3). PT Jasa Marga lalu melakukan klarifikasi melalui pengumuman dan media. ”Syukurlah arus kendaraan tetap ramai dan lancar,” kata Suharyono.
Sepi
Di penyeberangan Ujung-Kamal, suasana arus mudik tampak sepi. Supervisor PT Indonesia Ferry (Persero) Cabang Surabaya Budi Rahardja mengatakan, volume penumpang feri di Ujung- Kamal pada Lebaran kali ini menyusut drastis, bahkan lebih sepi dibandingkan hari-hari biasa sebelum Jembatan Suramadu beroperasi.
”Karena sepinya penumpang, kapal feri yang seharusnya hanya sandar 12 menit di dermaga kini memperlama sandar sampai 24 menit agar mendapatkan penumpang,” kata Budi.
Sebagian besar penumpang feri penyeberangan Ujung-Kamal didominasi pejalan kaki. Kalau ada kendaraan roda dua, itu hanya milik warga Kamal, Bangkalan, yang kebetulan pulang dari Surabaya.
Tak hanya penumpang dan sepeda motor yang sepi, kendaraan roda empat juga jarang terlihat. ”Satu feri mengangkut tiga mobil itu sudah luar biasa. Padahal, dahulu belasan mobil bisa masuk dalam feri,” ujar Budi.
Data PT Indonesia Ferry (Persero) Cabang Surabaya menunjukkan, volume penumpang feri di dermaga Ujung pada Kamis lalu mencapai 13.852 penumpang, 3.473 sepeda motor, dan 188 kendaraan roda empat. Pada tahun 2008, jumlah penumpang pada periode sama mencapai 32.378 orang, 8.952 kendaraan roda dua, dan 3.290 kendaraan roda empat.
Sepinya arus penumpang tersebut menyebabkan penyeberangan Ujung-Kamal hanya mengoperasikan delapan feri pada siang hari dan tiga feri pada malam hari. Jumlah feri di penyeberangan Ujung-Kamal kini 11 unit. (ABK)
Sumber: Kompas, Sabtu, 19 September 2009
296 Lampu Tidak Menyala

Sebagai salah satu akses jalur mudik Lebaran 2009 kondisi Jembatan Suramadu justru memprihatinkan. Setiap malam, jembatan terpanjang di Indonesia kondisi gelap gulita. Kondisi tersebut tentunya membahayakan pemudik yang melintas di atas Selat Madura itu.
Sebenarnya di atas jembatan sepanjang 5,4 km itu sudah terpasang 296 lampu penerangan jalan. Namun tak satu pun menyala di malam hari. Baik yang di ke arah Madura atau sebaliknya.
Kepala PJR Tol Suramadu Iptu Soeprijadi mengatakan, matinya lampu penerangan jembatan itu sudah terjadi sejak satu bulan terakhir. Hingga saat ini, belum ada jaringan listrik dari PLN yang mengalir ke lampu-lampu tersebut. "Sudah lama, kalau tidak salah sebulan dari peresmian lampu-lampu itu sudah mati," katanya saat ditemui Jawa Pos di pos PJR Tol Suramadu Senin (14/9) malam.
Padahal malam setelah peresmian jembatan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 10 Juni lalu, jembatan itu terang benderang. Pengendara mobil maupun motor pun melintas di malam hari dengan nyaman.
Sejumlah pengendara yang melintas di jembatan Suramadu mengeluhkan matinya penerangan jembatan tersebut. Fiqi Ardiansyah, 24, salah satu pengemudi mobil yang melintas merasa sangat terganggu dengan gelapnya Suramadu. Setiap malam, Fiqi yang bekerja di Surabaya menyeberang jembatan untuk pulang ke rumahnya di Bangkalan. "Ya, takut kalau ada apa-apa, habis gelap sekali, Mas," katanya.
Keluhan serupa juga diutarakan Sunaji, salah seorang pedagang asal Tambak Wedi. Pedagang yang membuka warung makan di sisi Madura tol Suramadu itu setiap malam melintas jembatan menggunakan sepeda motor untuk pulang. "Saya khawatir Jangan-jangan ada pengendara lain yang berhenti di tengah jembatan bisa tertabrak nanti," katanya.
Menanggapi masalah tersebut, Corporate Speaker PLN Distribusi Jatim Agus Widayanto mengatakan, pihak PLN tidak bisa begitu saja menyalakan lampu penerangan di sepanjang Jembatan. Sebab pihak pengelola jembatan Suramadu baru memberikan surat permohonan tersebut 10 hari yang lalu. "Saat ini tim kami sedang survei di lapangan," ujarnya. Dia menambahkan, pihak PLN juga tidak bisa segera menyalakan lampu-lampu tersebut, sebab minimal 100 hari dari pembayaran baru bisa dinyalakan. "Itu estimasi kasar untuk pengadaan barang dan pemasangan jaringan," lanjutnya.
Untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, selama Lebaran, polisi meningkatkan pengamanan di Suramadu. Kepala PJR Tol Suramadu Ipda Soeprijatno mengatakan pihaknya dibantu dengan jajaran Polres Surabaya Timur dan Satpol Airut Polda Jatim siap mengamankan akses menuju Suramdu. Mulai sejak H-7 hingga H+7 Lebaran, 28 anggota gabungan dari ketiga jajaran itu akan bertugas selama 24 jam penuh. (dan/dim/tom)
Sumber: Jawa Pos, Rabu, 16 September 2009

Sebagai salah satu akses jalur mudik Lebaran 2009 kondisi Jembatan Suramadu justru memprihatinkan. Setiap malam, jembatan terpanjang di Indonesia kondisi gelap gulita. Kondisi tersebut tentunya membahayakan pemudik yang melintas di atas Selat Madura itu.
Sebenarnya di atas jembatan sepanjang 5,4 km itu sudah terpasang 296 lampu penerangan jalan. Namun tak satu pun menyala di malam hari. Baik yang di ke arah Madura atau sebaliknya.
Kepala PJR Tol Suramadu Iptu Soeprijadi mengatakan, matinya lampu penerangan jembatan itu sudah terjadi sejak satu bulan terakhir. Hingga saat ini, belum ada jaringan listrik dari PLN yang mengalir ke lampu-lampu tersebut. "Sudah lama, kalau tidak salah sebulan dari peresmian lampu-lampu itu sudah mati," katanya saat ditemui Jawa Pos di pos PJR Tol Suramadu Senin (14/9) malam.
Padahal malam setelah peresmian jembatan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 10 Juni lalu, jembatan itu terang benderang. Pengendara mobil maupun motor pun melintas di malam hari dengan nyaman.
Sejumlah pengendara yang melintas di jembatan Suramadu mengeluhkan matinya penerangan jembatan tersebut. Fiqi Ardiansyah, 24, salah satu pengemudi mobil yang melintas merasa sangat terganggu dengan gelapnya Suramadu. Setiap malam, Fiqi yang bekerja di Surabaya menyeberang jembatan untuk pulang ke rumahnya di Bangkalan. "Ya, takut kalau ada apa-apa, habis gelap sekali, Mas," katanya.
Keluhan serupa juga diutarakan Sunaji, salah seorang pedagang asal Tambak Wedi. Pedagang yang membuka warung makan di sisi Madura tol Suramadu itu setiap malam melintas jembatan menggunakan sepeda motor untuk pulang. "Saya khawatir Jangan-jangan ada pengendara lain yang berhenti di tengah jembatan bisa tertabrak nanti," katanya.
Menanggapi masalah tersebut, Corporate Speaker PLN Distribusi Jatim Agus Widayanto mengatakan, pihak PLN tidak bisa begitu saja menyalakan lampu penerangan di sepanjang Jembatan. Sebab pihak pengelola jembatan Suramadu baru memberikan surat permohonan tersebut 10 hari yang lalu. "Saat ini tim kami sedang survei di lapangan," ujarnya. Dia menambahkan, pihak PLN juga tidak bisa segera menyalakan lampu-lampu tersebut, sebab minimal 100 hari dari pembayaran baru bisa dinyalakan. "Itu estimasi kasar untuk pengadaan barang dan pemasangan jaringan," lanjutnya.
Untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, selama Lebaran, polisi meningkatkan pengamanan di Suramadu. Kepala PJR Tol Suramadu Ipda Soeprijatno mengatakan pihaknya dibantu dengan jajaran Polres Surabaya Timur dan Satpol Airut Polda Jatim siap mengamankan akses menuju Suramdu. Mulai sejak H-7 hingga H+7 Lebaran, 28 anggota gabungan dari ketiga jajaran itu akan bertugas selama 24 jam penuh. (dan/dim/tom)
Sumber: Jawa Pos, Rabu, 16 September 2009
Dewan Sidak Tembakau
Kalangan anggota DPRD Pamekasan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah gudang pembelian tembakau, Senin (31/9) siang. Ini merupakan kinerja pertama, meski belum terbentuk fraksi dan komisi serta kelengkapan lainnya di lembaga DPRD setempat.Sidak dipimpin langsung Ketua sementara DPRD Pamekasan Iskandar SPi.
“Kita memang belum terbentuk struktur alat alat kelengkapan dewan. Namun adanya keluhan masyarakat, tidak tak tahan membiarkannya. Nah, daripada duduk duduk di kantor, kami ajak teman teman melakukan sidak yang hasilnya kita serahkan ke eksekutif untuk ditindak lanjuti,” kata Iskandar.
Kegiatan sidak itu diikuti 25 orang, dua diantaranya adalah anggota dewan lama yang duduk kembali, yakni H Imam Hosairi dari PKB dan Malkan dari Partai Golkar. Rombongan Sidak dibagi menjadi 3 kelompok dengan arah dan sasaran gudang yang lokasinya berbeda.
Dari sejumlah gudang yang dikunjungi diketahui ada gudang yang sudah akan tutup karena jatah pembelian tembakau petani sudah terpenuhi. Misalnya gudang ACI,-- yang mendapat kuasa pembelian dari PT Sampoerna, merencanakan tutup dalam waktu dua atau tiga hari ke depan. Dari jatah 1.100 ton, perusahaan itu sudah membeli sekitar 850 ton tembakau. Sementara gudang Sampoerna justru masih lama melakukan pembelian karena kuotanya belum tercapai.
Terkait masalah ini, anggota dewan menyarankan agar pihak gudang mengikuti ketentuan Perda Tata Niaga Tembakau soal waktu buka dan tutup gudang. Dewan mengusulkan agar gudang meminta tambahan jatah pembelian karena tembakau di lapangan masih banyak belum panen.
Yang cukup menarik adalah gudang tembakau pemegang kuasa pembelian PT Djarum. Gudang milik Toyyibin ini melakukan pembelian tanpa batas waktu selama cuaca baik dan kualitas tembakau petani memenuhi standart yang ditetapkan PT Djarum.
Soal harga, disesuaikan dengan kualitas tembakau. Di gudang Sampoerna misalya harga tertinggi mencapai Rp 23 ribu per kg dan terendah Rp 13 ribu per kg. Sedangkan di gudang Djarum terlihat harga terendah Rp 15 ribu per kg dan tertinggi mencapai Rp 26 ribu per kg. Secara umum banyak tembakau dibeli murah karena kualitas yang menurun dibandingkan musim panen tahun lalu. (mas)u
Sumber: Surabaya Post, Selasa, 1 September 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)


