Wapres: Jangan Ada Karaoke di Madura

Istighosah itu dihadiri Gubernur Jatim Soekarwo, Muspida Jatim, Pimpinan PWNU Jatim, serta ulama se Madura. “Tentunya kita berterima kasih kepada semua penggagas, yang mengerjakan, mendorong, merencanakan. Khususnya kepada Bapak Moh. Noer yang mencetuskan ide Jembatan Suramadu,” kata JK.

Wapres juga mengingatkan, pembangunan jembatan ada dampak positif dan negatifnya. “Ada hal negatif apabila tidak diatur dengan baik. Saya percaya warga Madura, Bupati Bangkalan, Gubernur Jawa Timur akan mengatur sebaik-baiknya,” ujarnya. “Nantinya wilayah Madura akan menampung industri. Tapi, jangan ada hiburan malam, karaoke, dan sejenisnya di Madura. Kultur masyarakat Madura yang agamis tidak boleh hilang, meski nantinya Bangkalan menjadi daerah industri,” pesan JK.

Itu bisa dilakukan, menurut Wapres, bila pembangunan di Madura melibatkan ulama, pimpinan masyarakat, dan DPRD agar menghasilkan Perda yang sesuai dengan masyarakat Madura yang agamis. Wapres juga mengatakan perlunya peningkatan kualitas SDM di Madura dengan memperbaiki mutu pendidikan dan mengadakan pelatihan-pelatihan. “Bupati dan Gubernur harus merancang itu sebelum ada industri di Madura. Agar industri di sini dapat memberikan lapangan kerja sebesar-besarnya untuk masyarakat Madura sendiri. Bila masyarakat Madura banyak yang terpelajar, tentu nantinya akan mengisi pembangunan di masa akan datang,” ujarnya.

Lebih jauh Wapres menegaskan Madura tidak perlu menjadi sebuah provinsi dan lepas

dari Jawa Timur, karena itu hanya membuat pemborosan anggaran. “Tidak usahlah Madura ikut-ikutan menjadi provinsi, karena hanya menghabiskan anggaran negara saja," katanya.

Ia menjelaskan, jika Madura menjadi provinsi, maka harus mengangkat seorang gubernur dan DPRD. Itu anggarannya tidak sedikit. Untuk membayar gaji mereka setiap bulan, butuh dana yang besar. “Lebih baik dana yang besar itu dialokasikan pada kepentingan yang lain, seperti untuk kesehatan dan pendidikan masyarakat Madura,” tuturnya.

Menjadi sebuah provinsi, kata Wapres, tidak begitu penting karena saat ini Indonesia memakai sistem otonomi daerah (Otoda). Yang mengelola suatu daerah adalah bupati, bukan gubernur. “Saya rasa Jatim tidak seperti provinsi lain yang ingin berpecah-pecah. Provinsi Jatim ini solid dan perpecahan itu tidak perlu terjadi,” katanya. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 20 Juni 2009

Suramadu Kini Dijaga 24 Jam

Untuk menjaga sejumlah aset Jembatan Suramadu dari aksi vandalisme maupun kriminalitas, PT Jasa Marga (Persero) melakukan patroli selama 24 jam. Petugas patroli akan berkeliling setiap 30 menit sekali di sepanjang Tol Jembatan Suramadu.

”Lima petugas akan berpatroli setiap 30 menit sekali,” tutur Kepala Cabang PT Jasa Marga Surabaya-Gempol Agus Purnomo, Jumat (19/6) di Surabaya.

Sedangkan untuk menjaga kelengkapan dan keamanan fasilitas infrastruktur Jembatan Suramadu, PT Jasa Marga juga melakukan inventarisasi peralatan selama seminggu sekali. Semua perangkat jembatan, mulai dari mur, baut, hingga rambu-rambu, akan didata secara periodik.

Pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur juga menambah personel untuk menjaga Jembatan Suramadu serta membangun pos pengamanan baru di sisi Kabupaten Bangkalan karena daerah itu sepi dari permukiman penduduk.

Menurut Kepala Biro Operasional Polda Jatim Komisaris Besar Abdul Madjid Tawil di Surabaya, tambahan 90 personel itu dibagi dalam tiga shift berbeda selama 24 jam penuh.

Madjid menambahkan, pengamanan di bawah jembatan juga dilaksanakan dengan mengoperasikan tiga kapal 202 tipe C Direktorat Polisi Air yang berfungsi melakukan pengaturan, penjagaan, dan pengawalan. Dengan demikian, lokasi bawah jembatan dapat dibersihkan dari kemungkinan lokasi permukiman penduduk liar, pedagang kaki lima, atau tempat kapal nelayan ditambatkan.

Pos di akses Madura

Pengamanan kepolisian, lanjut Madjid, difokuskan pada pengamanan di daratan Madura. Pasalnya, sepanjang 11 kilometer akses menuju dan dari Jembatan Suramadu merupakan kawasan sepi dan rawan.

”Penerangannya sangat minim, tidak ada permukiman sama sekali karena ini lokasi yang baru dibuka,” katanya.

Kasus kriminalitas di sekitar kawasan Suramadu sudah kerap terjadi, mulai dari aksi vandalisme yang mencopoti mur, baut, dan lampu penerangan jembatan hingga penjambretan. Salah satu korban penjambretan adalah anggota DPRD Bali, I Made Wirawan, Kamis malam.

Menurut Kepala Kepolisian Sektor Sukolilo Ajun Komisaris Sutadji, Made Wirawan ditodong dengan celurit oleh dua penjahat yang mengendarai sepeda motor. Selesai merampas, pelaku melarikan diri ke arah Surabaya.(ABK/DEE)

Sumber: Kompas, Sabtu, 20 Juni 2009

JK: Ayo Makan Sate di Madura!

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN / Kompas Images

Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap orang tidak lagi hanya makan sate madura, tetapi ia mengajak makan sate di Madura setelah Jembatan Suramadu diresmikan.

Kalla juga berjanji akan ada politeknik di Madura. Kalla mengatakan, Suramadu memudahkan mobilitas orang dari dan ke Madura. Sebelumnya mobilitas terbatas karena penghubung Madura hanya bisa dengan feri.

"Pengalaman setelah (tol) Cipulang jadi, Bandung makin ramai dikunjungi. Saya yakin Madura juga akan mengalami dampak seperti itu. Jadi orang tidak lagi makan sate madura. Orang akan makan sate di Madura," ujarnya di sela-sela kunjungan ke Bangkalan, Jumat (19/6).

Suramadu juga lebih membuka peluang investasi baru untuk industrialisasi di Madura. Agar masyarakat Madura siap bekerja di industri, harus ada lembaga pendidikan untuk melatih masyarakat Madura. "Saya akan meminta Depdiknas melihat politeknik apa yang cocok dengan potensi Madura," tuturnya

Sumber: Kompas, Jumat, 19 Juni 2009

Mur dan Lampu Suramadu Terus Dicuri

foto: Surya

Besi-besi berupa mur dan baut serta puluhan lampu penerangan pada Jembatan Suramadu terus dicuri orang. Sebagian mur dan baut ditemukan dalam keadaan kendur atau patah, padahal mur dan baut pada pagar besi pembatas lajur motor dan mobil itu berfungsi melindungi pengendara motor agar tak terjatuh ke laut.

Sedikitnya 75 mur di pagar pelindung motor arah Surabaya-Madura hilang, 25 mur kendur, dan 6 baut patah. Dari sisi Madura-Surabaya, 8 mur kendur, puluhan baut hilang, dan beberapa baut serta mur rambu-rambu putar arah (U-turn) hilang. Sedangkan lampu yang hilang pada Selasa lalu ada 42 lampu penerangan box girder (balok baja di bentang tengah jembatan). Lampu tersebut berfungsi sebagai penerangan pada saat petugas menginspeksi rangka jembatan.

”Mur dan beberapa baut yang hilang berfungsi untuk memperkuat pagar. Jika tidak dicek rutin, pagar akan mudah goyang dan membahayakan pengendara roda dua,” kata Kepala Satuan Kerja Sementara Jembatan Nasional Suramadu Atiyanto Busono, Kamis (18/6) di Surabaya.

Diperkirakan pencurian besi- besi tersebut terjadi saat Jembatan Suramadu dibuka untuk umum, Sabtu dan Minggu lalu, karena saat itu banyak pengendara kendaraan berhenti di bentang tengah.

Karena pencurian terus berlangsung, mur dan baut jembatan tersebut akan segera dilas.

Kepala Bagian Bina Mitra Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya Ajun Komisaris Besar Sri Setyo Rahayu mengatakan, pihaknya telah meminta Kepolisian Resor Surabaya Timur untuk mengamankan seluruh kawasan Suramadu. Sejak Kamis, 30 personel Polres Surabaya Timur dan satu Unit Tangkal yang terdiri dari 10 personel Polwiltabes Surabaya disiagakan 24 jam untuk menjaga Jembatan Suramadu. (ABK/DEE/RYO)

Sumber: Kompas, Jumat, 19 Juni 2009

JK Kunjungi Makam KH Cholil


Calon presiden dari Golkar-Hanura, Jusuf Kalla, mengunjungi makam ulama berpengaruh di Jawa Timur, KH Syaichonah Cholil, di Bangkalan, Jumat (19/6).

Kalla datang bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Selain Karwo, Bupati Bangkalan yang juga cucu KH Cholil juga turut mendampingi Kalla. Pasalnya, Kalla datang dalam kapasitas sebagai Wakil Presiden.

Meskipun demikian, beberapa anggota tim kampanye JK-Win juga terlihat dalam rombongan. Mereka antara lain Yuddy Chrisnandi dan Priyo Budi Santoso. Selain itu, di lokasi juga hadir Rais Syuriah PWNU Jatim Kh Miftachul Achyar dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Muttawakil Alallah.

Di Jatim, Kalla dinyatakan sebagai satu-satunya kader NU yang menjadi capres.

Sumber: Kompas, Jumat, 19 Juni 2009

Orang Madura Merasa Didiskreditkan

Fitnah Vandalism di Jembatan Suramadu
foto: Surya

Beberapa tokoh Madura mengaku kecewa terkait pernyataan pihak proyek Suramadu mengenai hilangnya baut dan lampu jalan di Jembatan Suramadu. Hal itu dinilai menyudutkan dan mendiskreditkan orang Madura secara menyeluruh. Di antara mereka langsung mengklarifikasi kabar tersebut ke pihak proyek yang kemarin mengadakan rapat terkait hal itu. Hasilnya, tak ada satu pun baut atau lampu yang hilang dari jembatan terpanjang di Indonesia itu.

Ketua Harian Dewan Pembangunan Madura (DPM), Ahmad Zaini MA kepada koran ini mengatakan, pihaknya telah mengklarifikasi kabar hilangnya baut dan lampu di Suramadu pada Kepala Balai Besar Jalan Nasional Regional V, A.G. Ismail. "Saya sudah hubungi Ismail itu supaya tidak bicara sembarangan yang menyudutkan orang Madura," tegasnya.

Dalam percakapan itu, sambungnya, Ismail menyatakan permintaan maafnya. Sebab, baut dan lampu yang awalnya dinyatakan hilang ternyata memang belum dipasang karena desakan peresmian jembatan 10 Juni lalu. Sehingga pemasangan beberapa baut dan lampu harus ditunda. "Jadi semua itu (peresmian, Red) karena dipaksa. Di lapangan kemudian ada miss komunikasi antara Jasa Marga dan pihak proyek. Yang dikira hilang ternyata memang belum dipasang," ungkapnya.

Dijelaskan, pihaknya telah meminta pihak proyek meluruskan apa yang telah disampaikan oleh Ismail. Sebab, telah banyak orang Madura tersinggung karena pernyataan tersebut.

Harun Al-Rasyid yang juga dari DPM menambahkan agar pihak proyek memahami kondisi di Madura. "Ismail seharusnya tidak ceplas-ceplos seperti itu. Dia mungkin lupa dulu pernah saya maki-maki karena kasus baut dan besi yang ternyata dicuri sama pekerjanya sendiri. Saat itu dia juga sempat menuduh orang Madura," paparnya.

Pada koran ini dia juga mengungkapkan peresmian yang dipaksakan adalah penyebab munculnya statement dan kabar tidak sedap itu. Berbagai ketidaksiapan proyek menyelesaikan pekerjaannya akhirnya menjadi masalah yang konotasinya dialamatkan pada warga Madura.

Senada, Koordinator Badan Silaturahmi Ulama Madura (BASRA) KH. Nuruddin A. Rahman mengatakan, seharusnya jembatan Suramadu diresmikan tiga bulan lagi. "Itu kalau mau benar-benar siap, bukan karena kepentingan politik tertentu," tandasnya.

Menurut dia, berbagai ketidaksiapan Suramadu akhirnya sangat merugikan orang Madura. Mulai dari isu yang menyudutkan orang Madura hingga semua ketidakpastian terkait pemanfaatan jembatan. "Tuduhan pada orang Madura karena kehilangan-kehilangan itu bukan yang pertama kali. Dulu waktu Suramadu kehilangan timah saya sudah peringatkan agar tidak ber-statement yang mendiskreditkan orang Madura. Dan terbukti ternyata memang bukan dicuri tapi disimpan sendiri," urainya.

Terkait pemanfaatan jembatan, Anggota DPD RI dari Jatim ini juga sangat menyesalkan pihak pengelola jembatan. Sebab, pemberlakuan tarif jembatan selalu berubah dari jadwal. "Katanya mau digratiskan dua minggu, lalu satu minggu. Tidak satu minggu jadi tiga hari dan besok (hari ini, Red) jam 07.00 diberlakukan. Ini ada berita lagi akan diberlakukan mulai dini hari," sesalnya. Kiai ini khawatir berbagai ketidakpastian terkait jembatan akan terus menerus terjadi dan mengecewakan orang Madura. (nra)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 17 Juni 2009

Hilangnya Mur Tak Berpengaruh Pada Kekuatan Konstruksi Suramadu

Hilangnya mur pagar pembatas antara jalan sepeda motor dan kendaraan roda empat di bentang tengah Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), tidak memengaruhi kekuatan konstruksi jembatan yang dibuka sejak 10 Juni lalu itu.

“Mur yang hilang itu terdapat pada pagar yang berfungsi sebagai pembatas keamanan pengendara. Sehingga secara umum tidak mengganggu konstruksi jembatan,” kata Kepala Satuan Kerja Bentang Tengah Jembatan Suramadu, Atiyanto Busono, di Surabaya, Kamis (18/6).

Ia juga mengatakan, akibat hilangnya 13 buah mur tersebut sebagian pagar pembatas goyang karena sistem pengunciannya terganggu.

“Agar hal itu tidak terulang, pelaksana proyek akan mengelas mur yang menempel pada baut agar lebih rapat dan tidak hilang lagi,” kata Atiyanto.

Pengelasan itu merupakan bentuk kegiatan pemeliharaan jembatan dan bukan berarti pelaksanaan konstruksi proyek belum selesai.

Ia menduga, mur tersebut hilang akibat ulah orang-orang iseng. Hilangnya mur tersebut terjadi saat jembatan dioperasikan secara gratis.

“Saat itu masyarakat banyak yang ingin mengetahui jembatan secara langsung dan mereka berhenti di bentang tengah untuk berfoto atau melakukan kegiatan lainnya,” katanya seraya menambahkan, pengelasan tersebut berlangsung selama sepekan.

Selama setahun, Jembatan Suramadu masih dalam masa pemeliharaan oleh pihak kontraktor. Sehingga jika terdapat kejadian serupa, maka kontraktor yang akan langsung melakukan penanganan.

Mengenai hilangnya 42 lampu, Atiyanto mengatakan, bahwa lampu yang hilang tersebut bukan lampu penerangan jalan umum. “Lampu tersebut adalah lampu penerangan pada box girder yang hanya dinyalakan saat petugas melakukan inspeksi pemeliharaan,” katanya.

Sama dengan mur, lampu tersebut hilang pada saat jembatan dioperasikan secara gratis. Petugas lupa mengunci pintu masuk box girder. Meskipun harga lampu tersebut tidak mahal, pengamanan pintu box girder kini diperketat. Pengamanan juga dilakukan oleh petugas PT Jasa Marga selaku operator Jembatan Suramadu dan petugas kepolisian di sekitar jembatan.

Atiyanto juga mengimbau masyarakat tidak mencorat-coret lapisan kabel baja jembatan yang berfungsi sebagai pengaman dari karat dan pengeroposan.

“Apabila lapisan luar kabel tersebut mengelupas, maka lapisan dalam kabel akan mudah mengeropos dan mempengaruhi kekuatan kabel penyangga jebatan,” katanya.

Sejak tarif tol diberlakukan per 13 Juni 2009, para pengguna jalan sudah tidak diperkenankan lagi berhenti di bentang tengah maupun jalur lainnya di sepanjang jembatan.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Soekarwo, meminta masyarakat Madura dan sekitarnya untuk turut menjaga kelestarian jembatan yang pembangunannya menelan dana Rp 4,5 triliun itu.

“Itu jembatan milik kita. Selain menjadi sumber kehidupan, jembatan itu juga menjadi sumber penghidupan. Makanya semua masyarakat, khususnya warga Madura harus menjaga kelestariannya,” katanya. (ant)

Sumber: Surya, Kamis, 18 Juni 2009

Tak Ada Mur dan Lampu yang Hilang di Jembatan Suramadu

Polres Bangkalan pastikan tidak ada kasus pencurian mur dan lampu di sekitar Jembatan Nasioanl Surabaya-Madura (Suramadu), seperti kabar yang sudah beredar di masyarakat.

“Kabar pencurian mur dan lampu itu hanya isu. Di Jembatan Suramadu tidak ada kasus tersebut. Ini setelah kami bersama Jasa Marga dan Polsek Kenjeran (Surabaya) melakukan pengecekan di lokasi,” kata Kapolsek Sukolilo, AKP Sutadji, Kamis (18/6).

Menurutnya, informasi tersebut menyesatkan. Pasalnya, setelah dicek tidak ada yang namanya mur dan lampu hilang di jembatan tersebut.

“Saya imbau pada pengguna jalan atau masyarakat tidak perlu khawatir atas isu yang berkembang ini, karena tidak betul,” kata Sutadji.

Semua pihak supaya mendukung pengoperasian Jembatan Suramadu. Jika memang suatu kelompok ingin menyebarkan sebuah informasi, diharapkan melakukan cek dulu sebelum diumumkan. Sebab, lanjutnya, dampaknya bisa meresahkan masyarakat, terutama bagi mereka yang akan melintas di jembatan senilai Rp 4,5 triliun yang melintasi Selat Madura itu.

Sutadji mengemukakan, pihaknya tetap siaga dalam mengamankan Jembatan Suramadu. Baik dari tindak kriminal maupun dari kecelakaan. Hal itu merupakan tanggung jawab bersama untuk menjaga situasi kondusif.

“Untuk pengamanan Suramadu, telah diterjunkan 55 anggota polisi. Mereka berada di tiga titik yakni pintu keluar/masuk Suramadu, perempatan Petapan, dan pintu keluar/masuk jalan akses sisi Madura,” katanya menegaskan.

Media massa cetak maupun elektronik, akhir-akhir ini gencar memberitakan hilangnya mur perekat pagar besi untuk jalur sepeda motor dan beberapa lampu penerangan. Bahkan informasi itu dilengkapi foto yang memperlihatkan beberapa mur hilang. (ant)

Sumber: Surya, Kamis, 18 Juni 2009

Suramadu toll fees go into effect today

Last freebie: Motorists stop at the newly inaugurated Suramadu bridge on Tuesday. All passengers, travelling by motorcycle, car or truck, will have to pay a toll fee starting Wednesday to cross the bridge, which connects Java and Madura islands. JP/Agnes S. Jayakarna

As of Wednesday, motorists seeking to cross the Suramadu bridge linking Surabaya and Madura Island will be charged for the privilege.

State-owned toll road operator PT Jasa Marga said Tuesday it had officially decided to put the fees into effect at midnight on June 17, 2009, despite strong protests from ferry operators serving the Ujung and Kamal ports.

The company has posted information about the fees at the toll bridge entrance.

The fees will come into effect a week after the bridge was officially inaugurated by President Susilo Bambang Yudhoyono last Wednesday.

In the days following the inauguration, motorists had been allowed to cross the bridge, the country’s longest, for free.

Jasa Marga has, during this time, conducted studies to gauge the possible shortcomings and effectiveness of the toll bridge.

Agus Purnomo, head of Jasa Marga’s Surabaya office, said that during the study period, his office had gathered information and made evaluations before deciding on the fees.

“We feel we’re ready to start charging toll fees sooner than expected,” he said.

The toll operator had previously said it would start charging motorists at 7 a.m. Wednesday.

Agus added Jasa Marga had found several traffic violations during the study.

With the bridge attracting much public attention, commuters making the crossing are stopping frequently by the roadside to take photos.

This activity, Agus said, was an obvious threat to safety.

To increase safety, Jasa Marga is working with the Highway Police (PJR) to conduct routine patrols along the bridge.

Single-crossing fees are Rp 3,000 for motorcycles, Rp 30,000 for sedans, SUVs, vans and pickup trucks, while larger trucks must pay between Rp 45,000 and Rp 90,000.

Ferry operators, now rendered effectively redundant by the bridge, have decried the toll fees, saying they were “much cheaper” than ferry crossing fees.

They said it would cripple their livelihoods and those of the people engaged in various activities around the ports.

Six ferry operators grouped under the Association of East Java River and Ferry Transport Employers (Gapasdap) have demanded the government help them find a “win-win solution” to keep them in
business.

Gapasdap chairman Bambang Harjo said that the opening of the bridge had seen ferry passenger numbers drop by 10 percent, causing a 70 to 80 percent dip in the earnings of vendors at Ujung and Kamal ports.

With ferries transporting an average of 10 cars, 30 motorcycles and 100 passengers a day before the bridge opened, traffic has slowed to three cars, 10 motorcycles and 25 to 35 people, Bambang said. (Agnes S. Jayakarna and Achmad Faisal)

Sumber: The Jakarta Post, Wed, 06/17/2009

Suramadu Waspada, Banyak Sekrup Hilang

Belum sepekan dibuka, sejumlah komponen jembatan Suramadu seperti mur baut alias sekrup dilaporkan banyak yang hilang. Begitu gawatnya masalah ini, bos proyek Suramadu, AG Ismail mengaku telah memerintahkan pimpinan proyek (pimpro) segera menggelar rapat tentang vandalisme yang terjadi di jembatan itu.

"Itu kelakuan orang iseng. Banyak sekali laporan tengan vandalisme itu. Bahkan sejak awal (pembangunan) dulu," keluh AG Ismail menjawab Surya, Minggu (14/6).

Pejabat yang juga menjadi Kepala Balai Besar Jalan Nasional V yang membawahi proyek Suramadu ini mengaku pihaknya perlu waspada terhadap ancaman perusakan jembatan senilai Rp 4,2 triliun itu, sehingga harus segera digelar rapat khusus.

Dia mengatakan, persoalan pencurian aset publik atau vandalisme bukan pertama kali terjadi di Suramadu. Ketika pertama dibangun, besi untuk kerangka jembatan juga banyak yang raib. Bahkan, lanjutnya, belakangan ada komplotan khusus yang tertangkap mencuri besi dari dasar laut.

Selain itu, selubung pondasi sisi Madura dari logam khusus juga pernah dilaporkan hilang pada 2006 lalu. Padahal saat itu sedang banyak pekerja.

Dan ketika sekarang sudah tidak ada lagi pekerja di proyek tersebut, maka kemungkinan adanya orang-orang yang iseng untuk mencuri sekrup dan komponen lainnya akan semakin terbuka peluangnya.

Informasi banyaknya mur dan baut hilang ini ini juga muncul dari laporan sejumlah pengendara yang melintas di jembatan Suramadu. Mereka secara tak sengaja mengaku melihat sejumlah pagar yang membatasi jalur roda dua dengan laut tidak ada bautnya. Beberapa sekrup di antaranya juga terlihat kendor.

Semula ada anggapan pembangunan jembatan ini belum rampung 100 persen, meski telah diresmikan 10 Juni lalu. Namun Ismail mengelak jika dikatakan pembangunan belum beres. “Progress sudah selesai semua. Pekerja sudah tidak ada. Semua sudah terpasang. Kalau sekarang tidak ada, ya itu hilang. Itu yang menjadi perhatian kami sekarang ini,” katanya.

Ismail juga menyesalkan perilaku berlebihan sebagian orang yang lewat di jembatan itu. Sesuai laporan yang dia terima, ada orang yang bergelantungan di kabel bentang tengah jembatan sambil berfoto ria. Tidak sedikit pula yang berayun-ayun di pagar pembatas bagian luar, hanya untuk keperluan berfoto ria. “Kalau yang terjadi seperti itu kan sudah di luar prosedur keamanan,” ujarnya.

Terpadat

Sementara itu, sepanjang Minggu (14/6) kemarin menjadi hari tersibuk dan terpadat di jembatan Suramadu. Jembatan sepanjang 5,5 kilometer (5.438 meter) ini dibanjiri ratusan ribu orang. Tidak hanya dari Surabaya dan sekitarnya serta Madura. Dari plat nomor kendaraan juga banyak yang datang dari Jawa Tengah sekadar ingin merasakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini.

Terlihat beberapa minibus dengan plat nomor AD yang dijubeli penumpang lewat. Minuibus warna biru tua ini sempat terjebak di ekor kemacetan Jl Tambakwedi menuju pintu tol Suramadu.

Menurut salah satu penumpangnya, Suhardjo, dirinya datang dari Jawa Tengah bersama kerabatnya khusus ingin melihat Suramadu. « Mumpung liburan, ingin tahu saja,” katanya.

Banyak sekali plat nomor di luar L dan M yang melintas, mulai plat AG, W, S, P. dan lainnya. Akibatnya, kemacaten tidak terkendali. Jalur motor sepanjang 5,5 kilometer padat dengan ribuan kendaraan, merambat dari ujung jembatan sisi Madura ke ujung jembatan sisi Surabaya. Panas siang kemarin membuat pengedara motor kepanasan.

Karena macetnya, petugas dan keamanan tol terpaksa membiarkan saja pengguna motor memasuki jalur mobil. Tetapi mereka tetap mengarahkan pengendaranya agar melintas di lajur kiri, karena jalur mobil juga terlihat padat merambat.

Suasana memasuki pintu tol Suramadu juga makin padat karena penjual keliling memanfaatkannya untuk menjajakan dagangan. Seperti air mineral dan makanan kecil.

Kemecetan tidak hanya terjadi di jembatan. Di jalan-jalan yang menuju ke arah jembatan ini mecetnya luar biasa. Mulai dari jalan kembar Tambakwedi hingga Kenjeran, hingga di perempatan Kaliondo-Kapasan. Padahal jarak perempatan terakhir ini ke jembatan sekitar 10 kilometer. Dan kemacetan itu terjadi hingga menjelang malam hari.

Kepala Cabang PT Jasa Marga Surabaya, Agus Purnomo ketika berada di lokasi, mengimbauseluruh masyarakat agar memanfaatkan jembatan ini untuk tujuan ke Madura atau sebeliknya. Karena kalau hanya untuk berwisata tanpa tujuan, bakal mengganggu lalu lintas dua pulau ini.

"Mereka berhenti berfoto-foto. Ketika ditegur, mereka hanya senyum. Tapi begitu lengah sedikit, mereka berhenti untuk mengambil foto lagi," keluh Agus. uca/k3

Sumber: Surya, Senin, 15 Juni 2009

M Noer Tak Disebut, eks Jenderal Marah

Peresmian Jembatan Suramadu, Kamis menyisahkan ketersinggungan mantan jenderal berdarah Madura. Penyebabnya sederhana, bahkan nyaris luput dari perhatian khalayak. Yaitu isi sambutan para pejabat negeri ini yang tidak menyinggung sedikitpun nama sesepuh Madura, M Noer.

Namun bagi mantan petinggi militer ini, luputnya M Noer dalam catatan sambutan gubernur bukan hal sepele. Mantan Komandan Jenderal Akabri, Laksamana (Purn) Abu Hanifah, bahkan menggap pemerintah sengaja menghilangkan sejarah Suramadu ketika tidak menyinggung keringat M Noer terhadap Suramadu dalam sambutannya.

Selain Hanifah, tujuh mantan jendral lain juga mengeluhkan hal yang sama. Yaitu Direktur BAIS, Brigjen (Purn) Poernomo, mantan Kasad, Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Kapolri Jenderal (Purn) Roesman Hadi, mantan petinggi Mabes Polri Brigjen (Purn) Abdul Aziz, mantan Kasad, Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Kasal Laksamana (Purn) Sutjipto, mantan kepala BASIS Brigjen Purn Ari Sudiwo.

“Kami semua kecewa mengapa Pak Noer seolah oleh diabaikan,” Hanifah. M Noer saat pembukaan kemarin memang duduk di kursi paling depan namun paling pojok bersebelahan dengan kursi mantan gubernur Imam Utomo. Di dalam susunan acara, Noer tidak dijadwalkan memberi sambutan mewakli sesepuh Madura. Padahal agenda ini sempat diperkirakan ada. Kenyataanya tidak hanya diberi panggung sambutan, Noer bahkan tidak disebut dalam sambutan, terutama sambutan gubernur.

Nama Alm Prof Ir Sediyatmo Memang disebut dalam sambutan menteri, Penemu teknologi pondasi cakar ayam ini merancang teknis jembatan yang menghubungkan Jawa dengan Sumatra, Madura dan Bali pada 1960-an. Pada 1986, Presiden kedua RI, Soeharto menamai tiga jembatan itu dengan Tri Nusa Bimasakti.

Namun menurut pengetahuan para mantan jenderal ini, M Noer adalah orang pertama yang memiliki gagasan menyambung Madura dengan Surabaya. Saat itu tahun 1960 dan mantan gubernur Jatim ini masih menjabat sebagai Patih Bangkalan. ” Prof Sediyatmo adalah ahli teknik yang menagkap ide itu dengan penghitungan teknik,” kata Poernomo.

Bagi para eks jenderal ini, M Noer begitu berkeringat memompa pemerintah untuk segera membangun Suramadu. Semua tokoh madura kerap berkumpul di rumah M Noer untuk mendorong proyek ini sampai membentuk Dewan Pembangunan Madura. Bahkan nama besar M Noer tidak isa dilepaskan dengan gagasan Suramadu.

Kata Poernomo, jika mencermati sambutan para pejabat kemarin, seolah-olah warga Madura pasif dan berposisi diberi hadiah oleh pemerintah. Padahal kata dia, mulai gagasan hingga dorongan politis dilakukan tokoh Madura dengan semnagat M Noer. “Meskipun jembatan ini secara teknis dilakukan ahli teknik,” kata Poernomo. (uca)

Sumber: Surya, Kamis, 11 Juni 2009

Megawati Usul Nama Jembatan Suramadu Muhammad Noer

Calon Presiden yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnouptri mengusulkan untuk mengabadikan nama mantan Gubernur Jawa Timur, Muhammad Noer, dicantumkan sebagai nama jembatan Surabaya Madura (Suramadu).

Mega, didampingi Prabowo Subianto saat berorasi di depan massa pendukungnya di Lapangan Desa Dukuh Sari, Kecamatan Jabon, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), Minggu (14/6).

Ia menyatakan, M Noer adalah tokoh Jatim yang paling berjasa, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura ini akhirnya bisa berdiri.

“Dulu, yang mencanangkan dibuatnya jembatan yang menhubungkan Surabaya dan Madura adalah Bung Karno. Berganti-ganti presiden sebelumnya, belum bisa ada yang melakukan,” Mega mengawali ceritanya.

Baru setelah ia menjadi presiden,rencana pembuatan jembatan Suramadu itu bisa terlaksana seiring dibukanya kembali hubungan diplomatik antara Indonesia dengan China. Sesepuh Jatim yang mantan Gubernur, M Noer, kemudian datang kepadanya, meminta agar jembatan Suramadu bisa dibuat.

“Saat saya menjadi presiden, datanglah, Muhammad Noer dan mengatakan kepada saya jembatan ini (Suramadu) sangat diinginkan oleh masyarakat Surabaya dan Madura,” kata Megawati.

Pembuatan jembatan Suramadu kemudian terwujud setelah pemerintah China mau memberikan bantuan.

“Kalau lewat kesana (jembatan Suramadu), tiang pancang yang di tengah diberikan oleh pemerintah Cina. Sementara yang lain dikerjakan oleh putra-putri terbaik Indonesia. Tapi, nyatanya, seakan-akan jembatan ini dibuat oleh pemerintahan yang sekarang,” tegas Megawati.

“Yang membuat tiang pancang adalah Ibu Megawati. Jangan suka lupa, kalau barang jadi, musti dilihat permulaaannya. Ini harus diingat oleh rakyat Jatim, yang membuat Jembatan Suramadu, asal muasalnya adalah dari seorang perempuan,” kata Megawati lagi yang sempat pula menyinggung soal ini saat berorasi di Turen, Kabupaten Malang.

Megawati menyatakan, dirinya harus mengatakan yang sebenarnya agar masyarakat mengetahui asal muasal pembangunan Jembatan Suramadu akhirnya bisa tegak berdiri.

“Saya mengusulkan pemberian nama Muhammad Noer dicantumkan dalam jembatan Suramadu. Karena beliaulah yang paling berjasa, yang terus menyatakan, jembatan itu perlu dibuat. Itulah cerita yang sebenarnya. Jangan hanya tiba-tiba selesai lalu dibuka begitu, diresmikan begitu saja,” kata Megawati. (rachmat hidayat/persda network)

Sumber: Surya, Minggu, 14 Juni 2009

M Noer: Suramadu Jangan Jadi Seperti Batam

Pembangunan Jembatan Suramadu tidak bisa dilepaskan dari peran Muhammad Noer, 91.

Mantan Gubernur Jatim periode 1967-1976 inilah yang sedari awal getol mendorong dibangunnya Jembatan Suramadu. Bahkan, ketika masih pegawai biasa di Bangkalan pada 1938, M Noer pernah mengangankan adanya jembatan yang bisa menghubungkan antara Madura dan Surabaya itu. Kini angan-angan tokoh kharismatik asal Madura itu terwujud.

Menurut M Noer, keberadaan jembatan memang amat diperlukan Madura. Sebab, selain akan mempercepat dan melancarkan lalu lintas manusia dan barang dari dan ke Madura, jembatan itu bisa pula memangkas penguasaan feri. Feri selama ini menjadi satu-satunya pilihan transportasi publik jurusan Surabaya-Madura (atau sebaliknya).

Yang lebih penting lagi, imbuhnya, adalah tidak berhenti memanfaatkan keberadaan Jembatan Suramadu hanya sebagai jembatan penyeberangan. Jika jembatan itu sudah bisa mempercepat dan melancarkan hubungan/lalu lintas Jawa dan Madura, maka selanjutnya adalah mengidentifikasi potensi-potensi di Madura yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan jembatan itu.

Di sektor pariwisata, di ujung timur Madura, yakni Sumenep, objek-objek turisme yang bagus sekali tersedia banyak. Banyak pantai dengan pasir yang indah di sana. Di perairan Sumenep juga banyak tersimpan sumber daya alam berupa tambang.

Yang harus diperhatikan, kata M Noer, jangan sampai warga asli Madura hanya sebagai penonton sedangkan orang lain menjadi pemain, dan makin gencar menyerbu Madura setelah beroperasinya jembatan.

Pak Noer sendiri, lewat yayasannya yang bekerja sama dengan ITS, mencoba mendukung peningkatan kualitas SDM Madura dengan menampung anak-anak yang berprestasi dan potensial dari 4 kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep).
“Mereka akan dididik untuk menjadi SDM handal, yang suatu saat mampu memberi sumbangsih bagi kemajuan Madura,” kata M Noer.

Pak Noer berharap Madura tak menjadi seperti Batam, yang berkembang maju namun beriringan pula dengan berkembangnya penyakit masyarakat seperti pelacuran. Karena alasan inilah, ia juga kurang setuju jika badan pengelola Jembatan Suramadu meniru Badan Otorita Batam. Selain dianggap gagal akibat kewenangannya yang melampaui otoritas pemda terkait, Badan Otorita Batam juga dinilai tak berhasil membendung merajalelanya penyakit masyarakat di sana.

Melihat kegagalan Batam, sempat para kiai di Madura tidak menyetujui pembangunan Jembatan Suramadu. Tetapi, berkat upaya M Noer untuk meyakinkan para kiai itu tentang manfaat Jembatan Suramadu, akhirnya mereka bisa menerima.

“Butuh waktu dua tahun untuk melakukan pendekatan pada para kiai itu. Yang jelas, dibutuhkan peran pro aktif masyarakat untuk menghindari munculnya ekses negatif dari keberadaan Jembatan Suramadu seperti pelacuran,” tutur M Noer.

Noer juga tidak setuju penggratisan untuk para pelintas jembatan. “Kalau digratiskan, biaya perawatanya dari mana? Jembatan itu harus dipelihara, dan untuk memelihara tidak bisa mengandalkan dana pemerintah saja. Tapi harus ada partisipasi rakyat,” jelas Noer. (k6)

Sumber: Surya, Selasa, 9 Juni 2009

Gubernur Jatim Minta Maaf kepada M Noer

Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, meminta maaf kepada mantan gubernur dan sesepuh masyarakat Jatim, M Noer selaku pencetus ide pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu).

“Kami akan mengajukan surat permintaah maaf kepada Pak Noer,” katanya saat ditemui setelah menjadi pembicara dalam seminar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Kamis (11/6).

Soekarwo mengaku, lupa tidak menyebut nama salah satu mantan Gubernur Jatim itu dalam sambutan peresmian Jembatan Suramadu di Dusun Sumber Wungu, Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura, Rabu (10/6).

“Tidak ada unsur kesengajaan. Pak Gunarto (Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim) lupa tidak mencantumkan nama Pak Noer, karena mungkin terburu-buru,” kata Soekarwo.

Dalam sambutan peresmian, dia menyatakan, terima kasih kepada para ulama, kiai, tokoh agama, tokoh masyarakat di Madura dan Surabaya. Soekarwo juga berterima kasih kepada masyarakat Madura yang telah rela melepaskan lahannya untuk proyek tersebut.

Hal itu memicu protes dari Ketua Umum Pembangunan Madura, Ahmad Zaini.

“Tidak disebutnya nama M Noer sebagai tokoh pencetus gagasan Jembatan Suramadu, merupakan upaya penghilangan sejarah dalam momen yang sangat bersejarah untuk bangsa Indonesia ini,” katanya.

Selain kepada Gubernur Jatim, dia akan mengajukan protes kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meresmikan pemanfaatan jembatan itu. (ant)

Sumber: Surya, Kamis, 11 Juni 2009

Geliat Paasca Peresmian Jembatan Suramadu

Bangkalan Bangun Terminal Induk di Kaki Suramadu

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Madura, Jawa Timur (Jatim), akan membangun terminal induk di kawasan kaki Jembatan Suramadu.

Menurut Bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron, lahan yang disiapkan untuk pembangunan terminal induk di jalan akses menuju jembatan Suramadu tersebut seluas 8 hektare.

“Lahan seluas itu berada di Dusun Tangkel, Kecamatan Burneh atau persisnya di pintu masuk jalan akses sisi Madura Jembatan Suramadu,” kata Fuad Amin, Jumat (12/6).

Pemilihan lokasi terminal di kawasan jalan akses Suramadu ini, kata Fuad, karena lokasinya cukup strategis, sehingga nantinya bisa dijangkau semua jurusan, baik yang akan melalui akses jembatan Suramadu atau yang melalui penyeberangan dermaga Kamal.

Menurut Fuad Amin, terminal induk nantinya berfungsi sebagai pemberhentian bus maupun Mobil Penumpang Umum (MPU). Tidak hanya itu, terminal juga bisa digunakan semua pengendara yang dari luar maupun dalam kota Bangkalan, seperti Sampang, Pamekasan, dan Kota Sumenep.

“Bahkan, bus dari terminal Bungurasih, Sidoarjo, ada yang langsung berhenti di terminal induk yang bakal dibangun nanti,” katanya.

Terminal itu, lanjut Fuad Amin, nantinya diperkirakan akan menelan dana sekitar Rp45 miliar yang akan diambilkan dari dana patungan antara Pemkab Bangkalan dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

“Ini nantinya akan bisa menunjang perekonomian tingkat daerah. Serta bisa menyerap tenaga kerja bagi warga yang ada di sekitarnya terminal itu,” kata Fuad Amin.

Sementar itu, Ketua DPRD Bangkalan, Syarbini Makki mengatakan, rencana tersebut sudah disetujui Pemprov Jatim. Namun, pihaknya masih menunggu jawaban resmi.

“Kami harapkan pembangunan terminal induk bisa dimulai tahun 2009 ini. Karena lebih cepat membangun, pasti selesainya juga lebih cepat dan langsung bisa dimanfaatkan,” kata Syarbini. (ant)

Sumber: Surya, Jumat, 12 Juni 2009

Geliat Pasca Peresmian Suramadu

Sumenep Siapkan Objek Wisata Andalan

Pembangunan Pulau Madura dari berbagai sektor bakal mulai menggeliat pascaperesmian Jembatan Suramadu. Pemkab Sumenep telah mengantisipasi dengan menimba ilmu ke Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Pemkab Sumenep telah mengantisipasi arus gelombang industrialisasi pascaperesmian Jembatan Suramadu. Salah satunya dengan mengembangkan pariwisata dan peningkatan pembangunan di pulau-pulau kecil di Sumenep. Persiapan itu dilakukan dengan menimba ilmu ke Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Sejak pembangunan Pulau Batam, Kabupaten Karimun perekonomiannya juga ikut terdongkrak. Kabupaten Karimun dari sisi geografis dan sosiokultural masyarakatnya hampir mirip dengan Kabupaten Sumenep. Bedanya hanya jumlah penduduknya, Kabupaten Karimun hanya sekitar 200.000, sedangkan Sumenep mencapai 1,1 juta jiwa.

Andalan Kabupaten Karimun adalah potensi wisatanya yang sangat menjanjikan. Mulai dari objek wisata Pantai Pongkar, Sawang, Telunas dan Pantai Lubuk. Setiap hari objek wisata alam itu selalu dipenuhi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

”Semua objek wisata itu dipadu dengan pembangunan saranan penginapan atau hotel mulai dari kelas melati hingga bintang empat,” ujar Drs Suryaminsyah, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karimun.

Menurut Suryaminsyah, meski ada pengembangan pariwisata, masyarakatnya tak terpengaruh dengan kehadiran wisatawan asing yang datang berkunjung ke daerahnya. ”Pengembangan keagamaan terus dilakukan melalui pemberdayaan lembaga-lembaga keagamaan yang semuanya difasilitasi oleh pemerintah,” jelasnya.

Bupati Karimun, H Nurdin Basyirun mengatakan, Kabupaten Sumenep tidak jauh berbeda dengan wilayah yang dipimpinnya. Karena letak geografisnya yang unik, maka fokus pengembangan pembangunan menghadapi beroperasinya Jembatan Suramadu adalah di sektor wisatanya. ”Jadikan Sumenep daerah tujuan wisatawan dalam negeri, syukur-syukur bisa memberikan daya tarik ke wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Bupati Sumenep KH Moh Ramdlan Siraj SE MM mengatakan, karena wilayah Sumenep bukan tempat pintu masuk dan keluarnya jembatan Suramadu, maka daerahnya memang akan ditata untuk pengembangan pembangunan di sektor pariwisata. Meski demikian, program pembangunan lainnya juga tak akan ditinggalkan. (Moh Rifai)

Sumber: Surya, Jumat, 12 Juni 2009

Geliat Pascaperesmian Suramadu

Sumenep Bentuk Lembaga Pengembangan Pulau Kecil

Pemkab Sumenep telah mempersiapkan diri menghadapi beroperasinya Jembatan Suramadu. Selain mengembangkan pariwisata, juga membentuk lembaga penanaman modal dan percepatan pembangunan pulau-pulau kecil.

Bupati Sumenep KH Moh Ramdlan Siraj SE MM menilai pengembangan daerahnya sebagai tujuan wisata di Madura sudah dirancang lama. Selain itu, Pemkab Sumenep bakal membentuk lembaga pengembangan dan percepatan pulau-pulau kecil.

Untuk realisasinya, Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) telah membentuk bidang khusus yakni bidang percepatan pembangunan pulau-pulau kecil dan bidang penanaman modal atau investasi. Kedua lembaga itu telah dibentuk sejak dua tahun yang lalu.

Hanya saja, keinginan memajukan Sumenep tidak akan pernah sama dengan Kabupaten Karimun. Mengingat letak geografisnya yang berbeda. Kabupaten Karimun menjadi daerah transit baik perdagangan atau wisatawan mancanegara serta jalur persinggahan perekononian internasional.

Saat ini Pemkab Sumenep telah mempersiapkan menyesuikan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun oleh Pemerintah Provinsi Jatim. ” Program kita, selain pengembangan pariwisata juga industri ramah lingkungan dan pengembangan pulau-pulau kecil,” ujar Ramdlan.

Untuk menggaet calon investor menanamkan modalnya di Kabupaten Sumenep, maka bidang penanaman modal yang dibentuk tahun 2007 lalu sedang mendata dan menyusun semua potensi, baik sumber daya alam (SDA) maupun pariwisata yang dimiliki Sumenep. ”Potensi itu akan ditawarkan kepada calon investor melalui Badan Penanaman Modal (BPM) Pemprov Jatim,” ujar Sungkono Sidik, Kepala Bappeda Sumenep.

Data-data yang akan ditawarkan kepada investor berbentuk master plan yang dilengkapi data-data potensi yang ada di Sumenep. Data tersebut juga dilengkapi dengan angka riil setiap potensi yang ada. ”Kita akan membantu bahkan memfasilitasi bagi para investor yang akan menanamkan modalnya,” tambahnya.

Diharapkan dengan mulai beroperasinya Jembatan Suramadu, segala bentuk potensi yang dimiliki Sumenep bakal mampu dikembangkan. Segala sektor yang berkaitan dengan sasaran penunjangnya akan dikebut penyelesaiannya. (MOH RIFAI)

Sumber: Surya, Sabtu, 13 Juni 2009

Islamic Center Diresmikan Akhir Juni

Tetap Dihadiri Presiden SBY

Gedung Islamic Centre (GIC) bakal diresmikan akhir Juni oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Itu, setelah peresmian 10 Juni lalu tertunda karena SBY mengikuti deklarasi kampanye damai di Jakarta.

Seperti diberitakan (10/6), pemkab menyiapkan tenda standar RI 1 untuk undangan peresmian GIC. Namun, acara tersebut batal dilakukan karena presiden buru - buru bertolak ke Jakarta dari meresmikan Jembatan Suramadu. Sebab, presiden yang juga capres pada pilpres 8 Juli itu mengikuti deklarasi kampanye damai di KPU Pusat.

Kabag Humas dan Protokoler Fadjar Santosa mengaku telah menerima informasi dari protokoler kepresidenan. Sesuai informasi dari Istana Merdeka, SBY dijadwalkan hadir di Pamekasan 30 Juni mendatang. "Informasi yang kami terima begitu," kata Fadjar.

Kabar dari Jakarta tersebut diperkokoh humas dan protokoler Pemprov Jawa Timur. Dia menyatakan kabar dari Jakarta dan Jatim conect. Itu berarti, hingga hari ini (kemarin) informasi RI 1 hadir di Pamekasan untuk meresmikan GIC A1 (akurat).

Disinggung persiapan penyambutan, pria berkumis tebal itu mengaku siap siaga. Karenanya, pihaknya terus berkoordinasi dengan protokoler kepresidenan dan Pemprov Jatim. Sebab, kedatangan presiden dipastikan didampingi gubernur Jatim. "Kami terus kontak-kontak (dengan protokoler kepresidenan dan Pemprov Jatim)," katanya.

Untuk diketahui, gagasan pembangunan GIC berlangsung sejak Bupati Dwiatmo Hadiyanto (1998 - 2003) dan Achmad Syafii (2003 - 2008). Pada saat bupati dijabat Kholilurrahman (2008 - 2013), GIC terealisasi. GIC direncanakan menjadi pusat kegiatan berbasis agama dan pendidikan. Sedangkan biaya yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 30 miliar. (nam/abe/rd)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 13 Juni 2009

Suramadu: Jembatan Versus Jasa Feri

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Jembatan Suramadu yang menghabiskan dana sebesar Rp 4,5 triliun telah siap dioperasikan dengan membawa harapan baru akan percepatan pembangunan di kawasan Madura.


”F**k Bridges, We Want Ferries!”, judul artikel di situs majalah Renegade itu sangat ”menyengat”, di tengah euforia peresmian Jembatan Suramadu, Rabu (10/6), oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sudah tepatkah keputusan membangun jembatan, khususnya yang berbentang panjang?

Artikel itu berisi ”pertarungan” jembatan dan feri di Amerika. Dikecam, kebodohan pengendara yang memacetkan jembatan. Kota yang ”terbagi” oleh sungai lebar memang sering hanya ada satu hingga dua jembatan sehingga arus kendaraan ”menyempit” di jembatan.

Alhasil, di banyak kota dibangun lagi jembatan. Tak membangun alternatif penyeberangan atau zona lain untuk menekan pergerakan orang.

Contohnya di Pontianak, tahun 2007 diresmikan Jembatan Kapuas II untuk ”melengangkan” Jembatan Kapuas I. Palembang, walau punya Jembatan Ampera dan Musi II, merencanakan Jembatan Musi III.

Sementara itu, Pemkot Samarinda melobi Departemen Pekerjaan Umum untuk membangun jembatan ketiga, Mahkota II.

Sentimentil

Tepatkah pembangunan jembatan itu? Teringat film Intersection (1994). Saat Vincent Eastman (Richard Gere) dan Olivia (Lolita D) naik feri di Vancouver, Kanada, ke tempat kerja. Ada kesan sentimentil di sana.

Kesan itu diangkat pemuja feri di internet, ”pagi selalu indah di feri. Warga ngobrol saat di feri. Sore hari, terlihat matahari terbenam. Sangat indah”.

Mustahil komuter menikmati sunset saat mengemudi di jembatan. Dan di atas feri, tulis komuter lain, ”sering ada live music. Rileks seusai kerja”.

Bagi pengayuh sepeda, feri juga bersahabat. Sepeda diangkut feri saat tiada jembatan. Atau, saat jembatan hanya boleh dilewati kendaraan bermotor.

”Kemacetan? Apa itu?” celoteh pencinta feri. Di mana pun, mereka cerdik dan lincah ”melompat” antartransportasi massal. Wajah kota diperamah dengan mengurangi emisi dan mempererat interaksi warga.

Keberpihakan

Tidak ada maksud menghakimi Jembatan Suramadu. Tapi membangun jembatan serupa? Nanti dulu....

Apalagi, sistem perferian sedang dibenahi. Andai PT Indonesia Ferry (ASDP) tuntas mereformasi pelabuhan, waktu berlayar dan sandar makin singkat. Maka sebenarnya tinggal sinergi berbagai moda. Katakanlah, di Pontianak, bangunlah bus rapid transport (BRT) di Pontianak Utara, disambung feri di Sungai Kapuas, disambung BRT di Pontianak Selatan. Transportasi massal akan menyusutkan pergerakan mobil dan motor di Jembatan Kapuas dan ”melengangkan” jalan di Pontianak.

Mana lebih baik, Rp 1,2 triliun untuk bangun Jembatan Musi III di Palembang atau transportasi massal? Apalagi, pertambahan jalan dan jembatan selalu kalah dengan pertumbuhan kendaraan.

Pemikiran moderat diajukan ahli transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, ”Suramadu boleh ada, tapi baiknya juga jadi jembatan rel.”

Andai ada jalur kereta di Suramadu, tinggal ”ditarik” lagi rel dari Bangkalan ke Sumenep (176 km). Tak perlu pembebasan lahan rel sebab milik negara sejak dibangun Madoera Stoomtram Maatschappij, November 1896.

Dari ujung Jembatan Suramadu, nantinya KA disambung jaringan KA Daerah Operasi VIII-Surabaya. Tinggal naik kereta api ke Lamongan, Malang, Blitar, Banyuwangi, atau bahkan Jakarta. Ciamik tenan.

Di masa depan, perlu dikaji ulang tiap pembangunan jembatan. Prioritaskan wilayah yang tak ada penyeberangan. Optimalkan feri bila mungkin.

Bila terpaksa, boleh bangun jembatan, tapi dengan memfasilitasi transportasi massal sehingga masyarakat tak manja menggunakan kendaraan pribadi yang boros dan memacetkan.

Ada bisikan, ”Bali dan Lombok, dari dulu tiada jembatan, kok lebih maju?” Mungkin, bukan jembatan yang dibutuhkan Madura untuk sejahtera. (Haryo Damardono)

Sumber: kompas.com, Rabu, 10 Juni 2009

Suramadu, Era Baru Kebangkitan Masyarakat Madura?

Kompas/Iwan Setiyawan
Suramadu Dilihat Dari Madura - Jembatan Suramadu yang membentang di Selat Madura dilihat dari kaki jembatan di kawasan tepi pantai di Desa Sukolilo, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (9/6). Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura dengan panjang total 5.438 meter tersebut akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini, Rabu (10/06).


Siang itu, Faizal (27), penjual bebek goreng di Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan tampak sibuk melayani para pembeli. Sejak awal pembangunan Jembatan Suramadu enam tahun lalu, Faiza l membuka warung makanan sederhana tempat para pekerja proyek jembatan beristirahat sambil mengisi perut selepas bekerja.

Depot makanan Faizal hanya berjarak sekitar 60 meter dari bibir pintu masuk Jembatan Suramadu sisi Madura. Tepat di bibir masuk Suramadu inilah momen bersejarah peresmian Jembatan Suramadu akan berlangsung, Rabu (10/6) ini sekitar pukul 10.00.

Di satu sisi, peresmian Jembatan Suramadu memberikan kebanggaan tersendiri bagi Faizal dan masyarakat Kabupaten Bangkalan pada umumnya. Namun, di sisi lain keberadaan Suramadu juga menumbuhkan kekhawatiran dalam benak Faizal.

Berdasarkan sosialisasi dari pemerintah desa Sukolilo Barat, di sekitar kaki Suramadu sisi Madura rencananya akan dibangun taman. Pembuatan taman akan menggusur pemukiman da n pekarangan warga sekitar 500 meter di sisi kanan dan kiri jalan akses ke Suramadu.

"Informasi tentang pembuatan taman sudah kami terima beberapa waktu lalu. Rencananya tanah dan pemukiman kami akan di ganti rugi oleh pemerintah," tutur Faizal.

Menanggapi berita itu, Faizal mengaku pasrah. Ia berharap pemerintah memberikan ganti rugi yang layak, setidaknya jangan sampai proyek Suramadu justru menghilangkan kenyamanan hidup mereka selama ini.

Sampai dengan peresmian Jembatan Suramadu berlangsung, Faizal belum juga mendapatkan kejelasan tentang berapa nilai ganti rugi yang dijanjikan pemerintah.

Pengembangan tiga kawasan

Setelah Jembatan Suramadu senilai Rp 4,5 triliun terbangun, pemerintah akan mengembangkan tiga kawasan strategis, yaitu kaki Suramadu s isi Surabaya, kaki Suramadu sisi Madura, dan kawasan Tanjung Bulu Pandan, Bangkalan. Masing-masing kawasan tersebut akan menghabiskan sekitar 600 hektar lahan, sehingga total lahan pengembangan kawasan suramadu ditargetkan mencapai 1.800 hektar.

Tak heran , pemerintah sampai membentuk badan khusus yang akan dikembangkan menjadi Badan Usaha Milik Negara, yaitu Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS). Tak tanggung-tanggung, badan ini beranggotakan delapan menteri, kepala Badan Pertanahan Nasional, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, serta Gubernur Jawa Timur.

Menjelang peresmian Suramadu, berbagai tanggapan muncul terkait keberadaan BPWS, baik dari pemrov Jatim, Kota Surabaya, maupun empat kabupaten di Pulau Madura. Agar keberadaan BPWS tak men gurangi kewenangan otonomi daerah di kawasan Suramadu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengusulkan satu walikota dan empat bupati tersebut masuk dalam keanggotaan BPWS.

Namun, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto selaku Ketua Pelaksana Harian BPWS belum juga memberikan kejelasan terkait usulan tersebut. Masuk atau tidak masuk usulan tersebut yang jelas peran dan hak pemerintah daerah tak akan berkurang dengan keberadaan BPWS, ucapnya.

Tokoh masyarakat Madura Ahmad Zaini menyatakan, warga Madura menyambut baik tersambungnya akses langsung Pulau Jawa ke Madura melaui Jembatan Suramadu. Harapannya, keberadaan Jembatan Suramadu benar-benar mampu mendongkrak tingkat kesejahteraan masyarakat Madura.

Senada dengan Zaini, Sosiolog Universitas Airlangga Bagong Suyanto mengungkapkan, pengembangan Suramadu jangan sekedar dipahami dari aspek ekonomis semata. Namun, proyek ini merupakan kewajiban dan tanggungjawab moral negara untuk menyediakan fasilitas yang menyejahterakan masyarakat.

Rencana besar pengembangan wilayah Suramadu memang memberikan gambaran apik Pulau Madura di masa depan. Faizal dan penduduk Pulau Madura lainnya berharap, rencana besar tersebut tak hanya menjadi proyek bagi segelintir orang, tetapi menjadi era baru sejarah kebangkitan masyarakat Madura. (Aloysius Budi Kurniawan)

Sumber: kompas.com, Selasa, 9 Juni 2009

Suramadu Diresmikan

Kompas/Iwan Setiyawan
Ribuan warga dengan mengendarai motor mengantre masuk ke Jembatan Suramadu melalui pintu masuk tol di kawasan Tambakwedi, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/6). Setelah resmi dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jembatan seharusnya masih ditutup untuk pembersihan jalan pascaperesmian. Tingginya antusiasme warga untuk melalui jembatan tersebut membuat PT Jasa Marga selaku pengelola tol Jembatan Suramadu berinisiatif membuka akses bagi masyarakat umum

Kesejahteraan Masyarakat Madura Diharapkan Terangkat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan pengoperasian Jembatan Suramadu benar-benar mampu meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Madura.

Oleh karena itu, pembangunan Jembatan Suramadu harus ditindaklanjuti dengan pengembangan kawasan Surabaya-Madura secara terkoordinasi, terarah, dan terpadu.

Demikian diungkapkan Presiden Yudhoyono dalam peresmian Jembatan Suramadu, Rabu (10/6) di pintu tol Suramadu sisi Madura di Dusun Sumber Wungu, Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Secara khusus, pembangunan Jembatan Suramadu akan ditindaklanjuti oleh Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tentang BPWS.

”Libatkan semua pihak, termasuk tokoh-tokoh masyarakat, agar percepatan pengembangan wilayah Surabaya dan Madura berjalan baik. Dengan pembangunan Suramadu, masyarakat Madura diharapkan memiliki tingkat perekonomian yang lebih maju dan sejahtera. Namun, kemajuan itu jangan sampai mengganggu karakter dan sifat masyarakat Madura yang religius, Islami, dan penuh dengan adat istiadat,” ucapnya.

Secara khusus, Yudhoyono memberikan pesan kepada beberapa pihak, yaitu Menteri Pekerjaan Umum, PT Jasa Marga (Persero) selaku operator Jalan Tol Suramadu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan masyarakat Surabaya serta Madura.

Kepada Menteri PU Djoko Kirmanto dan para kepala daerah, Yudhoyono mengimbau mereka untuk meneruskan dan menuntaskan pembangunan sarana infrastruktur publik lain. Sedangkan PT Jasa Marga diharapkan memberikan pelayanan cepat, murah, dan aman kepada pengguna jasa Jembatan Suramadu.

Presiden mengatakan, dengan selesainya pembangunan Jembatan Suramadu, Pemerintah Provinsi Jatim diharapkan mencarikan jalan keluar bagi menurunnya pendapatan ekonomi sektor usaha kapal penyeberangan.

Wildan Jazuli, Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Jatim, menyambut positif beroperasinya Jembatan Suramadu. Diakui, kondisi penyeberangan Ujung-Kamal pasti terkena imbas dari Jembatan Suramadu. Kini masyarakat bisa memanfaatkan jalan darat untuk mencapai Madura dan tidak lagi bergantung pada penyeberangan.

Meski demikian, dia melihat masing-masing infrastruktur memiliki kelebihan dan kekurangan. Pengguna jasa bisa memutuskan, apakah memilih Jembatan Suramadu atau tetap menggunakan jasa feri.

Secara terpisah, Pemimpin PT ASDP Indonesia Ferry Surabaya Prasetyo B Utomo mengatakan, hingga saat ini pengusaha angkutan feri masih akan bertahan melayani penyeberangan Ujung-Kamal. Mereka baru akan menentukan sikap terhadap nasib armada feri mereka setelah satu hingga dua bulan Jembatan Suramadu beroperasi. ”Dua armada feri kami operasikan untuk layanan wisata di Suramadu pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tetapi 16 armada feri lainnya masih tetap beroperasi seperti biasa,” kata Prasetyo. (ABK/BEE/DAY)

Sumber: Kompas, Kamis, 11 Juni 2009

Suramadu Dilengkapi Anti Bom

Itu Usulan Kepolisian, Antisipasi Ancaman Teror

Suramadu di Waktu Malam

Satu peristiwa bersejarah bagi Madura, dan bahkan bangsa Indonesia, terjadi hari ini. Sebuah jembatan antarpulau terpanjang di negeri ini, yakni Jembatan Suramadu, secara resmi akan mulai dioperasikan pada Rabu (10/6) pagi ini.

Peresmian itu akan ditandai dengan penekanan tombol oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah acara di kaki Suramadu sisi Madura, tepatnya di Desa Sekar Bungah, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan.

Seiring dengan suka cita masyarakat dalam menyambut kehadiran jembatan sepanjang 5,438 kilo meter ini, pihak kepolisian ternyata juga sudah mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi menyusul pengoperasian Jembatan Suramadu itu.

Bahkan, pihak kepolisian sudah memiliki cara dan langkah pengamanan terhadap jembatan, yang satu kakinya berada di Kabupaten Bangkalan dan satu kaki lainnya berada di wilayah Kota Surabaya ini.

Menurut kepolisian, dengan fungsinya nanti sebagai jalur lalu lintas vital antara Madura dan Surabaya (serta Jatim pada umumnya), bukan tidak mungkin jembatan yang nilai investasinya sekitar Rp 4,5 triliun itu menjadi target ancaman teror.

Setidaknya, ukuran jembatan yang demikian panjang dan lebar, akan rawan jika di bagian-bagiannya dibiarkan begitu saja tanpa pengamanan memadai.

“Berdasarkan pengalaman kami, tingginya mobilitas orang dan barang di suatu kawasan, akan menambah tinggi pula tingkat kerawanannya,” kata Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Ronny F Sompie, Selasa (9/6).

Dengan tarif tolnya yang dipastikan pemerintah lebih murah dibandingkan tarif naik feri, Jembatan Suramadu memang diperkirakan bakal jadi jalur pilihan utama masyarakat dalam berlalu lintas antara Madura-Surabaya. Apalagi, untuk pulang-pergi Surabaya-Madura atau sebaliknya, lewat Suramadu lebih singkat daripada memakai feri.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto, tarif tol Suramadu paling mahal hanya akan sekitar 60 persen saja dari tarif feri. Ronny mengungkapkan, pihaknya telah mengusulkan agar di kawasan Jembatan Suramadu didirikan pos-pos polisi. Dalam menjalankan tugasnya, petugas kepolisian di pos akan berkoordinasi dengan petugas pengamanan setempat dari instansi terkait.

“Sudah kami usulkan untuk membuat pos polisi. Secara struktural, pos itu nanti di bawah komando Polsek Kenjeran, Polres Surabaya Timur,” jelas Ronny di sela pengamanan kunjungan Wapres Jusuf Kalla di Sidoarjo kemarin.

Sarana pengamanan lainnya yang juga diusulkan kepolisian adalah alat pendeteksi bahan peledak atau anti bom berupa metal detector. Peralatan ini, kata Ronny, wajib ada. Sebab, bisa jadi jembatan yang pembangunannya dimulai 2003 itu akan mendapat ancaman bom dari teroris.

“Teknis pengamanan Jembatan Suramadu ini sudah dibahas secara internal baik di Polwiltabes Surabaya, kepolisian di wilayah Madura maupun Polda Jatim,” ucap Ronny.

Perwira dengan tiga melati di pundak ini menambahkan, secara personel pihaknya sudah siap jika sistem pengamanan yang diusulkan itu diterapkan. Diperkirakan dibutuhkan tiga regu untuk pengamanan Jembatan Suramadu, dan setiap regu berisi 10 personel polisi. Mereka akan bertugas secara bergantian. Dalam setiap regu terdapat petugas dari satuan Gegana (penjinak bom) dan Polisi Pengairan (Pol Air).

Selain pengamanan di bagian pintu masuk jembatan, juga diusulkan pengamanan di sepanjang jalur jembatan berupa pemasangan kamera CCTV. Perlatan ini tak kalah penting dibandingkan metal detector karena kejahatan, kecelakaan atau aksi-aksi membahayakan (seperti bunuh diri) bukan tak mungkin terjadi di tengah-tengah jembatan.

“Di luar negeri, bunuh diri dengan meloncat dari jembatan seperti ini pernah terjadi. Karena itu, perlu diantisipasi,” tambahnya. Dengan memasang CCTV di bagian tengah jembatan, jika ada kejahatan atau orang berbuat nekat, petugas bisa lebih cepat bergerak mengatasi.

Tarif Masih Otot-ototan

Sehari menjelang peresmiannya, masalah besaran tarif tol Suramadu ternyata belum tuntas. Tarif yang sedianya sudah diumumkan kemarin, belum bisa dipublikasikan setelah pihak-pihak terkait yang membahasnya di Jakarta selama Senin (8/6) sore hingga larut malam belum bersepakat.
Para operator feri yang menguasai angkutan penyeberangan Ujung (Surabaya)-Kamal (Madura) bersikukuh agar tarif tol Suramadu tidak jauh beda dengan tarif feri.

Bahkan, operator feri keberatan kalau tarif tol Suramadu dibebaskan pada awal operasinya selama dua pekan.

“Kami bisa langsung mati kalau tarif jembatan itu dibebaskan,” kata Bambang Harjo, Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Danau, Sungai, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jatim, Selasa (9/6) pagi.

Bambang ikut serta dalam rapat membahas tarif tol Suramadu di kantor Ditjen Bina Marga, Jakarta.
Rapat tersebut digelar sebagai tindak lanjut atas protes yang dilancarkan operator feri. Rapat dihadiri pihak Ditjen Bina Marga, Ditjen Perhubungan Darat, PT Indonesia Ferry (dulu ASDP), Dinas Perhubungan Jatim, Gapasdap dan sejumlah elemen lainnya.

Menurut Bambang, meskipun feri tidak beroperasi (akibat tol Suramadu digratiskan selama uji coba dua pekan), pihak operator tetap mengeluarkan biaya, mulai dari biaya labuh, kru, dan bahan bakar. “Karena dalam kondisi berhenti, mesin kapal harus tetap hidup,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah menetapkan tarif yang kompetitif untuk menjaga kesinambungan feri Ujung-Kamal yang beroperasi sejak 1960-an itu. Diisulkan Gapasdap, selisih tarif feri dengan tarif tol Suramadu tidak terpaut jauh. “Jika kendaraan roda empat yang menggunakan feri Rp 70.000, maka tarif tol jembatan Rp 50.000. Itu baru kompetitif,” katanya.

Sebelumnya, Pemprov Jatim mengusulkan tarif tol Jembatan Suramadu untuk roda empat sebesar Rp 30.000 dan roda dua Rp 2.500 (tarif feri untuk roda dua Rp 6.000).

Sementara itu, pemerintah tampaknya tetap pada pendirian sebelumnya bahwa tidak mungkin tarif tol Suramadu sama dengan tarif feri. Bahkan, Menteri PU Djoko Kirmanto mengungkapkan bahwa variasi tarif tol Suramadu adalah 40, 50, dan 60 persen dari tarif feri.

Djoko mengaku, besaran tarif itu sudah ditetapkan, namun belum dia tandatangani karena menunggu proses finalisasi. “Tinggal saya teken. Tapi, sebelumnya harus ada dulu uji coba kelayakan pemakaian jembatan, sebagaimana aturan yang berlaku,” katanya.

Ia menyebutkan, uji coba itu memerlukan waktu sepekan hingga sebulan untuk mengetahui kenyamanan pengguna jalan, fungsi rambu-rambu lalu lintas, dan tingkat kerataan permukaan aspal jembatan.

Penetapan tarif itu, imbuh dia, sudah dibicarakan dengan Dephub dengan mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya kelangsungan feri Ujung-Kamal. “Kalau memang nanti feri-feri itu sudah tidak layak dan ditinggalkan masyarakat, tentu akan dipindahkan ke daerah lain,” kata Djoko. iit/jos/ame/st2/st30

Sumber: Surya, Rabu, 10 Juni 2009

SBY Resmikan Islamic Centre

Pembangunan gedung Islamic Centre kini sudah rampung. Peresmian gedung untuk kegiatan keagamaan yang menelan dana sekitar Rp 32 miliar direncanakan dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (10/6). Gedung Islmic Centre seluas 3.000 m2 terletak di Jl Panglegur, sekitar 2,5 km ke arah selatan kota, terdiri dari tiga lantai, seperti ruang perpustakaan, perkantoran dan auditorium yang mampu menampung 5.000 orang, berikut gerai untuk produk unggulan.

Dari bangunan terlihat kokoh dan menawan, dibangun dengan perpaduan gaya Timur Tengah modern dan Asia konvensional, sehingga terpancar kemegahan. Peletakan batu pertama pembangunan Islamic Centre dilakukan Wapres Hamzah Haz, semuanya bersumber dari APBD Pamekasan yang disisihkan sejak kepemimpinan Bupati Dwiatmo Hadiyanto 2000 lalu, kemudian dilanjutkan Bupati Achmad Syafii dan hingga sekarang Bupati KH Khalilurrahman.

Kepala Bagian Administrai Pembangunan Sekkab Pamekasan, Ajib Abdullah, Sabtu (5/6) mengatakan, pembangunan Islamic Centre sudah rampung 100 persen, tinggal perbaikan kecil saja dan siap diresmikan.

Anggota Komisi D DPRD Pamekasan, Khairul Kalam, berharap Islamic Centre harus diikuti dengan program pendukungnya, sehingga begitu pembanguannya selesai dan diresmikan, langsung berfungsi, agar pembanguan yang sudah menelan dana besar ini bermafaat, sesuai fungsinya.

Sedang Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Madura, Heru Budhi Prayitno menilai pembangunan Islamic Center sebagai proyek yang fenomenal dan harus dimanfaatkan dengan baik. “Kami khawatir, Islamic Centre ini hanya dijadikan tempat persewaan mantenan saja. Fungsi utama untuk kegiatan keagamaan terlupakan. Ini jangan sampai terjadi,” papar Heru. (st30)

Sumber: Surya, Minggu, 7 Juni 2009

Suramadu Tanpa Detektor Angin

Sementara, pengelola Jembatan Suramadu mengandalkan
ramalan BMG


Peresmian tinggal beberapa hari namun hingga kini detektor angin di Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) belum juga dipasang. Alhasil, rencana operasionalisasi pertama Jembatan Suramadu pada 13 Juni nanti tanpa kehadiran alat pengaman tersebut.

Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional V, A.G. Ismail mengakui pihaknya belum menyelesaikan pemasangan detektor angin tersebut. ”Kami masih berkoordinasi dengan Dephub,” kata Ismail, Jumat (5/6).

Meski begitu, pihaknya tetap mengoperasikan jembatan untuk umum pada 13 Juni nanti, tiga hari setelah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Peresmian sendiri akan dilakukan 10 Juni di Bangkalan. Selain infrastruktur yang sudah tuntas lebih dulu, pemilihan lokasi ini juga dijadikan simbol bahwa Jembatan Suramadu ”membuka” isolasi Madura.

Tiadanya detektor angin ini diklaim Ismail bisa diatasi. Langkah saat ini adalah bekerja sama dengan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) untuk memantau kecepatan angin. Tak hanya itu, pihaknya juga sudah menyiapkan tanda larangan bagi kendaraan yang memiliki tonase lebih dari 10 ton melewati jalur tersebut. Alat pengukur berat beban itu, weight in motion (WIM) sudah dipasang di sisi Surabaya maupun Madura. WIM adalah sebuah sensor kabel yang ditutup plester di atas permukaan jalan.

“Semua kendaraan yang melintasi jalur ini akan terpantau lewat monitor. Jika beratnya melewati batas yang ditentukan, petugas khusus akan menghentikan kendaraan itu dan memaksanya putar balik. Maklum, lebih dari tonase yang ditentukan bisa membahayakan jembatan,” tuturnya.

Meski deadline penyelesaian jembatan adalah Jumat (5/6) kemarin, namun pekerjaan belum tuntas juga. Pimpro masih menggarap pembangunan tol gate untuk sisi Surabaya yang belum tuntas. Bukan hanya itu, lampu navigasi lalu lintas laut juga belum terpasang. Kembali Ismail menyebut pihaknya masih berkoordinasi dengan Dishub. “Yang mengatur lalu lintas, kan, mereka,“ ujarnya. (k2)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 6 Juni 2009

Kelola Suramadu, Saham Jasa Marga Menjanjikan

Jembatan Suramadu (ANTARA/Eric Ireng)

"Perseroan tentunya akan menjadi operator jembatan tersebut selama 1,5 tahun."

Saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) layak diakumulasi, seiring proyeksi kinerja yang menjanjikan di tahun ini. Terutama, keberhasilannya menjadi pengelola jembatan Suramadu.

Menurut Maxi Liesyaputra, analis PT BNI Securities melalui risetnya yang diterima VIVAnews hari ini, perseroan telah dinyatakan sebagai pemenang seleksi (beauty contest) pengelolaan jembatan Suramadu yang dilakukan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

"Perseroan tentunya akan menjadi operator jembatan tersebut selama 1,5 tahun, sejak diresmikan Presiden RI pada 10 Juni 2009 mendatang," ujarnya.

Namun, kata dia, tarif yang akan dikenakan kepada pengguna jembatan sampai saat ini masih belum final.

Maxi mengakui, salah satu alasan terpilihnya JSMR sebagai operator jembatan tersebut karena perseroan menawarkan biaya pengoperasian yang paling rendah dibandingkan para peserta tender lain dan pengalaman panjangnya dalam mengelola bisnis jalan tol. "Hari ini direncanakan segala pekerjaan fisik jembatan Suramadu selesai," tuturnya.

Dia menilai, kabar tersebut akan memberikan sentimen positif yang signifikan terhadap potensi peningkatan kinerja perseroan. Pasalnya, jembatan Suramadu bernilai sangat strategis karena menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan laut yaitu antara Surabaya dan Madura, sehingga keberadaannya akan mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.

Namun, dirinya belum memasukkan potensi peningkatan kinerja JSMR dengan diperolehnya lisensi sebagai operator Suramadu. Tapi, untuk 2009 diperkirakan perseroan akan membukukan pendapatan sebesar Rp 3,65 triliun dengan laba bersih Rp 801 miliar.

Sementara itu, Maxi menilai, saat ini harga saham Jasa Marga sudah sedikit melebihi nilai wajarnya, sehingga dirinya mengubah rekomendasi menjadi HOLD dari sebelumnya BUY.

Sumber: VIVAnews, Jum'at, 5 Juni 2009

Uji Coba Suramadu Sukses

Uji Coba Suramadu
foto: Jawa Pos

10 Juni Siap Diresmikan

Meski pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) masih kurang sekitar satu persen lagi, mulai kemarin (6/6) jembatan sepanjang 5,4 km tersebut sudah bisa dilintasi kendaraan. Karena itu, hampir bisa dipastikan 10 Juni nanti pengoperasian Suramadu bisa diresmikan.

Kepastian tersebut terungkap setelah tim pelaksana proyek kemarin melakukan uji coba melintasi jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura itu. Uji coba dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Departemen PU Hermanto Dardak. Hasilnya, meski masih ada beberapa bagian yang kurang, Jembatan Suramadu dinyatakan sudah bisa dioperasikan mulai 10 Juni mendatang.

Dalam uji coba itu, Hermanto didampingi pelaksana proyek Suramadu yang dipimpin Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V A.G. Ismail serta para pimpro megaproyek tersebut. Uji coba yang dimulai pukul 07.00 itu dilakukan dalam dua sesi.

Sesi pertama, rombongan melintas menggunakan sepeda motor di jalur khusus dari arah sisi Surabaya ke sisi Madura. Setelah itu, sesi kedua dilanjutkan dengan uji coba menggunakan mobil lewat jalur tengah menuju arah sebaliknya.

"Tadi bisa dilihat sendiri kan? Secara umum, Suramadu sudah selesai dan bisa dilewati. Tinggal menyelesaikan beberapa bagian," kata Hermanto setelah uji coba. Ekspresi wajahnya tampak puas.

Menurut dia, praktis penyelesaian Suramadu tinggal beberapa bagian kecil saja. Pada bagian causeway, pelaksana proyek tinggal membenahi beberapa rambu jalan serta pembatas jalan yang belum terpasang.

Demikian pula di bentang tengah, tinggal beberapa pekerjaan yang kurang. Di antaranya, pengaspalan box girder dan pemasangan beberapa pembatas jalan yang belum rampung.

Seperti apa sih rasanya melintasi jembatan yang membentang di atas Selat Madura itu? Jawa Pos kemarin ikut dalam uji coba tersebut menggunakan sepeda motor. Secara umum, perjalanan cukup lancar. Saat melintas di sisi causeway hingga approach bridge yang lantai jembatannya berupa beton, masih terasa sedikit bergelombang. Baru setelah sampai di area main bridge, alas betonnya dilapisi aspal, rasanya lebih halus.

Yang terasa berbeda adalah embusan angin laut yang cukup kencang dirasakan pengendara. Akibatnya, laju sepeda tidak bisa normal seperti di jalan raya. Apalagi, saat motor dipacu dengan kecepatan lebih dari 60 km per jam, kendaraan akan sedikit bergoyang dan tidak stabil. Baru ketika kecepatan diturunkan jadi 40 km/jam, laju motor terasa lebih stabil.

Hermanto mengakui semua kondisi tersebut. Menurut dia, kondisi seperti itu merupakan karakteristik jika kendaraan melintasi jembatan di atas laut. Di sepanjang Suramadu, kecepatan angin berkisar 5-6 meter per detik. "Nah, agar bisa nyaman melintas di Jembatan Suramadu, kecepatan maksimal yang dianjurkan 40 km/jam. Di atas itu, kendaraan tidak bisa stabil," katanya.

Demikian pula saat melintasi jalur mobil. Jika dipacu terlalu kencang, mobil tidak bisa stabil karena terkena terpaan angin laut. "Karena itu, saat melintas di Suramadu, hendaknya pengendara menggunakan kecepatan normal, sekitar 60 km/jam," tegasnya.

Bagaimana dengan tarif tol Suramadu? Hermanto belum bisa memastikan. Menurut dia, pembahasan tarif masih berlangsung dan sudah masuk tahap akhir. "Yang jelas di bawah tarif feri," ujarnya.

Tolak Masuk BPWS

Sementara itu, rencana pemerintah pusat menggandeng Pemkot Surabaya dalam pengembangan wilayah Suramadu, tampaknya, tidak berjalan mulus. Sebab, sampai kemarin Wali Kota Bambang D.H. masih menolak masuk dalam Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Alasannya, BPWS bertentangan dengan prinsip-prinsip otonomi daerah.

Bambang menjelaskan, pihaknya akan meletakkan permasalahan BPWS secara proporsional. Menurut dia, jika pengelolaan Suramadu ditangani BPWS, semua akan kembali ke pusat. Segala proses perizinan yang berkaitan dengan pengembangan Suramadu akan ditangani pemerintah pusat. Padahal, selama ini semua cukup ditangani pemerintah kabupaten/kota.

Dia berharap pengembangan Suramadu diserahkan kepada daerah sesuai semangat otonomi daerah. "Biarlah dikelola daerah karena selama ini telah menjadi sumber pemasukan bagi kami," ungkap Bambang setelah membuka workshop pendidikan ramah bagi anak di Hotel Singgasana kemarin.

Tapi, soal penataan ruang di sekitar Suramadu, pihaknya akan mendukung penuh. "Kalau soal penataan ruang, pemkot siap mendukung. Tak ada masalah," katanya.

Menurut dia, selama ini pembangunan di daerah belum merata. Karena itu, dengan adanya Jembatan Suramadu, diharapkan pembangunan bisa dirasakan di daerah-daerah yang belum tersentuh. "Bukan hanya Surabaya yang berkembang, tapi daerah lain juga harus berkembang," tegasnya.

Dia menuturkan, sudah saatnya pembangunan bisa dirasakan daerah-daerah lain. Tidak menumpuk di Surabaya saja. "Seperti gula dengan semut. Gula itu bisa dibagi ke daerah-daerah lain," ungkapnya.

Setelah Surabaya-Madura tersambung, diharapkan keduanya bisa berbagi peran untuk saling melengkapi. Jika Madura ingin membangun terminal peti kemas, misalnya, jangan sampai kemudian berebut pasar dengan Surabaya.

"Kedua daerah harus melengkapi satu sama lain. Karena itu, pembangunan kedua daerah harus bisa saling terintegrasi," tuturnya. (ris/lum/ari)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 07 Juni 2009

Gubernur Jatim Bantah Peresmian Suramadu Terkait Pilpres

Gubernur Jatim Soekarwo (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Gubernur Jawa Timur Soekarwo membantah rencana peresmian jembatan Suramadu pada 10 Juni mendatang terkait pemenangan salah satu calon presiden (capres) pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2009.

"Tidak lah ini kan memang selesainya Juni. Tidak ada kaitan dengan politik," kata Soekarwo sebelum mengikuti pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan sejumlah ulama Jawa Timur di Surabaya, Kamis malam.

Menurut Soekarwo, peresmian Suramadu sudah dipastikan akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni mendatang.

"Presiden yang akan resmikan, tapi ini tidak terkait pilpres," katanya.

Menurut gubernur, pembangunan Suramadu sudah masuk tahap akhir pemasangan pagar dan lampu di pinggir jembatan.

Tanggal 25 Mei, katanya, sejumlah menteri akan mencoba langsung melintasi jembatan tersebut dengan mengendarai sepeda motor untuk melihat langsung kesiapan jembatan itu.

"Mereka sekalian akan mengetes hembusan angin di tengah jembatan yang dikhawatirkan bisa membahayakan pengendara motor," katanya.

Soekarwo mengatakan jembatan itu dipastikan selesai 100 persen pada 8 Juni atau dua hari sebelum peresmian oleh presiden.

Jumat pagi besok, Presiden akan menuju kantor proyek pembangunan Suramadu dan akan disambut Menteri PU Djoko Kirmanto dan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono.

Usai menerima paparan kemajuan pembangunan Suramadu, Presiden akan meninjau langsung ke lokasi jembatan tersebut didampingi Gubernur Jatim Soekarwo.

Usai peninjauan, presiden akan melakukan shalat Jumat di Masjid Sunan Ampel Surabaya, yang akan disambut Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi dan pengurus masjid Ampel.

Presiden dijadwalkan memberikan sambutan dalam shalat Jumat tersebut.

Usai shalat Jumat, Presiden langsung menuju Bandara Juanda untuk melanjutkan perjalanan menuju Denpasar, Bali.

Jembatan Suramadu adalah jembatan terpanjang di Indonesia saat ini, yang menjadikannya salah satu landmark dan ikon Indonesia, khususnya masyarakat Jawa Timur. Jembatan Suramadu memiliki panjang 5.438 m dan menghubungkan pulau Jawa (di Surabaya) dan pulau Madura (di Bangkalan).

Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur.

Jembatan ini diresmikan awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini adalah Rp4,5 triliun.(*)

Sumber: Antara, Kamis, 21 Mei 2009

Melintasi Suramadu Nyaman pada 40 Km Per Jam

Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura, tampak membentang pada sisi Tambak Wedi Surabaya, Selasa (04/03/08).
(ANTARA/Eric Ireng/mes)

Pengendara sepeda motor yang melintas di Tol Suramadu (Surabaya-Madura) Jawa Timur sepanjang 5,4 kilometer, disarankan melaju dengan kecepatan ideal 40 kilometer per jam sehingga tetap nyaman ketika angin laut bertiup kencang.

Menurut Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak, di Surabaya Sabtu, pada tingkat kecepatan itu, pengendara akan lebih santai dan terasa nyaman saat mengemudikan motornya, selain akan mudah mengendalikan kecepatannya saat angin bertiup kencang.

"Melalui lebar jalur sepeda motor yang mencapai tiga meter, kendaraan yang melintasi jalur tersebut masih bisa saling mendahului. Namun demikian, bukan berarti mereka bisa saling kebut-kebutan. Karena jalur tersebut berbeda dengan jalur jalan di darat dan kecepatan angin laut di jembatan tersebut juga harus diperhatikan," ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi badan jalan pada jalur motor di sisi Surabaya dan Madura berbeda dengan kondisi di bentang tengah. Di sisi Surabaya dan Madura, badan jalan terbuat dari struktur beton. Karena terbuat dari beton, unsur kerataan jalan tidak semulus yang terbuat dari aspal.

"Badan jalan yang terbuat dari beton lebih memiliki kecenderungan jalannya bergelombang, sedangkan di bentang tengah sepanjang 818 meter, lajur sepeda motor terbuat dari aspal," katanya.

Bahan pembuat jalan dibuat berbeda karena menyesuaikan dengan konstruksi jembatan. Di causeway sisi Surabaya dan Madura konstruksinya berasal dari pilar-pilar dengan struktur beton.

Sementara, di bentang tengah tepatnya di Main Span struktur konstruksinya terbuat dari baja, sehingga lebih tepat menggunakan aspal pada badan jalan jalur motor.

"Ketika melintas di jalur motor di bentang tengah, kecenderungan pengendara untuk menambah kecepatannya kemungkinan besar terjadi. Apalagi, jalannya lebih halus dan di lokasi tersebut mereka akan merasa seperti benar-benar di tengah laut, terutama dengan melihat indahnya pilar utama Jembatan Suramadu yang kokoh," katanya.

Pelaksana proyek dan petugas operator jembatan akan terus melakukan sosialisasi kepada pengendara.

Sesuai data uji coba oleh konsultan pada tanggal 3 April lalu, kecepatan angin pada pagi hari dari antara pukul 07.00-09.00 WIB berkisar 3,4 hingga 4,1 meter/detik dalam kondisi cuaca cerah.

Siang hari saat cuaca gerimis, sekitar pukul 13.00-14.00 WIB kecepatan angin berkisar 5,5 hingga 8,7 meter/detik. Sore hari antara pukul 17.00-18.00 WIB kecepatan angin berkisar 2,4 sampai 4,2 meter/detik dalam kondisi cuaca berawan.

Pada malam hari antara pukul 20.00-21.00 WIB kecepatan angin berkisar 5,2 hingga 6 meter/detik dalam kondisi cuaca cerah.

Ia menyarankan kepada pengendara agar waspada ketika kecepatan angin mencapai 11 meter/detik karena dapat membahayakan pengendara motor.

"Saat kecepatan angin mencapai nilai 11 meter/detik, jalur sepeda motor akan ditutup secara otomatis dan tidak boleh dilintasi," katanya.

Sumber: Antara, Sabtu, 6 Juni 2009

Terbuka Investor Asing

Dampak dari pembukaan jembatan Suramadu hadirnya investor-investor baru yang ingin mengembangkan usahanya di pulau Madura. Bupati Pamekasan Kholilurrahman bakal memberikan peluang masuknya investor yang ingin menanamkan modalnya di Pamekasan.

Namun, para aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Madura, menolak hadirnya ivestor asing. Kordinator Alumni GMNI Madura Zamhari SIp meminta agar pemerintah daerah di Madura tidak memberi jalan bagi masuknya investor asing ke Madura.

”Saya tidak ingin Madura ini terjadi seperti di Batam, dimana Batam adalah masuk wilayah Indonesia, namun yang menguasai ekonomi disana adalah orang Malaysia dan Singapura. Karena masyarakatnya sendiri disana tidak siap,” kata Zamhari saat ditemui Surabaya Post disela sela menghadiri acara Konprensi Cabang GMNI Pamekasan di Hotel Kemuning, Sabtu (6/6).

Zamhari mengatakan dalam menghadapi akslerasi pembangunan di Madura, masyarakat Madura sendiri harus mendapatkan prioritas, baik untuk menjadi tenaga pekerja maupu dalam menikmati hasil hasil pembangunan secara umum. Karena itu pemerintah daerah di Madura harus peka dan jeli untuk tidak sembarangan menerima masuknya investor asing yang sekiranya akan memarjinalkan warga Madura sendiri.

Kalau memang terpaksa harus menerima kehadiran investor asing ke Madura, Zamhari meminta agar pemerintah daerah di Madura memberikan pensyaratan yang tegas, misalnya pensyaratan itu harus menguntungkan masyarakat Madura sendiri. ”Pensyaratan ini diantaranya juga berkaitan dengan aspek budaya dan lingkungan sosial Madura yang jangan sampai terkoyak koyak,”jelasnya.

Sementara itu Bupati Pamekasan Drs Kholilurrahman SH mengatakan bahwa tidak mungkin menutup peluang investor asing masuk ke Pamekasan. Ia mengatakan siapa saja bisa menamankan modalnya di Pamekasan selama itu menguntungkan bagi masyarakat Pamekasan, dan juga mengikuti aturan main.”Begitu cara berfikirnya, kita tetap terbuka pada siapa saja,” katanya.

Bupati Kholil menegaskan bahwa tak ada jaminan menomor satukan investor lokal maupun nasional bisa benar-benar menguntungkan dan bermanfaat bagi Pamekasan. Karena itu sekalipun investor asing namun program dan proyek yang dijalankannya banyak bermanfaat bagi masyarakat harus tetap diterima. ”Kita tak perlu diskriminatif lah, tidak mungkin itu,” tandasnya.

Dia menyarankan agar masyarakat Madura tidak jadi tamu di daerahnya sendiri, maka mengantisipasi dioperasionalkannya jembatan Suramadu, maka masyarakat Madura secepatnya harus memperbaiki SDM-nya, membuka cakrawala berfikir menghadapi kemajuan dan perubahan, namun tetap tidak menghilangkan dasarnya sebagai masyarakat religius. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 7 Juni 2009

Suramadu Tinggal Satu Persen

Menurut jadwal yang ditetapkan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto, Jumat kemarin merupakan batas waktu terakhir penggarapan Suramadu. Jembatan dan semua kelengkapannya harus kelar. Namun, sampai kemarin jembatan sepanjang 5,4 km itu belum rampung 100 persen.

"Pembangunan jembatan keseluruhan sudah kami selesaikan hampir 100 persen. Ya, sekitar 99 persen. Hanya beberapa bagian kecil yang masih perlu dilengkapi," kata Kepala Balai Besar Jalan Nasional V Departemen PU Ahmad Ghofar Ismail.

Beberapa bagian yang sedang dilengkapi itu, menurut dia, antara lain pintu untuk jalan sepeda motor di sisi Surabaya, lampu penerangan jalan di bentang tengah, pengecatan markah, dan pengencangan mur-baut pada pembatas jalan di bentang tengah. Sedangkan pagar pembatas di jalur sepeda motor dari sisi Surabaya dan Madura sudah terpasang seluruhnya.

Saat dioperasikan nanti, kata dia, pihaknya membatasi jenis kendaraan berat. Meski dirancang mampu dilewati 9.000 kendaraan roda dua dan 6.000 kendaraan roda empat sekali lewat, kendaraan berbobot lebih dari 10 ton tidak diizinkan lewat.

Departemen PU berkerja sama dengan Jasa Marga selaku pengelola tol akan memasang rambu peringatan, berat kendaraan maksimal 10 ton. "Kendaraan yang lebih dari 10 ton tidak boleh masuk jembatan dan harus balik memutar. Kami akan memasang alat pemantau weight in motion semacam kabel sensor di sisi Surabaya dan Madura," jelas Ismail.

Pria asal Semarang itu tidak membatasi kendaraan di bawah 10 ton, meski truk gandeng. Sesuai rancangan, bentang tengah Suramadu sanggup menahan beban sekitar 40 kendaraan roda empat atau lebih.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kemacetan, Suramadu dilengkapi lima u-turn untuk putar balik. "Lima u-turn itu masing-masing dua di sisi Madura dan Surabaya dan satu di bentang tengah," katanya.

Jembatan itu juga dilengkapi lampu navigasi laut untuk mengatur arus lalu lintas kapal di bawah bentang tengah. Fungsinya untuk mencegah insiden kapal menabrak atau menyenggol kaki jembatan.

Di tempat terpisah, Dirjen Bina Marga Departemen PU Hermanto Dardak mengungkapkan, setelah diresmikan, akan diikuti uji coba operasi Suramadu selama dua minggu. Dalam uji coba itu, pihaknya menerapkan kendaraan yang lewat hanya yang memenuhi kualifikasi jenis dan bobotnya. "Selama uji coba tidak dikenai tarif masuk. Pengguna jembatan hanya diberi karcis untuk uji coba ketertiban," terangnya.

Namun, uji coba gratis tersebut memantik protes Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jatim. Menurut Ketua Gapasdap Jatim Bambang Harjo, pembebasan tarif selama dua minggu tersebut mengancam pendapatan feri di penyeberangan Ujung-Kamal. "Dua minggu terlalu lama. Sebenarnya dua hari saja digratiskan," kata Bambang.

Sementara itu, untuk ikut meramaikan peresmian Jembatan Suramadu pada Rabu nanti, pengusaha ASDP menyiapkan dua kapal wisata. "Kapal wisata ini hanya beroperasi saat peresmian," jelas B. Rudianto, ketua DPC Gapasdap.

Penumpang akan dibawa melihat peresmian dari bawah jembatan. "Tidak hanya dua kapal (feri) itu yang di bawah jembatan nanti. Mungkin ada 12 kapal lain dari berbagai instansi," ujarnya. Di antaranya, Bea Cukai, Administrasi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelayaran Rakyat (Pelra), Distrik Navigasi, dan Pelindo III Tanjung Perak Surabaya. (sep/nam/cfu)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 06 Juni 2009

Pantai Lombang Jadi Sengketa

Ratusan warga Batang-batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Ahad (31/5), mengawal petugas pengadilan mengukur batas lahan di kawasan wisata Pantai Lombang. Hasil pengukuran akan dipakai sebagai bahan gugatan di meja hijau. Sengketa lahan antara warga dan Dinas Pariwisata Sumenep mulai disidang di Pengadilan Negeri setempat, pekan depan. Warga tetap mengklaim lahan yang terkenal dengan pohon cemara udangnya itu sebagai milik mereka. Sengketa itu sudah terjadi sejak 1985.(OMI)

Sumber: liputan6, 31/05/2009

Dewan Pengarah Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura

Libatkan Bupati di Madura dan Wali Kota Surabaya

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengusulkan empat bupati di Pulau Madura dan Wali Kota Surabaya masuk dalam Dewan Pengarah Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura. Tujuannya, mereka sebagai bagian pemangku kepentingan wilayah Suramadu dapat terlibat dalam perumusan kebijakan pengelolaan kawasan Surabaya dan Madura.

Demikian diungkapkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Kamis (4/6) di Surabaya. "Pemprov Jawa Timur mengusulkan agar lima bupati dan satu wali kota, yaitu Bupati Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, serta Wali Kota Surabaya, dimasukkan dalam Dewan Pengarah BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura). Dengan demikian, mereka dilibatkan dalam setiap perumusan kebijakan," ucapnya.

Secara umum, dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tentang BPWS disebutkan, BPWS terbagi dalam dua struktur, yaitu dewan pengarah dan badan pelaksana. Dewan pengarah diketuai Menteri Koordinator Perekonomian, Ketua Pelaksana Harian Menteri Pekerjaan Umum, dan Sekretaris Dewan Pengarah dijabat oleh Sekjen Departemen Pekerjaan Umum.

Anggota Dewan Pengarah BPWS terdiri dari delapan menteri, Kepala Badan Pertanahan Nasional, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Gubernur Jatim. Dalam bagian inilah diharapkan empat bupati di kawasan Pulau Madura dan Wali Kota Surabaya masuk di dalamnya.

Soekarwo menambahkan, terjadi perubahan struktur Badan Pelaksana BPWS. Pada awalnya hanya terdiri dari kepala badan pelaksana, sekretaris badan pelaksana, deputi bidang perencanaan, dan deputi bidang pengendalian, kini ditambah satu struktur, yaitu wakil kepala badan pelaksana.

Menurut Soekarwo, meski Jembatan Suramadu segera beroperasi 10 Juni 2009, BPWS belum dapat beroperasi secara penuh. "Badan ini baru akan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) yang akan mengembangkan tiga wilayah, yaitu satu sisi Surabaya dan dua wilayah di Madura. Pengoperasian ruas tol Jembatan Suramadu dalam 18 bulan pertama akan ditangani Badan Pengelola Jalan tol," ucapnya.

Terkait dengan tarif lintasan di Jembatan Suramadu, Soekarwo mengungkapkan, tarif penyeberangan sepeda motor akan dipatok Rp 2.500 per unit dan sekitar Rp 35.000 per unit kendaraan roda empat. Tarif tersebut relatif murah dibanding tarif penyeberangan melalui kapal feri di Ujung-Kamal, yaitu Rp 5.800 untuk kendaraan roda dua dan Rp 65.000 untuk kendaraan roda empat.

Secara terpisah, Ikatan Pemuda Madura Indonesia (IPMI) menuntut agar pemerintah mengkaji ulang rencana penerapan tarif penyeberangan di Jembatan Suramadu. Alasannya, masyarakat sudah "membayar" pembangunan Jembatan Suramadu melalui pajak yang terwujud dalam bentuk APBN dan APBD. (ABK)

Sumber: Kompas, Jumat, 5 Juni 2009