Sampai dengan akhir April 2009, pembangunan Jembatan Nasional Surabaya-Madura atau Suramadu mencapai 96,28 persen. Dengan demikian, penyelesaian pembangunan jembatan sepanjang 5.438 meter ini tinggal empat persen lagi.
Pembangunan Jembatan Suramadu masih menyisakan tiga bagian, meliputi jalan pendekat mencapai 94,05 persen, pemasangan cable stay 95,89 persen, dan dua bagian jembatan pendekat (approach bridge) sekitar 91,05 persen.
Kepala Satuan Kerja Sementara (SKS) Pembinaan Proyek Jembatan Nasional Suramadu Yudha Handita mengatakan, akhir April pilar ini pilar jembatan pendekat di sebelah timur tersambung. “Saat ini pilar 36 dan pilar 37 jembatan pendekat sisi Surabaya telah tersambung. Sedangkan jembatan pendekat sisi Surabaya sebelah barat baru akan tersambung akhir Mei,” ucapnya di Surabaya, Jumat (24/4) .
Menurut Yudha, tersambungnya jembatan pendekat sebelah barat pada bulan Mei dihitung berdasarkan waktu penyelesaian pekerjaan. Pembangunan tiap sat u segmen membutuhkan waktu rata-rata tujuh hingga delapan hari, padahal sampai saat ini pembangunan pilar jembatan pendekat masih kurang 16 meter atau empat segmen.
Berdasarkan pemantauan Kompas, sejak Selasa (14/4) lalu, pembangunan jembatan pendekat (approach bridge) sisi Surabaya sebelah barat belum menunjukkan kemajuan. Pertengahan bulan April lalu, Kepala SKS Pembangunan Jembatan Suramadu Bentang Tengah Atyanto Busono mengungkapkan pencapaian yang sama, yaitu kurang 16 meter atau empat segmen.
Sosialisasi
Untuk mempersiapkan Jembatan Suramadu yang rencananya akan beroperasi 12 Juni 2009 mendatang, mulai pekan ini tim SKS Jembatan Nasional Suramadu melakukan sosialisasi Jembatan Suramadu melalui media radio. Isi sosialisasi, antara lain tentang pengatur an lalu lintas di akses jalan menuju Suramadu, teknologi pengoperasian Jembatan Suramadu, serta pemeliharaan Jembatan Suramadu.
Berdasarkan hasil survei tim SKS Jembatan Suramadu, moda transportasi sepeda motor dipastikan bisa melewati Jembatan Suramadu. Namun, sepeda motor hanya diperbolehkan melintas saat kecepatan angin aman bagi sepeda motor, yaitu di bawah 11 meter per detik.
Untuk memastikan keamanan kendaraan yang melintas di atas Jembatan Suramadu, Departemen Pekerjaan Umum akan membangun pusat monitor ing kondisi cuaca, khususnya angin. ”Jika kecepatan angin sudah mencapai 11 meter per detik atau sekitar 40 kilometer per jam, maka jembatan harus ditutup demi keselamatan pengendara,” jelas Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum A Hermanto Dardak.
Berdasarkan hasil survei, dalam periode 100 tahun, kecepatan angin di tengah jembatan dapat mencapai kisaran 27 meter per detik atau sekitar 100 kilometer per jam. Konstruksi Jembatan Suramadu didesain mampu menahan terpaan angin maksimal 60 meter per detik. (abk/kcm)
Sumber: Surya, Jumat, 24 April 2009
Dua Siswa SMAN 1 Pamekasan Berangkat ke Olimpiade Fisika Se Asia
Labels:
peristiwa
Ikuti Jejak Andi, Harap Dukungan Warga
Pamekasan bisa dikata selalu memiliki keunggulan dalam bidang sains. Setelah sukses Andi Octavian Latief, kini dua adik kelasnya mengikuti jejak dalam Olimpiade Fisika Se Asia.
Sukses Andi - sapaan Andi Octavian Latief - memang membuat gempar Pamekasan, Jawa Timur dan bahkan Indonesia. Maklum, dia mampu mempersembahkan medali emas untuk Indonesia pada ajang Olimpiade Fisika tingkat Asia.
Prestasi Andi itu terus memacu sejumlah adik kelas untuk mengikuti jejaknya. Dan, ternyata semangat Andi yang ditularkan kepada adik - adiknya mulai terlihat. Terbukti, saat ini ada dua pelajar Pamekasan yang sedang berjuang di tingkat internasional.
Dua anak itu adalah Mohammad Shohibul Maromi dan Ali Ikhsanul Qouli, keduanya siswa SMAN 1 Pamekasan. Bisa dikata, keduanya tak hanya membuat bangga warga Pamekasan saja, tapi seluruh Indonesia patut berbangga.
Mereka sedang berjuang mempertaruhkan nama baik bangsanya di negeri Thailand. Di sana, mereka berjuang dalam Kompetisi Fisika Internasional Se Asia (APHO).
Ali - sapaan akrab Ali Ikhsanul Qouli, tercatat sebagai siswa kelas XI IPA D di SMAN 1. Sementara Romi, panggilan - Moh Shohibul Maromi adalah siswa kelas XI IPA D pada sekolah yang sama.
Kompetisi yang digelar sejak kemarin hingga 2 Mei mendatang itu merupakan rentetan OSN (Olimpiade Sains Nasional) yang digelar 2008 lalu. Ketika itu, keduanya lolos seleksi tingkat nasional.
Sebelumnya, kedua siswa tersebut lolos tingkat provinsi. Saat itu, mereka masuk sepuluh besar dari 231 peserta olimpiade se Indonesia. Kini, prestasi tersebut telah mengantarkan mereka ke Bangkok, Thailand.
"Pak, hari ini TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) berangkat. Pesawat berangkat jam 11.30 WIB. Mohon doanya Pak. Mudah - mudahan perjalanan lancar" begitu pesan singkat (SMS) yang dikirim Romi kepada bagian kesiswaan SMAN 1 Pamekasan Sutrisno kemarin.
Sementara, Kasek SMAN 1 Pamekasan Basyoir memohon bantuan doa dari segenap masyarakat. Khususnya, masyarakat di seluruh wilayah Pamekasan. Mengingat, kata dia, jika berhasil dalam tingkat Asia, Ali dan Romi akan dikirim untuk tingkat dunia.
"Saya sangat bangga, saya berharap mereka berhasil. Tidak hanya tingkat Asia, tapi sampai tingkat dunia nanti" harap Basyoir. (FERI FERDIANSYAH)
Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 25 April 2009
Pamekasan bisa dikata selalu memiliki keunggulan dalam bidang sains. Setelah sukses Andi Octavian Latief, kini dua adik kelasnya mengikuti jejak dalam Olimpiade Fisika Se Asia.
Sukses Andi - sapaan Andi Octavian Latief - memang membuat gempar Pamekasan, Jawa Timur dan bahkan Indonesia. Maklum, dia mampu mempersembahkan medali emas untuk Indonesia pada ajang Olimpiade Fisika tingkat Asia.
Prestasi Andi itu terus memacu sejumlah adik kelas untuk mengikuti jejaknya. Dan, ternyata semangat Andi yang ditularkan kepada adik - adiknya mulai terlihat. Terbukti, saat ini ada dua pelajar Pamekasan yang sedang berjuang di tingkat internasional.
Dua anak itu adalah Mohammad Shohibul Maromi dan Ali Ikhsanul Qouli, keduanya siswa SMAN 1 Pamekasan. Bisa dikata, keduanya tak hanya membuat bangga warga Pamekasan saja, tapi seluruh Indonesia patut berbangga.
Mereka sedang berjuang mempertaruhkan nama baik bangsanya di negeri Thailand. Di sana, mereka berjuang dalam Kompetisi Fisika Internasional Se Asia (APHO).
Ali - sapaan akrab Ali Ikhsanul Qouli, tercatat sebagai siswa kelas XI IPA D di SMAN 1. Sementara Romi, panggilan - Moh Shohibul Maromi adalah siswa kelas XI IPA D pada sekolah yang sama.
Kompetisi yang digelar sejak kemarin hingga 2 Mei mendatang itu merupakan rentetan OSN (Olimpiade Sains Nasional) yang digelar 2008 lalu. Ketika itu, keduanya lolos seleksi tingkat nasional.
Sebelumnya, kedua siswa tersebut lolos tingkat provinsi. Saat itu, mereka masuk sepuluh besar dari 231 peserta olimpiade se Indonesia. Kini, prestasi tersebut telah mengantarkan mereka ke Bangkok, Thailand.
"Pak, hari ini TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) berangkat. Pesawat berangkat jam 11.30 WIB. Mohon doanya Pak. Mudah - mudahan perjalanan lancar" begitu pesan singkat (SMS) yang dikirim Romi kepada bagian kesiswaan SMAN 1 Pamekasan Sutrisno kemarin.
Sementara, Kasek SMAN 1 Pamekasan Basyoir memohon bantuan doa dari segenap masyarakat. Khususnya, masyarakat di seluruh wilayah Pamekasan. Mengingat, kata dia, jika berhasil dalam tingkat Asia, Ali dan Romi akan dikirim untuk tingkat dunia.
"Saya sangat bangga, saya berharap mereka berhasil. Tidak hanya tingkat Asia, tapi sampai tingkat dunia nanti" harap Basyoir. (FERI FERDIANSYAH)
Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 25 April 2009
Ketua KPPS Tewas D igorok
Labels:
peristiwa
Sekujur Badan Luka Parah
Moh Hasim, 39, warga Dusun Sendir Timur, Desa Sendir, Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, tewas mengenaskan. Hampir sekujur tubuh ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Tempat Pemungutan Suara (TPS) 3 Sendir ini penuh luka sayatan, dan lehernya digorok.
Jenazah Moh Hasyim ditemukan oleh Supandi, 40, warga Desa Muangan, Seronggi, Sumenep, Selasa (21/4) sekitar pukul 06.00 WIB. Jenazah ini ditemukan di pematang sawah, sekitar 200 meter dari rumah tempat tinggal korban, yang juga imam masjid desa setempat.
Setelah dilaporkan ke polisi, jenazah korban pembunuhan tersebut dibawa ke Rumah Sakit Daerah (RSD) dr H Moh Anwar Sumenep untuk diautopsi. Hasil autopsi, korban menderita luka serius di kepala, wajah, dua pergelangan tangan nyaris putus, luka menganga di paha, perut, dan leher digorok sehingga nyaris putus.
Kapolsek Lenteng, AKP Moh Syakrani, ketika ditemui Surya di lokasi pembunuhan menduga Moh Hasyim dibunuh pada Senin (20/4) malam kemudian jenazahnya baru ditemukan Selasa (21/4) pagi oleh warga yang akan berangkat ke sawah. Dilihat dari luka korban, katanya, pelaku diduga lebih dari satu orang.
“Dilihat dari luka dan darah yang ada di tubuh korban, diyakini korban dihabisi malam hari karena darah yang menempel di tubuh korban yang sudah mengental,” ujar Syakrani. Dia menambahkan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menemukan banyak telapak kaki bermacam bentuk. “Barang berharga korban berupa handphone hilang, diduga dibawa kabur pelaku,” kata kapolsek.
Karena korban menjabat ketua KPPS 3 Desa Sendir, maka kematian bapak tiga anak ini memunculkan isu bahwa pembunuhan Hasim dilatarbelakangi Pemilu Legislatif 9 April lalu. “Kalau bermotif dendam karena masalah lain, rasanya tidak. Karena, dia sangat baik dengan siapapun, tak pernah saya dengar dia bertengkar dengan orang lain,” ujar Hermanto, teman korban.
Namun Hermanto tak berani memastikan apakah Hasim dibunuh karena kasus pemilu. Hanya, dia juga mengatakan bahwa korban sempat bercerita bahwa sebelum pemilu dirinya pernah didatangi tim sukses yang akan memberi uang untuk pemenangan pemilu. “Katanya dia menolak, karena tak mungkin dia akan jual beli suara dalam pemilu,” ucapnya.
Secara terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumenep, Thoha Samadi, kaget mendengar kabar kasus pembunuhan Hasim. “Kami berharap kasus pembunuhan ini tidak ada kaitannya dengan Pemilu Legislatif yang lalu. Bila ada kaitannya, sungguh sangat terkutuk,” tandasnya.
Dia meminta polisi segera menangkap pelakunya dan secara terbuka mengungkapkan motif pembunuhan. “Ini sangat sensitif. Kalau benar motifnya terkait pemilu, pasti akan menjadi preseden buruk bagi pelaksanaan pemilu selanjutnya dan berimbas pada KPPS lain,” kata Thoha.
Tak Terkait Pemilu
Sedangkan Kapolres Sumenep, AKBP Umar Effendi –meski belum menangkap tersangka pelaku pembunuh Hasim– menegaskan bahwa kasus itu tidak terkait pemilu. Karena, katanya, korban sudah tidak lagi menjabat ketua KPPS setelah pemilu berakhir.
“Sekarang sudah tidak ada lagi warga Sumenep yang menyandang jabatan sebagai anggota maupun ketua KPPS karena pemilunya sudah usai,” tandas kapolres.
Untuk menuntaskan kasus tersebut, polisi bergerak cepat, antara lain memeriksa dua orang saksi, yakni Supandi, 40, dan Moh Saleh, 40. Supandi adalah warga yang menemukan jenazah korban, sedangkan Saleh merupakan tetangga Hasim yang menerima kabar telepon dari Supandi bahwa Hasim tewas digorok.
Kasatreskrim Polres Sumenep, AKP Mualimin SH, yang ditemui di rumah korban mengatakan bahwa –sesuai informasi pihak keluarga– selama ini Hasim dikenal sebagai orang baik yang tak punya musuh.
Dia sering membantu masyarakat setempat menggagalkan pencurian sapi yang saat ini marak terjadi. “Itu informasi yang saya dengar. Pastinya, kami masih perlu melakukan penyelidikan dan meminta keterangan saksi maupun pihak keluarga korban,” ujar Mualimin.
Adapun menurut Heri, 27, tetangga korban, selama ini Hasim tidak pernah punya masalah dengan siapapun. Sehari-hari Hasim bekerja sebagai petani biasa. Hampir setiap saat, katanya, Hasim berada di masjid, antara lain mengajar mengaji, dan bila salat Jumat menjadi khotib atau imam.
“Rumah korban berdampingan dengan Masjid sehingga dia dipercaya menjadi takmir. Tidak mungkin dia punya musuh,” ujar Heri, dibenarkan beberapa warga lain.
Heri dan para tetangga Hasim lain berharap polisi bisa segera mengungkap motif di balik pembunuhan yang menggegerkan warga ini. “ Kalau pelakunya tidak tertangkap pasti akan menimbulkan penafsiran atau kasak-kusuk mengenai motif pembunuhannya,” ucap Heri.
Sementara itu, suasana duka menyelimuti rumah korban. Istri Hasim, Sumiatin, 37, dan anak perempuannya, Fauzatin, 12, terus menangis, bahkan beberapa kali pingsan. Dua orangtua korban, Saleh Sawari, 67, dan Sakdiyah, 63, serta saudara-saudara korban pun menjerit-jerit memanggil nama korban.
Selasa (21/4) pukul 15.30 WIB mobil jenazah dari rumah sakit tiba di rumah duka. Kakak Hasim, Sawari, 45 –yang melihat wajah adiknya tidak berbentuk– tiba-tiba mengamuk namun segera diredam warga dan tokoh masyarakat setempat.
Korban meninggalkan tiga anak bernama Achmad Busyairi, 15, Fauzatin, 12, dan Moh Muhlisin, 5. Adapun si sulung, Achamd Busyairi –siswa kelas III SMU 2 Sumenep– setelah ikut mengantarkan jenazah sang ayah ke rumah sakit, Selasa (21/4) pagi, tetap ikut ujian nasional di sekolah. (st2)
Sumber: Surya, Rabu, 22 April 2009
Moh Hasim, 39, warga Dusun Sendir Timur, Desa Sendir, Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, tewas mengenaskan. Hampir sekujur tubuh ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Tempat Pemungutan Suara (TPS) 3 Sendir ini penuh luka sayatan, dan lehernya digorok.
Jenazah Moh Hasyim ditemukan oleh Supandi, 40, warga Desa Muangan, Seronggi, Sumenep, Selasa (21/4) sekitar pukul 06.00 WIB. Jenazah ini ditemukan di pematang sawah, sekitar 200 meter dari rumah tempat tinggal korban, yang juga imam masjid desa setempat.
Setelah dilaporkan ke polisi, jenazah korban pembunuhan tersebut dibawa ke Rumah Sakit Daerah (RSD) dr H Moh Anwar Sumenep untuk diautopsi. Hasil autopsi, korban menderita luka serius di kepala, wajah, dua pergelangan tangan nyaris putus, luka menganga di paha, perut, dan leher digorok sehingga nyaris putus.
Kapolsek Lenteng, AKP Moh Syakrani, ketika ditemui Surya di lokasi pembunuhan menduga Moh Hasyim dibunuh pada Senin (20/4) malam kemudian jenazahnya baru ditemukan Selasa (21/4) pagi oleh warga yang akan berangkat ke sawah. Dilihat dari luka korban, katanya, pelaku diduga lebih dari satu orang.
“Dilihat dari luka dan darah yang ada di tubuh korban, diyakini korban dihabisi malam hari karena darah yang menempel di tubuh korban yang sudah mengental,” ujar Syakrani. Dia menambahkan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menemukan banyak telapak kaki bermacam bentuk. “Barang berharga korban berupa handphone hilang, diduga dibawa kabur pelaku,” kata kapolsek.
Karena korban menjabat ketua KPPS 3 Desa Sendir, maka kematian bapak tiga anak ini memunculkan isu bahwa pembunuhan Hasim dilatarbelakangi Pemilu Legislatif 9 April lalu. “Kalau bermotif dendam karena masalah lain, rasanya tidak. Karena, dia sangat baik dengan siapapun, tak pernah saya dengar dia bertengkar dengan orang lain,” ujar Hermanto, teman korban.
Namun Hermanto tak berani memastikan apakah Hasim dibunuh karena kasus pemilu. Hanya, dia juga mengatakan bahwa korban sempat bercerita bahwa sebelum pemilu dirinya pernah didatangi tim sukses yang akan memberi uang untuk pemenangan pemilu. “Katanya dia menolak, karena tak mungkin dia akan jual beli suara dalam pemilu,” ucapnya.
Secara terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumenep, Thoha Samadi, kaget mendengar kabar kasus pembunuhan Hasim. “Kami berharap kasus pembunuhan ini tidak ada kaitannya dengan Pemilu Legislatif yang lalu. Bila ada kaitannya, sungguh sangat terkutuk,” tandasnya.
Dia meminta polisi segera menangkap pelakunya dan secara terbuka mengungkapkan motif pembunuhan. “Ini sangat sensitif. Kalau benar motifnya terkait pemilu, pasti akan menjadi preseden buruk bagi pelaksanaan pemilu selanjutnya dan berimbas pada KPPS lain,” kata Thoha.
Tak Terkait Pemilu
Sedangkan Kapolres Sumenep, AKBP Umar Effendi –meski belum menangkap tersangka pelaku pembunuh Hasim– menegaskan bahwa kasus itu tidak terkait pemilu. Karena, katanya, korban sudah tidak lagi menjabat ketua KPPS setelah pemilu berakhir.
“Sekarang sudah tidak ada lagi warga Sumenep yang menyandang jabatan sebagai anggota maupun ketua KPPS karena pemilunya sudah usai,” tandas kapolres.
Untuk menuntaskan kasus tersebut, polisi bergerak cepat, antara lain memeriksa dua orang saksi, yakni Supandi, 40, dan Moh Saleh, 40. Supandi adalah warga yang menemukan jenazah korban, sedangkan Saleh merupakan tetangga Hasim yang menerima kabar telepon dari Supandi bahwa Hasim tewas digorok.
Kasatreskrim Polres Sumenep, AKP Mualimin SH, yang ditemui di rumah korban mengatakan bahwa –sesuai informasi pihak keluarga– selama ini Hasim dikenal sebagai orang baik yang tak punya musuh.
Dia sering membantu masyarakat setempat menggagalkan pencurian sapi yang saat ini marak terjadi. “Itu informasi yang saya dengar. Pastinya, kami masih perlu melakukan penyelidikan dan meminta keterangan saksi maupun pihak keluarga korban,” ujar Mualimin.
Adapun menurut Heri, 27, tetangga korban, selama ini Hasim tidak pernah punya masalah dengan siapapun. Sehari-hari Hasim bekerja sebagai petani biasa. Hampir setiap saat, katanya, Hasim berada di masjid, antara lain mengajar mengaji, dan bila salat Jumat menjadi khotib atau imam.
“Rumah korban berdampingan dengan Masjid sehingga dia dipercaya menjadi takmir. Tidak mungkin dia punya musuh,” ujar Heri, dibenarkan beberapa warga lain.
Heri dan para tetangga Hasim lain berharap polisi bisa segera mengungkap motif di balik pembunuhan yang menggegerkan warga ini. “ Kalau pelakunya tidak tertangkap pasti akan menimbulkan penafsiran atau kasak-kusuk mengenai motif pembunuhannya,” ucap Heri.
Sementara itu, suasana duka menyelimuti rumah korban. Istri Hasim, Sumiatin, 37, dan anak perempuannya, Fauzatin, 12, terus menangis, bahkan beberapa kali pingsan. Dua orangtua korban, Saleh Sawari, 67, dan Sakdiyah, 63, serta saudara-saudara korban pun menjerit-jerit memanggil nama korban.
Selasa (21/4) pukul 15.30 WIB mobil jenazah dari rumah sakit tiba di rumah duka. Kakak Hasim, Sawari, 45 –yang melihat wajah adiknya tidak berbentuk– tiba-tiba mengamuk namun segera diredam warga dan tokoh masyarakat setempat.
Korban meninggalkan tiga anak bernama Achmad Busyairi, 15, Fauzatin, 12, dan Moh Muhlisin, 5. Adapun si sulung, Achamd Busyairi –siswa kelas III SMU 2 Sumenep– setelah ikut mengantarkan jenazah sang ayah ke rumah sakit, Selasa (21/4) pagi, tetap ikut ujian nasional di sekolah. (st2)
Sumber: Surya, Rabu, 22 April 2009
Terseret Arus, Siswa Tewas
Labels:
peristiwa
Usai Observasi Biota Laut, Wisata ke Pantai Lombang
BATANG - Civitas SMA Muhammadiyah Sumenep berduka. Seorang siswanya Dedi Supriyadi,16, tewas terseret arus di Pantai Wisata Lombang, Kecamatan Batang - Batang, Sumenep, kemarin.
Sedangkan tiga orang lainnya yang tenggelam bisa diselamatkan. Mereka adalah Abd. Aziz, 28; Teguh Dwi Cahyono, 16; dan Muhlas, 28. Ketiganya berusaha menolong Dedi yang terbawa arus laut dan selamat dari pusaran arus setelah ditolong warga.
Menurut Sudahnan, 45, warga setempat yang menolong korban, sebelum kejadian Dedi bermain air di tepian pantai. Tapi, sesaat kemudian pengunjung Pantai Lombang dikejutkan teriakan orang minta tolong. Korban minta tolong karena terseret arus air menggerus pasir yang terus berkubang ke bawah.
Mendengar teriakan Dedi, teman - teman dan guru pembimbingnya berhambur untuk memberikan pertolongan. Tiga orang datang memberi pertolongan, yakni Abd. Aziz, Teguh Dwi Cahyono, dan Muhlas. Tapi, mereka juga terseret air laut. "Saat itu air terus menyeret mereka," kata Sudahnan.
Melihat para korban panik, Sudahnan berlari ke lokasi kejadian untuk memberikan pertolongan. Upayanya berhasil. Dia bisa mengangkat ketiga korban. Tapi, satu korban, Dedi, tidak bisa ikut diangkat.
Setelah berhasil menyelamatkan ketiga korban, Sudahnan dan sejumlah warga berusaha mencari Dedi. Beberapa menit kemudian, warga melihat tubuh Dedi muncul ke permukaan air. Tubuh korban pun segera diangkat ke pinggir pantai. Tapi sayang, korban sudah tidak bernafas lagi.
Selanjutnya tiga korban selamat dan mayat Dedi dibawa ke Puskesmas Leggung Timur, Kecamatan Batang - Batang. Saat dikonfirmasi koran ini di Puskesmas Leggung Timur, salah seorang korban yang berhasil selamat Teguh Dwicahyono mengatakan, kejadian tersebut berlangsung cepat dan tanpa diduga.
Saat Dedi meminta pertolongan, dia langsung berhambur ke tempat kubangan air untuk menyelematkan temannya itu agar tidak tenggelam. Di dalam kubangan air itu dia mencoba mengambil tubuh Dedi. Teguh berhasil memeluk Dedi. Tapi, tubuh keduanya makin masuk ke dalam kubangan air.
Lalu, Teguh pun berusaha melepaskan diri dari pelukan Dedi untuk menyelematkan diri. "Saya berusaha untuk lepas dan berenang ke pinggir," akunya dengan wajah sedih.
Sementara Kapolsek Batang - Batang melalui Kanit Reskrim Aiptu Supeno mengatakan, sebelum kejadian 38 siswa SMA Muhammadiyah Sumenep dan guru pembimbingnya melakukan observasi biota laut di Desa Lombang, Kecamatan Batang - Batang. Setelah observasi, mereka rekreasi ke Pantai Wisata Lombang.
Sebelum kejadian, para guru pembimbing sudah memberikan arahan agar siswa tidak mandi. Dedi Supriyadi, rupanya, memilih berjalan di sepanjang pantai. "Beberapa menit kemudian dari arah pantai Dedi berteriak minta tolong," kata Supeno.
Saat itu juga tiga orang dari rombongan berhambur memberikan pertolongan. Tapi ketiganya hampir saja ikut tenggelam, nemun bisa ditolong. Sementara Dedi tidak bisa diselematkan. (tur/mat)
Sumber: Jawa Pos, Senin, 06 April 2009
BATANG - Civitas SMA Muhammadiyah Sumenep berduka. Seorang siswanya Dedi Supriyadi,16, tewas terseret arus di Pantai Wisata Lombang, Kecamatan Batang - Batang, Sumenep, kemarin.
Sedangkan tiga orang lainnya yang tenggelam bisa diselamatkan. Mereka adalah Abd. Aziz, 28; Teguh Dwi Cahyono, 16; dan Muhlas, 28. Ketiganya berusaha menolong Dedi yang terbawa arus laut dan selamat dari pusaran arus setelah ditolong warga.
Menurut Sudahnan, 45, warga setempat yang menolong korban, sebelum kejadian Dedi bermain air di tepian pantai. Tapi, sesaat kemudian pengunjung Pantai Lombang dikejutkan teriakan orang minta tolong. Korban minta tolong karena terseret arus air menggerus pasir yang terus berkubang ke bawah.
Mendengar teriakan Dedi, teman - teman dan guru pembimbingnya berhambur untuk memberikan pertolongan. Tiga orang datang memberi pertolongan, yakni Abd. Aziz, Teguh Dwi Cahyono, dan Muhlas. Tapi, mereka juga terseret air laut. "Saat itu air terus menyeret mereka," kata Sudahnan.
Melihat para korban panik, Sudahnan berlari ke lokasi kejadian untuk memberikan pertolongan. Upayanya berhasil. Dia bisa mengangkat ketiga korban. Tapi, satu korban, Dedi, tidak bisa ikut diangkat.
Setelah berhasil menyelamatkan ketiga korban, Sudahnan dan sejumlah warga berusaha mencari Dedi. Beberapa menit kemudian, warga melihat tubuh Dedi muncul ke permukaan air. Tubuh korban pun segera diangkat ke pinggir pantai. Tapi sayang, korban sudah tidak bernafas lagi.
Selanjutnya tiga korban selamat dan mayat Dedi dibawa ke Puskesmas Leggung Timur, Kecamatan Batang - Batang. Saat dikonfirmasi koran ini di Puskesmas Leggung Timur, salah seorang korban yang berhasil selamat Teguh Dwicahyono mengatakan, kejadian tersebut berlangsung cepat dan tanpa diduga.
Saat Dedi meminta pertolongan, dia langsung berhambur ke tempat kubangan air untuk menyelematkan temannya itu agar tidak tenggelam. Di dalam kubangan air itu dia mencoba mengambil tubuh Dedi. Teguh berhasil memeluk Dedi. Tapi, tubuh keduanya makin masuk ke dalam kubangan air.
Lalu, Teguh pun berusaha melepaskan diri dari pelukan Dedi untuk menyelematkan diri. "Saya berusaha untuk lepas dan berenang ke pinggir," akunya dengan wajah sedih.
Sementara Kapolsek Batang - Batang melalui Kanit Reskrim Aiptu Supeno mengatakan, sebelum kejadian 38 siswa SMA Muhammadiyah Sumenep dan guru pembimbingnya melakukan observasi biota laut di Desa Lombang, Kecamatan Batang - Batang. Setelah observasi, mereka rekreasi ke Pantai Wisata Lombang.
Sebelum kejadian, para guru pembimbing sudah memberikan arahan agar siswa tidak mandi. Dedi Supriyadi, rupanya, memilih berjalan di sepanjang pantai. "Beberapa menit kemudian dari arah pantai Dedi berteriak minta tolong," kata Supeno.
Saat itu juga tiga orang dari rombongan berhambur memberikan pertolongan. Tapi ketiganya hampir saja ikut tenggelam, nemun bisa ditolong. Sementara Dedi tidak bisa diselematkan. (tur/mat)
Sumber: Jawa Pos, Senin, 06 April 2009
Nama Suramadu Sudah Tepat
Labels:
dokumentasi,
peristiwa,
suramadu
Target pengoperasian jembatan Suramadu tinggal dua bulan lagi, tepatnya Juni tahun ini. Mendekati terealisasinya proyek nasional ini, ada yang mengusulkan nama Suramadu diganti Trunojoyo. Usulan yang disampaikan Dewan Pembangunan Madura (DPM) itu mendapat tanggapan Bupati Bangkalan, RKH Fuad Amin, S.Pd.Bupati tidak setuju dengan usulan perubahan nama Suramadu menjadi Trunojoyo. “Usulan nama Trunojoyo itu baik, tetapi lebih tepat dengan nama Suramadu,” katanya, Jumat (3/4).
Menurut Bupati Fuad Amin, nama Suramadu sudah menjadi ikon jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan Jawa. Apalagi nama Suramadu sudah terkenal. Bukan hanya di tingkat lokal Madura dan regional Jatim, nama Suramadu sudah menggema hingga nasional bahkan internasional.
Jembatan Suramadu, katanya, adalah proyek nasional, yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura. Ini mewakili kepentingan dua pulau, bukan hanya Madura. “Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Dunia nasional hingga internasional sudah menyebutkan jembatan tersebut dengan nama Suramadu. Jangan diubah menjadi Trunojoyo,” harapnya.
Jembatan sepanjang 5,4 km di atas laut ini merupakan kebanggaan masyarakat Madura dan Surabaya. Bangsa Indonesia juga bangga bisa membangun dan memiliki jembatan pertama yang melintasi laut ini. “Jembatan Suramadu adalah kebanggaan kita semua, bangsa Indonesia,” katanya.
Suramadu sangat memiliki makna penting. Apalagi bila kita melihat sejarah panjang proses perencanaannya. “Pak Noer saat mendapatkan kewenangan mengelola jembatan dengan Keppres No. 55/1990 dengan menyebut nama Suramadu. Berarti, nama Suramadu sudah dikenal masyarakat luas hampir 20 tahun,” ungkap Fuad Amin.
Menurut Fuad, nama Trunojoyo yang diusulkan DPM memang bagus. Namun, kata dia, Trunojoyo adalah tokoh pahlawan lokal rakyat Madura saja. Padahal, secara emosional jembatan tersebut tidak hanya dimiliki rakyat Madura. Masyarakat Jawa dan Indonesia juga ikut memiliki dan tentu saja semua merasa bangga. ”Jangan sampai ada sikap terkotak-kotak demi suatu daerah saja. Bisa saja masyarakat Surabaya nantinya mengusulkan nama lain karena jembatan ini menghubungkan Surabaya dan Madura. Biarkan nama jembatan Suramadu, jangan diubah dengan nama yang lain,” tegas cicit Syaichona Cholil ini.
Fuad mengingatkan, tersambungnya jembatan Suramadu jangan dilihat dari sektor politis dan ekonominya saja. ”Ekonomi Madura memang akan terpacu. Hal terpenting adalah persatuan dan kesatuan bangsa dengan dengan bergabungnya pulau Madura dengan Jawa,” ingatnya.
Dia sekali lagi mengingatkan agar tidak mempersoalkan nama jembatan. “Yang paling penting bagaimana menyiapkan masyarakat Madura untuk berperan aktif dalam pembangunan Madura ke depan,” tegasnya,
Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 4 April 2009
Madura Tolak Nama Suramadu
Labels:
dokumentasi,
peristiwa,
suramadu
Diusulkan Bernama Jembatan Trunojoyo atau HM Noer
Nama Jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Madura ada kemungkinan akan tinggal kenangan. Pasalnya, tokoh masyarakat Madura yang tergabung dalam Dewan Pembangunan Madura (DPM) secara tidak langsung menyatakan menolak nama Jembatan Suramadu.
DPM bahkan sudah mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar nama jembatan sepanjang 5.438 meter itu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. “Kami sepakat nama Jembatan Suramadu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. Usulan ke Presiden telah kita sampaikan awal Februari lalu,” ujar Ketua Umum DPM H Achmad Zaini kepada Surya, Rabu (1/4).
Menurut Zaini, pentingnya mengubah nama Suramadu karena nama yang dipakai sekarang tak punya makna dan nilai historis apapun bagi masyarakat pulau Garam. Suramadu hanya kependekan Surabaya dan Madura. Padahal, sebagai jembatan terpanjang di Indonesia, juga di Asia Tenggara, mestinya nama yang dipilih harus mengadaptasi sejarah, tradisi, dan budaya lokal masyarakat setempat. Dan nama Trunojoyo dinilai tepat karena Trunojoyo adalah pahlawan masyarakat Madura.
Trunojoyo atau Taruno Joyo merupakan tokoh yang memimpin perjuangan masyarakat Jawa dan Madura terhadap campur tangan penjajah Belanda pada wilayah Mataram tahun 1652, ketika kekuasaan Mataram dipegang Susuhunan Amangkurat I. Dia putra bangsawan Madura, Pangeran Malujo – yang masih keturunan bangsawan Majapahit.
Karena sangat pentingnya kepahlawanan Trunojoyo bagi masyarakat Madura, forum Musyawarah Besar Masyarakat Madura ke-3 pada 2007 lalu juga sepakat mengubah nama Suramadu jadi Trunojoyo. Meski hingga kini, negara belum mengakuinya sebagai pahlawan nasional.
Kata Zaini, tokoh-tokoh Madura yang mendukung perubahan nama itu, seperti HM Noer (mantan Gubernur Jatim), Jenderal Pol (Pur) Roesmanhadi (mantan Kapolri), Laksamana Achmad Sutjipto (mantan KSAL), Letjen Ari Sudono (mantan Kabais), KH Nuruddin dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikam Bangkalan, KH Warist Ilyas dari Ponpes Guluk-guluk Sumenep, Prof Sudarso Joyonegoro (mantan Rektor Unair), dan sejumlah tokoh penting lainnya.
“Meski sejumlah tokoh sudah sepakat, keputusan akhir ada pada presiden. Tapi kami berharap, sebelum 12 Juni nanti, kepastian nama Suramadu diubah atau tidak, sudah ada,” tegas Ketua Tim Pengawas Independen Pembangunan Jembatan Suramadu ini.
Bahkan sebagai upaya menjadikan Trunojoyo sebagai ikon Madura, tokoh-tokoh Madura tersebut, kata Zaini telah berhasil mengusulkan perubahan nama Universitas Bangkalan menjadi Universitas Trunojoyo (Unijoyo).
Pernyataan sama juga dilontarkan tokoh Madura HR Ali Badri Zaini.
Menurutnya, nama Suramadu sudah bagus, namun lebih bagus lagi diganti dengan nama tokoh Madura seperti Trunojoyo. Atau kalau tidak, jembatan yang bentang tengahnya berhasil disambung pada Selasa (31/3) tengah malam itu diberi nama Jembatan HM Noer, karena prakarsa pembangunan jembatan itu dilakukan oleh mantan gubernur Jatim tersebut. “Saya kira dua nama itu cukup cocok untuk dipertimbangkan sebagai nama jembatan tersebut,” jelasnya.
Di luar soal nama, Ali Badri mengharapkan terhubungnya Surabaya-Madura itu lebih meningkatkan pembangunan kawasan Madura. RH Nasir Zaini, Ketua Forum Madura Bersatu (Formabes) ketika dihubungi terpisah juga mengharapkan hal sama.
Keduanya mengimbau seluruh masyarakat Madura jangan hanya jadi penonton dalam pembangunan Madura, tetapi harus menjadi pelaku. Keduanya menyatakan tidak rela apabila pembangunan Madura diikuti kehadiran panti pijat dan tempat hiburan yang mengarah pada maksiat.
Tergantung Presiden
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V, Departemen Pekerjaan Umum, AG Ismail membenarkan adanya usulan dari DPM agar nama Jembatan Suramadu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. “Usulannya sudah disampaikan langsung ke Presiden. Dan semuanya tergantung pada sing mbaurekso (Presiden), setuju atau tidak,” ujarnya.
Kata Ismail, pihaknya selaku pelaksana di lapangan akan melaksanakan apapun keputusan dari pemimpin tertinggi di negeri ini.
Masih terkait nama jembatan, Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD Jatim Bambang Suhartono meminta semua pihak bersikap lebih arif. “Jembatan itu aset nasional. Tidak perlu dipaksakan untuk seolah-olah itu menjadi milik masyarakat Madura saja atau Surabaya saja,” jelas Bambang Suhartono, Rabu (1/4).
Nama Suramadu, menurut Bambang Suhartono sudah menasional. Bagusnya lagi nama itu bersih dari ikon dan klaim daerah, baik Surabaya atau Madura. Nama Suramadu itu lebih mencerminkan fungsi jembatan, yaitu penghubung pulau Jawa, Surabaya dengan Madura, disingkat Suramadu. “Jangan sampai fungsi jembatan tidak bisa maksimal hanya karena ribut urusan nama,” kata Bambang.
Mantan Ketua DPRD Gresik ini lalu mengingatkan tentang fungsi dan cita-cita pembangunan proyek prestisius yang menelan biaya Rp 4,5 triliun tersebut. Menurutnya, proyek yang dicanangkan sejak 2001 silam itu dicita-citakan bisa menjadi tonggak kebangkitan Madura, utamanya aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. “Jadi, yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang adalah bagaimana membuat program-program percepatan pembangunan dan peningkatan ekonomi di Madura. Kalau ini tidak dirumuskan dengan baik, investasi mahal berupa jembatan akan menjadi kurang berguna,” tuturnya.
Bambang berharap kelompok-kelompok di masyarakat, utamanya di Madura, mencari rumusan kongkret tentang arah pengembangan Madura. “Rumusan itu saya kira penting diberikan kepada empat pemkab di Madura dan pemprov. Sebab keempatnya paling bertanggung jawab untuk membuat skema pembangunan, utamanya tentang masa depan investasi di sana,” tegasnya. (uji/jos/ian)
Sumber: Surya, Kamis, 2 April 2009
Nama Jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Madura ada kemungkinan akan tinggal kenangan. Pasalnya, tokoh masyarakat Madura yang tergabung dalam Dewan Pembangunan Madura (DPM) secara tidak langsung menyatakan menolak nama Jembatan Suramadu.
DPM bahkan sudah mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar nama jembatan sepanjang 5.438 meter itu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. “Kami sepakat nama Jembatan Suramadu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. Usulan ke Presiden telah kita sampaikan awal Februari lalu,” ujar Ketua Umum DPM H Achmad Zaini kepada Surya, Rabu (1/4).
Menurut Zaini, pentingnya mengubah nama Suramadu karena nama yang dipakai sekarang tak punya makna dan nilai historis apapun bagi masyarakat pulau Garam. Suramadu hanya kependekan Surabaya dan Madura. Padahal, sebagai jembatan terpanjang di Indonesia, juga di Asia Tenggara, mestinya nama yang dipilih harus mengadaptasi sejarah, tradisi, dan budaya lokal masyarakat setempat. Dan nama Trunojoyo dinilai tepat karena Trunojoyo adalah pahlawan masyarakat Madura.
Trunojoyo atau Taruno Joyo merupakan tokoh yang memimpin perjuangan masyarakat Jawa dan Madura terhadap campur tangan penjajah Belanda pada wilayah Mataram tahun 1652, ketika kekuasaan Mataram dipegang Susuhunan Amangkurat I. Dia putra bangsawan Madura, Pangeran Malujo – yang masih keturunan bangsawan Majapahit.
Karena sangat pentingnya kepahlawanan Trunojoyo bagi masyarakat Madura, forum Musyawarah Besar Masyarakat Madura ke-3 pada 2007 lalu juga sepakat mengubah nama Suramadu jadi Trunojoyo. Meski hingga kini, negara belum mengakuinya sebagai pahlawan nasional.
Kata Zaini, tokoh-tokoh Madura yang mendukung perubahan nama itu, seperti HM Noer (mantan Gubernur Jatim), Jenderal Pol (Pur) Roesmanhadi (mantan Kapolri), Laksamana Achmad Sutjipto (mantan KSAL), Letjen Ari Sudono (mantan Kabais), KH Nuruddin dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikam Bangkalan, KH Warist Ilyas dari Ponpes Guluk-guluk Sumenep, Prof Sudarso Joyonegoro (mantan Rektor Unair), dan sejumlah tokoh penting lainnya.
“Meski sejumlah tokoh sudah sepakat, keputusan akhir ada pada presiden. Tapi kami berharap, sebelum 12 Juni nanti, kepastian nama Suramadu diubah atau tidak, sudah ada,” tegas Ketua Tim Pengawas Independen Pembangunan Jembatan Suramadu ini.
Bahkan sebagai upaya menjadikan Trunojoyo sebagai ikon Madura, tokoh-tokoh Madura tersebut, kata Zaini telah berhasil mengusulkan perubahan nama Universitas Bangkalan menjadi Universitas Trunojoyo (Unijoyo).
Pernyataan sama juga dilontarkan tokoh Madura HR Ali Badri Zaini.
Menurutnya, nama Suramadu sudah bagus, namun lebih bagus lagi diganti dengan nama tokoh Madura seperti Trunojoyo. Atau kalau tidak, jembatan yang bentang tengahnya berhasil disambung pada Selasa (31/3) tengah malam itu diberi nama Jembatan HM Noer, karena prakarsa pembangunan jembatan itu dilakukan oleh mantan gubernur Jatim tersebut. “Saya kira dua nama itu cukup cocok untuk dipertimbangkan sebagai nama jembatan tersebut,” jelasnya.
Di luar soal nama, Ali Badri mengharapkan terhubungnya Surabaya-Madura itu lebih meningkatkan pembangunan kawasan Madura. RH Nasir Zaini, Ketua Forum Madura Bersatu (Formabes) ketika dihubungi terpisah juga mengharapkan hal sama.
Keduanya mengimbau seluruh masyarakat Madura jangan hanya jadi penonton dalam pembangunan Madura, tetapi harus menjadi pelaku. Keduanya menyatakan tidak rela apabila pembangunan Madura diikuti kehadiran panti pijat dan tempat hiburan yang mengarah pada maksiat.
Tergantung Presiden
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V, Departemen Pekerjaan Umum, AG Ismail membenarkan adanya usulan dari DPM agar nama Jembatan Suramadu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. “Usulannya sudah disampaikan langsung ke Presiden. Dan semuanya tergantung pada sing mbaurekso (Presiden), setuju atau tidak,” ujarnya.
Kata Ismail, pihaknya selaku pelaksana di lapangan akan melaksanakan apapun keputusan dari pemimpin tertinggi di negeri ini.
Masih terkait nama jembatan, Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD Jatim Bambang Suhartono meminta semua pihak bersikap lebih arif. “Jembatan itu aset nasional. Tidak perlu dipaksakan untuk seolah-olah itu menjadi milik masyarakat Madura saja atau Surabaya saja,” jelas Bambang Suhartono, Rabu (1/4).
Nama Suramadu, menurut Bambang Suhartono sudah menasional. Bagusnya lagi nama itu bersih dari ikon dan klaim daerah, baik Surabaya atau Madura. Nama Suramadu itu lebih mencerminkan fungsi jembatan, yaitu penghubung pulau Jawa, Surabaya dengan Madura, disingkat Suramadu. “Jangan sampai fungsi jembatan tidak bisa maksimal hanya karena ribut urusan nama,” kata Bambang.
Mantan Ketua DPRD Gresik ini lalu mengingatkan tentang fungsi dan cita-cita pembangunan proyek prestisius yang menelan biaya Rp 4,5 triliun tersebut. Menurutnya, proyek yang dicanangkan sejak 2001 silam itu dicita-citakan bisa menjadi tonggak kebangkitan Madura, utamanya aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. “Jadi, yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang adalah bagaimana membuat program-program percepatan pembangunan dan peningkatan ekonomi di Madura. Kalau ini tidak dirumuskan dengan baik, investasi mahal berupa jembatan akan menjadi kurang berguna,” tuturnya.
Bambang berharap kelompok-kelompok di masyarakat, utamanya di Madura, mencari rumusan kongkret tentang arah pengembangan Madura. “Rumusan itu saya kira penting diberikan kepada empat pemkab di Madura dan pemprov. Sebab keempatnya paling bertanggung jawab untuk membuat skema pembangunan, utamanya tentang masa depan investasi di sana,” tegasnya. (uji/jos/ian)
Sumber: Surya, Kamis, 2 April 2009
Suramadu Lebih Pas
Labels:
dokumentasi,
peristiwa,
suramadu
Fuad Tanggapi Usulan Nama Jembatan Trunojoyo
Usulan perubahan nama Jembatan Suramadu menjadi Jembatan Trunojoyo, nama pahlawan atau tokoh Madura, mendapat tanggapan dari Bupati Bangkalan Fuad Amin. Fuad tidak setuju penggantian nama Suramadu, karena nama Sumaradu dinilai sudah tepat.
Apalagi, katanya, nama Suramadu sudah menjadi ikon jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan Jawa tersebut. Tidah hanya itu, Suramadu sudah dikenal di tingkatan nasional dan internasional.
Usulan perubahan nama Suramadu menjadi Jembatan Trunojoyo disampaikan Dewan Pembangunan Madura (DPM). Seperti diberitakan sebuah koran harian, Ketua Umum DPM Achmad Zaini mengatakan, pemilihan nama Trunojoyo karena tokoh Madura itu memimpin perjuangan rakyat Madura dan Jawa melawan Belanda pada zaman Mataram. Trunojoyo adalah pahlawan bagi masyarakat Madura.
Usulan nama Jembatan Trunojoyo sudah dikirimkan kepada Presiden SBY pada Februari lalu. "Tapi itu terserah presiden," kata Zaini.
Tapi, Bupati Fuad punya pandangan lain. Menurut dia, nama Suramadu sudah tepat, karena mewakili kepentingan dua pulau, yakni Madura dan Jawa. Karena itu, dia berharap usulan nama Jembatan Trunojoyo dipertimbangkan kembali. Alasannya, terlalu banyak sejarah dan alasan yang harus dipertimbangkan untuk mengubah nama Suramadu yang sudah sangat melekat di hati rakyat tersebut.
"Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Dunia nasional hingga internasional sudah menyebutkan jembatan tersebut dengan nama Suramadu," ujarnya.
Selain itu, sambungnya, nama Suramadu sudah membudaya di setiap warga Madura, warga Surabaya, bahkan Indonesia. Jembatan Suramadu adalah aset nasional.
Jembatan sepanjang 5,4 km di atas laut ini merupakan kebanggaan masyarakat Madura dan Surabaya. Bangsa Indonesia juga bangga bisa membangun dan memiliki Jembatan Suramadu. "Jadi, saya pikir nama Suramadu sudah cocok karena mewakili dua pulau yang dihubungkan. Suramadu sangat memiliki makna penting. Apalagi bila kita melihat sejarah panjang proses perencanaannya," tegasnya.
Menurut Fuad, nama Trunojoyo yang diusulkan DPM memang bagus. Namun, kata dia, Trunojoyo adalah tokoh pahlawan lokal rakyat Madura saja. Padahal, secara emosional jembatan tersebut tidak hanya dimiliki rakyat Madura. Masyarakat Jawa pun ikut bangga. "Jangan sampai ada sikap terkotak - kotak demi kepuasan suatu daerah saja," tegasnya.
Fuad mengingatkan, tersambungnya Jembatan Suramadu jangan dilihat dari sektor politis dan ekonominya saja. "Ekonomi Madura memang akan terpacu. Hal terpenting adalah persatuan dan kesatuan bangsa dengan bergabungnya kita dengan Surabaya," tandasnya.
Cicit Syaichona Moh. Kholil ini mengimbau masyarakat Madura tidak meributkan hal sepele, seperti nama jembatan tersebut. Yang terpenting, menurut dia, menyiapkan masyarakat Madura untuk berperan aktif dalam pembangunan Madura ke depan.
Saat dikonfirmasi koran ini, Ketua Umum DPM Achmad Zaini mengaku sebagai orang Madura dia lebih bangga bila Jembatan Suramadu menggunakan nama pahlawan dari Madura, yakni Trunojoyo. "La wong nama Suramadu itu saya juga kok yang mengusulkan. Tapi, semua terserah presiden untuk setuju atau tidak terhadap usulan menggunakan nama Jembatan Trunojoyo," ujarnya singkat. (ale/mat)
Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 03 April 2009
Usulan perubahan nama Jembatan Suramadu menjadi Jembatan Trunojoyo, nama pahlawan atau tokoh Madura, mendapat tanggapan dari Bupati Bangkalan Fuad Amin. Fuad tidak setuju penggantian nama Suramadu, karena nama Sumaradu dinilai sudah tepat.
Apalagi, katanya, nama Suramadu sudah menjadi ikon jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan Jawa tersebut. Tidah hanya itu, Suramadu sudah dikenal di tingkatan nasional dan internasional.
Usulan perubahan nama Suramadu menjadi Jembatan Trunojoyo disampaikan Dewan Pembangunan Madura (DPM). Seperti diberitakan sebuah koran harian, Ketua Umum DPM Achmad Zaini mengatakan, pemilihan nama Trunojoyo karena tokoh Madura itu memimpin perjuangan rakyat Madura dan Jawa melawan Belanda pada zaman Mataram. Trunojoyo adalah pahlawan bagi masyarakat Madura.
Usulan nama Jembatan Trunojoyo sudah dikirimkan kepada Presiden SBY pada Februari lalu. "Tapi itu terserah presiden," kata Zaini.
Tapi, Bupati Fuad punya pandangan lain. Menurut dia, nama Suramadu sudah tepat, karena mewakili kepentingan dua pulau, yakni Madura dan Jawa. Karena itu, dia berharap usulan nama Jembatan Trunojoyo dipertimbangkan kembali. Alasannya, terlalu banyak sejarah dan alasan yang harus dipertimbangkan untuk mengubah nama Suramadu yang sudah sangat melekat di hati rakyat tersebut.
"Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Dunia nasional hingga internasional sudah menyebutkan jembatan tersebut dengan nama Suramadu," ujarnya.
Selain itu, sambungnya, nama Suramadu sudah membudaya di setiap warga Madura, warga Surabaya, bahkan Indonesia. Jembatan Suramadu adalah aset nasional.
Jembatan sepanjang 5,4 km di atas laut ini merupakan kebanggaan masyarakat Madura dan Surabaya. Bangsa Indonesia juga bangga bisa membangun dan memiliki Jembatan Suramadu. "Jadi, saya pikir nama Suramadu sudah cocok karena mewakili dua pulau yang dihubungkan. Suramadu sangat memiliki makna penting. Apalagi bila kita melihat sejarah panjang proses perencanaannya," tegasnya.
Menurut Fuad, nama Trunojoyo yang diusulkan DPM memang bagus. Namun, kata dia, Trunojoyo adalah tokoh pahlawan lokal rakyat Madura saja. Padahal, secara emosional jembatan tersebut tidak hanya dimiliki rakyat Madura. Masyarakat Jawa pun ikut bangga. "Jangan sampai ada sikap terkotak - kotak demi kepuasan suatu daerah saja," tegasnya.
Fuad mengingatkan, tersambungnya Jembatan Suramadu jangan dilihat dari sektor politis dan ekonominya saja. "Ekonomi Madura memang akan terpacu. Hal terpenting adalah persatuan dan kesatuan bangsa dengan bergabungnya kita dengan Surabaya," tandasnya.
Cicit Syaichona Moh. Kholil ini mengimbau masyarakat Madura tidak meributkan hal sepele, seperti nama jembatan tersebut. Yang terpenting, menurut dia, menyiapkan masyarakat Madura untuk berperan aktif dalam pembangunan Madura ke depan.
Saat dikonfirmasi koran ini, Ketua Umum DPM Achmad Zaini mengaku sebagai orang Madura dia lebih bangga bila Jembatan Suramadu menggunakan nama pahlawan dari Madura, yakni Trunojoyo. "La wong nama Suramadu itu saya juga kok yang mengusulkan. Tapi, semua terserah presiden untuk setuju atau tidak terhadap usulan menggunakan nama Jembatan Trunojoyo," ujarnya singkat. (ale/mat)
Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 03 April 2009
JK: Beroperasi 12 Juni
Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) pasti beroperasi 12 Juni. Paling tidak, demikianlah perintah yang keluar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meninjau jembatan yang dikerjanakan kontraktor China itu, Senin (23/3) sore. Jusuf Kalla sendiri tampak gemas karena operasionalisasi Suramadu molor lagi dan molor lagi. “Pada 12 Juni nanti sudah harus selesai dan bisa beroperasi,” tegasnya. Meski molor dari jadwal yang ditentukan, Kalla tetap menyampaikan rasa terima kasihnya pada kontraktor. Selama dua tahun terakhir, dia berharap ada proses belajar yang bisa mempercepat penyelesaikan bagian yang belum tuntas.
Selain itu, Kalla juga menyampaikan imbauan pada masyarakat agar tidak mengeluhkan tarif yang nantinya diterapkan. “Biaya itu juga untuk perawatan. Kita, kan, tidak mau nasib jembatan ini seperti (Jembatan) Ampera (di Palembang) yang baru dipakai beberapa tahun tapi sudah berkarat,” kata Kalla. Tak hanya itu, biaya tersebut nantinya juga akan digunakan untuk membayar utang pada
Pemerintah China sebesar 68,93 juta dollar AS. Selain itu, JK juga mengatakan harus menyeimbangkan dengan biaya menyeberang menggunakan kapal feri. Namun demikian dia memastikan tarif yang dibebankan lebih murah dibanding penyeberangan kapal. ”Pasti lebih murah dan pasti lebih cepat dari feri,“ ujarnya setengah berpromosi.
Namun untuk kendaraan roda dua, Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak mengatakan masih mengkaji kemungkinannya. Salah satu yang jadi pertimbangan adalah faktor keselamatan bagi pengendaranya. “Masih kami kaji dan kami rancang agar motor bisa lewat,” janjinya.
Secara teknis, kendaraan roda dua bisa melewati jembatan ini. Namun angin kencang yang berembus di jembatan dikhawatirkan menjadi faktor penghambat keselamatan. JK pun meminta adanya jaminan keselamatan bagi pengendara meski sudah ada pagar pembatas yang cukup kuat. “Kita harus jaga betul agar tidak terjadi kecelakaan,” katanya menekankan.
Sementara itu Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Departemen Pekerjaan Umum, A.G Ismail mengatakan pilar 46 dan 47 yang merupakan infrastruktur penting di bentang tengah akan tersambung akhir Maret. "Molornya jadwal penyelesaian dikarenakan iklim dan cuaca pada awal tahun ini kurang mendukung. Tapi tentu akan kami selesaikan secepatnya,” janjinya.
Sementara untuk approach bridge di sisi Surabaya akan tersambung dengan seluruh rangkaian atau bagian jembatan yang kini mulai selesai. Sedangkan untuk pembangunan causeway sisi Surabaya, pelaksana proyek dan kontraktor telah melakukan provisional hand over (PHO) atau serah terima pertama pekerjaan dari kontraktor pelaksana proyek kepada Satker Pembangunan Jembatan Nasional Suramadu sisi Surabaya. Seperti diketahui, ada tiga kontraktor yang terlibat dalam proyek ini, yaitu PT Hutama Karya, Wijaya Karya, Agrabudi Karya Marga JO. (K2)
Sumber: Surabaya, Selasa, 24 Maret 2009
Pemkot Surabaya Bantu Konsep Otorita
Pemkot Surabaya menyiapkan konsep daerah otorita khusus untuk kawasan kaki Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Konsep yang digagas mirip kawasan otorita Batam. “Itu kebijakan pusat yang kami dukung. Perkara akan mendapat perlawanan warga, itu urusan nanti. Yang penting konsep pengembangan kawasan otorita di kaki Suramadu kita dukung dulu,” kata dr Muklas Udin, Asisten II Sekkota bidang Administrasi Pembangunan, Sabtu (28/3).
Pemkot akan menyediakan lahan sekitar 1.800 ha di kawasan itu. Lahan milik pemkot diperkirakan hanya sekitar 200 ha, sisanya milik warga. “Nah, penyediaan lahan sebesar itu nantinya akan banyak berperkara dengan warga karena memaksa mereka untuk membebaskan lahan milik warga. Bahkan, akan banyak warga bedol desa atau bedol kampung,” katanya.
Selain itu, upaya pembebasan lahan milik warga membutuhkan dana besar dan waktu lama. Dalam jangka pendek, pemkot akan membantu sosialisasi kepada warga di kawasan tersebut melalui kelurahan. Sosialisasi ini lebih mengarah pada konsep pengembangan wilayah yang sudah dimiliki pemkot disinkronkan dengan konsep pemerintah pusat.
“Kami sudah memiliki konsepnya, cuma belum tahu batas wilayah yang akan dijadikan kawasan otorita itu,“ ujarnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Ir Tri Rismaharini mengatakan pemkot sudah lama memiliki konsep pengembangan infrastruktur terkait Suramadu. Pembangunan jalan tol di kawasan timur dari kaki Suramadu menuju Juanda termasuk di antaranya. Rencana lain adalah membangun jalan lingkar timur-tengah lewat Jembatan MERR IIC tembus Pondok Tjandra, Waru. Sementara itu pengembangan sarana jalan di kawasan Surabaya Barat juga akan dibangun dari Margomulyo tembus Jl. Raya Menganti.
Dengan konsep ini akses jalan dari Suramadu menuju kawasan Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lamongan sudah tergambar di sana. “Sekarang, pemkot tengah berupaya mewujudkannya dengan membebaskan lahan di Medokan Semampir, Jl. Arif Racman Hakim, Rungkut, dan lainnya,” ujar Risma. (pur)
Sumber: Surabaya Post, Minggu, 29 Maret 2009
Gubernur Saksikan Sambungan Akhir dari Laut
Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) dijadwalkan akan memasuk fase vital malam ini. Pelaksana proyek kini tengah menyiapkan pemasangan main span (bentang tengah) jembatan. Dengan pemasangan ini Pulau Madura dan Surabaya sudah bisa terhubung secara fisik untuk kali pertama sepanjang sejarah. Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V, A.G. Ismail, menjelaskan pengerjaan proyek malam nanti adalah pemasangan segment closure atau segmen terakhir yang ke-8 atau penyambung dari rangkaian girder bentang utama (main span cable stay). Dia menjelaskan pemasangan dijadwalkan akan berlangsung sekitar pukul 22.00 WIB dan memakan waktu sekitar dua jam.
Faktor pemasangan pada malam hari dikarenakan waktu ini dianggap memiliki temperatur yang sesuai. ”Ini untuk mencegah pemuaian dari konstruksi steel box girder itu sendiri,” ujar Ismail, Selasa (31/3).
Menurut Ismal, konstruksi ini merupakan segmen lantai berbahan dasar baja main bridge. Panjang masing-masing 12 meter dengan berat 160 ton tiap segmen. Panjang keseluruhan mencapai 818 meter. Pembuatannya sendiri sudah dilakukan di China dan dirakit di Gresik. Hingga kemarin, seluruh kabel penyangga main span juga sudah dipasang sebanyak 2 x 14 kabel untuk sisi Surabaya maupun Madura.
Namun kata Ismail, tersambungnya bentang tengah bukan berarti jembatan Suramadu bisa dioperasionalkan. Ini karena masih ada pekerjaan rumah lainnya yang harus segera dituntaskan yaitu approach bridge sisi Surabaya. ”Kalau bagian yang ini tetap akan dituntaskan pada Juni nanti,” tegasnya.
Sejauh ini, progres untuk penyelesaian jalan akses di sisi Madura mencapai 88,78 persen dari total panjang akses sisi Madura 11,5 km. Approach bridge sisi Surabaya sendiri masih mencapai 77,34 persen. Sedangkan pada tujuh bentang sepanjang 672 meter sebagian besar belum dilengkapi alas jembatan. Kondisi itu berbeda dengan approach bridge sisi Madura yang sudah selesai.
Dia berharap pemasangan bentang tengah kali ini tidak akan mengalami hambatan berarti terutama terkait masalah cuaca. Selama ini pihak pekerja proyek menunda pemasangan karena cuaca yang kurang bersahabat. ”Mudah-mudahan semuanya lancar,” ujarnya.
Mega proyek jembatan Suramadu rencananya diresmikan 12 Juni 2009 mendatang oleh Presiden SBY . Jadwal ini sebenarnya molor tiga bulan dari prediksi awal, yakni bulan April 2009. Salah satu kendala adalah pembebasan lahan jalan akses baik di sisi Surabaya maupu sisi Madura. Juga pencairan dana yang terlambat, hingga menghambat pekerjaan proyek.
Namun, menurut Asisten Tehnik Jembatan Suramadu Sisi Madura, Hendriyanto, masalah ini sudah bisa diselesaikan. ”Sekarang kendala itu sudah bisa diatasi. Dana sudah cair, juga pembebasan tanah untuk jalan akses sudah tuntas,” ungkap Hendriyanto.
Sementara itu, sejumlah pejabat penting seperti perwakilan dari Departemen PU, Gubernur Jatim Soekarwo serta jajaran muspida seperti Walikota Surabaya Bambang DH dan Bupati Bangkalan Fuad Amin dijadwalkan akan hadir untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Para undangan penting ini akan menyaksikan pemasangan main span ini dari atas kapal feri karena alasan keamanan. (k2)
Sumber: Surabaya Post, Selasa, 31 Maret 2009
Harus Revisi UU Dulu
Rencana Motor Lewat Suramadu
Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) hampir rampung. Bentang tengah pun sudah tersambung. Kini pemerintah pusat berancang-ancang menjadikan Suramadu sebagai jalan tol. Tapi, masih ada beberapa hal yang mengganjal.
Salah satu masalah yang mendapat sorotan adalah soal boleh tidaknya sepeda motor melintas di jembatan sepanjang 5,4 km itu. Sebab, rencana tersebut masih menimbulkan pro-kontra. Karena itu, saat ini pemerintah menyiapkan beberapa rencana baru soal pemberlakuan status Suramadu yang dijadwalkan bisa dioperasikan akhir Juni nanti.
Seperti apa? Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Departemen Pekerjaan Umum (PU) sudah memberikan sinyal positif soal membolehkan sepeda motor lewat di sana. Hanya, ada syarat yang harus dilakukan. Yakni, revisi UU 38/2004 tentang Jalan.
"Dalam UU itu, jalan tol hanya diperuntukkan bagi roda empat. Jika roda dua diperbolehkan, harus ada revisi UU terlebih dulu," kata Kepala BPJT Departemen PU Nurdin Manurung kepada Jawa Pos kemarin.
Menurut Nurdin, pihaknya tidak mempermasalahkan jika sepeda motor benar-benar bisa melintas di sana. "Itu kan sudah ada hitungannya. Jika sepeda motor boleh, pelaksana proyek pasti sudah memperhitungkan semua aspek. Termasuk keselamatan. Tinggal aturannya harus diubah," katanya.
Dalam UU tersebut dijelaskan, setiap jalan yang termasuk kategori tol, penggunaannya harus membayar. Artinya, jika sepeda motor nanti ditarik tarif khusus, sudah bisa dikatakan jalur itu sebagai tol, meskipun jalurnya terpisah.
Di Suramadu saat ini sudah disiapkan akses khusus sepeda motor. Letaknya di posisi paling pinggir (di sisi kanan dan kiri). Lebar masing-masing 2,75 meter. Untuk lebar total jembatan sendiri mencapai 30 meter (2 x 15 meter). Pembagiannya, untuk jalur lambat masing-masing dua meter dan jalur cepat tujuh meter di setiap lajur. Jalur sepeda motor dibuat terpisah dengan jalur roda empat.
Namun, lanjut Nurdin, jika yang dikenai tarif hanya kendaraan roda empat, jalur sepeda motor tidak masuk kategori jalan tol. "Beda kalau tidak ditarik. Dan itu kan tidak mungkin. Karena itu, bisa dikatakan Suramadu sebagai tol khusus," katanya.
Seperti diketahui, pengoperasian Suramadu bisa dikatakan sudah di depan mata. Pasalnya, progress pembangunannya tinggal sedikit lagi. Ini setelah bagian paling penting, yakni bentang tengah (main span) sudah tersambung pada Selasa malam lalu. Balok girder di bentang terakhir berhasil dipasang.
Di tempat terpisah, Departemen PU dan pelaksana proyek Suramadu memutuskan membahas ulang kepastian status Suramadu. "Dalam waktu dekat, kami segera berkonsultasi soal ini. Sebab, alasan yang disampaikan PU cukup masuk akal. Makanya, perlu ada pembahasan ulang," kata Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V Departemen PU A.G. Ismail kemarin.
Menurut Ismail, alasan keselamatan yang dikhawatirkan Departemen PU jika sepeda motor lewat Suramadu cukup beralasan. "Makanya, kami minta masukan. Karena itu, ada beberapa opsi. Untuk sementara, saya belum bisa bicara banyak soal ini," katanya.
Hanya, Ismail memberikan sinyal jika nanti sepeda motor diperbolehkan lewat, sangat mungkin konstruksi jalan untuk sepeda dievaluasi ulang. Ini untuk menjamin para pengendara motor yang melintas di sana bisa lebih aman.
Seperti apa kemungkinan desain itu? Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Achmad Herwanto Dardak mengatakan, untuk keselamatan pengguna motor diperlukan desain jalan (jalan khusus motor) yang lebar plus perlindungan barier (pembatas) yang mumpuni. "Barier yang diperlukan ialah yang memiliki rongga besar, sehingga angin bisa disalurkan," ujar Herwanto.
Menurut Herwanto, jika sepeda motor boleh lewat, opsi yang bisa dilakukan adalah dengan sistem buka-tutup. Maksudnya, pada kondisi-kondisi tertentu, akses bisa ditutup sementara.
Walau begitu, Herwanto menjamin bangunan jembatan sendiri sudah siap dengan kondisi angin yang paling maksimal. "Untuk jembatan ini sendiri sudah kita desain dengan kecepatan maksimal, sekitar 20-27 meter/detik," tambahnya.
Selain itu, pelaksana proyek sudah menyiapkan sistem bernama structural health monitoring system (SHMS). Sistem ini untuk memantau kondisi jembatan secara otomatis.
Sementara itu, hingga kemarin progress jembatan nasional tersebut secara komulatif sudah selesai 93 persen. Rinciannya, causeway sisi Surabaya dan sisi Madura sudah 100 persen, jalan akses sisi Surabaya 100 persen, jalan akses sisi Madura 89,79 persen. Dan main bridge 85,32 persen, approach bridge 79,29 persen. (ris/gun/kum)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 02 April 2009
Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) hampir rampung. Bentang tengah pun sudah tersambung. Kini pemerintah pusat berancang-ancang menjadikan Suramadu sebagai jalan tol. Tapi, masih ada beberapa hal yang mengganjal.
Salah satu masalah yang mendapat sorotan adalah soal boleh tidaknya sepeda motor melintas di jembatan sepanjang 5,4 km itu. Sebab, rencana tersebut masih menimbulkan pro-kontra. Karena itu, saat ini pemerintah menyiapkan beberapa rencana baru soal pemberlakuan status Suramadu yang dijadwalkan bisa dioperasikan akhir Juni nanti.
Seperti apa? Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Departemen Pekerjaan Umum (PU) sudah memberikan sinyal positif soal membolehkan sepeda motor lewat di sana. Hanya, ada syarat yang harus dilakukan. Yakni, revisi UU 38/2004 tentang Jalan.
"Dalam UU itu, jalan tol hanya diperuntukkan bagi roda empat. Jika roda dua diperbolehkan, harus ada revisi UU terlebih dulu," kata Kepala BPJT Departemen PU Nurdin Manurung kepada Jawa Pos kemarin.
Menurut Nurdin, pihaknya tidak mempermasalahkan jika sepeda motor benar-benar bisa melintas di sana. "Itu kan sudah ada hitungannya. Jika sepeda motor boleh, pelaksana proyek pasti sudah memperhitungkan semua aspek. Termasuk keselamatan. Tinggal aturannya harus diubah," katanya.
Dalam UU tersebut dijelaskan, setiap jalan yang termasuk kategori tol, penggunaannya harus membayar. Artinya, jika sepeda motor nanti ditarik tarif khusus, sudah bisa dikatakan jalur itu sebagai tol, meskipun jalurnya terpisah.
Di Suramadu saat ini sudah disiapkan akses khusus sepeda motor. Letaknya di posisi paling pinggir (di sisi kanan dan kiri). Lebar masing-masing 2,75 meter. Untuk lebar total jembatan sendiri mencapai 30 meter (2 x 15 meter). Pembagiannya, untuk jalur lambat masing-masing dua meter dan jalur cepat tujuh meter di setiap lajur. Jalur sepeda motor dibuat terpisah dengan jalur roda empat.
Namun, lanjut Nurdin, jika yang dikenai tarif hanya kendaraan roda empat, jalur sepeda motor tidak masuk kategori jalan tol. "Beda kalau tidak ditarik. Dan itu kan tidak mungkin. Karena itu, bisa dikatakan Suramadu sebagai tol khusus," katanya.
Seperti diketahui, pengoperasian Suramadu bisa dikatakan sudah di depan mata. Pasalnya, progress pembangunannya tinggal sedikit lagi. Ini setelah bagian paling penting, yakni bentang tengah (main span) sudah tersambung pada Selasa malam lalu. Balok girder di bentang terakhir berhasil dipasang.
Di tempat terpisah, Departemen PU dan pelaksana proyek Suramadu memutuskan membahas ulang kepastian status Suramadu. "Dalam waktu dekat, kami segera berkonsultasi soal ini. Sebab, alasan yang disampaikan PU cukup masuk akal. Makanya, perlu ada pembahasan ulang," kata Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V Departemen PU A.G. Ismail kemarin.
Menurut Ismail, alasan keselamatan yang dikhawatirkan Departemen PU jika sepeda motor lewat Suramadu cukup beralasan. "Makanya, kami minta masukan. Karena itu, ada beberapa opsi. Untuk sementara, saya belum bisa bicara banyak soal ini," katanya.
Hanya, Ismail memberikan sinyal jika nanti sepeda motor diperbolehkan lewat, sangat mungkin konstruksi jalan untuk sepeda dievaluasi ulang. Ini untuk menjamin para pengendara motor yang melintas di sana bisa lebih aman.
Seperti apa kemungkinan desain itu? Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Achmad Herwanto Dardak mengatakan, untuk keselamatan pengguna motor diperlukan desain jalan (jalan khusus motor) yang lebar plus perlindungan barier (pembatas) yang mumpuni. "Barier yang diperlukan ialah yang memiliki rongga besar, sehingga angin bisa disalurkan," ujar Herwanto.
Menurut Herwanto, jika sepeda motor boleh lewat, opsi yang bisa dilakukan adalah dengan sistem buka-tutup. Maksudnya, pada kondisi-kondisi tertentu, akses bisa ditutup sementara.
Walau begitu, Herwanto menjamin bangunan jembatan sendiri sudah siap dengan kondisi angin yang paling maksimal. "Untuk jembatan ini sendiri sudah kita desain dengan kecepatan maksimal, sekitar 20-27 meter/detik," tambahnya.
Selain itu, pelaksana proyek sudah menyiapkan sistem bernama structural health monitoring system (SHMS). Sistem ini untuk memantau kondisi jembatan secara otomatis.
Sementara itu, hingga kemarin progress jembatan nasional tersebut secara komulatif sudah selesai 93 persen. Rinciannya, causeway sisi Surabaya dan sisi Madura sudah 100 persen, jalan akses sisi Surabaya 100 persen, jalan akses sisi Madura 89,79 persen. Dan main bridge 85,32 persen, approach bridge 79,29 persen. (ris/gun/kum)
Sumber: Jawa Pos, Kamis, 02 April 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)