Suramadu Hadang Drainase

Proyek jalan akses Suramadu ternyata menimbulkan persoalan bagi permukiman di sekitarnya. Sejak jalan kembar Kedung Cowek digarap tahun lalu, genangan air di kampung semakin tinggi.

Drainase banyak mampat, karena saluran baru lebih tinggi ketimbang yang lama. Seluruh air buangan dari kampung yang biasanya masuk ke saluran kedung cowek, saat ini alirannya justru sebaliknya. Ini karena Jl kedung cowek ditinggikan 1,5 meter. Sehingga dasar saluran pinggir jalan juga dibangun lebih tinggi daripada drainase perkampungan.

Kawasan yang paling parah adalah daerah Kapas Madya dan Bulak Rukem. Di Kapas Madya, saluran air mampet, tidak bisa masuk ke sungai kedung cowek. Sementara saluran pinggir jalan yang berbasis cor justru bagian dasarnya kering. padahal seharusnya arah air saluran drainase ini ke Jl Kedung Cowek. “Kampung kami memang tenggelam sejak jalan ini dibangun,” kata M Madjid, warga Kapas Madya II.

Menurut Madjid, seluruh rumah di pinggir jalan itu saat ini permukaannya kelihatan separo. Sehingga saluran air dari rumah tentu tidak bisa ke saluran pinggir jalan. Penyebabnya adalah saluran air Jl Kedung Cowek. “Makanya banyak yang ditinggikan dengan diuruk. Itu pun kalau punya uang,” kata bapak tiga anak ini.

Oleh karena itu, menurutnya, drainase lama bergantung pintu air yang berdiri di ujung drainase. Jika air dari Suramadu tinggi, pintu air ditutup agar tidak mengganggu saluran pembuangan kampung. Namun, akibat kacaunya sistem drainase itu, kawasan Surabaya utara semakin kumuh.

Banyak aliran sungai dan parit atau selokan yang mandek. Padahal, selama ini banyak warga yang membuang sampah di saluran air. Tak hanya sampah plastik dan organik, kasur hingga bangkai hewan pun mudah ditemukan mengapung di saluran air.

Diare dan penyakit kulit menjadi lumrah. Saat curah hujan berkurang, warna air berubah dari cokelat menjadi hitam pekat. Airnya tidak mengalir. namun permukaannya tetap tinggi karena sampah. Jangan tanya aromanya. Dari jarak 50 meter, orang luar kawasan ini pasti menutup hidung. “Kalau soal bau, warga sudah kebal. Kalau banjir, tambah bau karena salurannya mampet,” kata Imam Harimudi, warga Bulak I.

Warga, kata Imam, sulit mengakses air PDAM. Mereka terpaksa hanya menggantungkan diri dari air sumur resapan dari air sungai yang kotor ini. Nyamuk dan lalat beterbangan di mana-mana. (Uca/sda)

Sumber: Surya, Sabtu, 28 Februari 2009

Pamekasan Segera Miliki Grand Design


SP/Masdawi Dahlan - Para pembicara dalam seminar Grand Design pendidikan, ekonomi dan kesehatan di Pamekasan.

Pamekasan dalam waktu dekat akan memiliki Grand Design (GD) bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Hasil penelitian tentang rancangan GD tiga bidang pembangunan tersebut diseminarkan di Kantor Pemkab Pamekasan, Rabu (25/2), dengan tiga orang pembicara, yakni Dr Waraskamdi MPd dari UNM Malang, Lutfhi Agus Salim SKM M Kes dari Unair Surabaya dan Dr Sasongso MS dari Unibraw Malang.

Dalam pembuatan GD tersebut, Pemkab Pamekasan menggalang kerjasama dengan Unair untuk bidang kesehatan, UNM untuk bidang pendidikan dan Unibraw untuk bidang ekonomi. Seminar diikuti sekitar 200 orang dari kalangan stakeholder yang terkait bidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Dr Budi Ashari MSi, Kepala Balitbangda Pamekasan, mengatakan bahwa GD tiga bidang itu menjadi prioritas Pamekasan karena merupakan bidang prioritas pembangunan di wilayah itu. “Hasil seminar ini akan disimpulkan, dan setelah itu direkomendasikan kepada Bupati menjadi GD yang nantinya akan ditindaklanjuti,” katanya.

Dr Sasongso dari Fakutas Ekonomi Unibraw mengatakan ada puluhan item variabel persoalan bidang ekonomi di Pamekasan yang harus menjadi perhatian ke depan, mulai dari skala mikro hingga makro, jangka pendek, menengah maupun panjang. Juga dari aspek pendataan, perencanaan, pelaksanaan hingga tindak lanjut pembangunan.

Pamekasan memiliki potensi unggulan yang bagus, misalnya pertanian, peternakan, dan perkebunan yang menghasilkan antara lain jagung, bawang merah, sapi, ternak ayam buras, ikan teri dan garam. Jika dikembangkan, semua itu akan menjadi potensi pembangunan yang besar di masa yang akan datang.

Dari aspek pendidikan, Dr Waraskamdi dari UNM melihat ada persoalan di empat aspek yakni aspek pola pikir, kebijakan dan manajemen, sarana-prasarana dan SDM. Dari aspek pola pikir masih banyak warga yang kurang merasa memiliki tanggungjawab dan memotivasi belajar terhadap pendidikan anak anaknya.

Sedangkan dari bidang kesehatan, Lutfi Agus Salim dari Unair mengatakan persoalan Pamekasan saat ini adalah belum tercapainya target pelayanan kesehatan minimal bagi warga, belum optimalnya sebaran sarana-prasarana kesehatan dan belum adanya peran swasta. Selain itu juga terdapat persoalan bidang SDM, kekurangan obat dan perbekalan. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 27 Februari 2009

Sampang Terendam Banjir

Hujan deras yang mengguyur Kota Sampang selama tiga jam, membuat ratusan rumah warga di Desa Pasean, Panggung dan Desa Gunung Maddah, Kecamatan Kota Sampang dan puluhan hektare sawah terendam banjir, antara 0,5 - 1 meter, Minggu (22/2).

Selain menenggelamkan rumah warga, banjir akibat meluapnya Kali Kemuning yang melintas di tengah kota, juga menyebabkan SMP Ibnu Abu Rasad, di Desa Pasean dan jalur transportasi jurusan Sampang - Omben ditutup, selama satu jam, lantaran terendam air bercampur lumpur.

Sejumlah pengendara bermotor, baik mobil penumpang umum (MPU) dan pribadi yang hendak menuju Omben, selama ini menempuh perjalanan sepanjang 15 km, terpaksa memutar melewati Pamekasan sejauh 60 km. Beberapa kendaraan roda dua yang terjebak banjir, mogok di tengah jalan.

Mahmudi, 45, warga Jl Delima, Desa Pasean, mengatakan, air masuk ke rumah penduduk sekitar pukul 03.00 di saat warga tidur pulas. Sehingga sebagian warga tidak sempat menyelematkan perabot rumah tangganya.

Waktu itu tidur di ruang tengah di lantai beralaskan kasur. Saya kaget ketika tubuh saya tiba-tiba basah. Begitu terbangun, ternyata air sudah masuk rumah setinggi 10 cm.

"Kami tidak menduga kalau hujan tadi malam menyebabkan banjir. Untung kami terbangun, sehingga kami menyelamatkan barang-barang kami ke tempat yang lebih tinggi," ujar Mahmudi.

Hal senada diungkapkan Imam Solikin, warga Jl Raya Panggung, walau punya keluarga di tempat lain, namun rumah keluarganya juga terendam banjir dan kini sama-sama kebingunan mencari tempat pengungsian sementara. Imam mendesak Pemkab Sampang mencari solusi bagaimana meminimalisir banjir yang kerap melanda Sampang. (st30)

Sunber: Surya, Senin, 23 Februari 2009

Suramadu Terganggu Hujan

Hujan deras yang mengguyur Bangkalan beberapa hari terakhir, menggenangi lahan jalan akses Suramadu sisi Madura. Akibatnya, pengerjaan kelanjutan jalan akses yang menghubungkan Kecamatan Labang-Kecamatan Burneh, terganggu. Target penyelesaian jalan penghubung jembatan Suraamdu ini akan molor pula.

Kasatker Pembangunan Jembatan Suramadu Sisi Madura, Siswo Dwiyanto, mengatakan hujan yang turun terus menerus akhir-akhir ini menghambat pengerjaan proyek jalan beraspal ini. “Dipaksakan untuk meneruskan pekerjaan pengaspalan jalan tidak mungkin karena air hujan menggenangi areal lokasi jalan akses,” katanya saat memantau pembangunan jalan akses di Desa Morkepek, Rabu (25/2) pagi tadi.

Dikatakan, hujan yang terus turun di lokasi proyek memaksa para pekerja sering menghentikan kegiatannya. Mereka menunggu hingga lahan kering untuk meneruskan pekerjaan. Tidak mungkin dalam kondisi jalan basah dipaksakan pengaspalan, kualitas jalan akses tidak akan maksimal dan akan sangat rentan rusak.

“Masalah besar yang kami hadapi, saat jalan mulai kering hujan deras datang lagi. Jadi, kami menunggu lagi. Begitu yang kita alami akhir-akhir ini di lapangan,” ungkapnya.

Menurut Siswo, hujan memang tantangan terbesar bagi para pekerja yang berhubungan dengan tanah dan pembangunan jalan. Karena itu, dia mengaku mulai mengambil langkah-langkah antisipasi bila hujan terus mengguyur Bangkalan dan sekitarnya.

“Kami sudah bangun lubang-lubang untuk aliran air. Kami juga siapkan sedotan agar air cepat kering,” ujarnya.

Hujan juga berdampak pada jadwal penyelesaian jalan akses sisi Madura. Sisa jalan sepanjang 1,2 km yang harus tuntas April mendatang, terpaksa mundur hingga Mei. ”Itu sudah batas maksimal. Tidak boleh molor lagi, akhir Mei sudah harus tuntas,” tegasnya.

Selain ini pelaksana megaproyek ini tengah berjuang keras untuk meratakan tanah perbukitan yang ada di tiga lahan di Kecamatan Labang.

Kondisi lahan yang cukup sulit berupa tebing yang cukup tinggi serta curah hujan yang sangat tinggi pekerja di lapangan kesulitan untuk meratan lahan. “Kami targetkan 20 hari lagi gundukan tanah sudah bias diratakan,” terangnya.

Jika lahan sudah rata, kelanjutan pembangunan jalan akses sepanjang 11,5 km untuk sisi Madura akan dilanjutkan dengan tahapan selanjutnya. Yakni jalan akses tersebut akan dilapisi kontruksi tanah bedel, lapisan kelas B, lapisan kelas A, lapisan aspal AC-Bes, dan terakhir lapisan aspal AC-WC. “Kita berharap pengerjaan jalan akses sesuai dengan rencana, meski terkendala alam,” pungkasnya. kas

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 25 Februari 2009

Instalasi Telepon dan Listrik Sudah Terpasang

Penyelesaian jalan akses menuju Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) mengalami perkembangan signifikan. Bisa dikatakan, saat ini nyaris seluruh pekerjaan di sektor ini tuntas. Selain menuntaskan konstruksi jalan, beberapa utilitas pendukung jalan mulai dipasang.

Misalnya, pamasangan sambungan telepon. Sarana ini diproyeksikan tidak hanya untuk keperluan di sekitar akses maupun Jembatan Suramadu sisi Surabaya, tetapi juga untuk sisi Madura, khususnya di sekitar Kamal.

Untuk itu, jalan akses jembatan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi saja. Namun, juga bakal menjadi penghubung masuknya sarana utilitas di sekitar Madura.

"Jadi pemasangan utilitas telepon nantinya bisa menyentuh masyarakat di sekitar Madura," kata Communication Manager PT Telkom Divre V Jatim Djadi Sugiarto kemarin.

Dia menjelaskan, saat ini proses pemasangan utilitas itu sudah masuk tahap akhir, sambil menunggu tersambungnya Jembatan Suramadu. "Pemasangan yang kami lakukan nanti bersamaan dengan penyelesaian proyek Suramadu," kata Djadi.

Demikian juga dengan utilitas penerangan jalan. PLN Distribusi Jatim memastikan semuanya sudah tidak ada masalah. ''Instalasinya sudah tertata semua. Kami tinggal mendistribusikan aliran listrik di sana (kawasan proyek. Red),'' kata Corporate Secretary PLN Distribusi Jatim Agus Widayanto.

Memang masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera dituntaskan di sekitar Suamadu. Di antaranya pemasangan utilitas di sepanjang jalan, seperti pemasangan sambungan kabel telepon.

Selain penuntasan utilitas, pelaksana proyek juga tengah menyelesaikan jembatan layang di atas jalan akses itu. Jembatan ini diproyeksikan untuk menjamin keselamatan warga di sekitar jalan akses.

Hingga kemarin progress report penyelesaian akses Suramadu sisi Surabaya sudah mencapai 99,81 persen. Ditargetkan, awal bulan depan semua sudah tuntas. "Tinggal menunggu penyelesaian akses di sisi Madura dan sisa pekerjaan di jembatan," kata Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V A.G. Ismail. (ris/ari)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 25 Februari 2009

Pedagang Pindah, Pasar Lama Terbakar

Terbakarnya Pasar Bangkalan di Jl. A. Yani, disaat pedaganya dipindah ke pasar K. Lemah Dhuwur di Jl. Halim Perdana Kusuma, diselidiki Polres Bangkalan. Ada dugaan terbakarnya beberapa stan di pasar lama itu karena ada unsur kesengajaan dari orang yang iseng. “Untuk sementara ada dugaan unsur sengaja. Sebab listrik di pasar ini beberapa hari lalu sudah diputus PLN sehingga tidak mungkin diakibatkan hubungan pendek aliran listrik,” kata petugas Polres Bangkalan yang melakukan olah TKP atas musibah itu, Kamis (19/2) siang tadi.

Dugaan itu juga diperkuat dengan kondisi pasar lama yang sudah ditinggal sebagian besar penghuninya saat terbakar. “Jadi penghuni tidak ada. Listrik juga sudah diputus. Apalagi kalau bukan dibakar. Ya, paling tidak perbuatan orang iseng, dan itu yang kita selidiki,’’ tegasnya.

Terbakarnya pasar lama itu memang terjadi pada hari terakhir pedagang di pasar itu harus pindah ke pasar baru di Jl. Halim Perdana Kusuma. Kejadian sempat membuat suasana di sekitar pasar, ramai sekaligus menjadi tontotan masyarakat sekitarnya.

Lokasi kios yang terbakar berada di tengah – tengah pasar. Kobaran api mencapai 2 meter. Dengan menggunakan mobil unit PMK, petugas pemadam kebakaran bertindak cepat. Api yang membesar berangsur – angsur bisa dipadamkan.
“Andaikan PMK terlambat, api pasti membakar semua toko di pasar. Bahkan tidak mungkin akan merembet ke rumah warga di sebelah timur, barat dan utara pasar,’’ ujar warga yang sempat bersiap mengungsi. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 19 Februari 2009

Suramadu Tuntas, Sub Terminal Dibangun

Seiring bakal rampungnya pembangunan Jembatan Surabamdu, Pemkot Surabaya berancang-ancang membangun dua sub terminal pada pertengahan tahun ini. Dua sub terminal itu masing-masing berada di Tambak Wedi dan Keputih.

Sub terminal Tambak Wedi yang berada di Kecamatan Kedung Cowek dibangun mulai pertengahan 2009. Terminal itu dibangun sebagai pengganti terminal lama yang berada di Kenjeran. “Nantinya sub terminal Tambak Wedi tersebut bisa dipakai sebagai transit warga yang akan bepergian dari Surabaya ke Madura lewat Jembatan Suramadu,” tutur Irvan Wahyudrajad, Kabid Sarana dan Prasarana Transportasi Dishub Surabaya, Senin (12/1).

Keinginan memiliki sub terminal di Kedung Cowek cukup beralasan, karena selama memanfaatkan sub terminal di Kenjeran, Dishub harus menyewa lahan Rp 50 juta per tahun. Lahan yang dipakai adalah milik TNI AL.

Kini terkait rencana itu, pihaknya mulai membuat Detail Engineering Design (DED) yang akan dilelang pada Januari-Februari dengan nilai Rp 70 juta. “Saya perkirakan, Juni 2009 sudah mulai pembangunannya,” ujarnya.

Sub terminal Tambak Wedi ini luasnya satu hectare. Rencananya 7.000 meter persegi dipakai untuk fasilitas umum (fasum) dan sisanya 3.000 meter persegi dipakai sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Lahan di Tambak Wedi ini luasnya tujuh kali lipat dibandingkan di Kenjeran yang hanya 780 meter persegi saja.

Sedangkan sub terminal Keputih, dibangun di sekitar lahan pembuangan akhir (TPA) Keputih juga pada 2009 ini. Terminal ini sebagai pengganti pangkalan Keputih, yang kondisinya semrawut.

“Karena statusnya pangkalan, maka banyak angkot yang sering mengganggu kelancaran lalu lintas. Karena itu perlu dibuat sub terminal,” ujarnya. Hanya saja, terkait pembangunan itu saat ini pihaknya masih mencari lokasi yang tepat.

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Armudji mengatakan pembangunan dua sub terminal itu tak semuanya efektif. Menurutnya hanya sub terminal Tambak Wedi saja yang efektif karena dekat Jembatan Suramadu.

Namun untuk sub terminal Keputih, tidak efektif. “Itu kan jauh dari keramaian. Khawatirnya orang jarang yang mau naik dari sub terminal itu,” pungkasnya. sda

Sumber: Surya, Selasa, 13 Januari 2009

Maret, Bentang Tengah Suramadu Tersambung

Pembangunan bentang tengah Jembatan Suramadu diperkirakan segera rampung menyusul akan tersambungnya jembatan di sisi Madura. Kalau tidak terkendala cuaca, diperkirakan Maret 2009 proses penyambungan sudah selesai. Pasalnya, saat ini pembangunan bentang tengah (main span) sudah 82,12 persen, sementara jembatan penghubung (approach bridge) sisi Madura 82,21 persen.

Kepala Satuan Kerja Sementara (SKS) Pembangunan Jembatan Nasional Suramadu Bentang Tengah Atiyanto Busono mengatakan, saat ini pengerjaan proyek bentang tengah tinggal menyelesaikan pemasangan sambungan (closure) terakhir untuk penyambungan dengan sisi Madura. Pihaknya berharap akhir Februari 2009 pemasangan closure sudah rampung. “Sebulan berikutnya (Maret 2009) kami harapkan pengerjaan bentang tengah selesai,” ujarnya, Rabu (18/2).

Setelah pemasangan sambungan selesai, pengerjaan proyek akan diarahkan pada sejumlah kegiatan finishing, seperti pengaspalan badan jalan, memasang rambu lalu lintas dan lampu penerangan jalan umum (PJU).

Agar selesai sesuai target, pengerjaan proyek jembatan Suramadu dilakukan selama 24 jam penuh dengan di bagai dua, shift pertama masuk pukul 06.00 - 18.00 WIB dan shift kedua masuk pukul 18.00 - 06.00 WIB.

Dasuki, Wakil Manajer Pembangunan Pier 37, membenarkan tidak pernah berhentinya aktivitas pembangunan proyek Suramadu. “Mereka (pekerja) tetap bekerja 24 jam penuh, meski cuaca kurang mendukung,” ujarnya ketika melihat pekerjaan yang dilakukan para pekerja China di pier 37.

Abdul, salah satu pekerja mengatakan, para pekerja baru berhenti kalau cuaca benar-benar sudah tidak memungkinkan, misalnya, hujan yang turun sangat lebat. “Tapi, setelah hujan reda ya balik kerja lagi,” tukasnya.

Sementara itu, setelah menyelesaikan eksekusi lahan akses ke Suramadu di sisi Surabaya, jalan akses ke Suramadu terlihat mulai rampung dan tinggal finishing. Saat ini, tinggal memasang PJU, rambu lalu lintas, membangun jembatan penyeberangan orang (JPO) di depan SMPN 15 Surabaya, dan menanam tanaman hias di sepanjang jalur menuju jembatan.

Sementara akses Suramadu di sisi Madura masih dilakukan pengerukan tebing dari lahan yang baru dieksekusi. Setelah itu, barulah pembangunan jalan akses untuk ruas yang belum dilanjutkan kembali.

Hingga Februari ini progres total pembangunan Suramadu mencapai 89,28 persen. Rinciannya, causeway sisi Surabaya 99,81 persen dan jalan pendekat 97,74 persen. Untuk bentang tengah, cable stay mencapai 84,65 persen dan approach bridge 78,45 persen. Sedangkan causeway sisi Madura sudah rampung 100 persen, tapi jalan pendekatnya baru 83,92 persen. uji

Sumber: Surya, Kamis, 19 Februari 2009

Proyek Suramadu Mundur Dua Bulan

Target Tuntas April Ganti Juni

Target penyelesaian pembangunan Jembatan Suramadu lagi-lagi molor. Awalnya, jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Bangkalan itu ditargetkan tuntas April. Kini, pelaksana proyek mengubahnya menjadi Juni alias mundur dua bulan.

"Setelah melalui berbagai evaluasi, kami tidak bisa memaksakan penyelesaian proyek ini. Karena itu, target penyelesaian April nanti sepertinya tidak mungkin tercapai," kata Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V Abdul Ghofur Ismail kemarin (16/2).

Dia menjelaskan, ada beberapa permasalahan mendasar yang membuat proyek tersebut tidak sesuai jadwal. Salah satunya adalah cuaca yang kurang mendukung. "Kondisi cuaca (hujan dan angin kencang, Red) membuat pelaksanaan pekerjaan sedikit terhambat," ujar Ismail. Masalah cuaca membuat ritme kerja pelaksana proyek tidak sesuai dengan rencana yang sudah disiapkan.

Masalah lainnya adalah pendanaan. "Sebenarnya, sejak awal, kami pesimis proyek ini bisa lancar. Sebab, pencairan dana tambahan yang kami perlukan ternyata terlambat," kata Ismail. Dana yang dimaksud Ismail itu berupa additionnal loan USD 68,93 juta dari Bank Exim of China. Dana tersebut digunakan untuk menutupi kebutuhan pembangunan konstruksi serta menstabilkan cash flow konsorsium kontraktor. Rencana semula, dana itu sudah turun pada Juni 2008. Nyatanya, dana tersebut baru cair akhir tahun lalu.

Pelaksana proyek menargetkan, penyelesaian proyek secara keseluruhan bisa direalisasikan paling cepat Juni mendatang. "Penyelesaiannya nanti per bagian," imbuhnya.

Untuk penuntasan main span (bentang tengah), pelaksana proyek menargetkan tuntas pada Maret. Progress report terakhir menyebutkan, untuk bagian itu, tingkat penyelesaiannya mencapai 82 persen. Ada beberapa bagian yang belum tuntas. Di antaranya, penyambungan beton jalan atau penyelesaian kabel penyangga jembatan.

Bagian yang paling akhir penyelesaiannya adalah approach bridge, terutama sisi Surabaya. Secara total, tingkat penyelesaian bagian itu baru mencapai 78 persen. Perkembangan signifikan tampak pada penyelesaian cause way (jalan pendekat menuju bentang tengah jembatan). Sisi Madura sudah tuntas 100 persen dan sisi Surabaya mencapai 99,8 persen.

Ismail mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat soal penyesuaian jadwal tersebut. Menurut dia, pemerintah pusat tidak mempermasalahkan keterlambatan itu. "Sebab, ini kan murni alasan teknis. Tapi, pemerintah sudah meminta agar ini menjadi keterlambatan yang terakhir," tegas pria kelahiran Semarang itu. (ris/oni)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 17 Februari 2009

Akhirnya Warga Pasrah

Pemkot-Pemprop Jatim akhirnya tak tahan melawan keteguhan 2 warga Jl Kenjeran dan 5 warga di Jl. Kedung Cowek. Berulangkali dialog dengan warga buntu, membuat panitia penyelesaian pembebasan (P2P) dari dua instansi itu menggunakan perpres RI nomor 36/2005 tentang pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum.

Tujuh rumah warga di Jl. Kenjeran dan Kedung Cowek yang akan digusur paksa pengadilan negeri (PN) Surabaya atas permintaan P2P, rinciannya terdiri dua rumah di Jl. Kenjeran dan lima rumah di Jl. Kedung Cowek. Rencananya eksekusi akan dilakukan Rabu (14/1), namun ada kabar ditunda Kamis (15/1) besok. Sementara di lapangan, sebagian warga sudah membongkar rumahnya sendiri. Sisanya dibongkar tim P2P.

Rumah milik Fanani di Jl. Kenjeran dibongkar pemiliknya sendiri. Rumah Ny Sundari belum dibongkar dan menunggu dibongkar P2P. Sedangkan lima rumah warga di Jl. Kedung Cowek milik M Yunus, Rofii, Munif, Mustofa dan Hendra sepakat dibongkar petugas P2P. Namun, mereka meminta ada deal-deal tertentu di pengadilan.

“Hari ini saya dan kawan-kawan akan datang ke pengadilan untuk mengadakan deal-deal tertentu. Tapi soal bangunan rumah, saya serahkan ke P2P. Kalau mau dibongkar sekarang silahkan, saya tidak keberatan,” kata M Yunus.

Deal-deal yang akan disepakati itu jika P2P mau menjelaskan soal prosedur pembebasan fasilitas umum milik kampung. Kemudian, menyelesaikan permintaan warga agar kecurangan pembebasan lahan fasilitas umum diungkap.

H Rofii, salah satu warga di Kedung Cowek mengatakan, pihaknya akan mengikuti sikap M Yunus. Kalau Yunus siap menerima keputusan P2P, dia akan mengikutinya. Tapi, untuk sementara ini dirinya belum bisa menerima uang konsinyasi di pengadilan.

Suasana di Jl Kedung Cowek hingga Rabu (14/1) siang tadi tegang meski tetap terkendali. Puluhan petugas kepolisian dan Satpol PP tampak berjaga-jaga di sekitar rumah yang belum dibebaskan.

Petugas P2P juga sibuk membantu memindahkan barang-barang milik M Yunus ke rumahnya yang lain di Jl Kali Kedinding Tengah Sekolahan. Angkut-angkut barang ini dibiayai P2P dan diangkut dengan truk Satpol PP.

Untuk mengamankan jalannya penggusuran, polisi menerjunkan 1400 personel dari berbagai kesatuan. Bahkan, sebuah mobil anti huru-hara jenis Water Canon juga dipersiapkan.

Kabag Bina Mitra Polres Surabaya Timur Kompol Rakidi mengatakan diterjunkannya anggota di lapangan hanya untuk mengamankan jalannya penggusuran. "Kita hanya menjaga pengamanannya saja, tidak lebih. Ya untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar dia ketika ditemui di ruang kerjanya, Mapolres Surabaya Timur Jl Kapasan Surabaya, Rabu (14/1) pagi tadi.

Kekuatan pengamanan terdiri dari Satuan Pengendalian Masyarakat (Dalmas) Polda Jatim sebesar 2 kompi atau 200 personel, Brimob Polda Jatim sebesar 2 kompi, Dalmas Polwiltabes Surabaya 1 kompi, Unit Tangka Polwiltabes Surabaya 1 kompi, Dalmas Polres Surabaya Timur 1 kompi, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Linmas, TNI, Polisi Militer ABRI, Pemadam Kebakaran, Water Canon, Ambulance serta satuan anjing pelacak (K9) Polda Jatim.

"Nantinya kekuatan anggota akan dipecah menjadi dua, 50 persen personel diterjunkan di kawasan Kedung Cowek dibawah kendali Kapolsek Kenjeran dan separohnya ditempatkan di Jl Kenjeran dibawah kendali Kapolsek Tambaksari. Tetapi sebelumnya, seluruh anggota wajib apel pagi dulu di sepanjang Jl Kedung Cowek," tukasnya.

Rakidi menambahkan, saat pelaksanaan eksekusi yang rencananya ditunda besok, 8 eskavator akan disiapkan. Di samping itu, 50 truk dan puluhan kuli juga siap membantu pembongkaran rumah. “Hari ini polisi kembali melakukan sosialisasi ke warga dan memasang police line di lokasi,” tambahnya.

Tolok Ukur

BF Sutadi, Asisten I Sekkota pemkot bidang pemerintahan sekaligus anggota P2P. Penggusuran dengan menggunakan Perpres tersebut merupakan kejadian yang kali kedua di Surabaya karena sebelumnya pernah digunakan pemkot untuk pembebasan jalan Middle East Ring Road (MERR) IIA di kawasan Mulyorejo dan Kalijudan.

Penggunaan perpres ini nantinya juga akan dijadikan tolok ukur pemprop dan pemkot untuk menghadapi kasus serupa di tempat yang lain, seperti di Jl. Menanggal V yang akan digunakan sebagai akses ke Masjid Al Akbar. Kemudian, pembebasan lahan dan rumah warga untuk pembangunan frontage road di Jl. A Yani dan di tempat-tempat lain.

"Istilah kami bukan penggusuran paksa, tapi upaya penyelesaian perselisihan tanah lewat pengadilan. Karena, kami menitipkan uang konsinyasi ke pengadilan. Jadi, beda lho menggusur paksa dan lewat persidangan," kata

Menurutnya, istilah penggusuran lebih tepat untuk memaksa pindah warga yang tidak memiliki hak atas tanah dan bangunan, seperti bangunan di stren kali atau PKL di trotoar. Tapi, 7 orang warga di akses Suramadu tersebut masih memiliki hak atas uang yang dititipkan P2P di pengadilan.

Awalnya P2P menargetkan pembangunan ke akses Suramadu selesai akhir 2007, namun karena perundingan masih buntu target penyelesaiannya diundur sampai akhir 2008. Ternyata, target pada akhir 2008 juga mbleset sampai pertengahan Januari 2009.

"Banyak kalangan menilai pemerintah tak punya nyali menerapkan perpres No 36/2005 dalam menghadapi masayarakat yang mempertahankan hak atas tanah dan bangunannya, tapi kami akan membuktikannya bahwa kami bisa," terangnya.

Pemprop Jatim mendukung penuh rencana penggusuran 7 lahan yang menghambat pembangunan akses masuk ke Jembatan Suramadu. Namun pemprop tidak perlu menerjunkan personel ke lokasi. "Segala upaya yang dilakukan oleh tim P2P kami dukung asalkan semua sesuai prosedur dan aturan yang ada. Apalagi Jembatan Suramadu diharapkan semua pihak supaya ada pertumbuhan eknonomi dan kesejahteraan terutama di Madura," kata Asisten III Perekonomian dan Pembangunan Setdaprop Jatim, Chairul Djaelani.

Tetapi dia berkeberatan upaya yang dilakukan oleh tim P2P hari ini sebagai bentuk penggusuran. Pasalnya sudah ada kesepakatan dalam ganti rugi antara panitia dan warga serta tidak ada perlakuan yang berbeda antar warga. "Itu bukan penggusuran karena warga sendiri sudah mendapat ganti rugi sesuai dengan yang disepakati," katanya. (pur/k4/k2)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 14 Januari 2009

Sempat Ricuh, Ancam Tutup Jalan

Eksekusi rumah di Jl Kenjeran milik Sundari, Kamis (15/1) pagi tadi sempat berjalan ricuh. Pasalnya, pemilik rumah keberatan jika bangunannya itu diratakan dengan tanah menggunakan alat berat. Bahkan saat pengendara eskavator mendekati lokasi dan akan meruntuhkan bangunan, wanita berbadan subur ini mendatangi sopir dan berteriak agar eksekusi dihentikan. “Hoi, jangan seenaknya menghancurkan. Saya nggak terima ini, saya nggak terima,” teriak Sundari.

Khawatir terjadi apa-apa, petugas segera mengamankan Sundari dan menenangkannya. Dibantu keluarga, akhirnya Sundari dibawa masuk ke dalam rumah. Selain Sundari, putranya yang masih berusia 10 tahunan keluar rumah dan berteriak-teriak memaki petugas. Sambil menatap bangunan yang sudah rata dengan tanah, ia berkali-kali melontarkan kata-kata kotor ke arah petugas. Kakak perempuannya juga tidak mau ketinggalan. Dengan menggenggam handphone berkamera, ia merekam semua proses penghancuran rumahnya.

Sundari mengaku kecewa dengan sikap petugas yang meluluhlantakkan bangunannya tersebut. Kata dia, dirinya tidak akan tinggal diam dan akan terus mempermasalahkan kasus ini hingga ke ranah hukum. Bahkan dirinya mengancam akan menutup Jl Kenjeran jika tuntutannya tidak dipenuhi. “Kalau hak kami tidak dibayar, maka kami akan tidur di jalan dan menutupnya,” ujarnya kepada wartawan yang ditemui di sela-sela proses penggusuran bangunan depan rumahnya.

Sementara itu, penggusuran sendiri berlangsung tepat pukul 08.00. Sekitar 1400 personel yang disiapkan sudah sejak satu jam sebelumnya sudah bersiap-siap dan berjaga di depan lokasi. Ratusan warga memadati lokasi dan arus lalu lintas dari arah Kenjeran menuju Makam Rangkah juga ditutup total.

Sebelum penggusuran dimulai, Asisten II Walikota Surabaya dan Ketua Tim Panitia Penyelesaian Pembebasan (P2P) Dr BF Sutadi BF sempat berdiskusi dengan si empunya rumah. Perbincangan tersebut sempat sedikit panas karena pemilik rumah masih keberatan pembongkaran dilakukan. Namun, setelah diberi pengertian, akhirnya keluarga Sundari mau mengalah. “Baik sekarang kami ngalah, tapi ingat kami tidak kalah,” tegas Sundari kepada Sutadi.

Hanya sekitar satu jam, dua bangunan sisi barat dan sisi timur rata dengan tanah. Pohon-pohon yang berada di sekitar bangunan-pun juga tidak luput dari gusuran.

Di sekitar lokasi, berjaga-jaga petugas PMK dibantu petugas PLN, petugas Telkom, Linmas dan SatPol PP. Bahkan 1 kompi Sat Brimob Polda Jatim berseragam lengkap juga berdiri tegak mengamankan lokasi. Beberapa anjing pelacak (K9) Polda Jatim juga disiapkan.

Selain Asisten Walikota, tampak Kepala SatPol PP Kota Surabaya Utomo, Kapolres Surabaya Timur AKBP Eko Iswantono, Kabag Bina Mitra Kompol Rakidi serta Kapolsek Tambaksari AKP Choirul Anam.

Selain rumah milik Sundari, satu lagi bangunan milik Mustofa di kawasan Jl Kedung Cowek dibongkar. Berbeda dengan proses penggusuran di Jl Kenjeran, di rumah milik pengusaha burung ini praktis tidak terjadi insiden apapun. Keluarga Mustofa luluh setelah Kasatreskrim Polres Surabaya Timur, AKP Hartoyo mengajak keluarga untuk melunak.

Sekitar pukul 08.15 WIB, rumah yang berisi sangkar burung, bahan-bahan sembako dan perabotan rumah dikeluarkan oleh pekerja kasar dari Pemkot Surabaya.

Mustofa sendiri saat ini berada di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya mengikuti sidang gugatan yang dilayangkan terhadap Pemkot Surabaya. (k4)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 15 Januari 2009

Jalan Akses Tuntas April

Eksekusi jalan akses jembatan Suramadu sisi Madura di tiga desa, yakni Desa Baengas, Morkepek, dan Pangpong, Kecamatan Labang, Bangkalan, dilanjutkan Kamis (5/2) siang tadi dengan mengeksekusi empat titik tanah. Masing-masing tanah milik Affan seluas 6.620 M2, Datun (3.148), Machmud (1.962), dan H As’ad (4.352). Sedangkan tiga titik tanah milik warga yang telah dieksekusi kemarin milik Sidi (6.392), Machmud B Satunah (4.751), dan Munirah (533).

“Bila eksekusi tanah ini tuntas, kita langsung mengerjakan pekerjaan fisik. Diperkirakan untuk pra pengerjaan fisik jalan beraspal, membutuhkan waktu 21 hari,” kata Kasatker Jembatan Suramadu Sisi Madura, Siswo Dwiyanto, Kamis (5/2) siang tadi saat memantau pelaksanaan eksekusi tanah warga.

Menurut Siswo, saat ini tersisa sekitar 23 persen jalan akses yang belum dikerjakan karena terganjal dengan masalah pembebasan tanah milik 8 warga (satu warga sudah menerima konsinyasi), yang tidak mau menerima ganti rugi yang diberikan pemerintah sebesar Rp 80.000/M2.

“Begitu proses tujuh titik tanah milik warga sudah diurug, kita langsung tancap gas mengerjakan jalan akses Suramadu. Diperkirakan pada April 2009 ini, jalan akses Suramadu sisi Madura sudah tuntas,” tegas Siswo.

Pelaksanaan eksekusi hari kedua ini sama seperti hari pertama. Petugas yang dilibatkan 1 SSK (satuan setingkat kompi) dari Polres Bangkalan, 1 peleton personil TNI, dan 1 peleton petugas Satpol PP Bangkalan. Ada tiga bego yang digunakan untuk meratakan tanah milik warga. Pelaksanaan eksekusi pada hari pertama dan hari kedua mendapatkan pengawalan ketat dari petugas. Meski pemilik tanah pada hari pertama tidak melakukan perlawanan.

Sementara itu, Kades Pangpong, Hoiri, mengatakan dua warganya yang menolak ganti rugi sebesar Rp 80.000/M2, tidak ada di tempat. “Mereka ada di Surabaya. Tetapi, surat pelaksanaan eksekusi sudah disampaikan pada keluarganya di Pangpong. Keluarganya tetap menolak dengan harga pemerintah. Mereka mematok dengan harga Rp 1 juta/M2,”’ ungkapnya.

Upaya untuk memberikan pengertian pada warganya sudah sering dilakukan, namun mereka tetap pada pendiriannya tidak mau melepaskan tanahnya, selain Rp 1 juta/M2. “Meski begitu, mereka tidak bisa menghalangi pelaksanaan eksekusi. Karena tanah ini digunakan untuk kepentingan umum, yakni jalan tol Suramadu,” ujarnya. (kas)

Sumber: Surabaya Pos, Kamis, 5 Februari 2009