Santri Pondok Pesantren di Sumenep Gelar Tahlil

Santri di sejumlah pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, langsung menggelar doa bersama dan tahlil atas wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Rabu (30/12) malam.

"Begitu mendengar berita Gus Dur wafat, kami bersama santri langsung menggelar doa bersama dan tahlil. Kami kehilangan seorang pengayom umat yang sekaligus guru bangsa," kata salah seorang pengasuh Ponpes Al Utsmuni Sumenep, KH Abdullah Cholil di Sumenep.

Ia menjelaskan, kegiatan doa bersama dan tahlil bagi Gus Dur itu diikuti secara bertahap oleh santrinya yang berjumlah sekitar 400 orang.

"Semoga semua amal perbuatan beliau diterima di sisi Allah SWT. Kami sangat berduka atas wafatnya Gus Dur," kata Kiai Cholil menegaskan.

Hal sama juga dilakukan santri Ponpes Al Karimiyyah dan Ponpes Roudlatut Tholibin. Pimpinan Ponpes Al Karimiyyah, K.H. Abuya Busyro Karim mengatakan, pelaksanaan doa bersama dan tahlil yang digagasnya, tidak hanya diikuti oleh santrinya, tapi juga oleh warga sekitar.

"Setelah ada berita di televisi tentang wafatnya Gus Dur, kami langsung mengumumkan pada masyarakat melalui pengeras suara di masjid sekaligus memberitahukan melaksanakan doa bersama dan tahlil," katanya.

Di Ponpes Roudlatut Tholibin, sekitar 200 santri juga melaksanakan doa bersama dan tahlil.

"Kami dan santri langsung berpikiran sama untuk menggelar doa bersama dan tahlil. Wafatnya Gus Dur akan membuat seluruh warga Indonesia berduka, apalagi kami yang warga Nahdlatul Ulama (NU)," kata salah seorang pengasuh Ponpes Roudlatut Tholibin, Mohammad Halimi. (Ant/OL-7)

Sumber: Media Indonesia, Rabu, 30 Desember 2009

Kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan ke Pamekasan

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Sabtu, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pamekasan di Pulau Madura, Jawa Timur.

Fadel Muhammad tiba di Pendopo Ronggosukowati Pemkab Pamekasan, sekitar pukul 14.00 WIB dan berramah tamah dengan jajaran Muspida di lingkungan Pemkab setempat.

Selanjut menteri berkunjung ke Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan. Di desa ini, menteri Fadel Muhammad meresmikan dan menyerahkan bantuan 50 rumah ramah bencana kepada warga miskin di desa itu.

Saat ini acara penyerahan bantuan rumah ramah bencana oleh Menteri Kelauatan dan Perikanan masih berlangsung.
(*)

Sumber: AntaraNews, Sabtu, 26 Desember 2009

Investasi Madura Terganjal Blueprint Suramadu

Jembatan Suramadu (Eric Ireng) Tak kunjung rampungnya penyusunan blueprint pembangunan di sekitar kawasan Jembatan Suramadu membuat penanaman investasi di kawasan Madura secara keseluruhan terhambat. Dengan tidak adanya kepastian blueprint, praktis belum ada investasi yang masuk ke kawasan kaki-kaki Jembatan Suramadu.

"Akhirnya kami memilih fokus menjual potensi investasi kawasan Madura lainnya di luar 1,2 ribu hektare kawasan kaki-kaki jembatan Suramadu. Sebenarnya di wilayah ini ramai peminat. Tapi bagaimana lagi, blueprint-nya saja belum ada," ujar Sikilli Hamza, Kepala Bidang Pengembangan dan Kerja Sama Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur, Rabu (23/12).

Namun, Sikilli menegaskan, wilayah-wilayah lain di Madura juga tidak kalah menarik. Dalam perkembangan terbaru, Sikilli menjelaskan, ada penambahan jumlah investor di Madura dari penanaman modal asing (PMA). "Ada dua. Mereka investasi di daerah Sampang dengan bidang kerja jasa pengeboran minyak. Total investasinya sekitar 2 juta dollar AS," jelasnya.

Dengan penambahan tersebut, kini jumlah investor asing yang telah berinvestasi di kawasan Madura keseluruhan ada 9 investor dengan total investasi sebanyak 264,7 juta dollar AS. "Sementara baru itu yang masuk Madura. Kalau blueprint Suramadu sudah ada, saya yakin penambahannya ke depan akan cukup signifikan," tukasnya.

Di sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Madura, belum ada penambahan. Dengan begitu, jumlah investor dalam negeri yang menanamkan modalnya di kawasan Madura masih sekitar 8 investor dengan total investasi mencapai Rp 1,752 triliun.

"Mereka tersebar di berbagai sektor industri, meliputi industri galangan kapal, industri makanan-minuman, budidaya udang, pengolahan tembakau dan pertambangan," katanya.

Ke depan, papar Sikilli, proyek yang sedang dalam tahap pembicaraan adalah pembangunan kawasan wisata bahari di daerah Camplong, Sampang, dengan total investasi sekitar Rp 1,5 triliun.

"Sedang dalam penelitian kawasan dan juga pengajuan perizinan. Semoga cepat terlaksana karena cepat atau lamanya proyek ini terwujud sebagian juga tergantung pada proses perizinan yang ada," paparnya. Rencana investasi ini, berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). (Taufan Sukma)

Sumber: VIVAnews, Rabu, 23 Desember 2009

Sekolah Ambruk Diterjang Puting Beliung

Angin puting beliung disertai hujan deras pekan lalu tidak hanya menghancurkan puluhan rumah warga Desa Karang Gayam, Kec. Omben, Sampang, tetapi sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pandan 2 Desa Pandan juga mengalami nasib sama.

Angin kencang tersebut telah meluluhlantakan tiga ruang kelas SDN Pandan 2. Agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, pihak sekolah mengungsikan siswa kelas 2 dan 3 ke musala dan halaman rumah warga setempat.

“Jika dilihat dari kondisi fisik bangunan, memang sebenarnya sudah tidak layak ditempati. Karena, sebagian gedungnya retak bahkan satu ruang kelas tidak bisa dipergunakan lagi untuk kegiatan belajar mengajar karena sudah ambruk. Padahal bangunan itu sudah direhab pada 1996 silam, tapi karena kualitasnya jelek maka tidak bertahan lama,” terang Kepala SDN Pandan 2, Syaiful Bahar, Rabu (16/12).

Menurut Syaiful, jumlah murid sebanyak 145 siswa, mayoritas hanya mengunakan sandal jepit ketika bersekolah, namun minat belajar siswa miskin itu tetap tinggi. Syaiful berharap agar Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang memberikan perhatian serius agar segera merehab bangunan yang ambruk tersebut.

“Kami berharap pihak Disdik memperhatikan nasib murid-murid yang berada di daerah pelosok tersebut. Sudah beberapa kali kami mengajukan permohonan rehab bangunan kelas yang rusak, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Padahal, kata dia, minimnya prasarana pendidikan yang tidak memadai, ditambah dengan berdirinya sejumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI), berdampak terhadap berkurangnya jumlah siswa ke SDN 2 Pandan.

Sementara itu, sebanyak 25 rumah di Desa Karang Gayam, Kec. Omben rusak parah tertimpa pohon yang tumbang, akibat terjangan angin puting beliung disertai hujan deras yang melanda desa tersebut. Berdasarkan data petugas Kantor Kec. Omben, kerugian yang diderita warga mencapai Rp 95 juta, tapi tidak ada korban jiwa. rud

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 16 Desember 2009

Kaukus Klarifikasi BPWS

Kaukus Madura segera menemui Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS), terkait pengembangan industrialisasi di sekitar wilayah Jembatan Suramadu. Pengembangan industrialisasi ini diperkirakan membutuhkan lahan 600 hektare.

Kaukus Madura beranggotakan 8 anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) Madura. Mereka akan mengklarifikasi secara detil pengembangan di sekitar kaki (areal) Jembatan Suramadu.

Kordinator Kaukus Madura, Achsanul Qasasi menyatakan, pihaknya sepakat mengembangkan wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bernama Madura Industrial Estate Sea Port City. Tapi, pihaknya tidak ingin pengembangan industri berdampak negatif terhadap kultur masyarakat Madura.

Ditambahkan, pihaknya pihaknya belum melakukan evaluasi terhadap rencana pembebasan lahan seluas 600 ha untuk pengembangan industri itu. Tapi pihaknya meminta pembebasan lahan tidak menyentuh lokasi pondok pesantren.

”Kalau saya lihat master planingnya, tidak ada yang menabrak kawasan pondok pesantren. Makanya, waktu dekat kami anggota DPR-RI dari Dapil XI Madura yang tergabung dalam kaukus Madura melakukan audensi dengan BPWS untuk menanyakan secara detail seperti apa,” ujarnya. “Kalau ternyata menabrak nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Madura, pasti kami menentangnya,” tambah Achsanul Qasasi, menegaskan.

Sedangkan, MH. Said Abdullah, legislator lainnya asal Madura meminta agar masyarakat dan ulama tidak khawatir dengan dibangunnya industrialisasi di sekitar Jembatan Suramadu. Namun juga bisa dipahami kekhawatiran yang disampaikan ulama merupakan bagian dari keinginan masyarakat Madura, agar pembangunan itu tidak keluar dari kultur dan nilai-nilai ke-Madura-an.

”Secara pribadi, saya percaya betul ulama akan menerima industrialisasi di Madura. Tapi, kewajiban ulama juga untuk mengingatkan pemerintah, bahwa ada sesuatu yang tidak boleh hilang dari masyarakat Madura. Jadi, jangan langsung menyatakan menolak industrialisasi itu,” tegasnya.

Kader PDIP ini menjelaskan, jika rencana pembebasan lahan 600 ha untuk pengembangan industrialisasi ditolak, Madura akan ketinggalan dengan daerah lainnya. Karena sejak 2006 lalu, pihaknya telah menggagas Madura harus dijadikan sebagai Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang menguntungkan masyarakat.

”Tolonglah, persoalan ini dipahami betul. Dan, percayalah dengan 600 hektare itu kita tidak akan menjadi penonton. Tapi, justru nantinya pengembangan kawasan industri akan memberikan sumbangsih untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran di Madura,” katanya. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 14 Desember 2009

Bupati Kholil: Jamaah Haji Pamekasan Bisa Jadi Teladan

Mereka dijadwalkan terbang menuju tanah suci Mekkah, Jumat (20/11) sore ini pukul 16.00 Bandara Juanda Surabaya. Kakandepag Pamekasan, Drs H Abd Wachid MM, mengatakan CJH asal Pamekasan tahun ini tergabung dalam Kelompok Terbang (kloter) 85, 86 dan 88. Jamaah yang tergabung dalam kloter 85 dan kloter 86 diberangkatkan dari Pamekasan menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Kamis (19/11), sedangkan yang tergabung dalam kloter 88 diberangkatkan dari Pamekasan menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (21/11), dan terbang ke tanah suci, Minggu (22/11).

Dibandingkan tahun lalu, jumlah CJH asal Pamekasan yang berangkat tahun ini lebih sedikit. Tahun lalu mencapai 1.400 lebih, sedangkan tahun ini hanya 1.058 orang. “Pemberangkatan tahun ini adalah tahun transisi pendaftaran di bank, sehingga jumlahnya mengecil. Tahun depan jumlahnya akan kembali menanjak,” jelas Wachid.

Secara umum, lanjut Wachid, calon haji tahun ini sudah sangat siap, baik fisik maupun mental. Dari fisik tak satu pun calon haji asal Pamekasan yang mengalami gangguan penyakit. Sedangkan dari pembinaan mental juga siap karena pembinaan kepada mereka cukup matang, terutama pembinaan dari aspek pengetahuan tentang rukun dan wajib haji.

Pembinaan terhadap para calon haji itu, kata Wachid, tidak lepas dari peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Saat ini di Pamekasan terdapat 19 KBIH yang membina para calon tamu Allah itu. Selain mendapat pembinaan manasik haji dari Kandepag Pamekasan, para calon haji juga mendapat pembinaan dari para pengelola KBIH.

Bupati Kholilurrahman mengucapkan selamat jalan kepada para calon haji saat acara pelepasan. Bupati juga berharap agar mereka bisa menjadi haji yang mabrur. “Haji yang mabrur akan membentuk manusia yang memiliki mental baik yang akan berguna dalam pembangunan nasional,” katanya.

Bupati Kholil juga berpesan agar para calon haji menjaga etika dan moralitas ketika berada di tanah suci. “Jadilah jamaah haji yang baik, tunjukkan kepada dunia bahwa jamaah haji asal Pamekasan ini bisa menjadi teladan,” katanya. mas

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 20 Nopember 2009

Dijanjikan Rp 100 Miliar

Anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura yang melakukan reses berjanji mengupayakan bantuan dana sekitar Rp 100 miliar untuk perbaikan infrastruktur di Madura. Mereka juga mengupayakan bantuan dana untuk penyelesaikan pembangunan Islamic Center di Pamekasan.

Itu ditegaskan MH Said Abdullah yang memimpin kunjungan kerja (reses) delapan anggota DPR RI Dapil Madura,--termasuk dirinya ke Pamekasan, Senin (14/12) siang.

Said Abdullah mengatakan, pada anggaran 2010 pihaknya tidak bisa berbuat banyak menyusun program bantuan ke Madura. Karena APBN 2010 disahkan sebelum masa anggota DPR RI periode 2009-2014 dilantik.

Namun demikian, pihaknya tetap berupaya bisa memberikan bantuan melalui dana stimulus. “Besarnya bisa sampai Rp 100 miliar. Ini bisa dibagi untuk empat kabupaten di Madura. Janji ini bukan main main, tapi bisa dipastikan karena itu buatlah proposal yang bagus, dan kami tunggu proposal itu,” katanya.

Khusus untuk penuntasan pembangunan Islamic Center di Pamekasan, Said berjanji akan mengupayakan bantuannya melalui dana abadi umat di Departemen Agama RI. “Kebetulan saya pribadi ada di komisi yang membidangi ini di Depag. Maka di sana ada dana abadi umat yang bisa kita pakai untuk bantuan sarana prasarana keagamaan,” ungkapnya.

Sebelumnya Bupati Pamekasan Drs KH Kholilurrahman SH menyampaikan bahwa dalam upaya mengimbangi percepatan pembangunan setelah beroperasinya Jembatan Suramadu, pihaknya membutuhkan bantuan dana langsung dari pemerintah pusat. Sebab kalau hanya mengandalkan DAU dan DAK sangat terbatas. Dana tersebut banyak terkuras untuk kenaikan gaji PNS dan lain sebagainya.

Dalam reses, delapan anggota DPR RI ini juga menyempatkan kunjungan ke Sampang dan Sumenep. Said juga sempat menegaskan, anggota DPR RI dari Dapil XI Madura, sepakat membentuk Kaukus Madura untuk mendorong percepatan pembangunan berbagai sektor di Pulau Garam tersebut.

”Kami siap menjadi calonya rakyat Madura, tapi kami bukan calonya proyek. Dalam banyak hal, kami akan perjuangkan keinginan dan aspirasi masyarakat Madura di DPR RI,” ujar Said, saat bertemu dengan Bupati Ramdlan Siradj. ”Melalui kaukus Madura ini, kami bersepakat untuk menyuarakan keinginan rakyat Madura. Karena kami mempunyai kekuasaan budgeting di DPR RI,” tambahnya.

Bupati Ramdlan merespon positif silaturahmi yang digagas anggota DPR-RI asal Dapil XI Madura, sebagai bentuk sinergi wakil rakyat untuk sama-sama memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan rakyat.

Ketika berkunjung ke Sampang, Said kembali mengkritisi eksistensi Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) yang pembentukannya tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 27/2008. BPWS dianggap masih mengundang kontraversi tidak hanya di kalangan para bupati se Madura, juga menjadi sorotan anggota DPR RI Dapil XI Madura.

“Pembentukan BPWS itu adalah untuk kepentingan masyarakat Madura, sehingga harus melibatkan semua elemen masyarakat Madura. Jadi keberadaan BPWS perlu dikaji ulang dengan mengajak duduk bersama seluruh tokoh masyarakat untuk merumuskan jalan keluar terbaik dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dilapangan,” ujarnya. mas, iir, rud

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 15 Desember 2009

Madura, Hasil Karya Mahasiswa Munich

Mobil konsep Lamborghini Madura

Slavche Tanevsky, seorang mahasiswa di Universitas Munich, Jerman, telah menciptakan mobil konsep masa depan, Lamborghini Mandura.

Penggunaan Madura, Tanevsky merujuk pada nama pulau di Indonesia. Pulau ini, menurut Tanevsky, terkenal dengan bantengnya. Bagi bangsa Jerman, penamaan mobil hampir selalu dikaitkan dengan keperkasaan banteng.

Sebenarnya bila di Indonesia, Madura terkenal dengan sapi-sapi yang kuat. Sapi-sapi ini biasanya dilombakan dalam ajang karapan sapi.

Konsep ini merupakan bekerja sama Lamborghini dan Audi. Lamborghini sendiri menyiapkan seluruh bahan baku proyek itu. Menurut Tanevsky, proyek ini merupakan produk hibrida pertama Lamborghini yang dijadwalkan keluar pada 2016.

Sebagai mobil hibrida yang efisien bahan bakar dan ramah lingkungan, tidak membuat Lamborghini Madura ini tak menarik. Mobil ini didesain dengan rangka dan cat futuristik.

Meskipun desain ini samar-samar mirip pada mobil konsep Reventón dan Estoque, namun desain Madura lebih ramping, lebih terfokus, dan lebih agresif.

Di bagian depan, fitur Madura lebih ramping pada lampu depan membuat ruang bagi lubang udara yang lebih besar. Madura juga didesain berkelok yang bisa mengarahkan angin lebih sempurna. (World Car Fans) (Hadi Suprapto)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 10 Desember 2009

Investasi ke Pulau Garam Masih Seret

Misi besar pembangunan Jembatan Suramadu adalah menarik investor ke Pulau Madura. Namun, hingga Suramadu beroperasi selama enam bulan, arus investasi ke Pulau Garam masih seret. Pengembangan kawasan bisnis di kaki jembatan sisi Surabaya dan sisi Madura masih belum ada kejelasan karena rancangan (blueprint) tata ruang kawasan tersebut belum kunjung kelar. Dengan segala proses birokrasi, diperkirakan proyek investasi baru akan masuk Madura dua tahun lagi.

Deputi Bidang Pengendalian Badan Pelaksana Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura (BPWS) Agus Wahyudi mengakui, seretnya investasi masuk ke Madura karena proses pembuatan cetak biru kawasan Suramadu yang belum kunjung selesai. BPWS melakukan kordinasi antara Departemen Pekerjaan Umum (PU) dan Pemda serta elemen masyarakat. ''Diharapkan pada akhir 2010 sudah selesai,'' ujarnya dalam pertemuan dengan stakeholder Jembatan Suramadu di Hotel Singgasana Surabaya kemarin. Dalam pertemuan tertutup itu hadir antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi (Bappeda) Jatim, pemerintah kabupaten/kota di Madura, elemen masyarakat seperti pemuka agama, serta beberapa investor.

Lamanya penyelesaian blue print tersebut diakui oleh Agus dikarenakan diperlukan perhitungan mendetil secara teknis untuk mengukur potensi, hambatan, maupun tantangan di Suramadu.

Salah satu investor yang tertarik untuk berinvestasi di Madura adalah PT Lamicitra Nusantara Tbk. Direktur Lamicitra Priyo Setya Budi dalam public expose perseroan mengakui sudah memiliki lahan (land bank) sekitar 400 hektare di Madura yang bisa dikembangkan untuk pelabuhan serta kawasan industri Madura Industrial Seaport City. ''Tapi belum tahu kapan akan dimulai. Mungkin bisa dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Masih banyak pertimbangan seperti aturan hingga pendanaan,'' ujarnya. (aan/kim)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 11 Desember 2009

Lamborghini Pakai Nama Madura

Produsen mobil mewah Lamborghini menggunakan nama Madura untuk salah satu mobil konsepnya. Mobil konsep ini dirancang oleh Slavche Tanevsky, mahasiswa Munich University of Applied Sciences.

Seperti dikutip Worldcarfans, Rabu (9/12/2009), Tanevsky mengaku terinspirasi dengan Pulau Madura di Jawa Timur yang terkenal dengan karapan sapinya itu. Mobil konsep itu tercipta atas kolaborasi Tanevsky dengan perancang Lamborghini dan Audi.

"Madura diusulkan untuk menjadi mobil Lamborghini hybrid pertama yang dijadwalkan akan diproduksi pada 2016," ujar Tanevsky.

Tanevsky menuturkan mobil konsep super itu akan memiliki efisiensi bahan bakar tinggi dan lebih ramah lingkungan dengan mesin hybrid yang digendongnya.

Meskipun samar-samar mengingatkan kita pada pada Lamborghini Reventón dan mobil konsep Estoque, seluruh desain dari Madura memiliki desain lebih ramping, lebih terfokus, dan lebih agresif.

Di bagian depan, fitur lampu utama Madura lebih ramping, air intake yang besar. Di bagian belakang mobil, mesin hybrid yang ditanamkan Tanevsky menghasilkan garis-garis rumit labirin yang membantu memberikan penampilan mobil yang unik. Kapan masuk Indonesia dan lewat Jembatan Suramadu ya? (Dadan Kuswaraharja - detikOto )

Sumber: detikOto, Rabu, 09/12/2009

Sumur Bor Dikeluhkan

Warga Desa Sera Timur, Kec. Bluto mengeluhkan pembangunan sumur bor yang dilakukan Dinas PU Pengairan Sumenep. Kegiatan eksplorasi air itu dirasa berdampak kepada sumber mata air milik masyarakat yang semakin surut.

Sedikitnya dua sumber air dan 13 sumur di desa itu debitnya terus berkurang, bahkan ada yang sudah mulai mengering, pasca pengeboran tersebut. Karena keluarnya air dari sumur bor tersebut cukup besar.

Mohammad (50), warga Desa Sera Timur, mengaku awalnya menyambut positif dengan keluarnya air di sumur yang dilakukan pengeboran oleh dinas. Karena, dengan kedalaman 60 meter saja, ternyata mampu mengeluarkan air yang cukup besar.

Tapi lama-kelamaan, eksistensi sumur bor yang mengeluarkan air dalam jumlah besar itu telah mengurangi debit air di sumur-sumur warga. ”Saat ini, air sumur kami sudah mengering. Ada 13 sumur yang kini sudah tidak ada airnya,” katanya.

Padahal, lanjut dia, sebelum pengeboran sumur oleh dinas pengairan dilakukan, kondisi dua sumber air dan sumur di desa setempat baik-baik saja. Sehingga masyarakat meminta sumur bor milik dinas pengairan itu diutup saja. ”Kami menginginkan sumur bor itu ditutup saja. Karena, tidak mendatangkan manfaat, tapi justru merugikan masyarakat setempat untuk mendapatkan air bersih,” ungkapnya.

Atas persoalan itu, Kepala Dinas PU Pengairan Sumenep, Mohammad Jakfar, mengaku sudah menerjunkan tim untuk mengecek ke lapangan. “Memang ada pengurangan debit air milik warga akibat pengeboran itu,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, pihaknya sudah memasang casing pipa di kedalaman 60 meter, agar air yang keluar dari sumur itu tidak terlalu besar. ”Debit air yang keluar cukup besar. Saat ini kami menunggu alat dari Surabaya, karena di samping semburan air sumur itu akan dicor dengan kedalaman hingga 40 meter. Sedangkan, di bawah kedalaman 40 meter akan diberi kerikil untuk memfilter air,” ungkapnya.

Ditegaskan, jika keberadaan sumur bor dianggapa merugikan masyarakat sekitarnya, maka pihaknya tidak keberatan proyek yang dibiayai APBD 2009 sebesar Rp 139 juta itu ditutup. ”Jika masyarakat setempat meminta untuk ditutup, ya kami akan menutup sumur bor itu,” ujarnya.

Pada tahun ini ada empat titik pengeboran, yakni di Kec. Ganding, kemudian di Desa Poreh (Kecamatan Lenteng), Desa Batu Dinding (Kecamatan Gapura), dan Desa Sera Timur (Kecamatan Bluto).”Dari empat titik pengeboran sumur itu, hanya di Desa Sera Timur yang bermasalah dengan warga,” katanya. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 5 Desember 2009

Angin Puting Beliung Hantam Madura

inilah.com/Dokumen

Angin puting beliung kembali terjadi di Pamekasan, Jumat (27/11). Akibatnya, tiga rumah warga rusak berat.

Angin yang disertai hujan deras itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB saat sebagian warga menunaikan Shalat Jumat. Kapolsek Tlanakan AKP Bambang Soegiharto, membenarkan kejadian itu.

Bahkan, angin kencang yang terjadi di Desa Branta itu juga menyebabkan sebuah pohon tumbang hingga nyaris mengenai rumah warga dan pengendara kendaraan bermotor yang melintas di Jalan Raya Tlanakan. "Itu memang benar terjadi, namun kerusakannya tidak parah," kata Bambang.

Menurut dia, saat peristiwa terjadi, dirinya sedang berada di kantor Mapolsek Tlanakan, yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari pohon yang tumbang tersebut. Warga, terang Bambang, memang terlihat ketakutan saat angin berhembus kencang yang disertai hujan deras, bahkan sebagian di antara mereka keluar rumah karena ketakutan.

"Peristiwa itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 15 menit setelah itu angin reda," terang Kapolsek Bambang.

Selain merusak atap rumah angin puting beliuang yang terjadi di Desa Branta itu juga merusak sebuah lembaga pendidikan di desa tersebut. Gentengnya banyak yang pecah akibat hembusan angin, namun tidak ada korban jiwa.

Saat ini warga yang rumahnya rusak akibat angin puting beliung tersebut masih melakukan perbaikan, dan menebang pohon yang roboh melintas jalan umum tersebut. [*/mut]

Sumber: inilah.com, 27/11/2009

Selama Sepekan Suramadu Gelap Gulita

Gelapnya Suramadu karena tagihan listrik
Jembatan Suramadu belum dibayar


ANTARA/Eric Ireng
Jembatan Suramadu

Lebih dari sepekan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) gelap. Seluruh lampu penerangan jalan padam. Gelapnya jembatan, juga jalan aksesnya di sisi Madura, diduga karena tagihan listrik Jembatan Suramadu belum dibayar.

Hal tersebut diakui Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Surabaya, A.G. Ismail, Kamis (3/12). ”Benar, memang ada tagihan listrik dari PLN. Berapa besarnya, saya tidak tahu pasti,” ungkap Ismail.

Ismail menjelaskan, pada 25 November lalu Balai Besar Wilayah Suramadu (BBWS) sudah melayangkan surat ke Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) yang isinya meminta BPJT menangani masalah pembayaran listrik di Jembatan Suramadu. ”Sampai sekarang kami belum menerima informasi apa pun terkait hal ini,” tuturnya.

Namun, sambung dia, pihaknya sudah mengalokasikan dana untuk membeli genset sebesar Rp 300 juta pada tahun anggaran 2009 ini. Diharapkan keberadaan genset bisa menjadi cadangan bila terjadi pemadaman listrik oleh PLN.

Masih menurut Ismail, Menteri PU juga sudah mengirim surat ke Menteri BUMN yang isinya meminta PLN untuk berkontribusi bagi pembiayaan penerangan Jembatan Suramadu.

”Tidak gratisan, tetapi dengan sistem barter. PLN menyewa Jembatan Suramadu untuk memasang kabel listrik, biaya sewa itulah yang akan diguakan untuk membayar tagihan listrik Jembatan Suramadu,” tuturnya.

Sewa PLN, sambung Ismail, berlaku sepanjang masa sehingga untuk membayar tagihan listrik di Suramadu pun tetap bisa teratasi. Namun, berapa besaran tagihan listrik dan besaran sewa, Ismail belum tahu. Sebab, kewenangan mengatur dan menghitung berapa besaran sewa itu ada di Departemen Keuangan. (Siska Prestiwati)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 3 Desember 2009

Nunggak, Listrik Suramadu Diputus

Jalan akses jembatan Suramadu dari sisi Madura gelap-gulita, Senin (30/11) malam. Kondisi itu sangat mengganggu dan menyulitkan pengendara karena kegelapan itu terjadi hingga di loket karcis.

Usut punya usut, ternyata jaringan listrik itu memang sengaja diputus Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Bangkalan. Alasannya, pengelola Suramadu menunggak pembayaran listrik sebesar Rp 15,4 juta.

“Kami sudah memberikan teguran melalui surat kepada pihak Suramadu. Namun mereka tidak mengindahkan teguran kami. Jadi kami harus bersikap tegas,” jelas Taufik Santoso, Kepala PLN UPJ Bangkalan, Selasa (1/12).

Menurutnya, keputusan pemutusan listrik di akses menuju jembatan Suramadu tersebut tidak diambil secara sepihak. Sebelumnya pihaknya telah melayangkan surat teguran dengan nomor 161/UPJ-BKL/2009 tanggal 26 November 2009 lalu bertepatan dengan batas waktu pembayaran listrik di akses menuju jembatan Suramadu. “Setelah toleransi selama satu minggu kami berikan, tidak ada tindakan kooperatif dari pihak pengelola,” tegasnya.

Akhirnya PLN UPJ Bangkalan bersikap tegas dengan memutus aliran listrik pada Senin (30/11) pukul 18.00 WIB. Taufik juga menyesalkan sikap pengelola jembatan Suramadu dalam menyikapi masalah tunggakan listrik tersebut.

“Masak kita hanya ditelepon. Seharusnya mereka (pengelola Suramadu) mengirim surat untuk selanjutnya kami ajukan ke pusat terkait perpanjangan toleransi penundaan pembayaran,” keluhnya.
Berdasarkan data di PLN, pada November tunggakan listrik pihak Suramadu sebesar Rp 15,4 juta. Jumlah tersebut merupakan akumulasi tunggakan yang tercatat di UPJ Bangkalan (Rp 7,3 juta) dan Kamal (Rp 8,1 juta).

Pembagian jaringan listrik pada akses Suramadu terbagi menjadi dua. UPJ Bangkalan bertanggung jawab pada jaringan listrik dari pintu masuk akses Suramadu hingga traffic light yang terdapat di Desa Petapan. Sedangkan UPJ Kamal bertanggung jawab dari lampu merah tersebut hingga batas bentang tol Suramadu.

Akibat pemadaman listrik tersebut, semakin memperpanjang permasalahan yang melilit di jembatan sepanjang 5,4 km itu. Pasalnya, penyediaan listrik di bentang jembatan Suramadu hingga saat ini belum juga ada kejelasan. Hal ini ditambah padamnya lampu di akses menuju Suramadu dari sisi Madura.

Kepala Shift Suramadu, Bahrum, membenarkan bahwa telah terjadi pemadaman listrik di akses menuju Suramadu. Ia menuturkan, pemadaman tersebut sangat tidak nyaman bagi pengendara setelah keluar dari Suramadu. “Di tempat pembelian tiket, lampu penerangan jalan umum juga mati. Namun, hal itu tidak berpengaruh pada pembelian tiket. Karena kami telah menyediakan dua generator,” jelasnya.

PLN Ngawur
Gelap gulitanya jalan akses jembatan Suramadu akibat aliran listrik diputus oleh PLN, ditanggapi serius AG Ismail, Kepala Balai Besar Jalan Nasional V yang membawahi proyek jembatan Suramadu.

Dia menuding PLN bertindak seenaknya sendiri dalam memutuskan pasokan arus listrik di akses Suramadu sisi Madura. Mestinya, sebelum listrik diputus, pihak PLN memberitahu terlebih dahulu kepada pimpinan proyek Suramadu sisi Madura. “Tapi nyatanya hal itu tidak dilakukan. Pemberitahuan tak ada, tapi langsung diputus begitu saja. Jadi PLN yang ngawur,” tegasnya kepada Surya, Selasa (1/12) lewat ponsel.

Meski demikian, pihaknya, kata Ismail sudah mengkonfirmasi Pemimpin Proyek Suramadu sisi Madura, Siswo Dwijanto. Dari laporan Siswo, Ismail diberitahu bahwa mulai kemarin listrik di akses Suramadu sisi Madura sudah menyala kembali.

Sementara itu, Agus Purnomo, Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya yang mengelola jembatan Suramadu menambahkan, masalah lampu atau penerangan listrik di atas jembatan sepanjang 5,438 km bukan pihaknya yang menangangi. “Itu urusan proyek (Balai Besar Jalan Nasional V),” katanya.
Menurut Agus, hingga saat ini, tol Suramadu, belum teraliri listrik dari PLN. Penerangan yang ada masih mengandalkan genset, mulai untuk menghidupkan lampu jalan, AC, dan gardu serta sejumlah fasilitas umum lainnya. “Dan itu inisiatif dari kami selaku pengelola. Karena hingga kini PLN belum masuk,” tegasnya. (st32/uji)

Sumber: Surya, Rabu, 2 Desember 2009

Suramadu Rawan Longsor

Surabaya Post/Iwan Heriyanto
Jembatan Suramadu

Besar kemungkinan, keselamatan PKL juga terancam jika tebing suatu saat longsor

Tebing yang ada di sekitar Jalan akses tol jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sisi Madura, tepatnya Desa Morkepek, Kecamatan Labang, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, rawan longsor karena tidak ada penahan.

"Tebing yang mempunyai panjang sekitar 500 meter itu sama sekali tidak ada plengsengan (tembok penahan longsor), yang biasanya berfungsi sebagai penahan tanah dan batu agar tidak longsor," kata tokoh masyarakat setempat, Ha`i, di Bangkalan.

Seperti yang dilansir tvone, Ha`i menjelaskan, tebing yang berada di sisi kanan dan kiri jalan hanya dikepras (potong), tanpa dibangun plengsengan. Ironisnya, di bawah tebing dijadikan tempat jualan puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL).

"Besar kemungkinan, keselamatan PKL juga terancam jika tebing suatu saat longsor. Sebab, tanah dan batu akan mengubur para PKL yang berada di bawah," ungkapnya.

Sejak awal beroperasi Suramadu, sambung Ha?i, pihaknya sudah mempertanyakan masalah plengsengan di sekitar tebing. Hanya saja, belum ada jawaban secara pasti, baik dari pihak pengelola Suramadu maupun pemerintah setempat.

"Kalau musim hujan seperti ini berbahaya, bisa jadi rawan longsor karena tidak ada plengsengannya. Jika itu sampai terjadi maka warga yang akan menjadi korban," ujarnya.

Menurut Ha`i, pihak pengelola Suramadu dan pemerintah kabupaten (pemkab) Bangkalan tidak ada alokasi dana untuk membangun plengsengan di daerah tersebut.

"Itu saya lakukan, karena kami khawatir jika hujan lebat terus turun maka tebing akan longsor. Sehingga yang menjadi korban pertama kali PKL karena berada di bawah tebing," paparnya.

Ha`i menambahkan, untuk mengantisipasi kejadian tersebut, pihaknya telah menyarankan pada para PKL supaya menutup warungnya kalau hujan turun.

"Jika tidak ada anggaran, sebenarnya ada cara lain supaya bisa terhindar dari longsor yakni menanam pohon di sekitar tebing akses Suramadu," urainya. (Amril Amarullah)

Sumber: VIVAnews, Kamis, 26 November 2009

35 Pelari Mancanegara Taklukkan Suramadu


Surabaya Post/Eko Suswantoro
Sedikitnya 35 pelari profesional mancanegara turut serta di antara 7.500-an peserta Lari Suramadu


Sejak pukul 03.00 WIB hari Minggu 29 November 2009, kesibukan di kawasan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) telah terasa lain dari biasa.

Di jembatan yang merupakan landmark Jawa Timur bahkan Indonesia tersebut digelar lomba lari internasional bertajuk Suramadu International Run yang disosialisasikan sebagai Suramadu 10 K. Sedikitnya 35 pelari profesional mancanegara turut serta di antara 7.500-an peserta secara keseluruhan.

"Acara ini merupakan bukti dari kekuatan Jatim sebagai ibu kota kedua dengan Surabaya di dalamnya. Beserta Suramadu yang dimilikinya, Jatim telah membuktikan diri sebagai salah satu potensi penting Indonesia," ujar Andi Alifian Mallarangeng, Menteri Negara Pemuda dan Olah raga (Menegpora) yang meresmikan pembukaan acara di Suramadu.

Menurut Andi, gelaran ini juga bisa dimaknai sebagai upaya pembibitan bagi para pelari muda Jawa Timur yang mempunyai potensi untuk berkiprah di level yang lebih tinggi.

Sementara itu, Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, yang dalam acara ini bertindak sebagai ketua panitia mengemukakan bahwa Suramadu Run merupakan rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2009 sekaligus peringatan hari jadi Pemerintah Provinsi yang ke-64.

"Melalui acara ini kita juga ingin tunjukkan, bahwa keberadaan Suramadu yang dulu saat dikonsep banyak pihak meragukan, kini telah benar-benar terealisasi dan berdiri megah. Ini kita ingin sampaikan ke dunia internasional," ujarnya.

Tidak banyak yang bisa disampaikan pejabat yang akrab disapa Gus Ipul ini karena tenggelam dalam euforia ribuan peserta yang telah memadati lokasi acara sejak pagi. Begitu pun Soekarwo, Gubernur Jawa Timur, yang juga turut hadir di acara ini.

"Sudah. Pokoknya dengan acara ini kita ingin sampaikan kepada semua pihak baik pemerintah pusat mau pun masyarakat internasional bahwa iklim Jatim saat ini benar-benar aman dan nyaman untuk kegiatan apa pun, dari mulai kegitan olah raga, pariwisata, investasi dan lain sebagainya," ujar Pakde Karwo sesaat sebelum melepas para peserta memulai lomba di garis start.

Di barisan pertama, para peserta internasional menempati garis pertama diikuti para peserta dari kalangan umum, TNI-AD, AU, Armada Timur (Armatim AL), Polda serta juga para atlet nasional dan juga kalangan pelajar. Letusan pistol tanda dimulainya acara dibunyikan tepat pukul 06.10 WIB. Seketika berbondong-bondong para peserta memadatai jalur Jembatan Suramadu yang sehari-hari digunakan untruk jalur kendaraan roda empat tersebut.

"Mari Surabaya berlari. Tetap semangat. Tetap sportif namun juga jaga kondisi selama pertandingan. Selamat bertanding," tukas Pakde Karwo mengiringi langkah awal para peserta di garis start.

Antusiasme benar-benar terjaga selama acara berlangsung. Tak hanya para peserta, panitia dan pengisi acara saja, masyarakat umum juga tumplek blek terlihat memenuhi bibir-biar ruas jalan Jembatan Suramadu. Tak jarang bahkan panitia harus berkali-kali memohon para penonton untuk minggir karena menghalangi pandangan para petugas pencatat waktu.

Sepulu menit berlalu. Suasana langsung semarak saat diumumnkan bahwa telah ada peserta yang telah melewati paruh pertama lintasan atau tepatnya telah menempuh perjalanan 5 km lebih. Sayang, hingga sampai menyentuh garis finish, peserta terdepan tidak mampu memecahkan rekor kecepatan sebelumnya yang dibukukan atas nama Kennedy Kiproo Lilan di ajang Bali 10 K dengan catatan waktu 27 menit 31 detik.

"Peserta pertama yang berhasil mencapai garis finish atas nama Mattheuw Sigey dengan catatan waktu 30 menit 7,06 detik," pengumuman panitia beberapa saat setelah sang jawara memasuki garis finish.

Kennedy sendiri tercecer di urutan ke-2 dengan catatan waktu 30 menit 7,61 detik. Sedang di kelas wanita, pemenang pertama adalah Emily Chepkemoi Samoei dengan catatan waktu 34 menit 35,53 detik.

"Yang perlu kita catat bahwa para bibit unggul kita ternyata berhasil mencatat waktu yang tidak jauh dari para pelari professional mancanegara ini. Ini capaian yang membanggakan," ungkap Gus Ipul, panggilan Wagub Jatim Saifullah Yusur.

Dia mencontohkan prestasi yang terukir di kategori pelajar wanita yang dimenangkan oleh Yanita Sari dengan catatan waktu 41 menit 31 detik. Gus Ipul berharap bibit-bibit unggul seperti yanita bias mendapatkan perhatian lebih dari Menegpora baik berupa beasiswa, uang pembinaan dan lain sebagainya.

Di akhir acara, para pemenang dari seluruh kategori, yaitu kategori elite internasional pria dan wanita, kelas umum pria dan wanita, serta kelas pelajar pria dan wanita didulat untuk maju ke panggung dan menerima hadiah secara langsung.

Total hadiah sebanyak Rp 500 juta diserahkan langsung pada para pemenang oleh Menegpora, Gubernur Jawa Timur beserta Wagub, Wakil Wali Kota, Pangdam V Brawijaya, Kapoda Jawa Timur, serta para pejabat yang hadir dalam acara ini.

"Kita harapkan semangat ini terus dapat terjaga dan nantinya bias kita selenggarakan tiap tahun. Pak Gubernur pun sudah bersedia menyelenggarakannya tahun depan dengan persiapan yang tentunya jauh lebih matang," tegas Gus Ipul. (Taufan Sukma)

Sumber: VIVAnews, Minggu, 29 November 2009

Tanah BPSAWS Diserebot Warga

Sebelas bidang tanah negara milik Balai Pengelolaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai ( BPSAWS) Dinas Pekerjaan Umum Pengarian Provinsi Jatim di Madura seluas 1.561 m2 diduga diserobot warga. Lahan itu berada di Desa Sumedangan, Kec. Pademawu, Pamekasan.

Lahan yang diklaim milik BPSAWS itu terdiri sebelas bidang tanah yang berlokasi di jaringan irigasi Sungai Samiran. Kini lahan itu ada yang sudah dijadikan pewasahan, ada pula sudah didirikan bangunan permanen.

Kepala Balai PSAWS Madura, H Hasbullah, ST MM menjelaskan, sebenarnya beberapa tahun lalu beberapa bidang lahan milikinya itu sudah terdapat dipasang patok pembatas yang jelas. Namun belakangan ada beberapa patok yang mulai tidak jelas posisinya.

“Kami juga baru tahu kalau ada sebagian dari beberapa bidang tanah milik Balai PSAWS Madura diserobot warga, bahkan sudah tersertifikat,” katanya, Sabtu (28/11) pagi tadi.

Lebih lanjut, Hasbullah mengaku sudah memiliki bukti konkret tentang sertifikat tanah milik warga yang telah mengambil sebagian dari lahan milik Negara tersebut. Bukti-bukti ini memperkuat tentang penyerobotan lahan oleh warga yang selama ini menjadi hak milik Balai PSAWS Madura.

Untuk itu, pihaknya secara resmi sudah mengirimkan surat kepada Kepala Desa Sumedangan, Pamekasan. Surat yang sama juga dikirim ke BPN Pamekasan dan menyatakan keberatan tentang proses dan penerbitan sertifikat tersebut.

Dalam mengatasi masalah ini Hasbullah mengaku mencoba melakukan pendekatan persuasif serta koordinasi dengan instansi terkait. Namun jika langkah itu tidak membuahkan hasil, pihaknya akan membawa masalah ini ke proses hukum. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 28 Nopember 2009

Kiai Tolak Pengeboran

Forum Kiai Muda (Forkim) Sumenep menolak rencana uji seismik 3D migas yang akan dilakukan PT SPE Petroleum. Penolakan itu disampaikan kepada wakil rakyat di gedung dewan melalui belasan perwakilannya yang diterima Komisi B DPRD Sumenep, Selasa (24/11).

Ketua Forkim Sumenep, KH. Jurjis Muzammil, mengungkapkan kekhawatiran masyarakat terhadap rencana eksplorasi migas di dua kecamatan, yakni Kecamatan Pasongsongan dan Pragaan. Dia mengaku, banyak warga yang akan dilewati uji seismik khawatir kegiatan tersebut akan berdampak negatif kepada lingkungan.

”Kita membawa amanah dari kiai sepuh dari Basra (Badan Silaturrahmi Ulama Madura). Para kiai juga khawatir pengeboran migas ini akan berdampak seperti kasus luapan Lumpur di Sidoarjo. Karena itu, kita menolak kegiatan migas ini,” ujar Kiai Jurjis Muzammil.

Apalagi, lanjut dia, hingga sampai saat ini pihak perusahaan pengeboran belum melakukan sosialisasi kepada tokoh dan masyarakat terkait rencana pengeboran itu. Dia menyayangkan adanya sebagian orang yang mengatasnamakan kiai dan ulama yang menyetujui kegiatan tersebut.

”Sampai saat ini para kiai tidak setuju dengan eksplorasi migas di daratan, karena kegiatan itu akan mengancam kehidupan masyarakat,” ujarnya. Ketua GP Ansor Sumenep ini mengatakan, eksplorasi tersebut malah akan mendatangkan mudarat kepada masyarakat.

Yang dikhawatirkan kiai, kata dia, dengan adanya eksplorasi dan pembangunan industri di Madura pasca pembangunan Jembatan Suramadu, akan banyak masjid dan pondok pesantren yang akan digusur. ”Kita sudah mendengar sinyalemen rencana penggusuran pemukiman penduduk untuk kepentingan industri di Madura,” katanya.

Selain itu, Forkim juga melakukan klarifikasi hasil konsultasi anggota Komisi B DPRD dengan BP Migas di Jakarta, beberapa waktu lalu. ”Terus terang, kami masyarakat bawah masih dibayangi ketakutan atas kasus lumpur di Sidoarjo. Untuk itu, Forkim meminta agar anggota dewan mempertimbangkan rencana eksplorasi tersebut,” lanjut Kiai Jurjis Muzammil.

Sementara itu, Ketua Komisi B, Bambang Suprayogi, kepada Surabaya Post mengatakan, pihaknya akan menampung aspirasi dari Forkim. Dalam kasus ini, pihaknya tidak bisa memberikan kebijakan untuk menolak eksplorasi itu. Namun, pihaknya akan berusaha menyampaikan kekhawatiran masyarakat tersebut kepada SPE Petrolium maupun BP Migas.

“Rencananya, bulan depan BP Migas akan datang ke Sumenep untuk menjelaskan kegiatan migas yang ada di kabupaten ini. Kami akan berusaha menyampaikan keinginan dari masyarakat. Kita memang berharap, tokoh dan masyarakat juga dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi migas, agar masyarakat dapat mengerti,” kata Bambang Suprayogi. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 25 Nopember 2009

Toron, 70 Ribu Lintasi Suramadu

Kamal Sepi. Besok, Kamis (26/11), diperkirakan sebanyak 70 ribu kendaraan bermotor akan melintasi Jembatan Suramadu. Ini terkait dengan toron, mudiknya warga Madura ke kampung halaman untuk merayakan Idul Adha 1430 H yang jatuh pada Jumat (27/11).

Mengantisipasi toron ini, pihak pengelola Jembatan Suramadu dan penyeberangan feri Ujung-Kamal mulai mempersiapkan diri. Selaku pengelola jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini, Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya Agus Purnomo mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan diri sejak H-3, Selasa (24/11).

Persiapan itu antara lain mulai dari menambah jumlah petugas dan menyiagakan mereka selama 24 jam hingga memasang sejumlah rambu-rambu lalu lintas. “Ini pertama kali warga yang melestarikan tradisi toron melintasi Suramadu,” ujarnya kemarin.

Menurut Agus, pada hari biasa, kendaraan yang lewat tol Suramadu rata-rata 30 ribu unit per hari dengan rincian 65 persen motor dan 35 persen mobil, selama tradisi toron jumlahnya diperkirakan naik 100 persen. “Bahkan, pada puncak toron yang kami perkirakan H-1, jumlah kendaraan bisa mencapai 70 ribu unit. Dasarnya, adalah Lebaran Idul Fitri kemarin,” jelasnya.

Namun, pergerakan kendaraan pada H-3 kemarin belum terlihat. Hingga pukul 14.00 WIB, jumlah kendaraan yang melewati jembatan sepanjang 5,438 kilometer itu masih sama seperti hari-hari biasa. “Mungkin H-2 besok, pergerakan kendaraan yang mau toron ke Madura sudah mulai terlihat,” imbuh Agus.

Berbeda dengan yang bakal terjadi di jembatan yang diresmikan 10 Juni 2009 ini, komunitas Madura yang toron melalui Pelabuhan Ujung-Kamal menggunakan jasa feri penyeberangan dipastikan turun dibanding tahun sebelumnya.

Kalau pada 2007, pada puncak toron ada sekitar 46 ribu orang penumpang yang menyeberang lewat Pelabuhan Ujung ke Kamal dan pada 2008 jumlahnya naik menjadi sekitar 50 ribu, tahun 2009 ini jumlah penumpang diperkirakan hanya tinggal 14 ribu saja.

Manajer Operasional PT Indonesia Ferry ASDP Cabang Surabaya M Waluyo mengatakan, turun drastisnya penumpang di Pelabuhan Ujung - Kamal ini akibat beroperasinya Jembatan Suramadu. “Ini adalah yang pertama kali. Karena tahun-tahun sebelumnya Jembatan Suramadu kan belum beroperasi,” tukasnya.

Selain para momen Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, turunnya penumpang juga terjadi pada hari-hari biasa. Sebelum ada Jembatan Suramadu, penumpang rata-rata 15 ribu orang per hari, saat ini tinggal 7 ribu orang per hari.

Untuk itu, pihak PT ASDP tidak menambah jumlah armada kapal. Delapan kapal fery dan dua dermaga yang selama ini dioperasionalkan diperkirakan masih dapat melayani lonjakan penumpang selama musim toron. “Berdasar pengalaman Lebaran Idul Fitri kemarin, sepertinya tidak akan ada masalah. Tidak akan terjadi penumpukan penumpang. Meski demikian, sejak H-3 hari ini kami sudah siaga,” imbuh Waluyo.

Sama seperti Suramadu, puncak penumpang di Ujung-Kamal juga diperkirakan terjadi pada H-1 Kamis (26/11). (uji)

Sumber: Surya, Rabu, 25 Nopember 2009

Tragedi Warga Kepulauan Sumenep

Kelamaan di Perjalanan Ibu dan Bayi Meninggal di Kapal

Runi, ibu rumah tangga asal Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, ini tak pernah membayangkan nyawanya harus melayang hanya karena tempat tinggalnya yang jauh dari pusat kota. Andai di pulau itu fasilitas puskesmas memadai, nyawanya dan nyawa bayinya mungkin masih bisa diselamatkan.

Karena jauhnya tempat dan tidak memadainya fasilitas pelayanan kesehatan, Runi, 43, warga Dusun Bantulan, Desa Da’andung, Kecamatan Kangayan (Pulau Kangean) akhirnya meninggal dunia bersama bayi yang baru dilahirkannya.

Peristiwa memilukan itu terjadi saat Runi berada dalam perjalanan laut dengan Kapal Motor Penumpang (KMP) Dharma Bahari Sumekar (DBS) I menuju kota Sumenep untuk proses persalinan, Rabu (18/11) malam.

Dengan kapal itu, diperlukan waktu sekitar 12 hingga 13 jam untuk sampai di kota Sumenep. Namun perjalanan baru empat jam, Runi sudah tidak kuat menahan keluarnya sang jabang bayi. Diperkirakan, Runi meninggal dunia karena kehabisan darah dan minimnya peralatan medis di kapal itu, sehingga nyawa korban bersama bayinya tidak tertolong. Padahal, dokter dan bidan Puskesmas Kangayan yang ikut mengantarkan sudah memberikan pertolongan maksimal.

Jenazah kedua korban baru bisa dibawa kembali ke daerah asalnya, setelah KMP DBS I merapat di Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Jenazah kemudian dibawa pulang oleh saudaranya dengan menyewa perahu dari pelabuhan Kalianget, Kamis (19/11). Dengan perahu ini, perjalanan pulang akan memakan waktu lebih lama lagi, yakni sekitar 15 hingga 18 jam.

Abdul Azis Salim, 35, tetangga korban yang ikut menumpang KMP DBS I mengatakan, Runi sesuai rencananya akan melahirkan di Puskesmas Kangayan. Namun sampai dua hari opname di puskesmas tersebut sang jabang bayi belum juga keluar, sementara kondisi Runi semakin lemah. Atas pertimbangan itu, maka dokter puskesmas memutuskan untuk merujuk Runi ke RSD Dr H Moh Anwar Sumenep.

Namun, perjalanan laut dari Pelabuhan Batu Guluk, Kecamatan Kangean baru menempuh empat jam, Runi mengeluh kesakitan seperti halnya orang yang akan melahirkan. Melihat itu, dokter dan bidan langsung membawa Runi ke sebuah ruangan di kapal itu untuk mengatur proses persalinan korban yang saat itu sudah pembukaan empat.

Beberapa menit kemudian, akhirnya proses persalinan terjadi dan bayinya bisa diangkat. Namun bayi yang keluar sudah dalam keadaan meninggal. Tubuh bayi itu terlihat membiru diduga akibat lamanya proses persalinan sejak di Puskesmas Kangayan.

“Tak lama kemudian, ibunya yang mengalami pendarahan hebat juga meninggal dunia,” ujar Azis.

Anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Badrul Aini yang juga ikut dalam perjalanan laut dari Pulau Kangean ke Sumemep mengatakan, kasus meninggalnya ibu hamil dalam perjalanan laut dari pulau ke Sumenep bukan yang pertama kali. Bahkan hampir tiap tahun kasus serupa terjadi.

“Ini terjadi karena peralatan medis di puskemas kepulauan kurang memadai. Sehingga banyak ibu hamil yang harus dirujuk ke Sumenep dan karena perjalanan membutuhkan waktu lama, akhirnya bisa fatal seperti ini,” ujar Badrul.

Untuk mencegah atau meminimalkan kasus serupa, Badrul berharap ada langkah kongkret dari pemerintah daerah untuk membenahi puskesmas yang ada di kepulauan. “Sudah saatnya di pulau-pulau itu disediakan puskesmas sekelas rumah sakit yang peralatannya cukup memadai, khususnya untuk berbagai keperluan mendesak seperti untuk proses persalinan,” pinta Badrul. (Achmad Rivai)

Sumber: Surya, Jumat, 20 Nopember 2009

Puting Beliung Sapu Pamekasan

Empat Puluh Dua Rumah Ambruk Satu Tewas

Sekitar 45 rumah di Kampung Kembang Satu dan Kembang Dua, Desa Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan ambruk disapu angin puting beliung, Senin (16/11), sekitar pukul 16.30.

Selain memorak-porandakan rumah, Ratena, 30, warga Desa Bulmatet, Kecamatan Karang Penang, Sampang tewas di lokasi kejadian. Sedang dua warga lainnya, asal Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Rodiyah, 35, yang tengah hamil lima bulan, tulang punggungnya patah dan Munirah, 25, lengan kirinya patah serta sekujur tubuhnya luka hingga mengalami 15 jahitan di RSUD Pamekasan.

Kerusakan terparah dan terbesar menimpa rumah penduduk di Desa Palengaan Daja. Sebagian besar rumah warga yang terkena angin puting beliung ambruk dan rata dengan tanah. Bupati Pamekasan, Drs KH Khalilurrahman, yang mendengar kejadian itu bersama Kahumas dan Protokol, Fajar Santosa SH mengunjungi warga dan memberikan santunan.

“Semoga musibah ini tidak hanya membawa kesengsaraan, juga membawa hikmah. Meski banyak rumah ambruk, kita tetap bersyukur dan tawakkal menghadapi cobaan ini,” kata bupati.

Menurut Marjito, yang rumahnya mengalami rusak berat, awalnya hujan deras, namun selang tidak berapa lama disusul angin kencang dan terdengar deru suara seperti mesin pesawat yang terbang rendah dari arah selatan, disertai petir menyambar.

Saat itu sebagian warga berada di dalam rumah dan tidak berani keluar. Tiba-tiba angin meliuk-liuk menyambar rumah warga dan menerbangkan atapnya hingga terlempar sejauh 10 meter. Jerit histeris warga tak terbendung. Lantas warga berbondong-bondong keluar rumah menyelamatkan diri ke tempat yang agak jauh, sebagian berlindung di bawah pohon.

“Nah, ketika Munirah dan Rodiyah hendak ke luar menyelamatkan diri, kayu plafon rumahnya ambruk dan menimpa keduanya,” ujar Hasanuddin, anggota Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Pamekasan.

Dikatakan, korban Ratena yang tewas sedang berkunjung ke rumah familinya. Begitu warga dilanda kepanikan, terutama kalangan ibu dan anak-anak, Ratena memilih berlindung di dalam rumah. Ternyata rumah yang ditempati ambruk menimpa tubuhnya hingga tewas.

“Berapa kerugian kami belum bisa menghitung. Kami masih melakukan inventarisasi di lapangan,” kata Kahumas Pamekasan, Fajar Santosa. (st30)

Sumber: Surya, Rabu, 18 Nopember 2009

Demo Mahasiswa STAIN Pamekasan

Dua mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pamekasan pingsan setelah mendengar suara dentuman mercon di kampusnya, Senin (10/11/2009). Suara dentuman mercon itu keluar mewarnai aksi demo menuntut penurunan Ketua STAIN Pamekasan, DR Idri MAg.

Kedua mahasiswi yang pingsan langsung digotong ke kelasnya dan diberi perawatan pertama oleh teman-temannya. Beruntung keduanya yang diketahui bernama Fatmah (20) dan Khusnul Hotimah (20) akhirnya siuman.

Khawatir trauma, kedua mahasiswa Fakultas Tarbiyah itu langsung dipulangkan. Sebab, aksi demo puluhan mahasiswa STAIN makin brutal. Setelah membakar mercon, mereka melanjutkan dengan membakar ban bekas di depan Perpustakaan dan di belakang gedung rektorat.

Korlap aksi, Supanji menegaskan Ketua STAIN Pamekasan, DR Idri yang dilantik September 2008 lalu telah melanggar misi dan visinya.

"Pak Idri melanggar komitmennya sendiri. Dia harus diturunkan. Jika tidak, maka kami segenap civitas akan dirugikan," teriak Supanji di belakang asap hitam ban bekas yang terbakar.

Supanji mengaku sejak dilantik setahun lalu, DR Idri tidak memboyong keluarganya ke Kota Pamekasan. Idri dinilai mangkir dan sering membolos karena masih aktif mengajar di Pasca Sarjana IAIN Surabaya.

Supanji berjanji akan meneruskan aksi demo di kampusnya, jika DR Idri tetap ngotot tinggal di Surabaya. "Saat dilantik, Pak Idri berjanji akan fokus memimpin STAIN dan tinggal di Kota Pamekasan. Nyatanya, selama setahun ini dia melanggarnya," teriak Supanji.

Secara terpisah, meski dirinya tingga di luar kota tapi DR Idri menegaskan dirinya tetap bisa fokus memimpin STAIN Pamekasan. "Jika mahasiswa mendesak saya untuk tinggal di Pamekasan, saya akan pertimbangkan kembali demi kemajuan kampus," kata Idri kepada sejumlah wartawan yang mendatangi ruang kerjanya di kampus STAIN Pamekasan Jalan Raya Panglegur.

Hingga pukul 10.05 WIB, Supanji bersama puluhan peserta aksi masih bertahan di depan Perpustakaan. Mereka terus membentangkan spanduk bertuliskan "Turunkan Ketua STAIN Pamekasa" dan membeberkan aneka poster di badan jalan kampus. Sejumlah polisi berbaju preman tampak berjaga di belakang rektorat dan di sekitar perpustakaan.

Sumber: detik.com, 10 November 2009

Pemerintah Kabupaten Sampang Beli Bus Mercy

Untuk Kunjungan Dinas Beli Bus Mercy

Pemkab Sampang kini memiliki bus baru sebagai kendaraan transportasi yang dapat digunakan untuk kepentingan dinas. Selain sebagai sarana kunjungan ke berbagai daerah, juga bisa dipakai masyarakat umum untuk kegiatan yang bersifat membangun.

Saat meninjau kendaraan bus di parkir di pelantaran halaman Pemkab Sampang, Bupati Noer Tjahja nampak merasa senang dan bangga. Mengingat bus lama yang dimiliki pemkab sudah berusia tua, bahkan tak lagi layak dipakai.

“Saya begitu prihatin setelah melihat kondisi bus yang kita miliki sudah sangat tua dan tidak layak pakai. Karena kita sering menemui kesulitan ketika membutuhkan armada kendaraan yang cukup besar untuk rombongan yang hendak mengikuti kegiatan ke luar daerah. Sehingga kita terpaksa menyewa bus atau membawa beberapa kendaraan dinas untuk mengangkut rombongan", kata Bupati Tjahja, Jumat (6/11) siang.

Ditambahkan, dari sisi efisiensi pembelian bus mengunakan mesin Mercy dengan interior yang lumayan mewah, dan berkapasitar 36 set (kursi) ini, justru akan menghemat pengeluaran anggaran keuangan. Karena kini tak lagi harus menyewa bus atau menggunakan kendaraan dinas yang kadang masih dibutuhkan untuk keperluan kedinasan.

“Aset kendaraan bus itu tidak hanya untuk kepentingan pemkab, saja tetapi juga dapat digunakan masyarakat Sampang bila membutuhkan armada asalkan kegiatannya positif dan membangun", ujarnya. (rud)

Sumber: Surabaya Pos, Sabtu, 7 Nopember 2009

Pemberhentian Jamaludin Sesuai PP No 9 Tahun 2009

Ada pihak yang menilai pemberhentian sementara itu menyalahi ketentuan, ada pula yang mengatakan bahwa langkah yang dilakukan bupati sah dan memiliki dasar hukum.

M Suli Faris SH, Ketua FBB DPRD Pamekasan, mengatakan bahwa pemberhentian sementara Jamaluddin sah dan memiliki dasar hukum yang jelas. Dasarnya adalah PP No 9 tahun 2009 tentang wewenang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS. Dalam pasal 21 PP tersebut disebutkan bahwa bupati sebagai pembina kepegawaian daerah berwewenang memberhentikan sementara Sekdakab.

“Perlu dicatat ya bahwa ini pemberhentian sementara. Jika itu yang dilakukan bupati maka sah dan berdasar, karena ada dasarnya PP No 9 tahun 2009 itu. Kecuali, misalnya, bupati melakukan pemberhentian tetap atau pemberhentian secara difinitif, maka itu tidak bisa karena pemberhentian tetap itu sesuai dengan ketentuan hanya dilakukan oleh gubernur atas usulan bupati,” kata Suli, Jumat (6/11).

Wakil rakyat yang telah tiga periode duduk di komisi A DPRD Pamekasan ini memperkirakan pro-kontra soal pemberhentian sementara Sekdakab itu terjadi karena dalam UU No 32 tahun 2009 memang ada dua pasal yang menjelaskan soal pengangkatan dan pemberhentian Sekdakab ini yang antara satu dengan lainnya kelihatan berbeda atau bertentangan.

Pertama adalah pasal 130 ayat 2 UU No 32 tahun 2009. Dalam pasal itu dikatakan bahwa pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian pejabat eselon II dilakukan oleh bupati dengan dikonsultasikan lebih dulu kepada gubernur. Yang kedua adalah pasal 122 disebutkan bahwa pengangkatan dan pemberhentian Sekdakab dilakukan oleh gubernur atas usulan bupati.

Menurut Suli, yang dimaksud dalam pasal 132 dan 122 UU No 32 tahun 2009 itu adalah pemberhentian tetap atau pemberhentian definitif, bukan pemberhentian sementara. “Sekalipun kelihatannya agak bersebrangan dalam dua pasal itu, namun itu untuk pemberhentian tetap atau definitif, itu memang harus dikonsultasikan bahkan menjadi kewenangan gubernur,” jelasnya.

Padahal, kata dia, yang dilakukan oleh Bupati Pamekasan adalah pemberhentian sementara Sekdakab. Karena itu, dia menilai langkah yang dilakukan bupati itu benar dan tidak salah karena sudah berdasarkan PP No 9 tahun 2009. “Lihat saja surat pemberhentiannya, apakah bersifat sementara atau tetap. Kalau pemberhentian sementara, itu sah, dan kalau pemberhentian tetap, maka itu bisa di PTUN-kan,” sarannya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, terhitung sejak Selasa (3/11) Bupati Pamekasan Drs KH Kholilurrahman SH memberhentikan sementara Sekdakab Dr A Jamaludin Karim MSi dan mengangkat Drs R Hadisuwarso MSi Inspektur Kabupaten Pamekasan sebagai Plt Sekdakab sementara. Pemberhentian sementara dilakukan karena bupati menilai kinerja Jamaludin lemah.

Dalam keterangan persnya kepada wartawan beberapa hari lalu Bupati Kholil mengaku bahwa setelah melakukan pemberhentian sementara Sekdakab, pihaknya tengah mengurus proses untuk pemberhentian tetap. “Ini saya lakukan bukan karena faktor politik atau suka-tak suka, namun untuk perbaikan kinerja pemerintahan ke depan,” tandasnya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 6 Nopember 2009

Warga Jrengik Dapat Ganti Untung

Warga Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang mendapatkan ganti untung dalam kegiatan seismik 3D yang dilakukan SPE Petroleum Energy Ltd. Ganti untung tersebut diberikan kepada warga yang tanahnya masuk dalam pemetaan survei seismik.

“Nilai ganti untung yang diberikan itu mengacu SK Bupati Sampang, No. 31/2009, tentang harga kerugian atas tanaman, tumbuhan, budidaya, jalur rintisan dan bangunan yang terkena dampak kegiatan survei seismik. Dalam ketentuan tersebut setiap lubang tanah yang menjadi titik pengeboran sebesar Rp 45 ribu, ditambah kerusakan lahan di sekitar lokasi titik tersebut,” jelas Agus, Manajer Quality Control (QC), ketika memberikan ganti untung kepada 101 pemilik tanah warga Desa Jrengik, Kamis (5/11).

Selain Desa Jrengik, warga yang juga mendapatkan ganti untung adalah Desa Panyapen, Kotah dan Taman. Dalam proses ganti untung itu, kata Agus pihak SPE hanya sebatas membayar bagi lahan yang terkena langsung dampak survei seismik. Apabila dalam lokasi itu juga terdapat tanaman produktif, maka pemilik lahan akan menerima uang kerugian sesuai dengan tingkat kerusakan.

Menurut Agus, Sampang sebagai salah satu daerah yang masuk dalam blok Madura, jika kekayaan sumber daya alam (SDM) tersebut digali secara optimal maka kelak akan menjadi daerah penghasil tambang minyak dan gas (migas) yang sangat potensial.

Namun, dia sangat menyayangkan dengan seringnya muncul konflik di masyarakat yang kadang kurang memahami tentang kegiatan yang sedang dilakukan perusahaan pertambangan tersebut. Kondisi itu rawan dimanfaatkan pihak ketiga yang sengaja ingin memancing di air keruh.

“Menyikapi permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan seismik, maka kita sudah mengantisipasi dengan meminimalisasi konflik dengan merangkul aparat Kepala Desa serta para tokoh masyarakat setempat, serta melibatkan tenaga lokal yang memahami permasalahan yang terjadi di lapangan,” katanya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 6 Nopember 2009

New Mudflow Concerning Villagers in Indonesia's Madura After Oil Company Installs Pipe

Foto liputan6.com/Salli Nawali

A well spurting out water, mud and gas has formed in Bapelle village on Madura Island in an area that was being surveyed by oil company SPE Petroleum on Wednesday.

Personnel from the company had intended to put dynamite under the location, believed to contain valuable petroleum and gas. However, the plan was canceled when the well suddenly formed in the yard of a Bapelle village resident after employees of the oil company had installed a pipe connection there.

The flammable mixture of mud, water and gas has spewed out of the well continuously and had begun to flow and cover local residents’ rice fields near the exploration site.

“We are worried about the existence of the new mud flow since it is beginning to flood some of our rice fields,” said a local villager, Kurdi Sari.

SPE Petroleum have not yet issued a statement on the the mudflow.

A similar mudflow in Sidoarjo, East Java, has caused widespread devastation. It first began flowing from a crack near a Lapindo exploratory gas well on May 29, 2006. It formed a pool that soon expanded into a mud lake, swallowing houses, factories and schools. The company has blamed the eruption on the Yogyakarta earthquake, which wreaked destruction in Central Java just two days earlier. But many scientists have disputed that claim, pointing instead to what they say were faulty drilling practices. (Antara & JG)

Sumber: The Jakarta Globe, October 28, 2009

Semburan Lumpur Muncul di Sampang

Foto liputan6.com/Sali Nawali
Lumpur dari pipa eksplorasi di Sampang, Madura

Sebuah pipa yang dipasang PT Spe Petroleum di Desa Bapelle, Sampang, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan lumpur bercampur air yang pekat. Semburan itu mengkhawatirkan warga karena air lumpur makin deras. Warga takut jika semburan dari eksplorasi perusahaan swasta itu akan mengulang luapan lumpur di Sidoarjo, Jatim.

Pasalnya, kini air yang bercampur lumpur itu mulai mengalir ke sawah dan ladang milik warga. Bahkan, semburan api juga keluar dari pipa ini. Namun, pihak PT Spe Petroleum menjamin eksplorasi mereka tidak berbahaya. Selengkapnya simak video berita ini.(ADO/YUS)

Sumber: liputan6.com, 29/10/2009

Semburan Lumpur Bikin Warga Panik

Foto liputan6.com/Salli Nawali


Warga Desa Bapelle, Kecamatan Robatal, Sampang, Madura berlarian ke lokasi uji seismik yang dilakukan SPE Petroleum, Rabu (28/10). Pasalnya, di lubang yang digali untuk pemasangan pipa ke dalam tanah tiba- tiba keluar lumpur pekat seperti semburan Lapindo di Sidoarjo.

Air bercampur lumpur itu semakin besar sehingga membuat warga memasang paralon agar tidak mengalir. Namun, air dan lumpur justru semakin membesar. Terlebih, ada bau gas di sekitar semburan lumpur tersebut. Warga pun panik saat mendapati semburan terbakar begitu didekatkan dengan api. Karena api makin membesar, warga mematikannya dengan karung yang dibasahi air.

Salah satu tokoh masyarakat setempat Kurdi Said mengaku bingung harus bertindak apa dan kepada siapa meminta pertanggungjawaban atas kejadian ini. Pasalnya, semburan lumpur yang terus mengalir itu kini mulai menggenangi sawah milik warga yang lokasinya berada di dataran yang lebih rendah. Hingga saat ini, anak perusahaan SPE Petrochina itu belum melakukan tindakan apapun.(ASW/AND)

Sumber: liputan6.com, 28/10/2009

Did BPK Get Right Man for The Job?

Photo: The Jakarta Globe/Yudhi Sukma Wijaya
Hadi Poernomo (center) and Herman Widyananda (right) being sworn in as the chairman and vice chairman of the Supreme Audit Agency, respectively, at the Supreme Court on Monday.

As a new leader was installed at the country’s highest audit agency on Monday, critics had already begun to question whether recent efforts to root out corruption at the agency would suffer a setback, noting that he had been criticized during his term as the chief of the tax office.

Hadi Poernomo was officially installed as the new chairman of the Supreme Audit Agency (BPK) at the Supreme Court on Monday.

Roy Salam, a researcher at the Indonesia Budget Center, an NGO that scrutinizes government budget decisions, said Hadi’s track record was less than encouraging.

“As former director general of the tax office, Hadi Poernomo was considered an underperformer,” Roy said. “Darmin Nasution, his successor, was the one who made the significant breakthroughs.”

Roy also questioned the support Hadi would receive from other members of the BPK, five of whom have no experience as auditors. Of the seven, four are former lawmakers.

“There is a strong political aroma to the other candidates. Many are former lawmakers who are no strangers to politics but who have no experience at the BPK or in auditing,” he said.

As the head of the BPK, Hadi will oversee audits of all state institutions, including ministries, state-owned enterprises and other traditional nests of corruption. The body is now auditing the controversial Bank Century bailout.

Herman Widyananda, a former lawmaker who was appointed to the BPK in 2007, will serve as its vice chairman.

After his inauguration, Hadi vowed to move forward with the BPK’s plan to create an electronic auditing system, a platform he said was key to making audits faster and more transparent.

He also promised to improve coordination with other auditing institutions, such as the Development Finance Comptroller (BPKP), regional audit agencies and the internal inspection offices of government ministries.

Speaking to the Jakarta Globe on Monday, Drajad Wibowo, a former lawmaker and an economist with the Institute for Development of Economics and Finance (Indef), cautioned that Hadi must be able to put aside any conflicts of interest, especially when dealing with audits involving the Ministry of Finance or the tax bills of large corporations.

“As a former tax director general, Hadi knows better than most the tricks of tax evasion or obfuscation, so auditors or tax officers will find it difficult to hide something from him,” Drajad said. “But that will only work if he does not have any conflicts of interest. [ Conflicts of interest] can be about anything, because he was a tax office official under the Ministry of Finance, and these officials are not angels. But we should give him a chance.”

A native of Madura Island, East Java, Hadi served as director general of the tax office from 2001 until 2006. He was replaced by Darmin Nasution, who is now the senior deputy governor at Bank Indonesia.

During his term, Hadi was criticized for not doing enough to fight corruption at the tax office.

In 2005 an economist accused the office of costing the country about Rp 40 trillion ($4.24 billion) in lost revenue from graft.

The wealth of office officials was also questioned. (Ardian Wibisono, Muhamad Al Azhari & Dion Bisara)

Sumber: The Jakarta Globe, October 26, 2009

Warga Dua Kabupaten di Madura Carok

Foto: Subairi/Koran SI

Bentrok antarwarga Sampang dan Sumenep terjadi di wilayah Kecamatan Pesongsongan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, tadi siang, Selasa (6/10/2009).

Bentrok melibatkan puluhan orang yang dikabarkan berasal dari Kabupaten Sampang. Mereka secara tiba-tiba menyerang warga kecamatan Pasongsongan, Sumenep. Akibat bentrok, dua warga mengalami luka bacok yang cukup parah. Mereka adalah Hasan (50), dan Ali Katap (30), warga Kecamatan Pasongsongan. Keduanya menjalani perawatan di RSU Sumenep, akibat luka bacok yang diderita di bagian punggung, lengan, dan betis.

Dari informasi yang beredar, masih ada dua warga lagi yang mengalami luka ringan akibat dibacok dengan celurit. Saat ini, kedua korban yang masih belum diketahui identitas tersebut, masih menjalani perawatan di Puskesmas Pasongsongan.

Informasi yang diperoleh dari warga sekitar, bentrok berawal dari insiden penghadangan truk milik warga Kabupaten Sampang yang bermuatan pasir oleh warga setempat. Alasannya, saat mengambil muatan berupa pasir, truk tersebut tidak mengantongi izin dari warga.

Entah karena takut atau menghindar, sopir truk yang belum diketahui identitasnya, memilih melarikan diri dengan meninggalkan truk beserta muatannya. Warga setempat pun membiarkan truk tersebut apa adanya, bahkan diawasi dari kejauhan, takut ada pihak yang melakukan tindakan yang tidak diinginkan.

Selang beberapa jam kemudian, tiba-tiba datang puluhan orang tak dikenal dengan menggunakan mobil. Tanpa banyak tanya, puluhan orang tersebut langsung menyerang warga setempat secara membabi buta, dengan menggunakan celurit dan sebagian ada yang membawa bom ikan. "Warga di sini tidak menduga kalau akan diserang, sehingga memilih untuk melarikan diri," ujar Hartono, warga kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.

Sebagian warga yang melakukan perlawanan, mengaku sempat dilempar bom ikan. Tidak sampai di situ, beberapa warga termasuk empat korban yang mengalami luka-luka, diserang secara tiba-tiba dan tidak bisa melakukan perlawanan. Korban akhirnya terkapar dengan luka-luka cukup parah.

Beruntung aksi bentrok tidak berlangsung lama, karena setelah berhasil melukai warga, puluhan warga asal Kabupaten Sampang tersebut langsung melarikan diri, dengan memakai mobil.

"Kami langsung membawa korban ke rumah sakit, sebagian ada yang ke Puskesmas. Untuk sementara, masih ada dua korban yang luka parah dan dirawat di rumah sakit," tambah Hartono. (Subairi/Koran SI/ful)

Sumber: okezone.com, Selasa, 6 Oktober 2009

Mahasiswa Sampang Galang Dana Korban Gempa

Salli Nawali Ariel Maranoes
Penumpang becak memberikan sumbangan untuk korban gempa.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Sampang, Madura, Jawa Timur, menggalang dana untuk membantu korban gempa di Sumatra Barat. Sambil membawa kardus bekas tempat air mineral, para mahasiswa mendatangi setiap pengendara yang berhenti di lampu merah dekat Monumen Kota Sampang, Ahad (4/10).

Rencananya, penggalangan dana berlangsung hingga satu pekan ke depan. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan melalui media nasional.

Sumber: liputan6.com, 04/10/2009

Puting Beliung Terjang Tiga Desa

78 Rumah Warga Rusak

Angin puting beliung memorak-porandakan tiga desa di Kecamatan Karang Penang, Jumat (23/10), sekitar pukul 15.00. Akibatnya, 78 rumah warga di Desa Karang Penang Oloh, Poreh, dan, Burmatet rusak.

Hingga kemarin pagi, pukul 07.30, 78 rumah warga itu masih berantakan. Sebagian warga terpaksa menumpang di rumah kerabatnya yang selamat dari terjangan angin puyuh tersebut.

Moh. Bakir, warga Desa Karang Penang Oloh, mengatakan, puting beliung menerjang sekitar pukul 15.00. Saat itu dia sedang duduk santai bersama keluarga di teras rumahnya. "Tiba-tiba muncul angin kencang dari arah timur laut," ujarnya.

Saat itu juga warga langsung menutup pintu dan menyelamatkan diri ke dalam rumah. Hembusan angin yang kencang membuat sejumlah bangunan terhempas dan ambruk. Seperti gudang kayu dan kantor Muslimat Assyakirin yang roboh rata dengan tanah. Padahal, puting beliung hanya berhembus sekitar 5 menit.

"Anginnya kencang, dahsyat luar biasa. Saking banternya, genting dan kayu balok terpental sampai ke jalan raya," kata Bakir sambil menunjuk bekas potongan kayu rumahnya.

Pantauan koran ini di lokasi kemarin pagi, rumah yang berantakan masih tetap berserakan. Menurut Bakir, warga masih trauma dan tidak punya dana untuk membangun rumahnya. "Yang jelas bantuan dari pemkab sangat dibutuhkan korban. Sehingga mereka bisa membangun rumahnya lagi," katanya dengan nada sedih.

Sedangkan Heri, warga lainnya, cerita, selain angin kencang petir dan guntur menggelegar di langit. "Saking kencangnya deru angin, genting dan kayu rumah terbang," katanya.

Kades Karang Penang Oloh Muzammil mengungkapkan, berdasar laporan yang diterimanya, sedikitnya 78 unit rumah rusak. Rinciannya, 11 rumah rusak total dan 14 rumah rusak ringan. Lalu, 13 rumah rusak total dan 3 rumah rusak ringan di Desa Burmatet. Ditambah 10 rumah rusak total dan 27 rumah rusak ringan di Desa Poreh.

"Kami telah mengecek ke lapangan mulai malam Sabtu (23/10). Sementara warga yang mengalami luka - luka ada tiga orang. Yakni, Behriti, 35, Hartatik, 35, dan Samari, 30. Rata - rata mereka mengalami luka di kepala karena tertimpa runtuhan rumah. Sebab, mereka tidak sempat keluar karena sedang istirahat dan salat," tandasnya.

Sementara Bupati H Noer Tjahja yang dikonfirmasi melalui Kabag Humas H Rudi Setiadhy mengaku sudah menerima laporan bencana alam tersebut. "Kami akan memanggil instansi terkait untuk mengambil langkah - langkah selanjutnya. Dalam waktu dekat kami akan turun ke bawah guna mengetahui kondisi warga korban puting beliung," katanya. (c21/yan/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 25 Oktober 2009

Hadi Poernomo Ketua BPK

Jangan Memolitisasi Masalah yang Diaudit

Photo: The Jakarta Globe/Yudhi Sukma Wijaya
Hadi Poernomo (tengah) dan Herman Widyananda (kanan) sedang disumpah sebagai ketua dan wakil ketua Badan Pemeriksa Keuangan, di Mahkamah Agung pada hari Senin (19/10/2009) yang lalu.

Mantan Direktur Jenderal Pajak, Hadi Poernomo, terpilih sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan periode 2009-2014. BPK diharapkan sanggup menyelesaikan sejumlah audit penting yang hingga saat ini belum tuntas, antara lain audit atas penyelamatan Bank Century.

Anggota DPR, Maruarar Sirait, di Jakarta, Rabu (21/10), menegaskan, beberapa pekerjaan mendesak yang perlu diselesaikan oleh anggota baru BPK, antara lain, adalah penyelesaian audit penyelamatan Bank Century.

Selain itu, lanjut Maruarar, BPK perlu mengarahkan fokus perhatiannya pada penyelesaian masalah teknologi informasi di Komisi Pemilihan Umum.

Menurut Maruarar, BPK perlu berkontribusi lebih besar dalam upaya membantu aparat penegak hukum, bukan memolitisasi setiap masalah yang diauditnya.

Sebagai ilustrasi dalam audit Bank Century, BPK seharusnya segera melapor secara resmi kepada DPR mengenai keterbatasan wewenangnya dalam menelusuri aliran dana penyelamatan Bank Century.

Atas dasar laporan BPK itu, DPR bisa meminta fatwa hukum dari Mahkamah Agung sehingga BPK bisa melanjutkan auditnya hingga tuntas. ”DPR tidak bisa bekerja cepat jika BPK tak segera melapor,” ujar Maruarar.

Dalam laporannya saat serah terima jabatan dengan anggota BPK baru pada 19 Oktober 2009, mantan Ketua BPK, Anwar Nasution, menyebutkan, penyelesaian audit Bank Century baru mencapai 70 persen dari total audit. Salah satu proses audit yang belum tuntas adalah penelusuran aliran dana penyelamatan Bank Century yang mencapai Rp 6,7 triliun.

Pengamat keuangan negara Dradjad H Wibowo mengatakan, BPK harus cepat dan berani mengungkapkan fakta-fakta yang ada dalam penyelamatan Bank Century.

”Jadi, BPK perlu independen dan obyektif, apalagi untuk kasus yang menjadi sorotan publik seperti Bank Century,” kata Dradjad Wibowo.

Tak akan mengaudit pajak

Sementara itu, Hadi Poernomo belum bisa memastikan kapan BPK akan menuntaskan audit Bank Century. BPK baru akan merapatkan persoalan itu pekan depan. ”Kami belum lagi melihat pekerjaan-pekerjaan itu. Nanti akan dikerjakan secara bertahap,” ujarnya.

Hadi Poernomo juga menyatakan, tidak akan mengaudit pemasukan pajak. Audit dinilai tidak mematuhi perintah peraturan perundang-undangan terkait perpajakan.

Padahal, Ketua BPK sebelumnya, Anwar Nasution, memperjuangkan audit tersebut. ”Lihat saja bagaimana perintah UU, kami akan patuhi. Mahkamah Konstitusi juga sudah melarang. BPK hanya bisa mengaudit kalau wajib pajak menyerahkan laporan kekayaan ke BPK. Tetapi, apakah mau?” ujar Hadi. (OIN/RAZ)

Ketua BPK:
Hadi Purnomo
Tempat/tanggal lahir: Pamekasan, 21 April 1947

Pendidikan:
* Bond A
* Bond B
* Akademi Ajun Akuntan Pajak Dirjen Pajak
* Institut Ilmu Keuaangan Departemen Keuangan
Jurusan Akuntansi
* Spama
* Spamen

Jabatan Terakhir:
* Dirjen Pajak (2001 - April 2006)
* Anggota Dewan Analisis Strategis Badan Intelijen Negara (Juni 2006 - sekarang)

Sumber: Kompas, Kamis, 22 Oktober 2009

Ten Cow Dowry for Former Indonesian President Gus Dur's Daughter

Rumgapres Photo/Dudi Anung
President Susilo Bambang Yudhoyono and first lady Ani Yudhoyono congratulate the bride Yenny Wahid, first daughter of former Indonesian President Abdurrahman Wahid, and her husband Dhohir Farizi during the wedding ceremony at Ciganjur, South Jakarta, Thursday (15/10).

Yenny Wahid, the daughter of former President Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid, married lawmaker Dhohir Farisi on Thursday and her family received a rather unusual dowry — 10 cows.

The wedding ceremony took place at 2 p.m. at Al Munnawwarah Mosque in Ciganjur, South Jakarta, next to the former president’s house.

President Susilo Bambang Yudhoyono and Vice President Jusuf Kalla served as witnesses. Flower bouquets lined the front of Gus Dur’s house on Thursday morning, including one from the president and the first lady, Ani Yudhoyono.

The reception was held at Sampoerna Strategic Square in Central Jakarta

Dhohir is a lawmaker from the Great Indonesia Movement Party (Gerindra).

The groom’s family explained that the cow was a symbol of welfare, and said the bride’s family took the unusual dowry from their Madurese in-laws in stride.

Maybe it’s common in Madura,” said Sintha Nuriyah, the mother of the bride.

The wedding ceremony took place under heavy security because of the presence of the president and vice president. About 130 police officers were stationed around the mosque and Gus Dur’s residence.

Sumber: The Jakarta Globe, October 15, 2009

Antre Air, Tewas

Kesetrum saat Menimba di Sumur

Sungguh tragis nasib Sunarti, 29, warga Dusun Nunggunung, Desa Pegagan, Kec Pademawu, Pamekasan. Ibu satu anak ini tewas kesetrum saat antre air bersih di Dusun Paninggin, Desa Jarin, kemarin (16/10), sekitar pukul 13.00.

Saat ditemukan, korban sedang meregang nyawa sambil memegang tali timba air di pinggir gorong-gorong sumur. Meski sejumlah warga berusaha memberi pertolongan, namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di tempat kejadian perkara (TKP), istri Sukarto, 32, itu meninggal akibat tersengat aliran listrik salah satu kabel pompa air elektrik. Indikasinya, di lokasi ditemukan tali timba tersangkut kabel pompa air.

Musrifah, 30, salah satu saksi, mengatakan, saat peristiwa yang menggemparkan warga itu terjadi, sedikitnya ada tiga warga (Masrifah, Dasmi, 40; dan Asmaniyah, 25) yang menyaksikan langsung. Namun karena panik dan terlambat, mereka tidak berhasil menyelamatkan nyawa korban.

Lalu, tetangga dekat korban ini menuturkan kronologis tewasnya Sunarti. Sebelum kejadian, korban bersama beberapa warga lainnya antre untuk menimba air dari sumur di Dusun Paninggin, sebelah utara Desa Pegagan. Korban mendapat giliran terakhir. "Korban tinggal sendirian saat menimba, karena yang lain sudah pergi, termasuk saya untuk buang air besar. Saat kembali ke sumur, dia sudah terlihat lemas memegang tali ember," katanya saat memberi penjelasan kepada warga sekitar kemarin siang.

Bahkan, Musrifah mengaku sempat akan jadi korban juga. Kejadiannya, saat melihat ada yang aneh ketika melihat korban terjerembab di tepi sumur, dia langsung berusaha menolongnya. Dia menggotong Sunarti tanpa menyadari bahwa korban sedang tersengat listrik.

"Saat hendak ditolong, saya juga tersengat. Karena kaget, pegangan saya lepas. Setelah itu saya mencari kayu kering untuk memutus kabel yang melilit timbanya. Meski kabelnya sudah diputus, korban masih lemas. Karena panik, saya memanggil warga lain untuk minta tolong," cerita Musrtifah.

Sementara Kepala Desa Pegagan Muh. Huri mengatakan, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Pamekasan. Namun, saat di perjalanan korban menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Melihat kondisi korban sudah tak terselamatkan, kerabat korban memutuskan untuk dibawa pulang agar bisa segera dikubur. Sembari menunggu kerabat tiba, jenazah korban disemayamkan di rumah duka.

Huri mengatakan, di saat kekeringan dan air bersih sangat sulit, sumur lokasi Sunarti kesetrum dimanfaatkan warga. Untuk mengambil airnya, ada yang dengan menimba, sebagian warga juga menggunakan pompa air elektrik. "Mungkin saat menimba embernya menyangkut (kabel)," katanya.

Sumur tersebut merupakan satu-satunya yang dimanfaatkan empat warga desa sekitar. Jarak sumur dari rumah korban sekitar 1,5 kilometer. Untuk mendapatkan air bersih, selain harus rela berjalan kaki warga juga harus antre.

Sementara itu, pihak kepolisian belum bisa memastikan penyebab meninggalnya Sunarti. Sebab, polisi masih melakukan penyelidikan. Saat sejumlah wartawan tiba di lokasi, jajaran Polsek Pademawu masih menggelar olah TKP. (nam/mat)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 17 Oktober 2009

Kena Getahnya

Yayasan Salsabila Pasca Penyerahan Aris

Status Aris sebagai DPO (daftar pencarian orang) Densus 88 yang akhirnya menyebabkan pria kelahiran Temanggung 27 Januari 1986 itu menyerahkan diri pada 2 Oktober lalu memberi banyak dampak kepada Yayasan Salsabila tempat dia mengajar.

Hal tersebut disampaikan langsung pengasuh Yayasan, Warsito W.S., kepada Koran ini, dia mengaku dirugikan dengan adanya salah satu guru yang diduga sebagai teroris dan saat ini menjalani pemeriksaan di Jakarta.

Menurut dia, kerugian yang dialami oleh lembaganya cukup banyak. Diantaranya, sambung dia, mulai adanya wali murid yang ingin mengeluarkan anaknya dari lembaga pendidikan yang dibinanya sejak 1994 lalu.

Selain itu, Warsito juga mengatakan jika donatur yang selama ini menjadi sumber pendanaan dalam kegiatan pendidikan mulai ada yang pergi. Bahkan, sambung dia, yang paling menyakitkan adalah munculnya isu-isu negatif.

"Bahkan setelah kejadian ini, muncul isu apabila uang yang dikeluarkan oleh para donatur dan wali santri digunakan untuk pendanaan pengeboman," ungkapnya ditemui di lembaga binaannya yang berada di Jalan Payudan Barat No. 3 itu.

Ditanya mengenai upaya yang dilakukannya, Warsito mengaku saat ini pihaknya sudah berupaya menjelaskan hubungan Yayasan Salsabila dengan Aris yang sebatas lembaga pendidikan dan tenaga pengajarnya. Hal itu, menurut dia, dilakukan dengan cara door to door.

"Kami mendatangi orang tua murid dan para donatur dengan maksud agar mereka tetap percaya bahwa lembaga ini bukanlah lembaga penampung teroris seperti isu yang berkembang. Bahkan, tetangga di sekitarpun kami datangi," tuturnya.

Selain memberi penjelasan kepada pihak-pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan lembaga seperti di atas, Warsito mengaku telah mengagendakan untuk menggelar halal bihalal yang mengundang aparat pemerintahan dan aparat keamanan. Di acara tersebut, pihaknya akan menjelaskan semua keadaan Yayasan Salsabila kepada pihak-pihak yang diundang.

Ditanya siapa saja yang akan diundang, dia mengatakan diantaranya pemerintah kabupaten, kepolisian dan koramil. "Rencananya acara kami selenggarakan pada Sabtu (17/10) depan. Di sana kita ingin silaturahim dan mengenalkan lembaga ini lebih dalam lagi. Mulai dari sistem pendidikan hingga perputaran uang yang ada di yayasan ini," terangnya.

Menurutnya, hari Senin (12/10) undangan akan segera disebar. Selain itu, pada Jumat (16/10) malam nanti, pihaknya juga akan menggelar kajian umum yang mendatangkan mubaligh dari Surabaya.

"Semua itu kami lakukan demi mendapatkan kepercayaan dan mengembalikan image kami. Sehingga murid, wali murid, guru, warga Sumenep bisa kembali menjalankan aktfitasnya seperti biasanya," pungkasnya.

Sementara itu, RF yang juga ada di sana berharap, pemberitaan terkait suaminya tidak memengaruhi kondusifitas lembaga tempat dia dan suaminya mengajar. Bahkan secara tegas, dia melarang wartawan mengambil gambar di lingkungan tempat belajar siswa. (c14/ed)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 11 Oktober 2009